Janji Suci

Janji Suci
Bab 72


__ADS_3

Johan merapikan kerak bajunya sendiri. Nini masih terlelap dalam selimutnya. Sudah hampir jam 8 pagi, tapi belum ada tanda-tanda Nini akan bangun.


“Hallo, antarkan sarapan ke kamar.” Johan menelpon seseorang.


“Sayang, bangun.” Bisiknya lirih pada telinga istrinya.


Nini menggeliat mengerutkan wajahnya.


“ Malas ahh..” Nini menarik selimutnya sampai kepala.


“Bangun sayang, hari ini temani aku ke kantor.” Johan menarik selimut itu sampai pinggang istrinya.


“Tumben ajak aku?” Nini mengangkat kepalanya menatap Johan.


“Emang kamu gak bosan tiap hari di rumah aja?”


“Bosan sih. Tapi sama aja kalau ke kantor kamu aku diterlantarkan.” Bibir Nini manyun.


“Diterlantarkan gimana maksud kamu?” Johan mengernyitkan dahinya.


“Malas ah. Aku di sini aja kan ada ibu Idah yang temanin aku.”


“Ayolah, aku maunya ditemani kamu sayang.” rengek Johan


“ Iya iya.. Ah, aku yang hamil kok malah kamu yang ngidam?” gerutu Nini kesal sambil berjalan menuju kamar mandi.


Seorang pelayan masuk membawakan sarapan.


Nini merasa malas hari ini, akan tetapi dia terpaksa memenuhi keinginan suaminya.


Setelah mandi dan bersiap, Nini diajak makan besama oleh suaminya.


Johan masih memikirkan cara untuk menyampaikan kabar buruk itu pada istrinya. Serasa bingung harus dimulai darimana. Sementara Nini masih mengatakan kalau dia hamil.


Apa yang harus aku katakan? Aku takut ini akan semakin memperburuk mentalnya. Batin Johan.


“Yuk berangkat.” Nini meraih tasnya. Johan menuruti langkah istrinya.


Nini menghentikan langkahnya, seperti baru teringat sesuatu.


“Oh ya.. kok akhir-akhir ini aku gak dikasih susu khusus bumil?”


“Ahh.. mungkin ibu Idah terlalu sibuk dengan urusannya. Kamu tahu sendirikan betapa khawatirnya


orang-orang waktu itu.” Johan membual.


“Iya sayang, tapi masa sih sampai hari ini lupa?” kedua alis Nini terangkat.


“Aku ada pertemuan penting hari ini sayang, jadi tidak ada waktu lagi untuk menunggu.” Johan melihat jam di pergelangan tangannya.


“Emang gak masalah ya kalau aku gak rutin minumnya?” tanya Nini polos.


“Gak dong sayang. Ayo buruan.” Johan menarik paksa tangan istrinya.


“Iya. Pelan-pelan aja ihh.” Nini mengomel pada suaminya yang bertingkah aneh.


Johan hanya takut kalau tiba-tiba Nini ingin memeriksa kandungannya. Dia ingin menunggu waktu


yang tepat untuk menceritakan semuanya.


Nini masih merasa kesal sekaligus bingung dengan sikap Johan pagi ini.


Biasanya juga dia yang ingatin jadwal minum susu, kok sekarang malah gak peduli gitu ya?


Doni tercengang saat melihat Nini dan Johan masuk sambil bergandengan mesra.


“Wahh, sengaja ya biar yang jomblo makin iri?” cengir Doni.


“Apa untungnya bagiku?” Johan mencibir lalu berjalan mendekati kursi kerjanya sambil


menghidupkan laptop.


Nini memilih duduk di sofa masih dengan pikirannya. Bahkan dia tidak mempedulikan Doni.


“Ehh.. Nini kok tampak murung ya. Hari yang baru harus disambut dengan semangat yang baru juga


dong.” Ucap Doni. Hari ini dia tampak lebih ceria dari biasanya.


“Hmmm.. iya Don. Aku Cuma malas aja diajak ke sini.” Nini menatap jemarinya dengan tatapan


kosong.


“Jangan bilang gitu dong, tuh si Johan langsung cemberut kasihan Ni.”


“Biarin aja. Kan lebih kasihannya sama aku, ntar juga kalo kalian pergi aku ditinggal sendiri.” Nini memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


“Pergi kemana?” wajah Doni terlihat bingung.


“Katanya ada pertemuan penting hari ini.” Nini menatap Johan.


“Ahh. Mungkin pertemuannya dibatalkan, aku suka lupa kalo sama jadwal pertemuan.” Johan


memijat dahi.


Doni semakin bingung dengan keaadaan yang sekarang. Setahunya dalam minggu ini tidak ada


pertemuan dengan orang penting.


Nini menatap kedua lelaki itu secara bergantian. Bibirnya terkatup, timbul kecurigaan dalam hatinya.


Ada apa ini? Kenapa mereka bersikap aneh begini?


Sementara Johan masih berpura-pura menatap laptopnya sambil memijat dahi.


“Aku ke ruangan aku dulu ya. Ada banyak laporan yang harus aku selesaikan.” Tanpa menunggu


persetujuan pria itu sudah berjalan meeninggalkan mereka.


Nini menatap Johan seperti ingin mengintrogasinya. Tatapan tajamnya membuat Johan sedikit salah


tingkah.


“Apa ada yang kalian sembunyikan?” selidik Nini masih duduk di tempatnya.


“Apaan sih sayang. Gak ada kok.” Johan tersenyum berusaha terlihat santai.


“Johan, sebenarnya ada apa? Aku lihat sejak pagi tadi kamu bersikap aneh.”


“Ada yang ingin aku katakan padamu, tapi bukan di sini tempatnya.” Johan memegang dagunya


seperti memikirkan sesuatu.


Nini mengerutkan dahinya. “Baiklah.” Dia memaksakan senyumnya.


Johan menutup laptopnya lalu berdiri dan menarik tangan istrinya keluar.


“Sekarang? Apa kamu gak kerja?” Nini sedikit menahan langkahnya.


“Iya sekarang. Soal kerjaan nanti Doni bisa urus semuanya. Ayo.” Johan kembali menarik tangan


Nini semakin bingung. Dia mengernyitkan dahinya, tapi tetap mengikuti langkah kaki suaminya.


Para pekerja di kantor itu menunduk memberi hormat kepada mereka. Nini masih sempat membalas


dengan senyuman. Tapi Johan terlihat tegang, dia bahkan tidak sempat melihat orang-orang itu.


Bahkan saat mengendarai mobil pun ekspresi wajah Johan tidak berubah. Memunculkan 1000


pertanyaan dalam pikiran Nini. Dia terus memperhatikan suaminya yang terlihat gugup dan tegang.


“Han, kamu kenapa?” Nini memegang bahu suaminya.


Johan tidak bergeming, dia tetap fokus pada kemudinya.


“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu.” Nini melepaskan tangannya dan memilih menatap keluar


jendela.


Sampailah mereka pada taman kota. Tempat mereka bertemu waktu itu. Johan turun masih dengan


ekpresinya yang sama. Nini menurut tanpa bertanya lagi.


“Ayo.” Johan menarik tangan Nini. Tampak setengah senyum tergambar di wajahnya.


Suasan di taman itu tampak sepi. Hanya ada beberapa tukang sapu yang sibuk bekerja.


Johan menarik istrinya untuk duduk di tempat yang sama yaitu bangku taman yang menghadap air


pancuran.


“Duduklah.” Johan mempersilahkan istrinya.


Nini menurut, wajahnya terlihat canggung. Ada perasaan tidak enak dalam hatinya.


“Ada apa sayang?” Nini menatap Johan yang duduk di sebelahnya.


Johan menghembuskan nafasnya dalam, memikirkan kata yang tepat agar Nini bisa mengerti dengan


situasinya sekarang. Dia menggenggam tangan Nini dan menunduk menatap jemari istrinya.


“Sebelumnya maafkan aku terlebih dahulu, telah menyembunyikan ini darimu.” Mata dan wajah

__ADS_1


Johan memerah.


Nini melepaskan tangannya dan menatap suaminya, matanya setengah melotot dan menggeleng


pelan.


“Jangan bilang kalau kamu selingkuh.”


“Astaga, aku tidak akan melakukan kejahatan itu.” Johan mengusap wajahnya.


“Lalu apa?” Nini menggoyang tangan suaminya, wajahnya terlihat takut.


“Sayang..” suara Johan terdengar lirih. “Kita telah kehilangan anak kita.”


Nini membelalak,bibirnya terkatup rapat. Dia melepas tangan suaminya, lalu berbalik


membelakangi. Air mata menggenang di matanya.


“Maksudmu?” Nini memejamkan matanya menanti jawaban Johan.


“Janinmu keguguran waktu itu sayang. Dan...” kalimat Johan terhenti.


“Dan apa?” suara isak Nini terdengar.


Johan memeluk istrinya dari belakang, dia tidak ingin melihat Nini sedih. Tapi ini adalah kebenaran


yang harus mereka jalani.


“Akan sulit bagimu untuk mengandung lagi sayang.”


“Tidak...” Nini memejamkan matanya dan menggeleng kuat. “ Kamu becandakan Han?” Nini


meronta ingin melepaskan diri dari pelukkan suaminya.


“Tenanglah sayang, aku mohon. Ini memang berat bagi kita, tapi ini juga kenyataan yang harus kita


terima.” Johan semakin mempererat peluknya.


Tubuh Nini melemah, dia bersandar penuh pada suaminya. Matanya memandang nanar langit yang


cerah.


Tuhan, inikah takdir yang harus aku jalani? Mungkinkah suamiku akan tetap mencintaiku?


“Sayang?” Johan membalikkan tubuh istrinya. Ditatapnya mata yang masih merah dan berair itu.


Wajah Nini datar tanpa ekspresi. Dia masih trauma dengan apa yang didengarnya tadi.


“Maaf. Aku baru bisa mengatakannya sekarang.” Johan menatap lekat wajah istrinya.


“Tidak masalah. Antar aku pulang sekarang.”


“Apa kau marah?” tanya Johan.


“Apa kau masih ingin bersamaku, meski aku tidak bisa memberimu anak?” Nini membalas tatapan


suaminya.


“Apa pun kendala yang akan terjadi nanti, aku tidak akan meninggalkanmu Nini. Sampai kapan pun,


aku hanya akan mencintaimu.” Ujar Johan sungguh.


Nini menunduk dalam. Hatinya terasa remuk, menerima kenyataan ini.


“Terima kasih.” Ucapnya lirih.


Johan memeluk erat istrinya.


“Aku mau pulang.” Nini berbisik pelan.


“Pulang kemana?” Johan menatap istrinya sambil mengernyitkan dahi.


“Pulang ke rumah.”


“Rumah mana?” wajah Johan seperti ketakutan.


Nini terlihat bingung dengan pertanyaan suaminya. “Rumah mertuaku.”


“Ohh.” Senyum Johan lega. Masih teringat jelas saat di mana dia dan Nini bertengkar, dan istrinya


meminta pulang.


"Ya sudah aku antar pulang." Johan menarik tangan istrinya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2