Janji Suci

Janji Suci
Bab 41


__ADS_3

Kaki Nini sudah sangat lelah. Dari tadi dia terus berkeliling tapi tidak bertemu dengan orang yang dikenal. Dia memilih duduk pada sebuah kursi yang telah disiapkan bagi para tamu.


Orang-orang sedang asyik menikmati hidangan, ada yang tertawa bahagia, ada juga beberapa yang berjoget.


Nini memegang perutnya yang sudah mulai keroncong, dia berjalan mendekati sebuah meja makan panjang lalu memilih satu persatu makanan yang dia suka. Tanpa tunggu lama lagi Nini sudah menyantap makanan itu. Dia tidak peduli jika harus terlihat bodoh karena hanya seorang diri di tempat ramai itu. Saat sedang makan matanya terus meyapu orang banyak yang ada di sana. Gerakan matanya berhenti pada seorang pria yang membelakanginya. Tapi dia tahu itu Johan.


Nini meletakkan makanan itu pada meja, lalu sedikit tergesa menghampiri Johan yang sepertinya akan berjalan lagi. Johan terus menelpon istrinya, dia sudah sangat gelisah sekaligus marah.


"Heii tunggu." suara itu menghentikan langkah kaki Johan. Dia berbalik wajah cemasnya langsung berubah lega melihat Nini sudah ada di sana.


"Kemana aja kamu?" tanya Johan memegang bahu istrinya


"Kamar mandi, eh pas balik kamu udah hilang. Capek ni dari tadi muter." wajah Nini cemberut


"Kenapa gak bilang-bilang? Ibu tadi nyariin kamu mau dikenalin sama keluarga besar. Ayo." Johan menarik tangan Nini.


Langkah Johan seketika berhenti ketika berhadapan dengan Adit. Nini menumbuk pelan bahu Johan dari belakang yang berhenti tiba-tiba sehingga membuatnya kaget.


2 pasang mata itu saling bertatapan yang satunya penuh kebencian dan yang satunya terlihat santai.


"Hallo adikku." Adit bertingkah seolah hubungan mereka baik adanya.


Johan membuang pandangannya pada orang lain.


Nini yang melihat Adit langsung maju dan menundukkan kepala memberi hormat pada bosnya.


Adit tersenyum penuh kemenangan.


"Wah Johan, aku baru tahu kalau kau sudah menikah. Cepat sekali saudaraku bahkan kau tidak mengundangku." Adit sengaja memancing amarah Johan.


Nini tersenyum kikuk melihat Johan yang tidak peduli dengan Adit.


"Selamat ya pak. Atas pernikahannya." Nini berusaha mencairkan suasana


"Tidak masalah Nini. Aku hanya tidak menyangka kau menikah dengan sepupuku yang sangat tampan ini." mata Adit masih tertuju pada Johan


"Ehh iya pak, saya juga tidak menyangka kalau kalian ini masih bersaudara."


Johan melambaikan tangannya pada seorang pelayan.


"Antar dia ke ruangan VIP." perintah Johan ketika pelayan itu mendekat.


"Kamu gak ikut?" tanya Nini pada Johan


"Kamu duluan, nanti aku nyusul." Johan memberi senyum pada istrinya.


Nini menggangguk lalu sekali lagi memberi hormat pada Adit.

__ADS_1


Ketika Nini sudah menjauh, Adit mendekati Johan


"Apa kau mencintai dia?" pertanyaan Adit hanya ingin mengejek Johan


"Kau juga bahkan menikah dengan wanita yang tidak kau cintai bukan?" balas Johan


"Iya. Tapi istriku tidak akan menundukkan kepalanya padamu bukan? Kau sudah tahu maksudku." Adit tersenyum penuh kemenangan lagi.


"Kau tidak perlu besar kepala. Dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan pada bosnya."


"Tentu kalau yang melakukan itu orang biasa aku tidak akan besar kepala. Tapi istri seorang Johan bekerja dan tunduk pada musuhnya sendiri."


Johan menatap kesal pada Adit. Nafasnya sudah memburu.


"Aku perhatikan mata istrimu tadi. Tatapannya padamu seperti tidak ada rasa cinta." Adit kembali memancing Johan


" Aku memang menikah dengan wanita yang tidak aku cintai, tapi semua orang tahu dia sangat mencintaiku."


"Itulah kebodohan Lisa yang mau menikah dengan pria menjijikan seperti dirimu yang sudah tidur bangun dengan banyak wanita. Aku tidak menyangka wanita sebaik dia harus dijodohkan dengan ******** sepertimu."


Adit menggeleng kepalanya pelan, menunduk menatap gelas di tangannya.


"Apa kau tahu Johan, bahwa aku jatuh cinta pada wanitamu?" Adit berkata santai.


"Bukankah kau mencintai semua perempuan?" Johan memicingkan matanya kesal.


" Nini tidak pantas bersanding dengan pengecut sepertimu itulah kenapa dia ditakdirkan untukku." tatapan mata Johan semakin tajam, dia sudah tidak tahan lagi


"Lihat dirimu, kau bersikap seolah kau mencintainya. Aku kasihan pada wanita itu."


"Berhenti berbicara tentang istriku dengan mulut kotormu." Johan melangkahkan kakinya melewati Adit


Langkahnya ditahan oleh Adit dengan tangan. Johan segera menguasai diri banyak mata yang sudah tertuju pada mereka.


"Jangan buat aku mengacaukan pernikahanmu."


"Aku hanya ingin mengatakan ini" Adit maju dan berbisik pada telingan Johan


" Selain Jessika, aku juga sudah mencium istrimu sehari setelah pernikahan kalian." Adit langsung menjauh dan menjaga jarak ingin melihat reaksi Johan selanjutnya.


Wajah Johan merah padam menahan emosi.


"Pembohong!!" dengan sekuat mungkin Johan mengontrol suaranya.


"Aku memang seorang ******** Johan. Tapi yang perlu kau ingat. Aku bukan seorang pembohong." tanpa menunggu jawaban dari Johan, Adit sudah berlalu meninggalkan tempat itu.


Johan menatap punggung sepupunya. Dia tahu betul seperti apa pribadi Adit. Dulu mereka sangat dekat, tapi karena ambisi dari kedua orangtua mereka , perlahan mereka pun saling membenci. Sebenarnya kebencian Johan bukan karena itu tapi kelakuan Adit sengaja mencium Jessika di depannya membuat api kebencian itu berkobar sampai sekarang.

__ADS_1


Semakin besar kebencian Johan mendengar kejujuran Adit barusan. Dengan langkah panjang dia berjalan menuju ruangan VIP. Sesampainya di dalam dia menarik kasar tangan Nini tanpa mempedulikan orang-orang di sana.


Nini terkejut mencoba menahan diri tapi tenaga Johan mengalahkan kekuatannya. Banyak mata yang tertuju pada keduanya. Maya pun kaget melihat Nini yang ditarik paksa oleh suaminya


Sampai di depan hotel tangan Nini ditarik dari belakang oleh Adit. Langkah keduanya terhenti. Johan menarik paksa tangan Nini membuat wanita itu menjerit kesakitan.


"Jangan sakiti dia Johan." wajah Adit sedikit memohon. Dia tahu Johan tidak bisa mengontrol amarahnya.


"Lepaskan tanganmu *******. Dia istriku, aku berhak melakukan apapun." Johan menepis kasar tangan Adit.


Nini hanya melongo kebingungan berada di antara 2 pria tinggi bertubuh atletis itu.


"Ada apa ini, kalian kenapa?" Nini bertanya panik melihat keduanya seperti ingin saling memangsa


" Karena dia istrimu maka perlakukan dia dengan layak." hanya itu yang keluar dari mulut Adit. Dia akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada Nini semua itu karena ulahnya.


"Urus saja pernikahanmu, jangan ikut campur dengan kehidupan orang lain." Johan semakin kasar menarik tangan istrinya


Lengan Nini sudah mau terlepas rasanya. Johan membuka pintu dan mendorong kasar Nini masuk ke dalam. Membanting keras pintu mobil. Dia pun masuk ke dalam.


Dengan kecepatan tinggi, Johan mengendarai mobilnya meninggalkan halaman hotel itu.


Nini tidak sempat memasang sabuk pengamannya begitu juga Johan.


Dia sangat takut. Johan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Ada apa denganmu?" tanya Nini gugup


"Tutup mulutmu." meskipun dengan kecepatan tinggi, Johan masih mampu mengontrol mobilnya.


Nini hanya diam dan terus memandangi Johan. Dia benar-benar takut


Kenapa dia tiba-tiba bersikap kasar begini Tuhan?


Hampir saja Johan menabrak seorang pedangang kaki lima.


Nini berteriak histeris. Untunglah Johan secepat mungkin menginjak rem. Bunyi gesekan ban dan aspal membuat orang-orang di sekitar jalan berlari mendekati mobil itu. Pak tua yang mendorong gerobak tadi hanya mengelus dadanya dan menggeleng pelan.


Johan menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya kasar. Nini masih menutup kedua telinganya dengan tangan.


Setelah keadaan normal kembali Johan melaju dengan kecepatan sedang. Dia sudah sangat kasihan dengan Nini yang ketakutan.


Orang-orang yang mengelilingi mobil itu menghuranya dan berlaga seperti ingin memukul kaca mobil itu.


Nini masih saja diam, dia masih trauma dengan kejadian tadi. Pikirannya tidak bisa membayangkan jika harus menyaksikan kecelakaan tepat di hadapannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2