
Siang itu sebelum pulang ke rumah, Aksa pergi ke cafe ria. Sudah lama dia tidak berkunjung ke tempat itu dan mengobrol dengan teman lamanya. Kebetulan dia juga akan memesan catering untuk acaranya.
"Lama gak ke sini? Sibuk sama istri?"
Aksa duduk di depan bar, dimana si barista yang bernama Malik memang lagi santai jika siang hari. "Iya, sibuk ngajar juga."
"Wih, Pak guru prestasi semakin bersinar. Gue jadi insinyur kalau dekat lo."
"Insecure kali, Mal. Makanya lo sekolah yang tinggi," timpal Adit yang datang dan ikut bergabung dengan mereka.
"Gue sekolah tinggi?! SMA aja sering bolos. Malas mikir. Untung ada bos yang nerima lulusan ecek-ecek kayak gue."
"Bos dimana?" tanya Aksa.
"Baru aja pulang, nanti sore balik lagi ke sini. Sibuk urus keluarga sekarang. Udahlah gak usah dibicarain kasihan. Lo ada perlu apa ke sini? Mau pesan makan?"
"Aku mau pesan catering buat hari Kamis ini. Acara tiga bulanan."
Kedua teman lama Aksa ini tertawa. "Udah jadi tiga bulan aja. Benar-benar tokcer. Mau menu apa?"
"Yang kayak biasanya aku pesan. 50 pax ya. Diantar sore aja sebelum maghrib, sama aku mau pesan kue tart."
"Buat?"
"Kasih surprise ultah. Hari itu kebetulan hari ultah Nada jadi sekalian aku kasih surprise," kata Aksa sambil mengulum senyumnya. Semakin hari rasanya dia semakin cinta dan sayang dengan istrinya itu.
"So sweat banget. Kebetulam kita baru bekerja sama dengan AE cake and bakery." Adit menyerahkan buku katalog yang berisi gambar lengkap aneka kue yang diproduksi. "Punya Kakaknya Juna."
"Kakaknya Juna? Bukannya dia itu..." Setahu Aksa Juna memang anak yatim piatu yang kurang mampu.
"Yah, aneh memang dunia ini. Gue sendiri juga gak nyangka dia punya kakak sultan. Hidupnya udah enak dan terjamin tapi malah milih kerja sambilan sana sini. Ngajar kursus di tempat lo juga kan?"
"Iya, bagus dong. Bisa mandiri," kata Aksa sambil membolak-balik buku katalog itu mencari model kue yang Nada suka.
"Calon adik ipar."
Aksa justru tertawa. "Tiara sama Juna? Kayaknya kemarin Tiara patah hati. Gak tahulah aku gak ikut campur urusan anak muda." Pilihan Aksa berhenti pada sebuah kue tart hati berwarna putih dengan hiasan mawar merah dan pink. Cukup simple tapi sangat elegan. "Yang ini aja. Nanti kalian bawa malam ya buat surprise setelah acara ibu-ibu. Kalian aku undang ke rumah semuanya buat jadi tim sorak gembira."
"Wey, makan-makan tapi sayang masakan cafe semua. Udah bosan." Mereka berdua justru tertawa bersama.
__ADS_1
"Tenang, buat kalian ada menu sendiri dari ibu."
"Ini kasih tulisan apa, Sa?" tanya Adit sambil mencatat pesanan Aksa.
"Yang simple aja lah. Do'a di atas kue gak penting, yang penting itu do'a yang tercurah di sepertiga malam."
"Waduh, dalam banget lo."
Mereka lanjut mengobrol sambil tertawa. Tak lupa Aksa memesan juga spaghetti bolognese kesukaan Nada untuk dibawanya pulang.
...***...
Nada menatap dirinya di depan cermin dengan balutan gamis berwarna putih yang senada dengan hijabnya. Hari itu adalah selamatan tiga bulan kehamilan Nada. Dia dan Aksa mengundang ibu-ibu pengajian se RT nya untuk bersholawat dan memanjatkan do'a untuk kebaikan sang janin.
"Cantik banget." Aksa yang sudah memakai baju koko berwarna putih juga, kini memeluk istrinya dari belakang. "Serasi ya kita." Tangan Aksa kini mengusap lembut perut Nada yang sudah sedikit terlihat. "Udah terlihat ya perutnya. Gemasnya."
Nada mengikuti tangan Aksa mengusap perutnya. "Iya, udah jalan 4 bulan, Mas."
"Sehat-sehat ya. Gak sabar mau cepat ketemu."
"Sama, Mas."
Nada hanya menatap Aksa. Sebenarnya sedari tadi dia menantikan sesuatu dari suaminya itu.
"Kayaknya tamu udah mulai datang. Yuk." Aksa justru mendahului Nada keluar dari kamar.
"Ih, Mas Aksa masak gak tahu sih." gumam Nada lalu mengekori suaminya menuju ruang tamu. Di ruang tamu sudah ada kedua orang tua Aksa, Papa dan Kakaknya Nada. Mereka turut menyambut ibu-ibu yang mulai berdatangan.
Setelah semua datang, acara pun dimulai. Nada sangat tersentuh mendengar sholawat yang indah, lantunan ayat suci Al-Qur'an yang sangat merdu, lalu do'a-do'a baik yang dipanjatkan untuk Nada dan calon bayinya. Begitu menggetarkan hati Nada yang membuatnya tak kuasa menahan setetes air mata.
Aksa memberikan tisu untuk Nada saat melihat air mata haru Nada menetes. Dia kini merengkuh tubuh itu sambil mengusap lengannya.
Setelah pembacaan do'a selesai, kini saatnya ramah tamah. Mereka menikmati berbagai menu yang tersaji sambil sesekali menggoda Aksa dan Nada.
"Aku rasa anaknya cewek nih, ibunya cantik banget," kata Bu Ratna, yang rumahnya berada di dekat pertigaan.
"Kayaknya bukan, dari awal hamil maunya lihat suaminya manjat buah mangga aku. Pasti cowok," kata Bu Rima.
"Walah, tiap malam pasti juga sering manjat juga nih."
__ADS_1
Aksa hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Omongan ibu-ibu itu memang kurang terfilter.
"Makanannya enak-enak semua ya. Recomended. Pesan dimana?"
"Di cafe tempat Mas Aksa kerja dulu. Memang recomended."
"Bisa nih, kalau ada acara pesan ke sini."
Ibu-ibu itu masih saja asyik mengobrol sambil mengunyah makanan. Setelah selesai, satu per satu mulai berpamitan.
"Sehat-sehat ya sampai harinya."
"Iya bu, terima kasih atas kedatangannya."
Setelah ibu-ibu pulang semua, Nada membantu mengemasi gelas dan piring yang berserak.
"Na, biar itu diangkat Aksa. Kamu ikut ibu sebentar yuk ke belakang."
"Iya." Nada mengikuti Bu Diana menuju dapur.
Sebenarnya itu hanyalah pengalihan atas rencana Aksa.
Setelah Aksa dan Satya merapikan ruang tamu, tim cafe datang dengan membawa beberapa hiasan simple untuk mendekor kilat ruang tamu. Tanpa suara berisik tentunya.
Sebuah tart yang telah berhiaskan lilin diletakkan di atas meja.
"Kamu bawa Nada ke sini, biar kita bereskan sisanya."
"Jangan lupa tutup matanya biar benar-benar surprise."
Aksa berjalan menuju dapur dimana Nada sedang menata gorengan di atas piring. Dari belakang Aksa langsung menutup mata Nada dengan kain panjang yang membuat Nada sedikit terkejut.
"Sebentar sayang," bisik Aksa agar Nada tidak terlalu terkejut.
"Ih, Mas. Mau apa?" Nada mengikuti rengkuhan tubuh Aksa dan saat tiba di ruang tamu, Aksa membuka penutup matanya. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat kue tart yang cantik lengkap dengan lilinnya dan hiasan balon bertuliskan Happy Birthday Nada.
Dadanya justru semakin berdebar saat Aksa memberinya segebok bunga sambil mencium pipinya.
"Selamat ulang tahun sayang... Semoga panjang umur, sehat selalu, lancar sampai harinya nanti." Satu tangan Aksa kini mengusap perut Nada. "Semua do'a terbaik untuk kamu..."
__ADS_1
Nada tersenyum dengan air mata haru yang telah membasahi pipinya.....