Janji Suci

Janji Suci
Bab 76


__ADS_3

76


Suara kicauan burung terdengar begitu ramai menjelang fajar. Doni sudah bangun sejak jam 5 tadi.


Dia ingin berburu matahari pagi dan mengabadikan momen itu pada lensanya. Beberapa jepretan


sudah terasa cukup baginya. Sebelum kembali,Doni berteriak sekencang mungkin pada pandopo di


ujung puncak.


“Maya... I love you.” Setelah dirasanya puas, Doni pun kembali ke perkemahan.


“Jam berapa kita pulang sayang?” tanya Nini saat membuka matanya.


“Sore sayang. Aku masih ingin bermesraan denganmu di sini.” Bisik Johan. Tubuhnya gementar


menahan udara dingin. Meski sudah memakai jaket yang tebal.


“Aku buatin kopi ya?” tawar Nini lalu ingin berjalan keluar tapi Johan kembali memeluknya erat.


“Nanti Doni buatin kok. Tugas kamu hanya tetap memelukku sampai matahari tinggi.” kata Johan


tanpa membuka matanya.


Nini hanya pasrah, walaupun dia tidak enak dengan Doni yang terus disuruh suaminya.


“Aku pengen mandi. Sejak kemarin aku belum menyentuh air.” Keluh Lisa dengan nada manja pada


suaminya yang sudah bangun dan membuka ponsel.


“Mau mandi di mana Lisa? Kita sekarang di hutan, bukan di hotel atau penginapan mewah.” Adit


menghembuskan nafasnya pelan.


“Tapi badan aku gak enak Dit. Lengket nih.” Rengek Lisa.


“Terus aku harus gimana sayang? Dingin gini, kamu bisa sakit.”


“Ihhsss.” Lisa membuang tangan Adit yang dari tadi memeluknya. Dia berjalan keluar mencari sendiri


sungai.


“Lisa...” Adit menahan emosinya dan mengejar.


“Mau kemana sih?” Adit menarik tangan istrinya.


“Cari sungai.”


“Emang kamu tau?”Adit menyipitkan matanya.


“Nggak. Tapi kan bisa cari tau sendiri.” Lisa menepis tangan Adit.


“Kalau kamu nyasar gimana? Ini tuh hutan Lisa.” Adit mencakar pinggangnya sebal.


“Iya tau kok, kalo ini hutan. Kalau aku nyasar ya tinggal teriak aja. Gampang kok.” Lisa kembali


berjalan.


“Bandel ya ni anak.” Adit merangkul tubuh Lisa dan menggendongnya.


“Lepasin Dit.” Lisa semakin geram dengan suaminya.


“Kamu itu harus nurut sama suami. Jangan bawel, iya ntar mandi kok. Tapi, kita sarapan dulu.”


Tanpa disadari, Doni sedang memotret mereka. Dan terlihat sangat romantis.


“Awas. Aku laporin nanti.” Maya menguntit dari belakang.


“Hahah, Cuma gambar kecil Maya. Ini akan aku jadikan kenangan penting dalam galeriku.” Doni


tersenyum menatap hasil potretannya. Kemudian memotret Maya yang mengamati Adit dan Lisa.


“Apaan sih.” Maya memukul pelan bahu Doni. Tapi seulas senyum tergambar di wajahnya.


“Satu aja kok.” Ujar Doni lalu memperhatikan wajah Maya pada kameranya.


“Kenapa jelek ya?” Maya mengerutkan dahinya.


“Lagi.” Kata Doni lalu sedikit menjauh seperti ingin memotret seorang model.


“Gak. Katanya Cuma satu.” Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan yang beralas sarung


tangan.


Berlatar pegunungan yang masih dinaungi awan, dan cahaya matahri yang sebentar lagi terbit


membuat hasil potretnya terlihat bagus. Ditambah lagi Maya yang kurang fokus tapi tetap cantik.


Doni bisa dibilang sebagai seorang lelaki yang diidamkan banyak wanita. Pintar,punya suara yang


merdu,bisa main beberapa alat musik,bisa masak, bisa jadi photografer,ceria, dan yang terakhir dia


itu baik.


“Yuk,kita buat kopi hangat.” Doni menarik tangan Maya.


Lisa dan Adit sudah di dekat perkemahan sambil menghidupkan api unggun.


“Kalian minum apa?” tanya Doni pada mereka bertiga.


“Kopi hitam.” Jawab Adit.


“Aku juga kopi aja deh.” Sambung Maya.


“Kamu?” Doni melihat Lisa yang tampak cemberut.


“Teh aja deh.” Sahutnya.


“Mau aku bantu?” tawar Maya.

__ADS_1


“Gak usah. Duduk yang manis sayang.” Doni meracik minuman tanpa menoleh pada kekasihnya.


“Nini belum bangun ya?” tanya Lisa sambil menengok tenda yang masih tertutup itu.


“Biarinlah. Nanti juga bangun kok.” Doni menimpali sambil membawa minuman hangat mendekati


mereka.


“Hati-hati.” Maya menerimanya. “Makasih ya.” Ucapnya lagi lalu tersenyum.


Doni memainkan mata sebelahnya lalu tersenyum.


Suara berisik di luar membuat Nini tidak sabar ingin keluar.


“Bangun..” digoyangkan dengan kasar tubuh suaminya.


“Hemmmm...” Johan mendengus.


“Kayak sapi.” Nini semakin kesal dibuatnya.


“Apa kamu bilang?” Johan membuka matanya lebar lalu menindih tubuh istrinya.


“S A P I. Sapi...” Nini malah semakin ngotot.


“Oh, bagus ya. Berarti kamu juga sapi dong.” Johan menggelitik pinggang istrinya.


“Geli ihhh...” Nini meronta. Hingga tenda itu bergoyang. Mereka berempat yang sedang menikmati


minuman langsung saling tatap dan pura-pura melihat ke arah lain.


“Han udah ahh..” teriak Nini kesal.


Yang di luar pun semakin menahan malu. Masing-masing mereka berpikiran yang aneh-aneh.


Lagi apa sih mereka? Maya


Wahh,sialan si Johan. Gak bisa kontrol apa? Doni


Masih pagi,udah wik wik aja. Adit


Dingin gini,emang paling pas sih. Lisa menutup mulutnya lalu tersenyum sendiri.


Maya,Doni, dan Adit menatapnya bingung. Lisa menggigit bibir bawahnya dan beralih pandangan ke


tempat lain. Serentak mereka semua tertawa merasa lucu dengan pikiran konyol mereka.


Nini keluar dengan wajah sebal. Merapatkan jaketnya lalu merapikan rambutnya yang berantakkan.


“Kenapa kalian?” tanya Nini lalu memperhatikan dirinya sendiri.


“Nggak kok.” Lisa tersenyum dengan paksa.


“Ngopi yuk.” Doni kembali menawarkan diri.


Nini menggangguk lalu duduk di sebelah Maya.


“Gak papa.” Jawab Nini cuek lalu berbalik menatap tendanya.


“Ohh..” Maya kembali menikmati kopi hangatnya.


“Huahhhh... Selamat pagi semuanya.” Johan keluar sambil merentangkan kedua tangannya lalu


berjalan mendekati rombongan dan duduk di sebelah Nini.


“Cihhh, seneng amat kamu Han?” ujar Doni sembari membawa dua cangkir kopi mendekati Johan


dan Nini.


“Senang dong. Baru habis dimanjain sama istri.” Kata Johan lalu meneguk pelan kopinya.


“Ihhhh.. dimanjain sama sapi ya?” Nini memiringkan bibirnya.


“Hahaahah, yang tadi sama aku di sana siapa?” Johan menggeleng lalu menatap Nini yang semakin


sebal.


“Tau.” Nini membelakangi Johan.


“Hadeehhh, mandi yok.” Doni berdiri sambil memberikan tangannya pada Maya.


“Idihhh, mandi aja sendiri.” Maya mendelik.


Lisa kembali menatap Adit dengan tatapan kesal.


“Mau mandi?” tanya Adit pura-pura bodoh.


“Ishhhh..” Lisa mencibir kesal.


“Ke sungai yuk.” Ajak Nini pada Lisa dan Maya.


“Yuk.” Lisa langsung berdiri dan berlari menuju tenda mengambil perlengkapan mandinya.


“Mbak Nini tau di mana sungainya?” tanya Maya.


“Tau kok.”jawab Nini sembari berdiri.


“Tau dari mana kamu?” sambar Johan kesal.


“Ihhh, emang harus ya aku lapor sama kamu?” Nini mencibir sambil melipat kedua tangannya.


“Kita bertiga pakai 1 handuk aja ya.” Lisa sudah membawa perlengkapan mandinya.


“Iya gak papa. Nanti gantian aja mbak.” Maya mengambil tas yang berisi sabun dan perlengkapan


mandi lainnya dari tangan Lisa.


“Yuk. Cowok dilarang ikut.” Nini berbalik pada ketiga pria yang tampak bingung itu.


Setelah para wanita menjauh, giliran para pria yang saling tatap.

__ADS_1


“Ikut apa jangan nih?” Doni menopang dagunya dengan satu tangan.


“Jangan aja deh, dari pada dimarahin coba.” Usul Johan lalu meneguk sisa kopinya.


“Kalau mereka diintip penduduk setempat gimana?” Adit melebarkan kedua matanya.


“Waduhh!!!” sahut Doni dan Johan bersamaan.


“Jadi menurut kalian gimana?” Adit bertanya balik sekaligus meminta pendapat. Maklum aja wanita


selalu bikin ribet.


“Ya ikut dong.” Johan terlebih dahulu berjalan,diikuti Doni.


Adit tersenyum lebar. Setidaknya dengan sikap Johan seperti ini sebagai pertanda, kalau mereka


akan berbaikkan. Dia pun menguntit dari belakang.


Giliran Lisa yang mandi terlebih dahulu. Adit melotot pada Johan dan Doni, menyuruh mereka


berbalik. Hanya dia sendiri yang boleh melihat. Tiba giliran Nini. Johan juga melakukan tindakkan


yang sama. Dan yang terakhir, Maya.


“Eitsss. Balik juga bro.” Johan memainkan alis sebelahnya.


“Lohhh, kenapa?” tanya Doni seperti tidak merasa bersalah.


“Udah resmi ya?” Adit menggeleng.


“Terserah aku dong. Bentar lagi kan nikah? Ya gak?” Doni mengangkat kedua bahunya.


“Dosa!!!!” Johan dan Adit sama-sama hampir teriak.


“Aishhh.. Ya deh.” Bibir Doni berkedut.


“Ngintip ya?” Nini menunjuk dada Johan dengan ranting cemara.


“Siapa yang ngintip? Ini tuh namanya pengawasan.” Protes Johan.


Lisa dan Maya hanya diam saja, tapi tatapan mereka pada pasangan masing-masing seperti ingin


mengintrogasi juga.


“Bukannya berterima kasih malah ngambek gak jelas.” Ujar Adit sambil melirik Lisa.


“Tau tuh. Cewe emang suka bikin kesal ya..”Doni menghentikan kalimatnya saat ketiga pasang mata


yang cantik itu beralih pandang padanya. “Tapi ngangenin kok. Heheh “ sambungnya lagi.


Ketiga wanita itu saling pandang. Mereka sudah memakai pakaian ganti.


“Tapi cowok gak pernah sadar ya, kalau mereka itu dalang dari kekesalan cewe.” Maya menyipitkan


matanya pada Doni.


“Satu..dua..tiga..” ketiga pria itu hitung bersamaan lalu masing-masing menggendongnya menuju


sungai yang jernih.


“Ahhhh...” jerit ketiga wanita itu saat tubuh mereka diceburkan lagi ke dalam sungai.


Memang udaranya masih dingin, tapi air sungai itu justru menyegarkan.


“Pakaian ganti aku Cuma ini.” Nini hampir menangis.


“Kalau aku sakit gimana?” sambar Maya sambil memukul dada Doni.


“Tadi diajak mandi nolak. Sekarang kok maksa?” Lisa juga tidak kalah rewelnya.


“Makanya jadi cewe jangan bawel. Hahah “ sahut ketiga pria itu bersamaan seperti sudah dilatih.


Nini,Maya, dan Lisa saling tatap lalu tetawa bersamaan. Mereka asyik bermain air yang jernih dan


segar itu sampai puas.


Sehabis mandi mereka masih sempat sarapan dan menikmati udara sejuk di sana. Sebelum pulang,


mereka masih berfoto bersama. Nini mendapat pinjaman baju dari Lisa yang mebawanya lebih.


“Kapan lagi kita ke sini?” tanya Nini manja pada suaminya.


“Kalau kamu mau kita bisa ke sini setiap akhir pekan kok.” Johan memeluk istrinya. Mereka sudah


berada di dalam mobil.


“Nanti panti gimana dong?” Nini mengerutkan dahinya.


“Kan aku bilang,kalau kamu mau sayang.” Johan merasa gemas dengan istrinya.


“Hehehe.” Cengir Nini lebar.


“Are you ready?” tanya Doni pas masuk ke dalam mobil sambil memasang sabuknya.


“Ready!!!” Maya mengepalkan tangannya ke atas.


“Ummacch.” Doni mencium pipi Maya.


“Ehh..” Maya tersipu.


Emang Cuma kamu sendiri yang bisa mesra? Doni melirik pada Johan.


“Cih.” Johan berdecak kesal lalu memandang keluar jendela.


Mobil Jeep berwarna putih meluncur meninggalkan bukit yang tenang dan asri itu. Diikuti mobil Jeep


berwarna biru tua milik Adit.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2