It'S My Dream (Aksara Dan Nada)

It'S My Dream (Aksara Dan Nada)
Deal


__ADS_3

"Na, kamu tahu kapan aku wisuda?"


Nada hanya menatap Aksa. Bukankah Aksa baru semester 7. Lalu?


"Masih sekitar satu tahun lagi kan?"


Aksa tersenyum penuh arti. "Tiga bulan lagi kuliah aku udah selesai, aku udah kebut sks. Mungkin tahun depannya baru lanjut ke magister."


Nada hanya melebarkan matanya. Dadanya terasa semakin sesak terus mendapat kejutan dari Aksa. Rasanya dia seperti mau pingsan saja. Menikah dengan Aksa secepat itu, jujur dia sangat ingin tapi dia seolah tidak mempunyai kesiapan yang tepat untuk saat ini.


"Gimana? Deal, tiga bulan lagi menikah?"


Pak Teguh hanya tersenyum. Dia justru sangat bahagia jika mereka segera menikah.


Lagi-lagi Nada hanya speechless.


"Na, gimana? Kalau Papa sih setuju. Papa sudah percaya sama Aksa. Papa yakin, kamu pasti akan bahagia bersama Aksa." Pak Teguh kembali meyakinkan Nada.


Tanpa diyakinkan pun Nada sebenarnya sudah yakin. "Iya. Aku setuju."


Jawaban Nada membuat tawa mereka memenuhi ruangan. Sebenarnya Aksa sudah ingin loncat-loncat dan bereforia karena jawaban Nada.


Mereka kembali mengobrol, sedangkan kedua sejoli yang baru memutuskan untuk menikah itu masih terus saling pandang sambil mengulum senyum masing-masing.


Bayangan masa lalu terus berputar di kepala Aksa. Dia tidak menyangka seseorang yang sangat dia kagumi, bahkan menjadi idolanya itu kini akan menjadi miliknya seutuhnya.


Saat menuju sesi ramah tamah, Nada mengajak Aksa untuk mengobrol sebentar di teras rumahnya.


"Ih, udah gak sabar banget sih mau ajak mojok. Bentar lagi udah halal, kamu udah bisa acak-acak aku," goda Aksa yang langsung dibalas cubitan di pinggangnya cukup keras. "Auw, sakit Na."


"Kamu bisa gak sih gak buat aku jantungan gini. Rasanya mau pingsan dapat kejutan dari kamu bertubi-tubi."


Aksa justru tertawa. "Masih banyak kejutan-kejutan lainnya. Tunggu saja ya."


"Lihat nih, tangan aku sampai dingin membeku saking geroginya."

__ADS_1


"Ciee, sampai gerogi." Aksa meraih tangan yang memang terasa dingin itu dan memberinya kehangatan. "Akhirnya kita sampai di tahap ini, Na. Aku gak pernah menyangka, kamu labuhan terakhir aku, seseorang yang sangat aku kagumi."


"Iya, aku juga gak nyangka bisa jatuh cinta sama playboy tobat."


"Udah bucin Na, sekarang." Aksa semakin mengenggam erat tangan itu. "Makasih ya, kamu sudah mau menerima aku apa adanya."


"Rencana kamu selanjutnya apa? Gak keluar negri lagi kan?"


Aksa menggelengkan kepalanya. "Berat Na, aku gak mau nahan rindu lagi. Aku udah keterima ngajar kesenian di dua sekolah SMA. Mulai minggu depan aku ngajar sambil mempersiapkan wisuda dan mempersiapkan pernikahan kita."


Lagi-lagi pipi Nada bersemu merah. Pernikahan? Seperti apa ya kehidupannya setelah menikah dengan Aksa. Tapi ada yang perlu diberi tanda kutip. Mengajar di SMA? Guru muda setampan Aksa pasti akan menjadi incaran murid SMA di sana. Nada menjadi sedikit khawatir. "Jadi guru muda di SMA. Keren nih?"


"Kayaknya mengarah ke suatu hal nih kalimatnya. Jangan berpikir yang macam-macam."


"Ih, siapa yang mikir macam-macam."


"Kamu."


"Ih, nggak."


"Uhuk, adek keselek bang."


Seketika Nada menarik tangannya saat Tiara berjalan mendekat.


"Adek kecil ngapain sih ganggu aja."


"Kak Aksa, besok ke cafe gak?" tanya Tiara memberi kode.


"Ngapain?"


"Katanya besok anak-anak cafe mau ke rumah Pak Alvin buat jenguk istrinya," kode Tiara lagi.


"Terus kenapa? Udah, to the point aja."


"Aku mau ikut Kak sama Juna," kata Tiara sambil bercengir kuda.

__ADS_1


"Duh, kamu gak boleh pacaran." Aksa sedikit mencubit hidung adiknya yang terkadang bandel seperti dirinya.


"Kita itu cuma temen. Lagian dia itu gak peka-peka dari dulu."


"Gak peka tapi di deketin terus."


"Habisnya dia baik banget kak. Ya, ya, besok ikut ya."


"Ya udah, aku antar ke cafe ya." Aksa kini beralih menatap Nada, "Besok ikut ya Na, aku jemput."


Nada hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia kini beralih menatap gadis cantik yang mirip dengan ibunya itu. "Tiara, kita baru kali ini ya ketemu."


"Iya Kak. Kak Nada kok bisa suka sih sama kang gombal."


Aksa melebarkan matanya menatap tajam Tiara yang memang suka usil dengan dirinya.


"Gak tahu. Kena pelet kali ya," timpal Nada sambil tersenyum.


"Hati-hati ya, Kak Aksa itu usil, tukang modus juga. Aku pernah baca pesan wa nya dulu, katanya itu..."


Aksa dengan cepat membungkam mulut ember adiknya. "Jangan ember. Udah gak usah ungkit masa lalu. Kita makan aja ya." Aksa menarik paksa Tiara agar menjauh dari Nada.


Nada hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya kakak beradik itu memang sama-sama usil.


.


.


💞💞💞


Ini authornya semangat up tapi pembacanya gak semangat. 🙄🙄


Tetep aku selesaikan ya cerita ini. Aku sih orangnya konsisten.. 🤭


.

__ADS_1


Ada yang tahu sama Juna gak? Alias Arjuna.. Adiknya siapa hayo... 🤭


__ADS_2