It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Rumah Kita


__ADS_3

"Rumah kita? Maksudnya?"


Aksa hanya tersenyum. Dia kini sedikit menambah kecepatan laju motornya. Beberapa saat kemudian dia menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang lumayan besar dan memiliki dua lantai meski tidak terlalu mewah.


"Ini rumah kita.."


Nada hanya terdiam. Dia kini turun dari motor Aksa dan memandangi bangunan yang sepertinya baru selesai di bangun itu. Cukup luas, meski di bagian depan belum memiliki pagar besi.


Sebuah tangan kokoh kini meraih pundak Nada yang menyadarkannya dari lamunan.


"Mau lihat ke dalam gak?"


Nada masih saja terbengong. Dia belum mengerti secara sempurna perkataan Aksa tadi. "Maksudnya ini rumah kita gimana sih?"


Aksa tersenyum lalu menuntunnya untuk mendekati pintu masuk yang akan dia kunci.


"Ini rumah yang akan kita tempati setelah kita menikah," kata Aksa yang kini telah masuk ke dalam rumah.


"Rumah kamu?"


"Bukan, tapi rumah kita."


"Milik kamu?"


"Milik kita."


"Ih, Aksa."


"Iya, beneran ini rumah kita sayang."


Mendengar panggilan sayang saja membuat pipi Nada bersemu merah dan sepaket dengan dada yang berdebar-debar.


"Yang aku bangun dengan segenap cinta meski lewat tangan tukang bangunan."


Mendengar kalimat Aksa, Nada tersenyum kecil. Dia kini berjalan melihat sekeliling rumah itu. Ruang tamu yang cukup luas dan sudah ada sofa di sana meski masih tanpa hiasan. Lalu ada ruang tengah yang masih kosong. Kamar tidur, dapur, ada kamar mandi belakang dan sebuah ruangan yang mungkin bisa ditempati untuk asisten rumah tangga jika suatu saat nanti mereka membutuhkannya.


"Masih kosong ya?" Aksa sedikit tersenyum lalu kembali menggandeng tangan Nada. "Nanti aku isi pelan-pelan ya."


"Aksa." Nada kini menggeser tubuhnya dan menghadap Aksa. "Biar aku ya yang isi rumah ini."


"Hmm, tapi..."

__ADS_1


"Ya?" kini tangan Nada melingkar di pinggang Aksa. Dia memang berniat untuk merayu. Memang terbalik, biasanya seseorang merayu untuk mendapatkan sesuatu tapi Nada justru merayu untuk memberi sesuatu. "Biar benar-benar jadi rumah kita. Jadi aku yang melengkapi perabot dalamnya."


Aksa tak menjawab. Dia hanya menatap Nada sambil tersenyum.


"Aksa? Ya?" Nada memainkan ujung jarinya di dada bidang Aksa membentuk pola abstrak karena masih saja belum ada jawaban dari Aksa.


"Ngerayu nih?"


"Iya." Nada kini mendongak dan menatap kedua bola mata Aksa. "Ya?"


"Ya udah. Kamu isi sesuka kamu ya. Nanti aku kasih kunci cadangannya tapi kalau beli barang bilang dulu sama aku biar gak kedobel."


Nada mengangguk lalu semakin mengeratkan pelukannya.


"Ada satu lagi. Sini ikut aku." Aksa melepas pelukannya lalu menuntun Nada agar mengikutinya. Dia kini menuju sebuah pintu yang berada di dekat ruang tengah dan rupanya pintu itu mengarah ke sebuah ruangan yang cukup luas. "Kita buka kursus musik di sini ya?"


"Kursus musik?"


Aksa menganggukkan kepalanya.


Nada kini masuk ke dalam ruangan luas yang juga masih kosong itu. Ada sebuah pintu besar yang mengarah ke halaman depan.


"Kamu gak perlu bingung kerja diluar dan gak perlu gabut di rumah. Kita buka kursus musik di sini. Gak hanya piano, kalau bisa seluruh alat musik kita pelajari. Kamu mau kan? Nanti kalau aku pas di rumah, kita ngajar kursus berdua."


"Kamu yang justru menyempurnakan hidup aku. Aku bisa seperti ini karena bantuan kamu." Aksa kini mengeratkan pelukannya. "Kamu adalah penerang dalam hidup aku. Dulu, setelah kamu dan Papa kamu datang ke rumah, Ayah langsung mendukung cita-cita aku. Dan sejak saat itu, jalan aku dipermudah. Aku selalu dipertemukan orang-orang baik dimanapun aku berada. Aku menang di berbagai kompetisi Na. Dan yang sangat mengejutkan aku gak ngira bisa menang di grammy award, dan ini semua hasil dari kemenangan itu. Sebenarnya aku ingin tinggal juga dengan orang tua aku di sini."


Nada sedikit meregangkan pelukannya. "Gak papa dong bagus."


"Tapi mereka gak mau Na. Mereka ingin kita berdua yang tinggal di rumah ini."


"Ya sudah, nanti pasti ada jalan lain dan kita bisa bangun rumah lagi."


"Amin." Aksa mengusap rambut Nada sambil menatapnya lekat. "Ada satu lagi yang mau aku tunjukkan. Ruangan penting dalam rumah ini." Aksa melepas pelukannya lalu menggandeng tangan Nada.


"Ruang apa?"


Aksa menggandengnya menuju lantai dua. Di sana ada dua kamar dan satu ruang keluarga. Aksa membuka salah satu kamar itu. Lagi-lagi Nada dibuat takjub. Di dalamnya sudah lengkap dengan furniture. Ada satu ranjang king size yang menghadap ke arah balkon dengan pintu kaca yang lebar.


Nada membuka pintu kaca itu dan berjalan di balkon untuk menatap pemandangan. Meskipun bukan pemandangan alami, hanya pemandangan perkotaan tapi pasti waktu malam hari sangat indah jika berada di tempat itu.


"Ini kamar kita."

__ADS_1


"Jadi ruang yang sangat penting itu, ini?"


"Iya dong. Ruang buat memadu cinta kita." Aksa memeluk tubuh Nada dari samping sambil mengecup singkat pipi Nada.


"Ih," meski sejujurnya dada Nada sudah berdebar-debar bahkan dia sendiri tidak sanggup membayangkan ada adegan apa di kamar itu setelah mereka menikah.


"Furniture pertama yang aku lengkapi adalah kamar. Next on baru dapur. Karena orang hidup pasti butuh tidur dan makan."


"Tapi aku belum bisa masak."


"Gak papa. Aku cari istri bukan cari pembantu. Kita sama-sama belajar ya."


Nada memutar tubuhnya hingga kini dia menatap Aksa. Dulu dia tidak pernah mengira bahwa pria yang sangat menyebalkan itu justru kini membuat hidupnya sangat bahagia.


"Aku cinta kamu, Aksa," ungkapan pertama Nada yang membuat Aksa semakin mengeratkan pelukannya dan menatapnya dalam.


"Aku juga cinta kamu, Nada."


Kedua wajah yang saling menatap dalam itu saling mendekat. Ciuman pertama di tempat yang akan mereka tinggali kelak.


Aksa si perayu ulung itu selalu berhasil membuat Nada melambung tinggi dan seolah lupa daratan. Dengan bibir yang masih saling memagut Aksa menuntun Nada mendekati ranjang dan sedikit mendorong tubuh itu hingga jatuh di atas ranjang.


Aksa melepas ciumannya dan menatap Nada yang ada di bawah kendalinya. Bibirnya tersenyum menatap ketegangan Nada yang tersirat di wajah yang telah memerah itu. "Adegan selanjutnya nunggu kita sah." Aksa menghempaskan punggungnya di sebelah Nada. Mereka sama-sama menatap langit-langit yang masih putih bersih itu. Menenggelami pikiran masing-masing dan mungkin isi dalam kepala mereka sama.


Sedetik kemudian, Nada memiringkan dirinya dan menenggelamkan wajahnya di dada Aksa dengan berbantal lengan Aksa.


Satu tangan Aksa kini terulur dan mengusap rambut Nada.


"Kita akan selalu bersama, selamanya...."


.


.


💞💞💞


.


.


Aksa, pria bucin nomor berapa di novel aku?? 🤧🤧

__ADS_1


gombalin author dong.. 🙄


__ADS_2