
Dua orang polisi langsung menyergap Radit. "Ada apa ini? Ini bukan masalah serius mengapa dilaporkan polisi?!"
"Bukan masalah serius kamu bilang!" ucap seorang ibu itu dengan penuh amarah. "Kamu udah paksa anak aku buat gugurin kandungannya hingga dia pendarahan dan masuk rumah sakit. Tidak cuma itu, kamu juga sudah menyusun rencana untuk menjebak teman kamu agar menanggung kesalahan yang kamu pada anak aku."
Semua mahasiswa yang ada di tempat itu, termasuk Nada, Pak Aryo, dan Pak Reno sangat terkejut. Tidak disangka kasus Radit semakin dalam seperti ini.
"Sebentar, ini ibunya Salma kan?" tanya Pak Aryo yang memang pernah melihat ibu Salma sebelumnya.
"Iya Pak. Sebelumnya saya tahu putri saya dekat dengan Aksa. Dia baik dan sopan. Saya tidak mengira bisa-bisanya putri saya melakukan dosa sama dia. Untung anak saya ngaku dan gak kemakan hasutan dia untuk jebak Aksa."
Nada melebarkan matanya. Tidak terbayang kalau seandainya Aksa juga terjebak dalam skandal ini.
Kedua polisi itu segera membawa Radit dengan disaksikan seluruh mahasiswa di kampus itu. Itulah, perbuatan yang buruk akan mendapat balasan yang jauh lebih buruk. Apa yang kamu tanam maka itulah yang akan kamu panen.
Nada menghela napas lega. Mungkin, inilah jawaban dari setiap do'a-do'a Aksa di setiap malamnya.
"Nada, sebentar kita masih mau bicara."
Nada kembali masuk ke dalam ruangan. Dia kini duduk di depan meja berseberangan dengan Pak Reno.
"Kamu bisa hubungi Aksa?" tanya Pak Reno yang sedari tadi sempat beberapa kali menghubungi nomor Aksa yang memang tidak aktif itu.
Nada menggelengkan kepalanya. "Nanti biar saya ke tempat Aksa."
"Ya sudah, kamu bawa surat pemberitahuan resmi juara kompetesi ini, dan undangan untuk mengikuti kompetisi tingkat provinsi."
"Iya, Pak."
"Pak, sama buat surat permintaan maaf secara resmi dari kampus kita untuk Aksa dan orang tuanya," kata Pak Aryo.
"Iya, Pak."
Nada tersenyum, akhirnya permasalahan Aksa selesai. Tapi ada satu hal lagi yang harus dia tuntaskan sekarang juga, "Hmm, sepertinya saya jadi pindah dari kampus ini, Pak."
"Kenapa?" tanya Pak Aryo, "Bukankah masalah ini sudah clear."
"Saya tidak mau menghambat impian Aksa. Mungkin lebih baik saya tidak satu naungan dengan Aksa untuk menghindari gosip buruk seperti ini lagi. Saya ingin Aksa bisa meraih impiannya tanpa beban."
Pak Aryo menganggukan kepalanya. "Iya, saya mengerti. Sebenarnya semua materi di S1 juga sudah kamu selesaikan di luar negri, jadi tidak apa-apa jika kamu memutuskan untuk berhenti kuliah atau mungkin mau meneruskan ke S2 di kampus lain."
"Iya Pak."
"Ya sudah, saya permisi dulu." Pak Aryo keluar dari ruangan.
Sedangkan Nada masih menunggu Pak Reno menyiapkan beberapa surat yang harus disampaikan untuk Aksa.
__ADS_1
"Semoga kamu langgeng ya sama Aksa."
Nada menggelengkan kepalanya. "Saya tidak yakin, Pak."
"Loh, kenapa? Kalian pasangan yang serasi."
"Ayah Aksa tidak mungkin setuju dengan hubungan kita."
Pak Reno tersenyum lalu menyerahkan tiga surat yang telah beramplop itu. "Kamu ingat ya. Kalau jodoh gak bakal kemana. Mungkin sekarang hubungan kamu dan Aksa penuh liku-liku. Tapi kamu harus yakin, jika suatu saat nanti kamu disatukan kembali dengan Aksa, hubungan kalian akan semakin kuat dan kokoh."
Nada tersenyum. Sebenarnya itulah keinginan Nada. Tapi sepertinya ini bukan saatnya bagi Aksa untuk memikirkan cinta dan sebuah hubungan.
Setelah keluar dari ruang dosen, beberapa teman Nada meminta maaf padanya karena telah salah paham dengan masalah yang telah lalu itu.
"Na, kita titip ini ya buat Aksa." Deni memberikan sebuah amplop pada Nada. "Gue hubungi dia gak aktif. Ini permintaan maaf dari kita semua. Semoga dia mau kembali lagi ke kampus ini."
"Iya. Makasih Kak Den."
"Sama-sama."
Nada kini berjalan menuju tempat parkir. Dia hanya berharap, kali ini Aksa mau menemuinya. Dia naik ke atas motornya lalu mulai melajukan motornya menuju cafe Ria. Walau terik panas matahari menyengat, Nada tak peduli. Dia tetap menerobos jalanan yang cukup ramai siang itu.
Ketika sampai di depan cafe. Terlihat cafe itu sangat ramai. Sepertinya ada acara resepsi pernikahan di dalam sana.
Nada menghentikan motornya di depan cafe. Sepertinya kali ini dia tidak akan bisa masuk ke dalam cafe karena banyaknya tamu undangan yang telah hadir. Tapi apa salahnya mencoba.
"Nada. Kita semua lagi sibuk ada acara resepsi keluarganya bos. Acaranya sampai malam. Atau kamu mau makan di dalam, tidak apa-apa."
Makan? Nada ke tempat itu bukan untuk mencari makan gratisan tapi ingin bertemu dengan Aksa.
"Tidak Kak. Titip pesan buat Aksa ya, suruh aktifin hp nya."
"Iya."
"Makasih, Kak. Permisi."
Nada kembali menuju motornya yang terparkir di pinggir jalan. Dia kembali menaikinya dan melajukan motornya pulang ke rumah.
Aksa, sesulit ini nemuin lo sekarang.
Beberapa saat kemudian dia menghentikan motornya di depan rumah. Di turun dan melepas helmnya. Dengan langkah lemas, dia masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.
Dia kini duduk di sebelah Papanya yang sedang menonton televisi.
"Masalah Aksa sudah selesai?" tanya Pak Teguh.
__ADS_1
"Sudah, Pa. Tapi Nada belum bisa bertemu dengan Aksa, Pa." Nada kini bersandar di bahu Papanya untuk melepas penat dan kegundahan dalam hatinya sesaat.
"Kita ke rumahnya saja. Papa mau menemui Ayahnya Aksa. Sebenarnya inti dari permasalahan Aksa adalah Ayahnya."
"Tapi Aksa masih di cafe, Pa."
"Tidak apa-apa. Kita bertemu Ayahnya."
Nada kini menegakkan duduknya dan menatap Papanya. "Pa, Nada gak mau Papa berantem sama Ayah Aksa."
"Kita bicarakan baik-baik."
"Ya sudah. Tapi apapun keputusan Nada nanti, Papa jangan ikut campur ya."
"Keputusan apa? Kamu mau korbankan hubungan kamu dan Aksa?"
Nada hanya menatap kedua netra Papanya. "Bagi Nada, yang terpenting adalah impian Aksa."
"Ya sudah, kamu makan dulu ya. Setelah itu kita siap-siap berangkat."
Nada menganggukkan kepalanya lalu dia naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Dia kini duduk di kursi dekat meja belajarnya. Meraih sebuah kertas dan penanya.
Aksa...
Aku cuma ingin kamu bisa meraih impian kamu.
Jangan lagi memikirkan aku.
Raihlah cita-cita kamu tanpa terhambat dengan nama Nada. Anggap saja aku hanyalah Nada Azalea, your inspiration.
Aku menunggu saat kamu tersenyum bahagia sambil memegang piala di grammy award tahun depan.
See you on top.
Aku sayang kamu...
💞💞💞
.
.
.
__ADS_1
Like dan komen guys.. 🙄