
Doni sudah menunggu sahabatnya dari tadi di bandara. Sesekali dia melihat sebuah miniatur monas yang dibelinya tadi sebagai oleh-oleh untuk keluarga Nini nantinya.
Lelaki itu terperangah ketika melihat mobil sahabatnya yang sudah memasuki area parkir bandara. Dia berlari mendekati mobil itu.
Johan yang keluar langsung dikejutkan oleh Doni yang sudah berdiri di depannya.
"Gila, munculnya kayak hantu." Johan mendorong pelan tubuh sahabatnya.
"Ngapain bengong di situ? Sini bantuin aku angkat koper-koper ini." panggil Johan
Doni masih berdiri di tempatnya sambil menunggu Nini keluar. Niatnya ingin berkenalan. Dia sangat penasaran dengan istri sahabatnya itu.
Nini pun keluar. Melihat Doni yang berdiri di dekat mobil, Nini menundukkan kepalanya.
Cantik banget istrinya. Adem ni lihat yang kayak gini. Pantesan Johan makin hari makin ceria aja.
"Ehemmm.." Johan berdehem kesal melihat Doni yang terpaku menatap Nini.
"Heheh.. Ada apa Han?" tanya Doni pura-pura bodoh
"Bantu aku!" Johan membentak kesal.
Nini hanya memperhatikan keduanya.
Doni dan Johan membawa masing-masing koper. Nini berjalan mengikuti keduanya.
"Emang kamu udah pesan tiketnya?" tanya Nini pada Johan setelah sampai di depan pintu masuk.
"Ahh. Begini Nona, tuan Johan ini memiliki pesawat pribadi. Jadi anda tidak perlu khawatir." Doni menjelaskan
"Ohh."
"Oh ya, kita belum kenalan loh." Doni langsung menyerahkan tangannya untuk berkenalan. Nini menyambutnya dengan gembira
"Doni."
"Nini."
"Ehemmm."Johan kembali berdehem
"Aku ini sahabatnya Johan sejak masih SMA dulu."
Nini hanya menggangguk saja.
"Mana pesanan yang tadi aku minta?" tanya Johan.
Doni sedikit berlari menuju mobilnya. Dia kembali membawa 2 bungkus papper bag.
"Ini dia hpnya" Doni menyerahkannya pada Nini " Dan ini dia oleh-olehnya." dia menyerahkan yang satu lagi pada sahabatnya.
Johan langsung melihatnya. Dia membelalakkan matanya dengan kesal.
"Kenapa ini yang kau beli hah?" tanya Johan dengan nada suara yang terdengar tinggi.
"Apa sih? Cuma ini aja kamu harus marah?" Nini merampas miniatur itu.
"Bagus kok. Lagian orangtua aku gak nuntut oleh-oleh."
"Tuh kan. Itu kan hadiah khas jakarta Han." Doni merasa senang karena Nini membelanya.
Johan berusaha menahan amarahnya. Dia harus bisa mengontrol diri di depan Nini.
"Ya sudah ayo kita berangkat." Johan berjalan mendahului keduanya.
Mereka bertiga sudah sampai di depan pintu pesawat.
Sekali lagi Nini dikejutkan dengan kekayaan suaminya. Sebelum berangkat Johan masih sempat memeluk erat istrinya.
"Cepatlah kembali." bisik Johan lirih
Doni hanya bisa menyaksikan kemesraan keduanya.
Kapan ya aku ketemu jodohku?
Nini menggangguk pelan.
"Pergilah. Hati-hati." Johan mencium kening istrinya.
__ADS_1
Nini melangkahkan kakinya masuk. Beberapa detik kemudian pintu sudah tertutup dan pesawat siap lepas landas.
Johan dan Doni melambaikan tangan.
Nini hanya melihatnya tanpa membalas.
Setelah pesawat mengudara, Nini memperhatikan sekelilingnya. Terlihat seperti pesawat kecil pada umumnya. Seorang pelayan wanita berjalan mendekati Nini lalu memberinya hormat.
Nini hanya membalas dengan senyumnya.
Mereka bahkan punya pramugari pribadi.
Entahlah, apa lagi kejutan tentangmu yang belum aku ketahui.
Nini memilih tidur sebelum tiba ke tempat tujuannya.
2 jam penerbangan, akhirnya Nini tiba di bandara kotanya.
Pelayan wanita tadi membantu Nini menurunkan baranga-barangnya.
"Kamu pramugari pribadi keluarga Hartono?" tanya Nini ketika mereka sudah turun dari pesawat
"Iya non." wanita tersenyum lembut pada Nini
"Wow. Terus pilotnya juga?" Nini semakin penasaran
"Tentu non. Di sana ada pilot dan co pilot yang bertanggung jawab penuh sampai kita tiba di sini." wanita itu menjelaskan masih dengan senyumnya
"Habis ini langsung pulang?"
"Iya non. Tapi biasanya kami akan beristirahat sebentar, barulah kami kembali."
Wanita itu mengantar Nini sampai di depan taksi yang sudah dipesan Nini setelah turun dari pesawat.
"Hati-hati non, semoga perjalanan anda menyenangkan." wanita itu menundukkan kepalanya
"Tentu. Kau juga hati-hati ya." Nini melambaikan tangan pada wanita itu.
Taksi sudah keluar meninggalkan bandara.
"Pak apa kita bisa berkeliling kota sebelum menuju tujuan saya?"
Supir itu hanya meliriknya dari kaca spion
"Ongkosnya saya tambahin kok 5X lipat." Nini sudah tahu betul pikiran para supir di kotanya itu.
"Kenapa tidak nona? Heheh." supir itu tertawa senang.
Giliran duit aja seneng.
Tadi sebelum Nini berangkat, Johan sempat memberinya sejumlah uang dan sebuah kartu kredit. Awalnya dia menolak, tapi Johan terus memaksa karena sekarang dia bertanggung jawab penuh atas Nini.
Bahkan Johan pun bersedia membantu biaya kuliah adiknya.
Hampir 1 jam mereka berkeliling, Nini akhirnya meminta untuk diantar menuju alamat rumahnya. Dia sudah sangat lapar sekaligus rindu masakan ibunya.
Ibu Laurent sedang sibuk membantu pelayannya menyiapkan hidangan bagi para tamu. Rumah makannya yang sekarang sudah semakin besar dan banyak pengunjungnya. Semua itu karena bantuan modal dari anaknya Ririn dan Nini.
Pak haris yang adalah suami dari ibu Laurent sedang asyik menonton acara kesayangannya. Berita Nasional.
Sebuah taksi online parkir di depan rumah makan itu. Nini masih mengelus dadanya pelan. Dia tahu kedatangannya yang mendadak ini akan menciptakan suasana yang haru.
"Pak turunkan dulu koper saya."
Supir itu menurut saja.
Ibu Laurent yang sedang sibuk tidak terlalu memperhatikan mobil itu.
Andika yang sedang asyik main game mengangkat alisnya melihat supir itu.
Ah bodoh amat. Dia kembali fokus pada gamenya.
Setelah kopernya di simpan di depan rumah makan itu, supir tadi kembali masuk dan meminta bayaran pada Nini.
"Kurang non. Tadikan katanya 5x lipat."
"Ya ampun pak. Itu 500 ribu kok belum juga cukup?" Nini terlihat kesal
__ADS_1
"Kan saya udah cape-cape turunin barang non."
"Loh.. Itukan memang tugas bapak?"
"Ayolah non, saya punya banyak tanggungan dalam keluarga." supir itu memasang wajah sok sedihnya
"Ini." Nini menambahkan lagi 2 lembar uang 100 ribu.
"Nah gitu dong." supir itu keluar lagi membukakan pintu untuknya.
Nini turun perlahan. Orang-orang di sana masih sangat sibuk. Taksi itu sudah berlalu.
Andika mengangkat kepalanya lagi melihat wanita yang berdiri di depan rumah makan ibunya itu.
"Kayak kenal deh." katanya sambil mendekati Nini.
"Masa sih itu kak Nini?" Andika mencoba menerka.
Coba panggil ah, kalo bukan kak Nini aku pura-pura aja lihat ke arah lain.
"Kak Nini." Andika setengah berteriak.
Nini tidak sempat mendengar karena sebuah motor yang kebetulan lewat.
Akhirnya wanita itu memutuskan masuk ke dalam.
Para pelayan di tempat itu terperangah dengan kecantikkan Nini. Wangi parfumnya pun memenuhi ruangan itu.
"Mau pesan ap.." Ibu Laurent langsung terdiam ketika melihat wanita di depannya sekarang. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dan langsung menangis.
"Nini.." ibu Laurent menjerit tidak percaya. Dia berlari mendekati anaknya dan memeluk erat.
Pak Haris yang mendengar istrinya berteriak, langsung berlari keluar menghampiri.
"Nini. Oh anakku sayang, kamu akhirnya pulang." Ayah Nini pun ikut memeluk keduanya.
Para tamu dan pelayan bingung menyaksikan mereka bertiga.
"Ini anak saya yang nomor 2." kata ibu Laurent ketika melepaskan peluknnya.
"Iya, dia sudah lama bekerja di Jakarta dan sekarang.." Suara ayah sudah sedikit serak, dia pun menangis.
Nini yang sudah tahu akan seperti ini jadinya langsung memeluk orangtuanya masuk ke dalam rumah.
"Maaf ya semuanya. Silahkan dilanjutkan makannya." Nini berkata setengah menunduk.
Mereka sudah sampai di dalam. Ibu kembali memeluk erat anaknya. Nini yang dari tadi menahan air matanya kini sudah melepaskan butiran-butiran itu.
Andika masuk ke dalam setelah mendengar keributan dari luar.
"Kak Nini?" Andika mendekat lalu memandang wajah kakaknya.
Nini memukul pelan kepala adiknya.
"Kau sudah melupakan aku hah?"
"Maaf kak, aku cuma sedikit lupa kok. Kan udah lama kakak perginya."
"Lalu kau tidak ingin memelukku?" Nini merentangkan kedua tangannya
Andika memeluk kakaknya. Dia tidak percaya kalo Nini sekarang sudah sangat cantik.
"Fany mana bu." tanya Nini ketika dilihat Fany belum juga muncul
"Lagi kerja sayang." ibu memasang senyum penuh kebahagiaan.
Andika sudah memasukkan barang-barang kakaknya menuju kamar.
"Mau makan apa sayang? Biar ibu masakin." tawar ibu dengan sangat bahagia.
"Yang udah ada aja deh bu. Aku udah laper banget ni."
" Ayo. Kebetulan semuanya belum makan siang ni." ajak ibu Laurent pada anak dan suaminya.
Mereka makan siang bersama dengan penuh kebahagiaan menyambut kedatangan Nini.
Bersambung.......
__ADS_1