
" Lepasin tangan aku! Kamu bisa keluar sekarang. Kasihan harga dirimu, minta maaf pada seorang janda loh. Kamu bisa keluar sekarang." pinta ku dengan mempersilahkan dengan satu tangan ku
" Mi aku sungguh-sungguh. Aku nyesel mi. Maafin aku.." kata Zayn lagi lalu pergi meningglkan ku sendiri di ruang tunggu itu yg seketika mata ku melihat pigura yg menyesatkan hati ku.
Aku kembali ke ruangan ku dan mengerjakan beberapa berkas yg harus ku tangani sendiri. Karena besok adalah hari puncak rencana aku ayah dan bunda. Setelah semua beres dan waktu sudah menunjukkan senjanya aku merapihkan meja kerja ku dan pergi pulang.
☆☆☆☆
Di rumah
Aku sudah membereskan beberapa lembar pakaian ku. Charger, laptop dan beberapa novel juga sudah ku simpan ke dalam ransel sedang ku.
Zayn masuk ke kamar dan mendapati ku yg sudah akan pergi.
" Kamu mau kemana?" tanya Zayn dengan memegang tangan kanan ku
" Aku ada tugas di luar untuk beberapa hari." Jawab ku tanpa melihat dan menghempaskan pegangan tangan zayn
" Dimana? Apa boleh aku temenin?" tanya zayn lagi
" Di Lombok. Nggak usah. Aku kesana juga sama Gio dan Anantha. Aku pamit" jawab ku dan berpamitan pada zayn juga menyalami tangan nya.
" Apa kamu semarah itu? Padahal semua yg kamu lihat nggak semua juga bener. Itu hanya akting" gumam Zayn dalam hati yg melihat tubuh ku berlalu meningglkan nya.
Aku juga berpamitan dan memberi kode bahwa aku sudah siap kepada ayah dan bunda. Lalu aku pergi dengan mengendarai mobil ku.
" Maaf Zayn, aku cuma mau kamu rasain apa yg selama ini kamu lakuin." kata ku pelan saat beberapa ratus meter meninggalkan halaman rumah mewah itu.
__ADS_1
○ flashback on ○
Rencana aku dan mertua ku adalah membangkitkan kekhawatiran zayn dengan memanipulasi dimana aku, dan apa yg terjadi pada ku.
Semua sudah di atur oleh ayah. Ayah juga berpura-pura menjadi jahat dan benci pada ku untuk memancing kebusukkan sifat Emily.
Memang kami salah, tak seharus nya kita melibatkan Emily, tapi ini adalah satu-satu nya cara untuk mengungkap siapa sebenarnya Emily dan ini juga cara untuk menjauhkan Emily dari Zayn.
● flashback off ●
Sudah 2 hari aku tinggal di Vila mama dan papa yg ada di Bali Barat. Dekat dengan pantai dan suasana nya yg nyaman walau sedikit lebih panas dari kota D.
Aku juga sengaja tak mengabari siapa pun sesuai dengan rencana walau banyak pesan dan chat singkat yg aku terima dari Zayn dan yg lain. Tapi aku sengaja tak menggubris untuk membuat Zayn khawatir pada ku. Dia terus saja melakukan panggilan pribadi juga panggilan video, tapi tetap aku tak menggubris nya.
Aku keluar untuk jalan-jalan ke pantai dengan berjalan kaki dan hanya di timpali HP dan alat perekam kecil untuk suara mau pun video di dalam ransel kecil ku.
Aku hanya berfikir positif, mungkin ini hanya bagian dari rencana ayah, tapi tak disangka aku salah.
Aku di menghirup obat bius di sebuah kain kecil yg menempel di hidungku dan mengakibatkan aku pingsan.
Aku membuka mata ku perlahan dan merangsang kesadaran ku. Aku kebingungan di mana aku saat ini, dan tangan ku terikat.
Tempat itu sepi, kumuh sepeti sebuah gudang tapi lumayan besar. Aku mencoba meraih ransel ku yg tergeletak agak jauh dari tubuh ku, dengan bersusah payah aku menggapai nya dan aku berhasil. Dengan cepat aku mengaktifkan alat perekam itu sebagai bukti nanti karna penculik sesungguh nya pasti akan menampakkan diri.
" Wah tuan putri sudah sadar ya? Ada yg bisa kami bantu tuan putri?" Tanya seorang penculik itu setelah masuk ke gudang melihat keadaan ku.
" Tolong lepaskan saya. Saya bukan target kamu!" kata ku setengah berteriak
__ADS_1
" Siapa bilang kamu bukan target kami. Arumi Nazwa Latif, kamu adalah target kami. Dengan ini kami akan dapat uang banyak." tungkas penculik yg berbadan besar dan bertatto itu
" Berapa yg kamu mau? aku bisa kasih! katakan!" perintah ku
" Banyak, tapi kami sudah menerima dari orang lain." jawab penculik itu
" Siapa yg menyuruh mu hah? Katakan!!" perintah ku lagi dengan berteriak.
PLAAAKKKK
sebuah tamparan aku terima di pipi k.
" Jangan banyak tanya kalo kamu nggak mau mati disini.!" bentak penculik itu dengan penekanan nada dan berlalu pergi meninggalkan ku yg berteriak meminta untuk melepaskan ku yg tak di gubris oleh sang penculik
Aku samar-samar mendengar percakapan penculik itu dengan seseorang, tapi suara itu adalah suara seorang perempuan.
Aku tak berfikir banyak tapi aku berusaha melepaskan ikatan di tangan ku agar aku lebih cepat bisa melarikan diri.
Aku sangat berusaha keras dan hasil yg aku terima juga nihil. Tapi aku terpaku melihat sebuah tiang beton menjulang tinghi yg permukaan nya masih kasar. Aku menaik turun kan tangan ku yg terikat agar tali itu bisa terpotong pelan-pelan. Ya, akhir nya aku berhasil melepaskan ikatan itu dan segera mengambil tas ku lalu mencari jalan untuk melarikan diri.
Aku memanjat sebuah jendela yg di atas nya ada sebuah pentilasi yg bisa di lepas. Aku berhasil melarikan diri ku. Tapi saat aku turun, aku terjatuh dan membuat penjaga di luar gudang itu curiga.
" Hey berhenti!" ucap salah seorang penjaga
Aku berlari dengan kencang, berusaha mencari bantuan. Tapi sayang aku memilih tempat yg salah karna daerah itu tidak padat penduduk.
Sudah jauh aku berlari, mereka masih tetap mengejar ku juga.
__ADS_1
" Alangkah bodoh mereka yg ikut mengejar ku dengan berlari." gumam ku tapi aku sangat bersyukur aku bisa terbebas dari gudang itu.