
BRAAAKKKK
Pintu kamar di dobrak keras oleh Esson. Sepasang insan itu pun terkesiap melihat esson di depan mata mereka yg sedang bercinta.
Esson mengarahkan pukulan ke bibir Zayn dan tamparan ke pipi Emily. Mereka diam tak melawan.
Tapi Esson memelukku, dan menarik ku keluar kamar itu, bahkan ke luar rumah itu. Dia membawa ku kerumah nya.
Reyhan yg duduk di ruang TV menyambangi kami yg baru masuk.
" Kenapa kamu bawa Arumi kesini Esson? Apa yg terjadi?" tanya Rey dengan tegas
Esson tak menjawab pertanyaan Rey, melainkan meninggalkan aku dan Rey.
" Rumi, apa yg terjadi? tolong jelasin ke aku kenapa Esson jadi gitu!" perintah Rey pada ku dengan menggenggam lengan ku.
" Maafin aku Rey. Ini semua salah ku. Semua salah ku yg ada disekitar kalian. Maaf." jawab ku lirih dan beranjak ingin pergi. Tapi tangan Rey sangat kuat menggenggam lengan ku.
" Tolong jelasin. Kita bicara baik-baik oke. Duduk dulu." ajak Rey
Aku menceritakan semua dari awal aku menginjakkan kaki ku setelah Rey mengantar ku pulang. Menceritakan betapa sakit nya melihat sesuatu yg sangat menyakitkan di depan mata ku sendiri.
Mungkin untuk Esson ini menyakitkan, tapi apa sebanding dengan sakit yg aku rasa karna status ku yg lebih sakral? Rasa nya tidak.
Rey meminta ku tinggal dirumah nya malam itu, tapi aku menolak dan pulang ke rumah mama dan papa. Rey juga memnintaku bertemu besok di caffe klasik yg beberapa hari lalu. Aku mengiyakan dan aku pamit pulang pada Rey.
¤¤¤¤
'Maaf Rey aku harus ambil barang-barang ku dulu karna sudah pasti Zayn tak di rumah malam ini'
Aku mengumpulkan semua barang-barang ku ke dalam koper dan turun ke lantai bawah untuk bergegas pergi. Tapi saat aku keluar dari pintu rumah mewah itu, aku melihat ayah dan bunda yg baru saja sampai rumah dari dinas nya di luar kota.
__ADS_1
" Kamu mau kemana sayang? Apa yg terjadi? Apa Zayn nyakitin kamu lagi selama kami tidak dirumah?" tanya ayah dengan tergesa-gesa. yg melihat ku berdiri dengan koper ku
Aku hanya diam tak menjawab 1 kata pun.
" Ayo masuk dulu, udah malem. Kita bahas rencana kita yg lain di dalem." Ajak ayah pada ku dan bunda untuk masuk kembali ke dalam rumah
Ayah menutup dan mengunci pintu karna dia tahu Zayn kali ini tak akan pulang.
Kami masuk ke dalam kamar ayah dan bunda untuk membahas rencana yg lain dengan sangat matang yg akan kita jalankan 2 atau 3 hari lagi.
Setelah itu aku masuk ke kamar ku dan seketika hati ku merasa panas, geram, sakit melihat kamar ku dan Zayn yg sudah koor karna ulah Zayn dan Emily. Aku sangat membenci kenyataan malam ini. Aku terpaksa tidur di sofa panjang yg berada tepat di depan ranjang kami.
Alarm ku berbunyi dan memanggil-manggil ku untuk bangun. Aku mengerjap-engerjapkan mata ku dan bangkit untuk duduk. Setelah sadar dari tidur panjang ku, aku didera kebingungan karna aku sudah tidur di atas ranjang yg bersih. Sprei dan selimut serta baret nya sudah di ganti, aku melihat kesebalah ku, Zayn ada di samping ku.
"Apa yg terjadi semalem? Apa dia yg bersihin dan pindahin aku ke atas?" tanya ku dalam hati. Tapi aku tak ingin merasa berhutang terima kasih pada Zayn setelah yg dia lakukan semalam pada ku.
Aku bangun, ke kamar mandi lalu ke dapur membuat sarapan untuk semua yg ada di rumah ini karna bi Wati sedang pulang kampung ke Jawa.
Aku bergegas naik ke kamar untuk memanggil nya.
Setelah ku buka pintu kamar ku yg tak berbunyi, terlihat Zayn, merapihkan semua barang-barang di koper ku dan menyimpan nya ke lemari. Aku juga melihat seisi kamar sudah rapih sesuai posisi nya.
" Ayo sarapan, semua sudah menunggu." kata ku tanpa melihat Zayn dan bergegas turun tanpa menunggu jawaban zayn.
Zayn turun dan kita semua sarapan bersama.
" Entah kenapa dia berubah lagi." gumam ku dalam hati.
Setelah semua sarapan dan ruangan sudah bersih, aku pamit pergi ke kanto pada ayah dan bunda. Aku melihat Zayn dusuk sendiri di taman. Entah apa yg dia fikirkan, aku tidak tahu. Aku menghampiri nya dan berpamitan pada nya. Tapi dia menahan tangan ku yg ingin pergi.
" Maafkan aku Mi. Maaf." ucap zayn
__ADS_1
Aku menghempaskan tangan nya dan berlalu pergi meninggalkan nya yg memandang punggung ku berlalu.
¤¤¤¤
Di kantor
" Permisi bu, ada seorang pria menunggu ibu di ruang tunggu tamu." Ucap Anantha
" Siapa dia?" tanya ku
" Maaf bu dia nggak kasih tau nama nya. Dia cuma minta saya sampaikan itu sama anda bu." Jawab nya formal
" Baik saya kesana."
Aku mencari pria itu di ruang tunggu tamu. Dia berdiri melihat sebuah pigura di ruang tunggu itu. Ya Aku memang suka memajang pigura di kantor ku. Entah itu pigura keluarga, sahabat, rekan bisnis, bahkan para karyawan. Tapi pigura ini berbeda. Ini adalah pigura pernikahan ku dan Zayn yg tersenyum bahagia. Terang saja, aku sekarang menyesal memajang nya.
" Permisi tuan, ada yg bisa saya bantu?" tanya ku pada pria yg masih membelakangi ku dan pria itu membalikkan badan nya.
Alis ku menyengrit dan mata ku menyipit.
" Apa yg bawa kamu kesini? Mungkin kamu salah tuju tempat." kata ku sinis
" Mi, aku kesini mau cari kamu. Aku mau minta maaf. Aku salah. Maaf mi, aku bener-bener minta maaf." Ucap Zayn lirih dengan ekspresi penyelasan nya.
" Tenang aja, kamu nggak butuh belas kasih memaafkan dari aku. Kamu nggak pantes!" jawab ku dengan kesal
" Mi aku tau kamu pasti gak bisa maafin aku, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf mi" ucap Zayn memegang tangan ku
" Lepasin tangan aku! Kamu bisa keluar sekarang. Kasihan harga dirimu, minta maaf pada seorang janda loh. Kamu bisa keluar sekarang." pinta ku dengan mempersilahkan dengan satu tangan ku
" Mi aku sungguh-sungguh. Aku nyesel mi. Maafin aku.." kata Zayn lagi lalu pergi meningglkan ku sendiri di ruang tunggu itu yg seketika mata ku melihat pigura yg menyesatkan hati ku.
__ADS_1