It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Perubahan Nada


__ADS_3

"Tumben udah mau berangkat?" tanya Pak Rendra saat melihat Aksa pagi-pagi sudah bersiap untuk berangkat ke kampus.


"Iya Yah mau mengerjakan tugas dulu di perpustakaan." Bohong Aksara karena dia tidak mungkin cerita pada Ayahnya untuk menjemput Nada terlebih dahulu. Belum saatnya.


"Kamu masih berhubungan sama Nada?" tanya Pak Rendra.


Aksara hanya terdiam.


"Ayah bolehin kamu lanjut kuliah di fakultas itu tapi Ayah tetap gak akan setuju kalau kamu masih berhubungan sama Nada."


Ingin Aksara membantah tapi dia tidak mau keadaan memanas lagi. Lebih baik dia hanya diam mengiyakan.


"Aksa, berangkat dulu ya Ayah." Aksara mencium punggung tangan Ayahnya sebelum berangkat kuliah.


"Iya, hati-hati."


Kemudian Aksara berpamitan pada ibunya yang berada di dapur.


Setelah memakai jaket dan helmnya dia segera menuntun motornya melewati gang sempit kampungnya.


Aksara segera menaiki motornya saat berada di tepi jalan. Dia lajukan motornya dengan kecepatan standart menuju rumah Nada. Dengan hati yang berbunga-bunga tentunya.


Setelah menyusuri jalanan yang cukup panjang akhirnya Aksara menghentikan motornya di depan rumah Nada. Dia turun dan melepas helmnya.


"Assalamu'alaikum.." salam Aksara sambil mengetuk pintu rumah yang tertutup itu beberapa kali.


"Wa'alaikumsalam." jawab Pak Teguh sambil membuka pintu. "Aksa..." seketika Pak Teguh memeluk Aksara sesaat sambil menepuk punggungnya. "Benar-benar anak Rendra." Setelah itu, Pak Teguh mengajak Aksara masuk ke dalam rumah. "Masuk dulu, kita ngobrol sebentar."


Aksara menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di sofa berjajar dengan Pak Teguh. "Ayah kamu apa kabar? Nada sempat cerita soal kamu dan Rendra."


"Baik, Om. Tapi..." Aksara menghentikan perkataannya.


"Iya, saya tahu Rendra masih sakit hati dengan masa lalunya. Kamu atur waktu ya, saya mau bertemu dengan Ayah kamu."


"Iya Om."


Pak Teguh menghela napas panjang. "Saya kira kamu ikut kecewa dengan Nada karena masa lalu itu tapi syukurlah hubungan kalian baik-baik saja. Saya tidak mau kamu dan Nada jadi korban masa lalu itu."


Aksara menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya saya sempat marah. Lebih tepatnya marah sama keadaan, bukan sama Om atau Nada. Tapi inilah hidup, setiap orang pasti punya masa lalu."


Pak Teguh tersenyum sambil menepuk pundak Aksara. "Apa kamu mencintai putri saya?"


Pertanyaan Pak Teguh membuat dadanya berdebar-debar. Iya, dia mencintainya. Belum sempat Aksara menjawab, Nada sudah keluar dari kamarnya.


"Aksa, lo sudah lama?"

__ADS_1


Aksara meloading beberapa saat ketika menatap Nada.


Nada kini tak lagi menyamar menjadi Nada Pratiwi. Dia sudah tidak perlu memakai kacamata lagi. Dia kembali berpenampilan cantik seperti sebelum menyamar.


"Hmm, barusan kok." jawab Aksara sedikit terbata.


"Loh, Nada tumben penampilan kamu gini..."


"Ya, kan gak ada yang harus disembunyikan lagi, Pa." kata Nada yang kini ikut duduk di sebelah Aksara.


"Aksa, kamu sudah tahu kalau Nada itu Nada Azalea."


Aksara mengangguk sambil tersenyum.


"Gini, Papa baru lega. Gak ada lagi yang harus disembunyikan."


"Berangkat sekarang yuk!" Nada berdiri lalu memakai tasnya dan berpamitan pada Pak Teguh. "Berangkat dulu ya, Pa."


"Iya hati-hati."


Aksara juga ikut berpamitan pada Pak Teguh. Setelah itu mereka keluar dari rumah Nada.


Setelah memakai helm masing-masing, kini mereka naik ke atas motor Aksara. Tak menunggu lama motor Aksara sudah pergi meninggalkan rumah Nada.


Entahlah, mengapa dada Aksara masih berdebar-debar tidak karuan. Dia masih tidak menyangka seseorang yang sekarang berada di boncengannya adalah seseorang yang sangat dia kagumi.


"Deg-deg an Na, bonceng cewek cantik."


"Ih, gombal."


"Gak percaya? Nih, rasain detak jantung gue." Dengan tangan kirinya Aksara menarik tangan Nada dan menempelkannya di dadanya.


Seketika pipi Nada memerah. Iya, dia bisa merasakan detak jantung Aksara yang tidak beraturan itu.


Aksara melepas tangannya. Tangan Nada kini turun dan berpegangan di pinggang Aksara.


"Peluk aja gak papa. Kemarin udah berani acak-acak gue masak sekarang gak berani meluk."


Satu cubitan kini mendarat di pinggang Aksara. "Aksa, kemarin gue khilaf."


"Aha, mau buat Nada khilaf lagi ah."


"Aksa, kalau khilaf itu ya sekali. Kalau dua kali itu namanya sengaja."


Aksara justru tertawa. "Mau buat sengaja yang dikhilafkan."

__ADS_1


"Ih, gak gitu juga konsepnya."


Aksara masih saja tertawa kecil. Tak berapa lama dia sudah membelokkan motornya di parkir kampus. Mereka turun dari motor, lalu melepas helm masing-masing.


Mulai dari tempat parkir, banyak pasang mata yang melihat mereka berdua. Mereka kali ini menjadi pasangan yang serasi. Berjalan berdua dengan sedikit gandengan tangan dan percaya diri layaknya di catwalk.


"Bawa cewek cantik, makanya mereka pada lihatin."


"Idih, lihatin lo kali. Kayaknya mereka udah patah hati berjamaah."


Aksara tersenyum simpul. "Ada motivasi lain gak lo dandan cantik kayak gini selain karena gue udah tahu identitas lo yang sebenarnya?"


Nada memutar bola matanya. "Biar gak dianggap jelek aja sama Salamah."


Tawa Aksara semakin pecah. "I think that." Ya, tentu sesuai dugaannya. Sebagai sesama perempuan tentu Nada tidak mau kalah saing.


"Lo sama siapa Aksa?" tanya Salma menghadang langkah mereka berdua.


"Nada." jawab Aksara dengan entengnya sambil mengeratkan genggaman tangannya.


Salma mengamati penampilan Nada dengan intens. Rambut lurus yang tergerai, wajah yang cantik dan bermake up tanpa kacamata ditambah pakaian yang sangat stylish. "Nada?"


"Kenapa? Lo pikir gue jelek!" Nada tersenyum miring. "Aksa, kita ke kelas aja yuk. Gak penting ngobrol sama cewek murahan kayak dia!"


"Iya sayang, gak penting banget!" Mereka berdua berjalan meninggalkan Salma yang sedang terbakar emosi.


"Apa lo bilang!! Lo kali yang murahan. Lo yang rebut Aksa dari gue!" Salma menarik tas Nada hingga membuat langkahnya berhenti kembali.


"Merebut Aksa dari lo!? Aksa, memang kamu cinta sama dia?"


"Ya nggak lah. Aku kan cintanya sama kamu."


Nada memutar bola matanya sambil tersenyum meremehkan Salma. Mereka kini melanjutkan langkahnya menuju kelas.


"Aksa!" panggil Radit yang menghentikan langkah mereka di depan kelas.


Aksara menatap Radit jengah. Ini dia, sahabat yang busuk itu.


"Ini Nada?"


"Lo pikir yang cantik cuma Salma aja." Aksara tersenyum miring. Sebenarnya dia sudah sangat emosi ingin menghajar Radit saat itu juga tapi dia masih bisa menahannya.


"Maksud lo?"


"Gak usah pura-pura gak ngerti! Gue gak peduli lo mau ngapain aja sama Salma, tapi jangan pernah bawa-bawa nama gue!"

__ADS_1


Radit cukup bingung dengan perkataan Aksara. Dia masih saja berpura-pura. "Maksud lo apa? Gue gak ngerti!"


"Punya otak itu buat mikir. Jangan bisanya cuma buat mesum!"


__ADS_2