
Nini mengetuk pelan meja riasnya. Perasaan gugup menghampirinya saat ini.
Johan yang sedang bersiap menuju kantor berjalan mendekati istrinya yang tampak gelisah.
"Ada apa sayang?" tanya Johan sambil memeluk bahu istrinya.
"Aku takut." Nini mendongak menatap Johan.
"Takut kenapa?" Johan mengerutkan dahinya heran.
"Gak tahu. Pokoknya aku takut."
"Jangan takut sayang. Itu Rumah sakitku, ibu akan menemani kamu periksa hari ini." Johan berusaha menenangkan istrinya.
"Kenapa kamu gak ikut?" rengek Nini seperti anak kecil.
"Maaf sayang. Aku belum bisa. Hari ini ada rapat penting. Aku janji cek kehamilan kedua nanti bareng aku kok." Johan mencubit pelan hidung istrinya.
"Aku berangkat ya." Pamit Johan lalu mencium kening istrinya.
Nini memejamkan matanya saat dicium, dan menatap kepergian suaminya dengan senyum.
Perlahan rasa gelisah itu mulai memudar. Nini berdiri menuju kamar mandi.
4 orang pelayan masuk dengan membawa pakaian-pakaian yang sudah dicuci bersih dan disetrika rapi.
Mata Nini berhenti dan fokus pada seorang wanita yang tidak asing baginya.
"Amel?" suara Nini terdengar oleh keempat wanita itu.
"Iya." jawab Amel santai lalu kembali sibuk dengan urusannya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Nini saat mereka keluar dari ruangan pakaian.
"Kerja dong. Jadi pelayan keluarga tuan Hartono. Kenapa emang?" Amel memasang wajah judesnya.
ketiga pelayan yang lain saling tatap bingung dengan reaksi Amel yang berani menjawab Nini.
"Keluar kalian." perintah Amel enteng.
"Apa hak mu menyuruh mereka keluar begitu?" Nini mendelik pada Amel.
"Aku ketua mereka." angkuh Amel sambil melipat kedua tangannya. Dia menatap para pelayan itu agar mereka keluar.
Nini hanya melihat kepergian mereka tanpa berbicara.
"Kamu mau tahu alasan kenapa aku bekerja di sini?" senyum jahat Amel terlihat jelas.
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin merebut apa yang seharusnya menjadi milikku."
"Menjijikkan. Kau memang tidak punya harga diri sebagai seorang wanita. Sangat rendahan." Nini menantang mata Amel.
"Hahahah.. Santai saja Nona, jaga baik-baik janinmu." Amel melambaikan tangannya sambil berlalu.
Nini gementar menahan amarahnya.
Amel kembali membuka pintu kamar.
"Buruan, tuh mertuamu sudah menunggu di sana." dia menutup pintu dengan kasar.
"Sabar.." Nini mengelus dadanya.
Dia menghembuskan nafasnya pelan agar tidak perlu terbawa suasana. Nini meraih tasnya dan berjalan menghampiri ibu.
Ibu Isma melihat Nini yang turun dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Kamu sudah siap?" tanya sang ibu
"Sudah bu." Nini mengangguk pelan sambil senyum.
"Ayo sayang." ibu Isma menggandeng tangan menantunya.
****
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, kedatangan mereka disambut oleh seorang dokter wanita berusia sekitar 30an.
Wanita dengan jas putih dan berwajah cantik itu menyapa lembut mereka.
Nini memperhatikan dokter cantik itu.
Wajahnya kok mirip ya sama Jessika. Batin Nini.
"Hallo nyonya Hartono. Dan ini pasti Nyonya Johan. Hahaha sangat cantik." dokter itu menyalami mereka dengan hangat.
"Sayang, perkenalkan ini dokter Jeslin. Kepala rumah sakit ini. Beliau dokter spesialis kandungan."
"Hallo dok. Saya Nini." kata Nini sambil tersenyum bahagia.
"Mari kita ke ruangan saya." dokter Jeslin mempersilahkan.
Mereka memasuki lift. Nini mencuri pandang pada dokter Jeslin.
Benar, wajahnya sangat mirip Jessika. Apa mungkin dia masih keluarga dekatnya?
"Ayo." dokter Jeslin kembali mempersilahkan mereka.
Jantung Nini berdegup semakin kencang.
Kenapa denganku? Ini kan hanya periksa biasa.
"Silahkan berbaring nyonya." dokter Jeslin menunjuk tempat tidur pasien.
Nini menurut dan berbaring.
Dengan sigap dokter Jeslin memeriksa Nini. Dia memasang stetoskop seperti biasa dan mulai melakukan pemeriksaan.
"Sudah." dia tersenyum sembari mempersilahkan Nini turun.
"Janin anda sehat nyonya. Usianya sekarang 3 minggu. Jangan terlalu banyak pikiran ya." kata dokter Jeslin ketika mereka sudah duduk.
Ibu Isma menggenggam tangan Nini yang terasa dingin.
"Jangan gugup nak."
"Terima kasih dok." ucap Nini dengan lebih tenang.
"Apa ada lagi dok?" tanya ibu Isma.
"Ah, saya rasa itu saja. Ibu jangan meragukan Johan. Dia juga dokter yang hebat dulunya. Saya yakin, dia akan merawat wanitanya dengan lebih baik." perkataan dokter Jeslin membuat mereka tertawa.
"Baiklah Jeslin, kami harus segera pulang." pamit ibu.
"Mari saya antar bu." dokter menawarkan dirinya.
Dari tadi dokter Jeslin dan ibu tidak menyadari kalau Nini terus saja memperhatikan wajah cantik itu.
"Selamat bertugas ya Jes." kata ibu saat supir membukakan pintu.
"Tentu nyonya. Hati-hati ya." dokter Jeslin melambaikan tangannya.
Sekali lagi Nini memperhatikan dokter cantik itu dari jendela mobil.
"Ada apa sayang?" tanya ibu pada Nini yang tampak gelisah.
"Tidak bu." jawabnya dengan beralih pandangan ke tempat lain.
"Jaga dirimu ya sayang." ibu Isma menepuk lembut punggung tangan Nini.
"Terima kasih ibu. Aku akan menjaga diri dan cucu ibu dengan baik." Nini menganggukkan kepalanya.
Mobil mewah Range Rover Sport 3.0 memasuki halaman rumah milik keluarga Hartono.
Supir pribadi ibu Isma, pak maman membukakan pintu untuk kedua majikan cantiknya.
"Terima kasih pak." ucap Nini tulus.
Ibu Isma memandang Nini dengan perasaan haru.
Dia bahkan masih bersikap sopan, sekalipun sudah menjadi nona di rumah ini. Jauh berbeda dengan Anna. Batin ibu Isma.
__ADS_1
"Istirahatlah sayang. Ibu ada urusan penting." kata ibu Isma lagi.
Nini hanya tersenyum simpul. Dia hanya bisa menuruti perkataan mertuanya.
Nini tahu sebagai orang yang masuk dalam kelompok sosialita seperti ibu,memang akan sangat sibuk. Banyak pertemuan penting yang dilakukan untuk membantu orang-orang yang kekurangan.
Semua itu dia ketahui dari ibu Idah.
Nini merasa bersyukur memiliki mertua yang sangat peduli dengan sesama.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Nini tentang ibu mertuanya.
"Amel." gumamnya pelan ketika pintu dibukakan.
"Turun gih. Udah waktunya makan siang." kata Amel dengan wajah jutek.
"Emang sama siapa aku makannya?" tanya Nini heran. Setahu dia penghuni rumah kan keluar semua.
"Sendiri. Tadi ibu yang minta aku urus makan siangmu. Kalau gak mau juga gak papa, yang penting aku udah ingatin." tanpa menunggu perkataan Nini, dia langsung menutup pintu.
"Apaan sih. Pelayan paling kurang ajar dia ya. Emang kamu anggap aku saingan, tapi kan tahu diri dong sekarang status kita gimana." gerutunya kesal.
Nini berjalan menuju meja makan. Tampak sepi. Tidak ada selera untuk makan. Wajah cantik itu terlihat murung saat menatap hidangan mewah di depannya.
Waktu sudah hampir jam 1 siang. Nini menatap jam dinding.
"Hmmmm." matanya menatap kosong hidangan itu.
Seandainya di rumah, pasti aku sama Fany dan Andika udah berebut pengen dapat jatah yang paling gede. Apalagi kalau menunya nikmat gini.
Terus ayah cuma tertawa sambil geleng. Dan ibu pasti bakal omelin kami bertiga.
Nini menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Non." sapa ibu Idah.
Nini mengangkat wajahnya, memandang ibu Idah yang berdiri di dekat meja makan mewah itu. Dia tidak menjawab.
"Kenapa tidak dimakan non?" tanya ibu Idah lagi. Dia memperhatikan wajah majikannya yang terlihat murung.
"Gak lapar." tingkah Nini seperti anak kecil yang manja pada ibunya.
"Mau saya temani makan?"
"Mau bu. Sini duduk." Nini menarik kursi di sebelahnya.
"Tidak non. Saya tetap berdiri seperti ini. Para pelayan tidak boleh duduk di sini." ibu Idah menjelaskan.
"Yah..." Nini memanyunkan bibirnya. "Aku pengen makan bareng bu. Gak enak kalau sendirian aja." katanya sambil menatap ibu Idah dengan memohon.
"Ah. Bagaimana kalau kita makannya di danau aja non, saya akan meminta beberapa pelayan untuk mengantarnya." ide ibu Idah sangat cemerlang. Nini langsung menyetujuinya.
Dengan cepat para pelayan sudah mengerjakan apa yang diperintah ibu Idah.
2 wanita berbeda usia itu sudah duduk menghadap danau sambil menikmati makanan.
"Bu. Amel kok kerja di sini sebagai pelayan?" tanya Nini di sela-sela makan siang mereka.
"Oh.. Itu permintaannya sendiri non. Saya juga kaget. Padahal dia itu dulu..." kalimat ibu Idah terhenti seketika.
"Calon tunangannya Johan kan?" sambung Nini dengan santai.
"Iya non." ibu Idah menundukkan kepalanya memandang danau buatan itu dengan tatapan hampa.
"Emmm.. Jadi gitu ya. Dia benar-benar nekat." tanpa sadar Nini berkata begitu.
Ibu Idah mengernyitkan dahinya heran.
"Maksud non?"
"Ah tidak bu. Ayo lanjut makannya." Nini mengangkat sendoknya menunjuk piringnya sendiri.
Jangan takut non. Meskipun non Amel ingin mencelakai anda, tapi saya akan selalu melindungi anda sebisa mungkin. Batin ibu Idah.
Wanita paruh baya itu sudah sangat menyayangi Nini.
__ADS_1
Bersambung.....