Janji Suci

Janji Suci
Bab 15


__ADS_3

Pagi yang kesekian kalinya dalam hidup Nini. Seperti biasa dia merengangkan otot-ototnya sebentar, membuka jendela kamarnya menatap aktivitas yang sudah dimulai.


Menatap keluar dengan pikiran yang meratapi nasibnya.


Tuhan. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


4 hari lagi aku akan menikah. Jika aku menolak maka aku akan membunuh seseorang yang berhati malaikat.


Nini menyilangkan tangannya memeluk kedua bahunya. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia takut dengan kehidupan yang akan dihadapinya nanti. Awalnya dia mengira Johan adalah seseorang yang baik, tapi sikapnya kemarin membuat Nini ragu.


Setelah puas melepas kesedihannya, Nini berjalan menuju dapur hendak membuatkan sarapan. Sayangnya tidak ada persediaan makanan di sana. Selama ini dia selalu makan di luar.


Nini mengambil ponselnya ingin memesan makanan. Sebelum membuka kunci keamanan ponselnya, di layar depan ada notifikasi pesan baru. Nini membukanya, ternyata dari johan sejak kemarin sore.


Nini mengabaikannya lalu memilih aplikasi untuk memesan makanan.


Meletakkan ponselnya pada meja rias, meraih handuk lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Setelah mandi, Nini melihat pakaian kotornya sudah menumpuk. Dia harus menelpon ke tempat laundry langganannya untuk mengambil pakaiannya.


Tok..tok..tok..


"Laundry..Laundry.." Mendegar itu, Nini langsung membuka pintu


"Tunggu sebentar ya pak." Nini berlari menuju kamar tidurnya. Dia sudah membungkus pakaiannya pada kantong plastik besar.


"Ini pak." Nini menyerahkan bungkusan besar itu lalu kembali masuk ke dalam.


Beberapa menit kemudian suara pintu diketuk kembali terdengar. Kali ini pengantar makanan online. Setelah menerima bayaran, orang itu pergi meninggalkan kediaman Nini.


"Bosan ni." Nini menatap kotak makanan di depannya dengan cemberut.


Seperti tidak ada nafsu makan. Dia bersandar pada kursi di meja makannya.


Sedang apa ya ayah dan ibu sekarang?


Apa mereka sibuk mencari pakaian untuk acara wisuda Fany nanti.


Aku pengen pulang..


Ketukan pintu kembali terdengar. Nini mengusap wajahnya. Berjalan mendekati sumber suara dan membuka pintu.


*K*enapa lagi dia ke sini?


Wajah Nini langsung berubah masam melihat Johan berdiri di hadapannya.


" Ada apa?" tanya Nini ketus


" Hari ini kita harus mengurus surat-surat pernikahan kita."


"Hari ini?"


"Mau mu kapan?" tanya Johan kesal


" Segera mandi dan siapkan dirimu. Hari ini aku tidak sibuk." tanpa permisi Johan melangkah masuk dan duduk santai di sofa ruang tamu.


"Apa lagi yang akan diurus, selesaikan hari ini."


" Besok. Kita diharuskan mengikuti kursus kilat." Johan menatap Nini yang masih berdiri di depan pintu


" Apa tidak bisa hari ini?"

__ADS_1


"Tidak bisa. Jadwalnya sudah ditetapkan begitu. Setelah itu kau boleh mempersiapkan dirimu selama 2 hari. Oh ya, tadi kata ibu mulai hari ini, semua barang-barangmu harus dipindahkan ke rumah." Wajah johan terlihat santai berkata demikian tanpa beban sedikit pun


"Hah?? Apa tidak terlalu buru-buru?" wajah Nini berubah tegang


Johan mengangkat bahu. Tidak ingin melanjutkan perdebatan


"Segera mandi. Aku menunggumu."


Kali ini Johan tidak ingin meminta kopi lagi, dia tahu Nini sedang kesal dengannya


***


Nini sudah selesai, hari ini dia sengaja tidak berdandan. Dia akan melakukan apa yang tidak disukai Johan


*K*emarin katanya dia tidak mau jalan dengan wanita berwajah kusutkan..


Johan menatap Nini keheranan, wajah Nini polos tanpa make up. Rambutnya dikuncir, penampilannya juga biasa-biasa saja.


Berbeda dengan Johan yang memakai jas lengkap dan rapi.


" Serius seperti ini penampilanmu?"


"Iya. Memangnya kenapa? Kamu mau bilang aku kusut ya? Huhhh.. Emang aku jemuran apa?"


"Siapa juga yang bilang kamu kusut, mungkin kamu aja yang merasa." Johan keluar mendahului Nini, ada sebuah senyum terukir di wajahnya


*K*amu ternyata jauh lebih cantik tampil tanpa berdandan.


Nini melirik Johan dengan kesal. Seandainya Johan adalah baju yang ingin dicuci mungkin dia akan mengompres Johan dengan kesal memutarnya. Lalu mambantingnya,menyikatnya dengan kasar lalu menguceknya dengan kedua kakinya.


Johan memperhatikan Nini yang dari tadi terlihat cemberut


*A*da apa dengan wanita ini?


30 menit perjalanan akhirnya sampai juga di sebuah gereja yang megah.


Johan turun terlebih dahulu. Nini pun ikut.


Johan melangkahkan kakinya menuju arah gereja. Nini pun mengikutinya dari belakang.


" Jangan berjalan seperti itu, berjalanlah di sampingku, kau bukan pembantuku." Johan menghentikan langkahnya melirik Nini yang berada di belakangnya.


Nini menggangguk lalu mensejajari langkah Johan. Sampai di depan gereja,mereka disambut oleh seorang pria paruh baya. Memakai kameja bergaris hitam putih. Dia adalah seorang pengurus kantor paroki setempat. Nini dan Johan menundukkan kepala hormat kepadanya. Pria itu menyambut keduanya dengan hangat.


Dia dan Johan sudah saling mengenal. Keluarga Johan selalu mendonorkan dana untuk membantu orang-orang yang membutuhkan melalui yayasan milik gereja.


Nini mengikuti langkah kedua pria itu menuju kantor paroki untuk mengurus surat-surat.


Setelah semuanya beres, mereka pun berpamitan pulang. Nini memperhatikan tingkah Johan yang begitu sopan dan hormat kepada bapak itu.


Sepanjang perjalanan pulang tidak ada yang berbicara. Johan fokus pada kemudinya sedangkan Nini sesekali menatap ponselnya membalas chat dari Fany.


*L*aper.. Keluh Nini


Dia melirik Johan sesaat. Tidak ada tanda-tanda Johan akan mengajaknya makan. Akhirnya Nini memilih menatap keluar jendela.


Sudah sampai di depan kontrakan. Mereka masih saja membisu. Nini pun tidak beranjak turun. Johan mengerutkan dahinya.


"Kenapa? Kita sudah sampai. Apa kamu lupa kalo ini tempat tinggalmu?"


"Ehh. Heheh." Nini bergegas turun

__ADS_1


Melambaikan tangan pada Johan. Namun, Johan tidak membalasnya.


*I*hhh kok ngerasa jijik sendiri ya?


Dia juga tidak membalas. Dasar SOMBONG!!!


Pesan masuk dari Johan.


Johan : Kemasi barang-barangmu sekarang. 1 jam lagi akan ada orang yang menjemputmu. Jangan membantah ini perintah dari ibu.


Nini mendegus kesal. Sejak pagi tadi dia belum makan. Dia teringat sesuatu, makanan pesanannya pagi tadi.


"Masih bisa dimakan gak ya?" Nini membuka kotak makanan itu. Masih terlihat baik dan masih bisa untuk dimakan (ya iyalah, kan baru di pesan pagi tadi.)


Nini langsung bergegas mencuci tangan lalu melahapnya sampai habis.


"Ahh kenyang banget ni.. Hoaammm ngantuk juga kan." Nini membaringkan tubuhnya sesaat dan tenggelam dalam mimpi indahnya


1 jam kemudian...


Suara ketukan pintu menyadarkan Nini dari tidurnya. Ia berusaha mengumpulkan segala kekuatannya kembali. Menarik tubuhnya dengan malas. Menguap berulang kali.


Tangan kanannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan tangan kirinya mengelus perutnya yang masih kekenyangan sambil berjalan membuka pintu rumahnya.


" Siapa?"


Nini terkejut melihat siapa yang datang. Menelan ludah dan buru-buru mengusap wajahnya yang masih terlihat mengantuk.


Ibu Isma dan ibu Tia berdiri melihat Nini yang salah tingkah.


"Silahkan masuk bu." Nini mempersilahkan keduanya masuk


Astaga,aku ketiduran. Aku lupa chat dari Johan tadi.


"Mau minum apa,biar saya buatkan."


"Tidak usah repot-repot nak." ibu Isma menolak halus. Dia tahu Nini sangat kecapean tadi mengurus segalanya sesuatunya.


Nini menatap ibu Tia dan ibu Isma bergantian


"Ada apa Nini?" tanya ibu Tia khawatir


"Hehe.. Aku tadi ketiduran bu. Jadi belum sempat membereskan semuanya." Nini merasa kikuk dengan situasi seperti ini.


"Tidak apa-apa sayang. Semuanya bisa di urus pelayan, sekarang siapkan saja barang-barang pribadimu. Sisanya biar mereka yang urus." ibu Isma menunjuk 2 orang pria dan 3 wanita yang sedang berdiri terpaku di depan. Nini melihat ke arah mereka dengan senyumnya yang mengembang. Para pelayan wanita itu membalas dengan senyum hangat. Sedangkan 2 pria itu hanya menggangguk dengan wajah yang tetap keram


*W*ihh gila. Keram amat tu muka. Habis makan ikan asin yang tinggi garam mungkin.


Nini kembali berbincang dengan ibu Isma dan ibu Tia. Lalu bergegas membereskan barang-barang pribadinya.


Mereka sudah keluar dari kontrakan itu, Nini merasa sedih ketika berbalik dan melihat tempat yang sudah melindunginya selama ini.


Langkahnya terasa berat. Ibu Isma yang melihat sikap Nini mengerti dengan suasana hatinya. Saat berpapasan dengan salah satu pelayan pria tadi, Nini mecoba memukul lengan berototnya


"Wahh.. Ternyata asli. Heheh"


Pelayan itu merasa risih dengan sikap Nini


"Om tolong ya, semua foto yang ada di dalam jangan disisain ya." pelayan itu menggangguk


Nini menyerahkan kunci mobilnya kepada pelayan pria itu, lalu menaiki mobil yang di tumpang ibu Isma dan ibu Tia. Sebelum mobilnya menjauh dari tempat itu, Nini masih memandangnya dengan kesedihan.

__ADS_1


Tak terasa air matanya jatuh.


Bersambung....


__ADS_2