
Banyak hal yg membuat ku sangat lelah, bahkan walau aku tak bekerja sangat berat hingga membuat ku mengabaikan kepindahan Gio ke kota D.
Anantha berkali-kali menghubungi ku dan mengirimkan pesan singkat bahwa Gio ada di kantor menunggu ku. Dengan wajah letoy aku terpaksa bergegas.
"Aku punya tanggung jawab besar, kenapa juga aku harus galau mikirin rencana bunda dan ayah. Aku tau itu demi kami, tapi ini bikin aku stress." gumam ku dalam hati
Dengan langkah berat aku melangkahkan kaki ku pergi, menemui Gio.
¤¤¤¤
Di kantor
"Gi, maaf kamu hadi lama nunggu." ucap ku lemas.
Gio beranjak dari duduk nya, menggapai ku dan menyimpan ku dalam pelukan nya. Gio sangat hafal dengan sikap dan sifat ku.
"Ceritain ke aku sekarang." perintah Gio
"Cerita apa Gi?" kata ku sambil melepaskan pelukan nya dan berusaha menyembunyikan kebingungan ku ini
"Apa perlu aku belajar lagi memahami kamu? Aku ini bukan baru sehari kenal kamu Mi." sahut Gio
Gio menatap ku dengan mata berbinar seolah memanggil aura kejujuran ku.
"Gio aku bingung banget Gi, aku harus apa?" tanya ku
__ADS_1
"Ceritain dulu ya ke aku, nanti kita cari solusi nya." sahut Gio
"Tapi Gi kamu baru aja sampe, pasti kamu capek kan? Kita omongin nanti ya, sekarang kamu istirahat dulu." rayu ku
" Mi, aku udah istirahat dari tadi pagi sambil nunggu kamu. Anantha juga melayani ku kaya aku ini raja." candaan Gio
Aku terkekeh mendengar candaan itu. Gio memang selalu bisa membuatku melulakan kesedihan ku.
"Oh ya Gi, nanti sebelum ke resto H kamu ketemu mama dulu ya, karna mama ingin liat kamu langsung. Oke?" saran ku
"Baiklah buk boss. Hamba menurut saja agar kau bahagia. Hahahahaha" candaan Gio lagi dan membuat ku tertawa bersama nya.
¤¤¤¤
Tepat saat makan siang mama datang, Aku, mama, Gio dan Anantha makan siang bersama di ruang meeting lalu membahas soal penempatan Gio. Selain itu Aku juga mengajukan jabatan Arka di salah satu caffe mama yg clasik tapi tetap harus sesuai tahap.
Aku masih duduk diam di area kerja ku. Mama datang, duduk dan mengajak ku bicara.
Aku menceritakan semua yg terjadi semalam antara aku, bunda dan ayah. Kesimpulang yg mama berikan pada ku sama seperti rencana ayah dan bunda. Aku tahu mereka tak bersekongkol. Tapi mama dan papa juga sudah mengenal Zayn sejak dia masih kecil, jadi sedikit tidak nya mama dan papa tahu sifat Zayn.
Aku mengambil HP ku dan segera mengirimkan pesan singkat ke satu nomor.
"Bun, Rumi ingin ketemu." tulis ku
"Iya sayang, dimana?" balasan singkat bunda
__ADS_1
"Di tempat semalam ya bund" pinta ku
"Iya sayang, bunda berangkat sekarang." balas bunda.
Aku tak membalas pesan bunda, aku mengambil tas dan kunci mobil ku lalu pergi meninggalkan kantor. Tak ada ritme, tak ada lirik dan tak ada seruan di dalam mobil saat perjalanan hingga aku sampai.
Aku berlalu mencari posisi bunda yg mungkin sudah menunggu ku karna jarak rumah bunda dan caffe itu lebih dekat dari pada aku. Sejurus kemudian aku menyapa bunda, menyalimi nya, mencium nya dan bunda juga mempersilahkan ku untuk duduk berhadapan dengan nya.
Awalnya suasana begitu canggung untuk mengutarakan pertanyaan satu sama lain. Tapi aku memberanikan diri membuka bibir dan mengarahkan langsung pada topik pembicaraan kita semalam.
"Bund, tentang semalam.......... Rumi sudah memikirkan nya. Tapi Rumi ingin bernegosiasi sama bunda." ucap ku pertama
"Apa nak, coba katakan dulu." pinta bunda
"Bun, Rumi bersedia mengikuti rencana bunda dan ayah. Tapi rumi akan berhenti bila keadaan nya terbalik walaupun belum 1 tahun. Bagaimana bund? Apa bunda bisa terima?" tanya ku
"Baik sayang, malah bunda bersyukur kamu mau mencoba saran bunda ini. Bunda seperti ini karna kami semua sayang sama kamu dan zayn."
"Rumi tahu bunda. Terima kasih walaupun keadaan nya seperti ini bunda nggak pernah lupa sama aku. Makasih bunda juga selalu mendukung dang menyayangi Rumi." kata ku sambil menggenggam tangan bunda.
"Kalo gitu kapan kamu mau pindah? biar bunda bisa siap-siap."
"Mungkin lusa bun. Karna masih ada kerjaan Rumi yg mendesak."
"Ya udah kalo gitu bunda tunggu dan bunda siapin semua dulu." jawab bunda
__ADS_1
kami berbincang berdua melepas kerinduan semalam yg hanya sekejap