
Aku kini sudah biasa melalui semua ini. Semua pekerja mama dan papa sangan baik kepada ku. Tapi mama dan papa tetap membantu ku mengontrol semua properti mereka.
Aku berkunjung sembari liburan saat mengunjungi satu properti papa di Bali Utara. Disana ada yg membuat hati ku tersentuh.
"Ma, Pa aku mau buat Yayasan sosial disini. Apa boleh?" tanya ku pada mereka.
"Boleh Rumi, tapi kita harus memikirkan semua secara terinci. Papa akan menyiapkan lahan nya sayang." jawab papa.
"Makasih banyak pa. Makasih udah selalu mendukung ku."
"Jika untuk kebaikan kenapa nggak?" jawab mama
Kami sudah sampai di resort milik papa, papa memperkenalkan ku sebagai penerus mereka. Mereka semua ramah karna kami orang Bali terkenal akan keramahan kami. Setelah itu aku papa dan mama membicarakan tentang usulku.
Mereka memanggil beberapa orang kepercayaan papa dan mama.
"Pa aku ingin ini cepat terlaksana ya, Rumi mohon." pinta ku
"Tenang sayang, Papa akan bantu kamu selagi itu baik." jawab papa.
Semua sudah di tentukan. Kita sudah sepakat untuk memulainya 2 hari lagi mulai dari melihat lokasi, memperhitungkan bahan, dan bangunan. Semua sudah di sepakati dan hal itu mendapat sambutan yg baik dari kolega-kolega serta teman-teman papa dan mama yg ikut bersumbangsih..
Petang hari nya kami kembali pulang ke Kota D. Karena hari ini adalah hari yg melelahkan. Kami berbincang-bincang di dalam mobil dan terhenti ketika mama mendapat sebuah telpon dari teman nya.
"Iya ada apa jeng?" tanya mama
"Jeng gimana dengan usulku? kamu nggak setuju nih?" ucap orang itu diseberang
"Jeng, aku lagi dijalan mau pulang. Kamu besok bisa kan kerumah ku? Ajak mereka ya." pinta mama pada teman nya
Aku tak menghiraukan apa yg mereka bicarakan karna aku sangat lelah dan membiarkan mataku terpejam.
¤¤¤¤
__ADS_1
"Rumi sayang bangun. Kita udah sampe rumah nak." ucap papa yg membangun kan ku
"Udah sampe ya pa?" jawab ku sambil mengerjapkan mata ku
Aku berlalu meninggalkan kan papa dan bergegas masuk kekamar ku.
Aku membersihkan badan ku, berganti baju dan segera naik ke ranjang ku dan bersiap untuk bermimpi.
Pagi ini sangat berbeda. Aku menuju dapur untuk mengambil minum. Aku terheran-heran melihat bi Iyah yg sedang membuat sarapan yg porsi nya melebihi kami bertiga.
"Bi kenapa banyak banget sajiin sarapan di meja? Ada apa?" tanya ku.
"Ini perintah nyonya. Kata nya akan ada tamu, non." jawab bibi dan akau hanya mengangguk dan tak merasa asing dan memikirjan berlebihan dari ucapan bi iyah.
Aku melihat mama dan papa menuruni tangga bersama dan sangat sudah rapih.
"Rumi kenapa kamu nggak ganti baju. Hari ini kan mau ada tamu spesial." tutur mama dan papa hanya tersenyum
"Iya nanti juga kamu akan tau sendiri. Sekarang buruan mandi, ganti baju dan dadan yg manis ya sayangku."
"Iya ma." jawab ku singkat karna mama bilang sudah tidak ada waktu lagi.
Aku bergegas menuruti perkataan mama dan segera turun ke bawah untuk sarapan.
Aku melihat di meja makan sudah ada Bunda, Ayah dan Zayn duduk yg sudah menunggu ku.
"Ayah, Bunda apa kabar?" tanya ku dan menyalami mereka.
Belum sempat mereka menjawab zayn sydah lebih dulu membuka bibir nya.
"Kamu nggak nanya kabarku? Cepetlah duduk aku udah laper nih."
Seketika semua tertawa dengan ucapan Zayn. Aku duduk dekat di dekat mama dan berhadapan dwngan Zayn. Kami sarapan bersama, setelah sarapan kami berbincang-bincang dan memulai ke pembicaraan inti yaitu "PERJODOHAN" antara aku dan Zayn
__ADS_1
Serentak kami kaget bersamaan.
"Apa? Perjodohan?" ucap ku dan zayn bersamaan
"Iya sayang, bunda lihat kalian serasi." jawab bunda.
"Tapi bunda, kalian semua udah tau status ku. Dan itu nggak mungkin. Dan lagi Zayn pasti udah punya pasangan pilihan nya." tungkas ku.
Kami diam selama 10 detik sebelum zayn membuka bibir nya dan makin membuat ku bingung.
"Aku setuju, dan aku nggak keberatan dengan ini." ujar zayn dan ditanggapi kelegaan oleh ke empat orang tua itu. Dan mereka berbalik menyerang ku.
"Tapi itu nggak adil, kamu tau status ku ini janda, dan kamu masih punya banyak waktu dan masa depan yg bagus." elak ku
"Aku terima kok status mu. Kalo emang udah takdir nya ya mau bilang apa? Kamu keberatan dengan permintaan orang tua kita? Kita bisa mulai dari awal kan?" ucap zayn yg membuat orang tua kami semakin yakin.
Mama dan papa memberiku kesempatan untuk mencoba dan mengenal zayn lebih dekat.
"Tapi jujur aja, sikap zayn buat aku bingung." gumam ku dalam hati
Terpaksa aku mengiyakan nya. Para orang tua memberikan kami waktu saling mengenal satu sama lain selama 5 bulan. Karna bulan ke enam adalah penentuan tanggak pertunangan ku dan zayn dan itu membuatku sangat keberatan.
.
.
.
.
Untuk para reader, Saya masih pemula bila ada kesalahan mohon di mengertikan. Saya mohon dukungannya untuk Like, Vaforit dan koin seikhlas nya.
Terima
__ADS_1