
Hari-hari berlalu begitu cepat. Kegiatan Aksa terasa semakin padat. Aksa benar-benar mempersiapkan dengan matang penampilan muridnya yang akan mengikuti lomba.
Hari itu pun tiba. Setelah selesai sholat subuh, Aksa sudah mempersiapkan dirinya untuk berangkat. Tapi keadaan bumil pagi hari itu sangat tidak kondusif. Sejak bangun pagi, Nada terus mual-mual bahkan sudah sampai tiga kali muntah. Sepertinya buah hati yang berada dalam perut tidak rela ditinggal Papanya keluar kota.
Aksa yang telah rapi kini menuntun Nada dari kamar mandi. "Sayang, masih mual? Kamu sarapan dulu ya. Aku ambilkan."
Nada menggelengkan kepalanya. Dia justru merebahkan dirinya di atas ranjang sambil meringkuk.
"Sayang, aku jadi gak tega ninggalin kamu kayak gini." Aksa duduk di tepi ranjang sambil mengusap punggung istrinya berharap mualnya segera mereda.
"Gak tahu kenapa, hari ini lebih mual daripada biasanya."
"Apa aku batalin aja, biar digantikan guru lain."
"Jangan Mas, kan ini amanah dari kepala sekolah. Aku gak papa."
"Beneran gak papa? Tapi kamu sarapan dulu ya. Ayo, sama aku."
Nada bangun dengan lemas.
"Sayang mau ikut Papa kah?" Aksa membungkuk lalu mencium dalam perut Nada. "Temani Mama di rumah ya, jangan nakal. Papa cuma sebentar. Kasian kalau Mama mual terus." usapan lembut di perutnya dari tangan Aksa membuat mual itu berangsur hilang.
"Udah, mereda Mas mualnya."
"Pintar anak Papa. Nurut banget." Lalu satu kecupan mendarat di pipi Nada. "Aku udah telpon ibu, biar nemenin kamu seharian. Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya."
"Iya Mas." Mereka beranjak dari tempatnya dan bergandengan tangan menuju ruang makan. "Mas, jadi bawa mobil sendiri?"
"Iya, gak papa kan mobilnya aku bawa."
"Ya, gak papa Mas. Yang penting hati-hati ya nyetirnya."
"Iya sayang."
Mereka berdua duduk di meja makan lalu sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, Aksa mengambil tas dan kunci mobil lalu berjalan ke depan rumah yang ditemani oleh Nada.
"Hati-hati ya Mas." Nada mencium tangan Aksa.
"Iya, kamu juga jangan sampai telat makan. Ibu sudah ada di perjalanan sebentar lagi sampai." Satu kecupan mendarat di kening Nada lalu kedua pipi Nada. "Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam." Nada melambaikan tangan saat Aksa masuk ke dalam mobil dan mulai melajukannya.
...***...
Aksa tersenyum dengan bangga melihat anak didiknya bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dulu dia mempunyai impian ingin menjadi seorang pianis hebat. Ketika mimpi itu telah terwujud, kini dia ingin melihat ilmu yang dimilikinya bermanfaat untuk mewujudkan mimpi orang lain.
__ADS_1
"Mereka hebat, Pak." puji Aksa yang duduk bersebelahan dengan Pak Wito.
"Mereka hebat karena memiliki pelatih sehebat Pak Aksa."
Aksa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Bukan. Mereka hebat karena semangat dari diri mereka sendiri. Semua orang bisa menjadi hebat asal memiliki kemauan yang kuat."
Satu tepukan didapat Aksa di bahunya dari Pak Wito. Guru senior itu semakin bangga dengan perkataan Aksa.
"Loh, ini Aksara Danendra ya?" tanya salah seorang perempuan yang duduk di dekat Aksa.
"Iya," jawab Aksa sambil tersenyum.
Siapa yang tidak tergoda dengan senyum manis Aksa. Jelaslah para wanita di tempat itu langsung terpesona.
"Boleh minta foto bareng?"
Tanpa ada persetujuan dari Aksa, wanita itu mendekat dan mengambil foto mereka berdua. Hal itu sontak membuat wanita lain berebut meminta foto dengan Aksa.
"Sudah ya. Maaf, jangan ambil foto sama saya." Aksa berusaha menghindar tapi para wanita itu semakin menjadi.
"Gemes banget, lebih ganteng dari di foto."
"Iya, ganteng banget."
"Cubit dulu lah mumpung istrinya gak ikut."
"Dan juara pertama diraih oleh SMA dari kota Malang. Selamat untuk SMA Negri 5 Malang....
Aksa bertepuk tangan cukup keras sambil tersenyum bangga melihat anak didiknya berhasil mendapat piala dan piagam penghargaan.
...***...
Malam itu, Nada merebahkan dirinya sambil menatap layar ponsel.
"Sebentar lagi Mas Aksa pasti pulang." Beberapa menit sebelumnya Aksa memang telah mengirim pesan untuknya, mengabari jika dirinya sudah dalam perjalanan pulang.
Entah ada angin apa, tiba-tiba tangan Nada membuka instagram Aksa. Dia tersenyum menatap beberapa foto kenangan mereka sebelum menikah. Apalagi foto pertama kali bertemu dengan chaption, "You are my inspiration."
"Mas Aksa lucu banget sih dulu." jempolnya kini tertuju pada kumpulan foto yang ditandai.
Mata Nada membulat ketika beberapa foto baru menandai suaminya. "Ngapain sih Mas Aksa foto sama wanita lain. Genit-genit kayak gini lagi. Awas ya!!" Nada menjadi geram.
Aksa tidak hanya foto dengan satu wanita tapi juga dengan wanita lain. "Ih, gak punya perasaan banget. Istrinya di rumah lagi hamil muda, eh, dia malah seneng-seneng diluar sana." Nada menarik selimutnya sambil memeluk guling.
Satu jam kemudian, Aksa telah sampai di depan rumah. Dia masuk ke dalam rumah dan mendapati ibunya masih melihat tv bersama Sumi di ruang tengah.
__ADS_1
"Aksa, untung kamu udah pulang. Adek kamu sedari tadi telepon Ibu suruh cepat pulang."
"Ya udah, Ibu pulang aja. Aksa antar ya?"
"Tidak usah. Ayah kamu sudah dalam perjalanan. Nada udah dari tadi ke kamar. Katanya mengantuk."
"Tapi Nada sudah makan kan, Bu?"
"Sudah. Tadi makan bareng ibu."
Beberapa saat kemudian Pak Rendra datang untuk menjemput istrinya.
Setelah kedua orang tua Aksa pulang, dia kini masuk ke dalam kamarnya.
Dia letakkan tasnya di atas meja, lalu dia melihat Nada yang sedang tidur miring sambil memeluk guling. Aksa kira, Nada telah memejamkan matanya tapi ternyata belum.
"Sayang kirain udah tidur?" tanya Aksa sambil berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dan berganti baju, Aksa kini mendekati Nada akan mencium keningnya tapi Nada melengos.
"Kirain Mas gak pulang?"
"Kan aku udah bilang gak akan menginap. Kamu kenapa? Kok cemberut gini?"
Nada hanya menatap tajam Aksa. Begitu tajam seperti pedang samurai yang siap menusuknya.
"Enak ya, jadi cowok. Bisa kemana aja bebas. Gak mikirin yang di rumah."
"Loh, maksudnya apa sih sayang?"
Nada kini duduk. "Mas gak perlu berlagak gak ngerti. Mas seneng kan dikerumuni wanita-wanita seksi kayak tadi."
"Astaghfirullah Na, kamu salah paham."
"Salah paham gimana? Mereka dengan bangganya nunjukin foto dengan Mas Aksa."
"Kamu tahu darimana soal itu? Aku udah berusaha menolak dan menghindari mereka."
"Mas, zaman sekarang itu gampang cari apapun di sosmed. Berusaha menghindar katanya, usaha Mas gak sungguh-sungguh," Nada kini berdiri lalu menarik paksa lengan Aksa. "Mas tidur di kamar atas aja. Aku mau tidur sendiri."
"Na, kita bicarakan baik-baik ya. Jangan marah-marah kayak gini."
"Gimana aku gak marah sih Mas? Mas sendiri yang nyalain apinya." Nada masih menarik paksa Aksa walau tenaganya sangat kecil dibanding Aksa.
"Oke, kalau kamu gak percaya sama aku." Badan Aksa yang terasa penat ditambah kemarahan Nada yang tanpa alasan membuat emosinya seketika muncul. Meski tanpa pembentakan sama sekali pada Nada.
Dia berdiri dan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Seketika Nada menutup pintu kamar cukup keras.
Aksa hanya mengelus dadanya. Dia tarik napas panjang menghilangkan emosi di hatinya. Dia harus benar-benar bersabar menghadapi mood ibu hamil.