It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Masalah 1


__ADS_3

Aksa mengikuti Nada menuju tempat sholat. Lumayan besar, cukup untuk sholat berjamaah sekeluarga. Mereka segera mengambil wudhu terlebih dahulu. Setelah itu, mereka melakukan sholat berjamaah dengan khusu'.


Setelah menjalankan sholat 4 rakaat, Aksa berdo'a dan berdzikir. Hatinya tiba-tiba berkabut, dia teringat akan dosa-dosa yang baru saja dia perbuat.


Aksa kini menoleh Nada yang tengah melepas mukenanya. Pandangan mata mereka saling bersirobok sesaat.


"Na, maafin gue ya. Gue udah ajarin lo gak bener."


Nada justru tersenyum. "Iya. Tadi khilaf."


Aksa tertawa lalu dia kini berdiri. Khilaf yang berulang kali itu namanya bukan khilaf.


"Na, gue langsung berangkat ya."


"Makan dulu." Nada menarik paksa tangan Aksa ke ruang makan.


"Tapi Na, udah setengah 4."


"Makan bentar aja."


Aksa akhirnya menuruti keinginan Nada. Dia kini duduk dan sudah ada makanan yang tersaji di atas meja makan.


"Sini gue ambilin." Nada mengambil piring Aksa lalu mengisinya dengan nasi dan lengkap dengan lauknya.


Aksa hanya tersenyum. Dia tidak menyangka, Nada yang dulu kasar dan judes padanya, sekarang justru sangat perhatian.


"Makasih."


"Gue cuma bisa ngambilin belum bisa masak."


"Gak papa. Udah kemajuan." Aksa segera melahap makanannya karena dia sudah dikejar waktu. Bahkan hampir saja dia tersedak.


"Aksa, pelan-pelan." Nada mengambilkan air putih agar Aksa berhenti terbatuk.


Mereka tak bersuara lagi. Hanya ada suara antara piring dan sendok yang terkadang berbunyi berpapasan.


Setelah selesai, Aksa meneguk air putih lalu memandang Nada sesaat yang masih mengunyah makanan, bahkan di piringnya masih ada setengah porsi.


"Kenapa lihat kayak gitu? Kalau mau berangkat gak papa, gak usah nungguin gue. Yang penting lo udah makan."


Bahagianya Aksa hari ini. Dia sangat diperhatikan Nada sedemikian rupa. Benar-benar tidak akan digantikan oleh orang lain di hatinya.


"Berat sih sebenarnya mau berangkat, tapi waktu ngejar terus."


"Lebay, besok juga masih ketemu."


"Gue jemput lagi ya."


"Oke."


Aksa akhirnya berdiri lalu dia mengusap puncak rambut Nada sesaat sebelum berlalu.

__ADS_1


Rasanya seperti tidak tega, Nada kini berdiri dan mengikuti langkah Aksa.


"Na, lanjut aja makannya."


"Gue antar sampai depan."


Nada berhenti di depan pintu. Dia terus menatap Aksa yang kini sudah menaiki motornya. Lambaian tangannya mengiringi kepergian Aksa.


"Kok gue jadi bucin gini sih?"


Nada menggelengkan kepalanya sambil masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan makannya. Baru tersadar jika virus kebucinan itu kini telah merasuki dirinya.


...***...


Hari-hari pun berlalu begitu indah. Aksa dan Nada semakin dekat saja layaknya sepasang kekasih.


"Aksa, hari ini pengumuman lomba loh," kata Nada saat berada di boncengan Aksa pagi itu.


"Iya, gue deg-deg an banget. Menang gak ya."


"Gue yakin lo menang."


"Dapat semangat dari lo itu hal yang paling indah dalam hidup gue." Aksa menghentikan motornya di tempat parkir kampus.


"Gombal aja terus." Nada turun dari motor lalu melepas helmnya.


"Beneran." Aksa juga turun dan melepas helmnya lalu seperti biasa dia menggandeng tangan Nada masuk ke dalam kampus.


Ada yang berbeda kali ini, segerombol teman-temannya menatap mereka sambil berbisik-bisik. Nada mulai merasa curiga, Aksa atau dirinya memang sering menjadi pusat perhatian tapi tatapan mata mereka sekarang sangat berbeda.


"Mungkin karena lo tambah cantik." Aksa membalas bisikan Nada.


"Aksa, tapi ini beda."


"Wih, Aksa hot juga ya lo," kata salah satu teman Aksa yang bernam Roy itu.


"Maksud lo?" Baru kali ini Aksa menyadari memang ada yang tidak beres.


"Jangan pura-pura gak ngerti deh lo. Pakai gaya apa aja lo kalau main sampai cewek-cewek pada lengket sama lo." timpal teman yang lainnya.


Aksa mulai terpancing emosinya. "Hei, lo kalau ngomong jangan sembarangan!"


"Halah, berlagak sok suci lo. Jangan-jangan semua mantan lo udah pernah lo celupin satu-satu."


Aksa mengepalkan tangannya dan bersiap menghajar mereka.


"Aksa, udah! Jangan kepancing sama mereka." Mereka akan melanjutkan langkahnya tapi lagi-lagi ada satu temannya yang menuduhnya lagi.


"Jadi lo dekati Nada biar ada orang dalam yang menangin lo ikut lomba."


"Maksud kalian apa?!" Aksa semakin emosi. Dia hampir saja berteriak.

__ADS_1


"Karena Nada pianis hebat dan sudah menang berkali-kali, lo sengaja macari dia biar nama lo ikut melambung dan dimenangkan dalam lomba itu."


Aksa mengacak rambutnya kesal. Dia kini menarik krah teman yang terus menghinanya itu. Ternyata banyak sekali teman munafik di kampus itu selain Radit. "Apa lo bilang!"


"Aksa, udah lepasin." Deni berusaha melerai mereka. "Kalian jangan kemakan berita haox kayak gitu. Belum tentu Aksa benar-benar melakukannya."


"Berita apa maksudnya?"


Deni menunjukkan pada Aksa dan Nada sederetan foto yang terpajang di papan pengumuman.


Mata Aksa dan Nada membulat. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sebuah foto yang telah di edit menggunakan foto Aksa dan Nada. Foto yang sangat erotis dan sangat menjijikkan.


"Gila!! Ini editan woy!!" Aksa segera melepas kertas-kertas itu dan merobeknya.


"Kita gak mungkin lakuin ini!" Nada juga ikut merobek kertas-kertas itu.


"Gak tahu malu banget sih!"


Emosi Nada ikut terpancing. "Ngapain kita malu!! Ini bukan tubuh kita! Kalian lihat sendiri ini tuh editan. Dilihat gak pakai kacamata juga udah kelihatan."


"Bukan soal foto itu, tapi banner itu!!" kata seorang mahasiswi sambil menunjuk sebuah banner yang cukup besar menempel di sebuah tembok.


DISKUALIFIKASI AKSARA DARI KOMPETISI PIANO ANTAR KOTA. DIA MENGGUNAKAN ORANG DALAM AGAR LOLOS DALAM KOMPETISI ITU. DIA SENGAJA MENDEKATI NADA AZALEA UNTUK MEMPERMUDAH KECURANGANNYA.


Aksara mengusap wajahnya kasar. Cobaan apa lagi ini?


"Ooo, jadi lo sengaja dekati Nada agar lo bisa lolos ke kompetisi selanjutnya. Gak nyangka ya lo itu curang!"


"Gak adil kalau kayak gini!!"


"Diskualifikasi saja dia. Blacklist dari kompetisi apapun!"


Kepala Aksara semakin pusing. Begitulah komentar dari manusia yang hanya mengambil mentah berita hoax yang tersebar.


"Aksa gak kayak gitu!! Dia itu punya skill!! Gue gak pernah bantu Aksa, apalagi sampai melibatkan orang dalam!" bela Nada ikut berteriak.


"Lo itu udah dibutakan cinta sampai belain dia."


Suara mereka semakin ramai. Ingin Aksa marah dan membela dirinya sendiri tapi semua terasa percuma. Siapa dalang dibalik semua ini?


"Aksa, lo sama Nada dipanggil ke ruang dekan. Lo jelasin di sana ya, gue yakin ini ulah orang yang gak suka sama lo."


"Thanks Den, lo udah percaya sama gue."


"Biar gue sama anak BEM yang bereskan kekacauan di sini. Semoga masalah lo cepat selesai." Deni sebagai ketua BEM itu menepuk bahu Aksa sebelum dia pergi.


Aksa dan Nada berjalan perlahan menuju ruang dekan. Ini pertama kalinya selama kuliah mereka dapat panggilan seperti ini.


"Pasti Radit yang lakuin ini sama gue! Gue gak nyangka dia sebusuk ini!" umpat Aksa sebelum masuk ke ruang dekan.


Mereka berdua kini masuk ke dalam ruang dekan. Ada Pak Aryo, Pak Diki dan juga Pak Reno.

__ADS_1


"Tunggu sampai wali kalian datang, baru kita bicarakan masalah kalian."


Wali? Itu berarti Ayah....


__ADS_2