
"Kenapa Kak Satya datang ke sini lagi?" tanya Salma yang sebenarnya sudah tidak mau menemui Satya lagi saat bertamu ke rumahnya. Karena paksaan dari Ibunya akhirnya dia mau menemui Satya yang sudah menunggunya dari beberapa menit yang lalu.
"Apa aku tidak boleh menemui kamu? Kenapa? Beri aku satu alasan."
Salma terdiam. Dia mencari kalimat yang tepat untuk memberi Satya sebuah alasan.
"Aku ingin mengajakmu untuk ta'aruf terlebih dahulu. Jika memang kamu mau, aku akan segera mengkhitbahmu," ucap Satya berterus terang.
Salma melebarkan kedua matanya. Dia seperti tidak percaya dengan ucapan Satya. Dia menghela napas panjang. Sepertinya kejujuran adalah solusinya. "Aku bukan wanita yang baik seperti yang Kak Satya pikirkan."
Satya hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia menunggu kalimat Salma selanjutnya.
"Aku wanita penuh dosa, aku sudah ternodai bahkan..." Salma menghentikan perkataannya mengumpulkan semua kekuatannya untuk kembali bercerita. "Aku pernah menggugurkan kandungan aku, hasil dari sebuah zinah." Salma menundukkan pandangannya karena matanya mulai mengembun.
Satya justru tersenyum. Dia akui keberanian Salma dalam berkata jujur. "Kamu hebat, bisa mengakui kesalahan kamu. Aku bukan lelaki yang memandang wanita dari masa lalunya. Semua orang pernah melakukan kesalahan tapi hanya sedikit orang yang mau jujur dan mengakui kesalahannya."
Salma hanya terdiam.
"Aku bisa menerima kamu apa adanya. Kita tetap ta'aruf ya?"
Masih tetap tidak ada jawaban dari Salma.
"Kamu sholat istikharah, kamu minta petunjuk. Aku masih bisa menunggu kamu. Kalau kamu yakin kami segera hubungi aku."
Dada Salma berdebar-debar. Baru kali ini dia menemukan lelaki seperti Satya yang tegas dan tetap dalam pendiriannya. Apakah ini jawaban dari setiap do'a-do'a nya?
...***...
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Aksa semakin disibukkan dengan kegiatannya. Bahkan dua hari sekali dia pasti akan pulang sore karena tambahan kegiatan ekskul di sekolah.
Memang rezeki tidak akan kemana. Sudah beberapa kali juga Aksa mendapat undangan pertunjukkan di beberapa event dalam kota.
Di rumah, dia juga disibukkan dengan tempat kursus barunya yang baru saja dibuka dan masih banyak pembenahan. Bahkan hari Minggu yang seharusnya digunakan untuk istirahat, dia justru menjadi tukang dadakan di rumahnya. Entah merapikan taman atau hal lainnya yang masih butuh sedikit sentuhan agar lebih sedap dipandang mata.
Tapi intensitas curah hujan saat ini yang cukup tinggi membuat kekebalan tubuh Aksa menurun. Seperti hari itu, dia pulang dari sekolah menerobos hujan deras dengan mengendarai motornya meskipun sudah memakai jas hujan tapi tetap saja air masuk melewati celah jas hujannya.
__ADS_1
"Mas, kalau hujan deras berteduh dulu. Atau besok bawa mobil aja ya ke sekolah," kata Nada yang menyambut kepulangan suaminya di teras rumah sore itu. Dia kasihan melihat suaminya sampai menggigil kedinginan.
"Gak papa. Aku maunya memang cepat sampai rumah. Ada kamu yang tiap hari menunggu aku di rumah."
"Ih, bisa aja." Nada membawa tas Aksa termasuk tempat bekal yang kini Aksa bawa setiap hari itu masuk ke dalam rumah.
"Aku mandi dulu." Aksa melangkah jenjang menaiki anak tangga.
Sedangkan Nada menuju dapur, menyiapkan minuman hangat untuk suaminya.
"Tumben bekal Mas Aksa gak habis." gumamnya setelah mengecek bekal makanan yang hanya berkurang sedikit.
Kemudian Nada membawa secangkir teh hangat ke kamarnya. Saat masuk ke dalam kamar, terdengar suara muntahan dari kamar mandi.
"Astaghfirullah Mas..." Buru-buru Nada meletakkan cangkir teh di atas nakas lalu menyusul suaminya ke dalam kamar mandi. "Mas kenapa?"
Aksa menggelengkan kepalanya sambil berkumur di washtafel.
"Sakit?" Nada menyentuh kening Aksa lalu tengkuk lehernya. "Badannya panas banget."
"Minum dulu Mas." Nada mengambilkan secangkir teh itu yang langsung diteguk habis oleh Aksa.
"Mas, kalau sakit periksa ke klinik aja ya sekarang?" Nada sangat khawatir dengan keadaan suaminya. Ini baru pertama kalinya Nada melihat Aksa jatuh sakit.
Aksa menggelengkan kepalanya. "Nanti aja." Dia rebahkan dirinya lalu menarik selimut sampai bahu. "Na, sini. Aku butuh kamu."
Nada naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuh yang menggigil kedinginan itu. "Mas kedinginan? Tapi badannya panas loh."
"Iya, meriang rasanya. Kayaknya asam lambung aku kambuh." Aksa semakin mengeratkan pelukannya pada Nada mencari kenyamanan sambil memejamkan matanya.
"Mas punya asam lambung? Tadi bekalnya juga gak dimakan."
"Gak enak banget perut aku dari tadi. Dulu aku juga pernah sakit kayak gini." jawab Aksa yang sudah setengah mengigau.
"Lebih baik kita periksa aja yuk Mas," kata Nada sambil membelai lembut rambut Aksa.
__ADS_1
"Hmm," Aksa hanya bergumam sesaat lalu dia tertidur.
Setelah memastikan Aksa benar-benar terlelap. Nada turun perlahan dari ranjang. Dia ingin membuatkan bubur untuk suaminya.
Dia berkutat sesaat di dapur yang dibantu oleh Mbak Sumi. Setelah itu dia membawa semangkuk bubur ke kamar karena sudah hampir Maghrib sebentar lagi pasti Aksa akan bangun.
"Mas." Nada melihat Aksa semakin meringkuk di atas ranjang. Dia melihat jejak kaki yang masih basah, apa Aksa habis muntah lagi di kamar mandi? "Mas makan bubur dulu biar perutnya terisi."
Nada menyentuh tengkuk leher Aksa yang semakin terasa panas dan membuatnya menjadi sangat khawatir. Ini pengalaman pertama dalam hidupnya, ketika suami sakit apa yang harus segera dia lakukan?
"Mas kita langsung ke rumah sakit saja ya?"
"Hmm.." Aksa hanya berkata lirih. Entah apa yang dia katakan sambil memejamkan matanya.
"Mas," Nada semakin khawatir karena Aksa tak meresponnya. Bahkan wajahnya semakin terlihat pucat.
Nada segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Kakaknya. "Kak Satya, ke rumah sekarang ya. Aksa sakit. Antar kita ke rumah sakit."
Nada meletakkan kembali ponselnya lalu mengusap rambut suaminya dengan lembut. "Mas, bentar lagi kita ke rumah sakit."
"Aku gak papa, Na. Nanti beliin obat saja," jawab Aksa dengan suara lirihnya.
"Ya udah Mas makan dulu."
"Sebentar."
"Mas ini bandel ya kalau sakit. Diajak ke rumah sakit gak mau, makan gak mau. Aku bingung Mas. Aku juga gak tahu obat lambung apa yang cocok tanpa resep dokter." Kali ini pertama kalinya dia berperan sebagai istri yang cerewet meski demikian Aksa masih saja meringkuk sambil memejamkan matanya.
Tiba-tiba rasa mual kembali menyerang Aksa. Aksa duduk dengan berpegangan Nada. "Aku mau ke kamar mandi." Satu tangannya menutup mulutnya sedangkan tangan satunya berpegangan lengan Nada.
Cairan kuning yang terasa pahit itu kembali keluar dari mulut Aksa. Perut sampai tenggorokannya terasa panas.
Nada mengusap pelan punggung Aksa dengan mata yang semakin berkaca. Dia sangat tidak tega melihat suaminya sakit seperti ini.
"Kita ke rumah sakit ya Mas?" Nada memeluk pinggang Aksa dan membantunya berjalan keluar dari kamar mandi. Tapi terasa semakin berat karena tubuh Aksa semakin melemah hingga membuat mereka terjatuh di depan pintu tepat saat Satya datang.
__ADS_1