
"Apa yg kamu katakan hah?!" gerak cepat ayah dan menarik kerah kemeja Zayn
"Ayah, ayah seperti ini dan kasar kepada anak ayah dendiri karna 'janda' itu hah?!" lagak zayn yg membuat bunda nya melayangkan sebuah tamparan di pipi nya
"PLLLAAAKKK"
Sebuah tamparan yg amat sakit merasuki perasaan dan menusuk hati Zayn karna sedari kecil ia tak pernah diperlakukan kasar oleh kedua orang tua nya.
"Sejak kapan mulut mu menjadi bre****k seperti ini?!" tanya bunda
"Kami tak pernah mengajarkan mu merendahkan status orang lain, apalagi sekarang dia sudah sah menjadi istri mu. Bahkan kamu pun menyentuh nya kan!! Apa yg selama ini kau fikirkan zayn? Apa kamu nggak mencintai Rumi hingga hampir 3 tahun pernikahan kalian?!" tanya bunda tanpa sadar meneteskan buliran bening di pelupuk matanya.
"Aku tak pernah mengajari mu seperti ini, Kalo memang kamu nggak mencintai dia kenapa kamu menikahi nya hah?!" lanjut bunda
"Kenapa?!" tanya bunda lagi
Zayn pun tak bisa menjawab pertanyaan bunda, ia pun tak tahu kenapa ia bisa menerima perjodohan ini secara bar-bar dan tanpa berfikir. Yg diinginkan nya hanya melihat ku menderita karna banyak orang yg menyayangi ku.
¤¤¤¤
Dirumah
__ADS_1
Sudah berminggu-minggu berlalu.
Pagi ini sangat cerah, tapi aku merasa tak ada semangat. Sakit hati ku tak bisa di tawar lagi. Mama papa selalu menghibur ku. Mengingatkan ku untuk bekerja, tanggung jawab, dan juga mengingatkan ku untuk bahagia. Tapi tak tahu kenapa aku belum bisa berdiri, seperti tulang kaki ku terasa patah. Sudah lama aku merendam diri dibalik kesedihan. Aku berdiri dan melihat diriku di cermin.
"Aku harus bangkit, Aku harus buktikan bahwa aku bisa berdiri. Nggak akan aku biarkan mereka menghina ku." Tutur ku pada diri sendiri
Aku beranjak ke kamar mandi, mengambil pakaian ku, tas dan semua perlengkapan kerja ku. Aku merias diri ku simple, yg sesuai dengan pakaian yg ku pakai. Mengambil flat shoes hitam yg elegan dan mewah. Aku berlalu keluar kamar ku, menuruni tangga dan menyapa kedua orang tua ku dengan kegembiraan.
"Ma, Pa ayo kita sarapan bersama." ajak ku dengan penuh senyum.
Dua pasang mata itu menatap ku lekat dan tak menjauhkan pandangan nya hingga aku menghampiri mereka.
"Nggak ma, Rumi sehat kok. Rumi juga harus bangkit kan, Rumi juga harus menghadapi kenyataan dan nggak bersembunyi lagi. Rumi juga ingin tahu saat Zayn melihat ku bangkit dan bahagia lagi." tutur ku
"Mama sayang kamu nak." peluk mama pada ku
Aku tahu sebenernya hati ini masih sangat terluka. Seberapa besar aku mencoba bangkit maka akan semakin mereka menyakiti ku karna itulah keinginan Zayn.
Aku beranjak setelah sarapan bersama, menuju kantorku dan siang nya akan menuju ke resto X di desa B sekalian ingin temu kangen dengan ibu dan ayah. Aku juga sangat merindukan sahabat ku yg selalu bertanya kabar ku dan yg selalu juga tak pernah ku gubris.
¤¤¤¤
__ADS_1
Tepat Jam 2 siang
aju sudah berada di resto X. Aku bergegas menemui ketiga sahabat ku.
"Rumiiiii...." keterkejutan mereka karna aku datang setelah lama tak memberi kabar
"Iya sahabat ku, ini aku. Kemari kalian aku dangat kanget tahu." tutur ku
Ani dan Arka menghampiri ku, kita berpelukan bertiga. Aku melihat Gio masih berdiri di posisi nya. Tak bergeming. Tapi Gio tersenyum, aku juga melihat air mata nya jatuh saat dia melepaskan kaca mata minus milik nya.
" Gi, kamu nggak kangen sama aku?" tanya ku pada Gio. Arka dan Ani melepaskan pelukan kami. Gio berjalan kearah ku dan air mata nya masih menetes. Aku berjalan kearah Gio dan kami berpelukan. Aku tak yg di fikirkan pembaca saat ini, kenapa aku memeluk pria lain? Padahal aku masih sah istri Zayn...
Gio memelukku erat dan tak menyembunyikan buliran bening itu.
"Iya aku nggak kangen sama kamu Mi. Aku nggak kangen. Nggak akan. Tapi aku mohon jangan bunuh aku perlahan seperti ini. Sakit banget yg aku rasa lihat kamu terpuruk." Ucap Gio dia melepas pelukan nya dan beralih memegang pundak ku dengan kedua tangan nya.
"Aku mohon bahagia lah. Bangkit ada kami yg sayang sama kamu. Jangan terpuruk, jangan bersedih. Jangan menyakiti diri mu sendiri. Karna itu adalah kemenangan awal Zayn. Buktikan kamu bisa bangkit. Aku janji akan selalu ada disisi mu. Aku menyayangi mu, nggak akan pernah berubah." tutur Gio
"Makasih Gi. Makasih kamu yg selalu mendorong ku untuk bangkit. Kamu yg selalu ingin aku bahagia. Makasih Gi. Makasih." air mata ku tak mampu lagi ku bendung, aku melepas tangan Gio dari pundak ku dan segera memeluk Gio. Ani dan Arka pun menghampiri kami dan memeluk kami.
"Makasih. Makasih kalian selalu menyayangi ku."
__ADS_1