
Aku Arumi Nazwa Latif usiaku 25 tahun saat ini, aku sudah menikah dengan seorang lelaki baik dan penyayang kami memiliki seorang putra yg sudah berumur 3 tahun. Kami berasal dari sebuah desa asri di Bali tengah. Kehidupan ku awalnya normal, kami selalu bahagia, dan suka duka kami lalui bersama. Pada suatu hari. aku merasakan perasaan buruk akan terjadi, dan ya, sebuah kecelakaan terjadi yg merenggut suami dan anak ku.
"Nak ikhlaskanlah, ini semua adalah takdir Yang Kuasa" Ucap ibu ku yg memelukku.
Aku hanya menangis mengingat semua kejadian yg aku alami hingga sekarang. Aku tidak menyesal.
"Ibu, Apakah aku tak pantas memiliki mereka? Apakah aku tak pantas bahagia?" tak terasa air mataku menetes.
"Sayang, mengapa kau berfikir seperti itu? Inilah Takdir, Tuhan tahu kamu kuat nak, maka itu dia menguji mu." ibu berusaha menghibur ku.
"Bu, aku tidak keberatan dengan takdir ini. Tapi bagaimana mereka memangdangku?" isak ku kembali.
Ibu hanya memelukku yg menangis sedih mengingat kejadian naas itu.
__ADS_1
Hari-hari berlalu, tak jarang mereka yang melihat dan mengetahui nasib ku bersimpati dan kasihan kepadaku. Dan ada juga yg memandang hina status ku ini.
"Tuhan apa salahku?" aku hanya bergumam sedih mengingat itu.
Setelah bertahun-tahun ku lalui, seiring juga kesedihan ku berkurang. Ayah dan ibu ku selalu membahagiakan ku. Aku mulai tersenyum, bahagia, dan perlahan melupakan kejadian itu. Aku terbiasa bersosialisasi dengan para penduduk disekitar rumahku.
"Tapi Aku tak bisa melupakan kejadian itu" kata hati ku.
"Nak, aku selalu mendoakan mu agar bahagia nanti" ucap orang tua ku yg mengerti apa yg aku fikirkan. Seketika aku terisak dan aku tak menyembunyikan kesedihan ku dari orang tua ku.
"Rumi kamu harus bangkit. Kamu masih punya masa depan, kamu masih punya kami. Jangan menyerah, Kamu akan bahagia nanti nak" Hibur ibu ku padaku.
Aku diam dan berfikir apa yg ibu katakan itu benar. Aku harus bangkit, aku masih diberikan umur oleh Tuhan untuk bahagia. Untuk melewati hidup dan melihat orang tua ku menua bahagia bersama.
__ADS_1
"Baik bu, aku akan mendengar mu. Terimakasih ibu selalu ada untuk ku dan selalu membuatku tenang" saat aku memeluk ibu
"Nak apa yg ayah bisa bantu?" tanya ayah
"Ahk Rumi bisa menyiapkan nya sendiri yah, tenang saja" jawab ku tersenyum dan mereka pun tersenyum karena memang iya aku bisa menyiapkan nya sendiri karena aku mengambil jurusan Bahasa dan Sastra saat duduk disekolah menengah atas.
.
.
.
.
__ADS_1
Untuk para reader, Saya masih pemula bila ada kesalahan mohon di mengertikan. Saya mohon dukungannya untuk Like, Vaforit dan koin seikhlas nya.
Terimakasih.