Janji Suci

Janji Suci
Bab 83 Happy Ending


__ADS_3

“Han...” Nini membangunkan suaminya yang masih terlelap.


“Hemmn...” Johan mendengus lalu berbalik membelakangi Nini.


“Isshhh.. Johan. Bangun dong.” Nini semakin menggoyang kasar tubuh suaminya.


“Apa sih Nini? Aku masih ngantuk.” Protesnya kesal dengan suara serak khas baru bangun tidur.


“Aku punya sesuatu buat kamu.” Nini menyembunykan benda itu di balik punggungnya.


“Apaan?” Johan duduk dan mengusap wajahnya.


“Tadaaa..” Nini mengeluarkan sebuah test pack kecil.


“Kamu pasti gak percayakan?” sambungnya lagi lalu memeluk pinggang Johan.


“Kamu gak sedang bercanda kan?” tanya Johan sambil melebarkan Matanya mentap benda itu tidak


percaya.


Nini menggangguk lalu memeluk erat suaminya.


“Ini hadiah pernikahan kita yang ke satu tahun.” Ujar Nini bahagia.


“Tapi, aku pikir akan membutuhkan waktu yang lama untuk kembali memiliki anak sayang.” Mata


Johan berkaca.


“Tidak sayang. Sebentar lagi kita akan punya bayi.”


“Aku janji akan menjaga anak kita dengan baik.” Johan mencium kening Nini.


“Harus dong. Itu tanggung jawab kamu sebagai suami.”


“Ayo. Sekarang, siapkan dirimu. Kita harus segera temui dokter Jeslin.” Johan mengibas selimutnya


lalu menarik tangan Nini menuju kamar mandi.


“Sekarang?” Nini membelalakkan matanya.


“Iya sayang sekarang. Mulai hari ini, aku yang akan menemani kamu ke mana pun itu.” Johan


menunjuk dahi istrinya.


“Terus rencana bulan madunya gimana?”


“Batal dong. Kamu gak boleh kemana-mana. Kecuali ke rumah sakit atau berolahraga. Tapi semua


ditemani aku.”


“Kalau kamu berhalangan gimana?” Nini memanyunkan bibirnya.


“Yah tunggu aja sampai aku datang.” Johan menarik tangan istrinya lagi.


Selesai mandi, Johan menyuruh para pelayan menganyarkan sarapan yang bergizi.


Nini mengerutkan dahinya. Merasa sedikit kesal juga dengan sikap Johan yang berlebihan ini.


“Aku gak bisa makan sebanyak ini Han.” Nini menatap berbagai macam hidangan di atas meja.


“Gak papa sayang. Kamu bisa makan apa aja yang kamu suka.” Johan duduk di sebelah Nini ikut


menatap hidangan itu.


“Aku pengen makan bakso.” Pinta Nini.


“Bakso?” Johan mengernyit.


“Iya.” Nini menggangguk.


“Tapi di sini gak ada... Ohh, baiklah. Akan aku pesan. Maunya sekarang ya?” Johan sangat antusias.


“Mmmm..” Nini hanya menggumam.


Dengan segera Johan menelpon seseorang.


“Ingat ya pak. Cuma 15 menit.” Titah Johan.


“Kelamaan Han. “ Nini merengek.


“Ohh.. Ralat. Jadi 5 menit aja.” Johan segera berbicara sebelum orang di seberang telepon

__ADS_1


memutuskan sambungan.


“Sudah sayang.” Johan tersenyum bahagia.


Benar saja. Bahkan belum sampai 5 menit, seorang pengawal masuk mebawakan bakso.


“Wah...” Nini menelah ludahnya.


“Ayo makan sayang.” Johan ingin menyuapkan, tapi Nini menolaknya.


Melihat istrinya yang sangat lahap, Johan benar-benar bahagia.


“Siang nanti mau makan apa sayang?” Johan mengelus kepala Ninj.


“Bakso.” Jawab Nini sambil terus menikmatinya.


“Kalau malam?”


“Bakso juga.”


“Tapi sayang. Kalau berlebihan juga gak baik buat kesehatan.” Johan tampak khawatir.


“Hemmmm.” Nini langsung cemberut.


“Ohh, tenang saja sayang. Aku akan menyuruh ibu Idah membuatkan bakso yang sehat.” Johan


memaksakan senyumnya.


“Gitu dong.” Nini kembali menikmati makanannya.


****


“Selamat ya Johan. Istri kamu memang hamil.” Kata dokter Jeslin dengan senyum yang mengembang


di wajahnya.


“Ya Tuhan. Terima kasih.” Johan menatap Nini bahagia.


“Takut akan kesalahan yang pernah terjadi, saya minta tingkatkan pengawasan di rumah kalian ya.”


Saran dokter Jeslin.


bisa selamat. “


“Nini. Buat kamu dulu ya. Yang pertama kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri. Jangan banyak


pikiran, harus rutin mengonsumsi makanan sehat dan bergizi. Rajin juga berolahraga ringan, dan


beristirahat yang cukup. Nah, satu lagi perbanyak komsumsi air bersih. Itu juga penting untuk


menjaga stamina.” Ujar dokter Jeslin.


“Dab kamu Johan. Tugas kamu adalah selalu berada di samping Nini setiap dia membutuhkan kamu.


Saya berharap, kali ini kamu tidak akan pergi lagi ke luar negeri atau pun ke luar kota.” Dokter Jeslin


menatap Johan.


“Tentu.” Jawab Johan singkat.


“Ok. Ini ada beberapa vitamin yang harus kamu konsumsi satu kali sehari Nini.” Dokter Jeslin


menyerahkan beberapa tablet obat.


“Ohh.. Kalau Nini makan bakso tiap hari gimana? Bermasalah gak buat janinnya?” Johan


mengernyitkan dahinya.


“Kamu kan dokter Han. Masa sih gak tau? Paling Cuma di 3 minggu awal kehamilannya doang, habis


itu nanti ganti lagi. Oh ya, kalau buat konsumsi bakso tiap hari itu, sebenarnya agak berbahaya. Tapi


kalau dibuat sendiri dengan cara yang sehat, saya pikir tidak masalah.” Dokter Jeslin mengangkat


bahunya.


“Hahaha. Baiklah dokter Jeslin. Terima kasih.” Johan menjabat tangan dokter Jeslin. Lalu menarik


tangan istrinya.


“Permisi dok.” Ucap Nini sopan.

__ADS_1


“Mari saya antar.” Tawar dokter Jeslin, tapi ditolak oleh Johan.


“Baiklah. Hati-hati ya.” Ujar dokter cantik itu sambil melambaikan tangan dari kursinya.


Kabar kehamilan Nini membuat heboh semua penghuni rumah termasuk para pelayan.


Ibu Isma sangat bahagia.Demi kenyaman, dia bahkan menyuruh para pengawal berjaga di depan


kamar Nini dan Johan.


“Nak.” Panggil ibu Isma ketika Nini dan Johan tiba di rumah.


“Iya bu.” Nini memeluk ibu.


“Selamat ya sayang. Kali ini semua akan baik-baik saja. Ibu janji.” Senyum wanita paruh baya itu.


“Terima kasih ibu.” Nini melepaskan peluknya lalu berjalan menuju kamar bersama dengan ibu.


Johan mengikuti mereka dari belakang.


Baik Nini maupun Johan sama-sama terkejut melihat 4 orang pengawal dengan tubuh kekar berdiri


di depan pintu kamar mereka.


“Untuk apa ini bu?” tanya Johan sambil menunjuk para pengawal.


“Untuk menjaga Nini. Ibu ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Tempat ini akan diawasi 24


jam oleh pengawal.” Senyum ibu Isma merekah.


“Tapi bu..”Nini terdiam. Dia kembali teringat saat di mana Amel membuatnya menderita.


“Aku setuju bu.” Johan menjetikkan jarinya.


“Ayo masuk.” Ibu Isma mempersilahkan anak-anaknya.


“Ibu kok langsung balik?” tanya Nini heran.


“Iya nak. Ibu hanya ingin mengantar.” Kata ibu lalu pergi.


“Lihatlah. Betapa semua orang sangat bahagia dengan kehamilanmu.” Johan mengelus pipi istrinya.


“Mungkin aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini.” Ujar Nini lalu memeluk suaminya.


“Tapi apa kau tahu. Butuh perjalanan yang sulit untuk bisa bertahan denganmu.” Bisik Johan sembari


menahan tawanya.


“Jangan mengejekku.” Nini melepaskan peluknya lalu memicingkan mata kesal.


“Ohh.. Baiklah Sayang.” Sekuat mungkin Johan menahan tawanya. Dia kembali teringat semua


kenangan di mana awal pernikahan mereka yang penuh dengan kebencian.


“Sayang.” Johan kembali memeluk istrinya.


“Hmmm.” Jawab Nini


“Terima kasih untuk semuanya. Teruslah bertahan dengan ikatan kita ini. Hingga 7 kehidupan


mendatang.” Ujarnya lirih.


“Emang kamu tahu, ada 7 kehidupa?” nada Nini penuh dengan candaan.


“ Yang serius dong sayang.. Udah hampir ending nih.”


“Hahaha.. Iya sayang. Tentu aku akan selalu setia denganmu. Apa kau tahu? Kata ibuku, sebuah


pernikahan itu dikatakan suci karena, ikatan yang kita buat tidak hanya terikat di bumi. Tapi juga


terikat di Surga.” Nini membenamkam wajahnya di dada Johan.


“Itu berarti kita memang tidak akan bisa terpisahkan baik di bumi maupun di akhirat.” Johan


mencium kening istrinya.


“Tentu.. Aku mencintaimu Johan.” Bisik Nini lirih.


“Aku juga mencintaimu Nini.” Balas Johan.


TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2