Jangan Rendahkan Status ku

Jangan Rendahkan Status ku
Liburan dan Ungkapan Cinta


__ADS_3

Tanggal 31 Desember adalah hari pertunangan antara aku dan Zayn. Terhitung sejak hari ini masih ada 29 hari menuju hari itu.


Aku mengambil cuti dan liburan ke rumah ayah dan ibu. Sejak di tetap kan nya hari pertunangan, sudah hampir 2 minggu aku tidak bertemu ayah dan ibu. Kita hanya bicara di telpon atau di video call. Itu tidak pernah membuat ku puas.


Hari ini hari sabtu, aku mengambil cuti selama 5 hari untuk berlibur ke rumah ayah ibu dan menginap disana. Tapi hari ini mama papa, Zayn dan orang tua nya ikut berlibur ke desa B tetapi mereka tidak menginap.


Aku semobil dengan Zayn, para sepasang orang tua membawa mobil mereka masing-masing karna Zayn akan pulang dengan orang tua nya nanti.


Zayn tak henti menatap ku dan enggan melepas genggaman tangan ku.


"Sayang, apa kamu nggak bisa kalo nggak nginep di rumah ibu?" tanya zayn


"Nggak bisa Zayn, aku udah janji sama ibu dan ayah." jawab ku


"Tapi 5 hari itu lama sayang."


"Iya aku tau, tapi tolong ngerti ya, karna setelah kita nikah aku akan tinggal dirumah kamu." pinta ku memelas.


"Okelah, tapi kamu harus tetap kabarin aku, dan harus tepat waktu video call aku ya."


"Iya posesif." gemas ku dan mencubit pipi kanan Zayn


Kami tertawa bersama dan suasana yg seakan mendukung.


Akhir nya tiba di rumah ayah ibu. Aku mengajak Zayn dan ke empat orang tua itu masuk dan duduk. Ibu membawakan teh dan kopi untuk mereka. Para orang tua berbincang-bibcabg dirumah. Sedang aku mengajak Zayn keluan rumah untuk menikmati pemandangan desa.


"Adem" ucap Zayn


"Iya emang adem, maka nya aku betah banget disini. Enggak panas kaya di kota."


"Iya tapi kan sekarang udah teduh di kota." sahut zayn


"Apa yg bikin teduh coba?" tanya ku


"Akulah! Aku yg selalu meneduhkan ketika hati mu merasa panas."

__ADS_1


"Idih gombal amat sih ah" jawab ku. Dan kami tertawa bersama karna gombalan Zayn yg agak tidak nyambung itu.


Hari menunjukkan kegelapan nya. Zayn dan orang tua nya serta mama dan papa pamit meninggalkan aku yg ingin menikmati liburan disini.


"Sayang, inget ya yg aku bilang tadi. Karna 5 hari itu lama." bisik zayn karna malu ada 3 pasang orang tua diantara kami.


"Iya bawel" jawabku.


"Kami semua pamit dulu ya, dan Rumi jangan bikin ibu sama ayah disini kesusahan ya." pamit papa


"Iya pa. Kalian juga hati-hati."


Mereka berlalu dan hanya menampakkan lampu merah di bamper mobil belakang.


Aku pamit ke kamar ku untuk istirahat. Karena aku berjanji besok akan menemui Ani di resort.


Seperti biasa aku menjalankan rutinitas malam sebelum tidur. Saat di pembaringan denting HP ku berbunyi.


"Rumi" isi chat itu dan dari seorang pria yg selalu menyapa ku saat aku akan tidur


"Udah mau tidur ya? Ani bilang besok kamu mau ke resort ya?" tanya Gio


"Iya Gi besok aku kesana. Kamu besok kerja?" tanya ku balik


"Iya tapi kerja sore, Ani juga kerja sore. Kamu jam berapa kesini nya?"


"Mungkin sore juga, sekalian jalan-jalan karna kalo pagi di resto akan rame. aku nggak mau ganggu temen-temen." jawab ku


"Ya udah kalo gitu kita tunggu kamu besok oke."


"Baik pak presiden" balasku


¤¤¤¤


Esok nya aku membantu ibu di dapur, membuat kan teh untuk kami, membuat sarapan dan menghabiskan waktu temu kangen bersama ibu dan ayah.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 4 sore dan suasananya masih terang. Aku berangkat ke resort membawa motor ayah, saat sampai aku menyapa semua teman-teman yg melihat ku ke arah resto.


"Jeng jeng jeng. Aku datang sayang kuh." kata ku memeluk ani yg kaget saat aku berteriak di belakang nya.


"Bikin kaget aja ah kamu Mi. Ayo ke kantin, aku udah nahan laper nunggu kamu." ajak Ani tanpa menunggu persetujuan ku dan menarik tangan ku.


Kami sampai di kantin, ada beberapa staff disana. Gio dan Arka datang menyapa ku.


"Hai Mi gimana kabar kamu? " tanya Arka


"Aku baik ka. Kalian gimana?" tanya ku balik


"Tenanglah, kita bertiga disini baik kok. Cuman sepi aja nggak ada kamu." jawab Gio


"Lah kan sekarang aku disini. Jadi udah rame kan?" hibur ku pada sahabat ku.


Kami berbincang-bincang. Karna memang lama tak bertatap muka. Mereka amat baik kepada ku sejak menjadi sahabat kurang dari 2 tahun yg lalu karna memang kami seumuran. Kantin mendadak sepi, dan hanya ada kami berempat.


"Mi, aku mau ngomong sesuatu." Ucap Gio


"Ngomong aja kali Gi. Kita ini temen."


"Mi udah berapa tahin kita berempat kenal?" tanya Gio


"Udah hampir 2 tahun kaya nya. Kenapa Gi?" tanya ku balik


"Mi, udah hampir 2 tahun juga aku nyimpen perasaan, sekarang aku udah nggak kuat lagi. Mi aku suka sama kamu. Bisakah kamu buka hati kamu buat aku? Aku nggak mempermasalahkan status mu., aku nggak masalah. Dan ortu ku juga udah tau tentang kamu Mi. Aku serius, bisa nggak kamu kasi aku kesempatan isi hati kamu?" ucap Gio lirih dan penuh keyakinan.


Sejenak kami bertiga terkesiap dengan perkataan Gio terutama aku. Bingung, bimbang, dan malu kini menyelimuti hati ku. Tapi aku tak ingin memberikan harapan palsu untuk Gio, karna di hati ku sudah ada Zayn. Aku tak ingin melukai persaan Zayn dan juga ketiga pasang orang tua ku itu. Dan terpaksa aku......


"Maaf Gi. Aku minta maaf. Aku nggak bisa sama kamu." ucap ku lirih dam menunduk


"Kenapa Mi, apa nggak ada kesempatan buat aku di hati kamu?"


"Gi bukan gitu, mungkin kesempatan itu hanya untuk kita berteman. Dan aku juga udah punya tunangan dan akan tunangan akhir tahun ini."

__ADS_1


Mereka bertiga tak menyangka dengan yg ku katakan, karna memang aku tak perna bercerita masalah Zayn kepada mereka karna aku selalu mengingat status ku.


__ADS_2