Janji Suci

Janji Suci
Bab 80


__ADS_3

Bahkan hingga malam tiba pun, Nini masih terduduk dalam posisinya di atas ranjang. Lampu kamar


pun tidak dia nyalakan. Ada cahaya lampu dari taman yang menerobos masuk, sehingga membuat


Nini tidak ketakuan.


Johan masuk, melemparkan kunci mobilnya kasar di atas ranjang.


“Apa kau tidak bisa menyalakan lampu?” tanya Johan sangat kesal. Dia menyalakan lampu. Saat


ruangan itu terang, dia merasa malas untuk melihat Nini.


Dia melepaskan sepatunya dan pakaiannya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah Johan habis


mandi dan memakai pakaian, dia duduk di sofa menghidupkan tv.


Mereka saling diam. Ruangan itu tampak sepi, tidak seperti biasanya.


Hati Johan berkecamuk menahan amarahnya. Tapi Nini tetap diam seperti tidak ingin mengatakan


apa pun.


Seorang pelayan masuk. “ Permisi tuan dan nona, kalian diminta untuk makan malam bersama.”


“Antar saja ke sini.” Johan menjawab dengan suara datar.


“Tapi tuan..” pelayan itu menggigit bibir.


“Kau ingin membantahku?” Johan masih menatap tv.


“Baiklah tuan.” Wanita itu pun pergi..


Pelayan tadi kembali membawa makanan dan berpamitan pergi.


Johan berbalik dan berjalan mendekati pintu untuk menguncinya.


Bulu kuduk Nini merinding, membayangkan apa yang akan terjadi kali ini.


“Kau masih ingin bersikap seolah di antara kita tidak terjadi apa-apa?” Johan tersenyum sinis lalu


kembali duduk di sofa.


Kekesalannya semakin bertambah saat tidak ada jawaban apa pun dari istrinya.


Bukannya menjawab,Nini malah membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. Dia sendiri bingung


harus berkata apa. Johan sendiri pun akan membantah pendapatnya.


“Nini..!!!” Johan semakin marah, dilihatnya Nini justru tidur.


Tubuh Nini bergetar, bentakkan Johan barusan membuatnya kaget dan ketakutan.


“Kau bahkan tidur dengan tenang?” Johan mendekat dan mencakar pinggangnya.


Matanya dibuka perlahan. Dengan sangat terpaksa Nini bangun dan duduk di hadapan suaminya.


Tubuhnya masih saja gementar, Nini meremas lututnya. Telapak tangannya mulai berkeringat.


“Jawab aku! Siapa keparat tadi?” Suara Johan menggelegar.


“Derry.” Jawabnya tidak berani mengangkat kepala.


“Dia siapa?” Suara Johan semakin meninggi.


“Derry.” Nini ngotot sekaligus bingung.


“Derry itu siapamu?”


“Teman...”


“Bohong!” bentak Johan semakin geram.


“Lalu kau ingin aku menganggapnya apa?” keberanian Nini kembali.


“Katakan yang sejujurnya, aku benci pembohong.” Kedua alis mata Johan bertautan.


Nini berdiri menatap suaminya.


“Pembohong..” Nini tertawa lalu berpaling sesaat dan kembali menatap suaminya.


“Aku bukan pembohong Johan. Kontrol dirimu, jika sedang marah. Aku ini istrimu, bukan wanita


pembohong.” Nini menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk.


“Kau masih mencintainya?” suara Johan melemah.


“Atas dasar apa aku harus masih mencintainya?” air mata Nini mulai jatuh.


Johan menghembuskan nafasnya dan memejamkan mata sesaat. Ini yang paling dia benci. Melihat

__ADS_1


Nini menangis.


“Kalau kau tidak lagi mencintainya, lalu kenapa kau bertemu dengannya? Bahkan kau mengijinkan


dia memegang tanganmu.”


“Aku hanya ingin berbicara dengannya. Apa salahnya? Dan tanganku tadi, aku menepisnya.


Memang dia memegangnya lama, tapi aku pikir itu hal yang biasa.”


“Hal yang biasa?” suara Johan kembali tinggi. “ Kau bilang berpegangan tangan itu hal biasa? Kau


bodoh atau apa?” Johan menunduk menatap lebih lekat istrinya.


“Tidak ada yang lebih. Aku juga masih tahu batasanku sebagai istrimu.” Nini pun tidak mau kalah.


“Kau belum tahu batasanmu Nini.” Mata Johan menyipit.


“Maksudmu?” Nini menelan ludahnya.


Mata Johan sudah berwarna merah menahan emosinya. Dicengramnya lengan Nini dan


menyandarkannya pada dinding kamar.


“Selama ini aku sudah memberimu kebebasan. Aku membiarkanmu melakukan apa yang kau suka.


Karena aku tidak ingin melihatmu tertekan. Tapi mulai sekarang , aku harus membuatmu tahu


batasan sebagai istriku.” Suara Johan bergetar. Dia benar-benar menahan diri untuk tidak melakukan


hal yang lebih jauh.


“Aku tidak akan menuruti semua batasanmu Johan. Sejak dulu, aku tidak pernah dikekang oleh


kedua orangtuaku. Kau tahu, yang akan membuat seseorang patuh pada aturanmu bukan kekerasan,


tapi kepercayaan. Dan sampai hari ini aku masih bisa mengontrol diriku bukan karena kekerasan tapi


karena kepercayaan orang-orang terdekatku.”


“Lupakan prinsip hidupmu yang dulu. Sekarang akulah yang harus kau patuhi. Turuti semua


perkataanku. Mulai detik ini, kau dilarang keluar dari kamar kita.”


“Jika aku melanggarnya?” Nini semakin menantang suaminya.


“Maka aku akan melanggar janjiku untuk tidak melukaimu.”Johan melepaskan cengkramannya dan


“Jadi kau akan memukulku lagi?”


“Tentu. Sebagai seorang suami aku berhak melakukan kekerasan jika istriku membantah.” Ucap


Johan tanpa rasa bersalah. Dia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.


“Kau bilang kau akan menepati janjimu sekecil apa pun itu.”


“Terkadang manusia melakukan kesalahan. Akan ada beberapa janji yang mungkin tidak bisa aku


tepati, salah satunya ya itu.” Johan memejamkan matanya.


Nini membisu di tempatnya. Cengkraman Johan masih terasa sakit. Baginya waktu terlalu cepat


berputar. Rasanya seperti mimpi. Baru saja beberapa hari yang lalu dia bermesraaan dengan


suaminya dan sekarang, di tempat yang sama juga mereka baru saja bertengkar.


Fajar kembali menyapa. Malam tadi Nini memilih tidur di sofa. Dia terjaga sampai dini hari.


Johan lebih dulu bangun. Ditatapnya Nini yang sedang tertidur di sofa. Wajahnya terlihat jelas bahwa


semalaman dia menangis.


Didekatinya Nini, lalu mengelus pelan dan mencium kepala istrinya.


“Maafkan aku yang terpaksa melakukan ini.” Johan pun pergi menuju kamar mandi.


Nini membuka matanya. Kekesalan merasuki seluruh pikirannya.


“Apa kau hanya akan meminta maaf di belakangku?” gumam Nini penuh kegetiran.


Sampai Johan pergi bekerja pun mereka masih saling diam. Nini memutuskan untuk keluar. Sayang,


pintu dikunci oleh Johan dari luar. Nini menggedor kasar pintu itu.


Terpaksa dia menetap di kamar itu. Menjelang makan siang, para pengawal mengantarkan makanan,


lalu kembali mengunci pintu.


Nini semakin sebal dengan dirinya.

__ADS_1


“Baru kemarin aku mengangugkanmu di depan Derry. Tapi hari ini kau tega memperlakukan aku


layaknya tahanan.” Air mata membasahi kedua pipinya.


Penampilan Nini sangat berantakkan. Sejak kemarin dia belum juga mandi dan makan. Gairah untuk


hidup sudah hilang. Toh untuk apa lagi? Orang yang sekarang paling dicintainya, sudah tidak lagi


percaya padanya.


Di kantor, Johan sedang memantau Nini dari laptopnya. Kekesalannya sudah hilang, hanya saja rasa


cemburunya masih tersisa.


“Maafkan aku Nini. Aku takut kehilangan dirimu.” Johan mengusap pelan wajahnya.


Nini merasa sangat tertekan dengan situasinya saat ini. Dia menatap di sekelilingnya berharap akan


ada celah untuk keluar. Dia benci harus dikurung seperti ini. Baru saja sehari, gimana jadinya kalau


sampai berhari-hari?


“Ahhhh... Kembalikan hidupku yang dulu. Kembalikan semuanya. Aku benci duniaku yang sekarang.”


Nini memporak-porandakan semua barang di kamar itu.


Johan melotot dan segera berlari keluar menuju mobilnya. Dia kembali teringat kalau Nini baru saja


sembuh dari tekanan mentalnya.


Dengan kecepatan penuh Johan mengendarai mobilnya. Dia takut kalau Nini akan melukai dirinya


sendiri.


Kekesalan Nini bertambah. Dia melemparkan semua vas bunga ke cermin dan jendela kamar.


Johan membuka pintu kamar dan berlari memeluk istrinya.


“Kembalikan duniaku yang dulu Johan. Aku sungguh menyesal telah menikah denganmu.” Nini


terisak tanpa membalas pelukkan suaminya.


“Kau menyesal?” Johan menatap wajah Nini yang tampak berantakkan.


“Aku menyesal. Tolong ceraikan aku.” Entah muncul dari mana ide gila Nini ini.


“Kau ingin bercerai karena Derry kan? Karena kau tahu dia masih mencintaimu.” Johan geram


dengan Nini.


“Aku tidak mau bertahan dengan sikapmu yang kasar dan keras kepala ini. Aku tidak sanggup.”


“Kau yang keras kepala Nini. Apa susahnya menuruti keinginanku?” Johan menggertakkan giginya


hingga terdengar.


“Menuruti keinginanmu untuk terkurung sepanjang hidupku di sini?” Nini menangis dan menjauhi


suaminya. “Aku bukan tahanan Johan. Kau bertingkah seolah aku melakukan kesalahan besar.


Egomu terlalu besar.”


“Kau ingin bercerai? Baiklah, akan aku turuti.” Johan menatap nanar pada istrinya.


“Tapi akan aku hancurkan seluruh kehidupan Derry. Lihat saja nanti.”“Kau mempersalahkan orang lain karena cemburumu yang buta itu.” Nini mendekat dan memukul


kuat dada suaminya.


“Cemburuku tidak buta Nini, aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu. Aku tidak suka ada pria lain


yang menyentuh dirimu. Dan itu wajar. Tolong jangan lagi keluar kata cerai dari mulutmu.” Johan


menangis. “Aku akan percaya padamu seutuhnya. Asal jangan lagi membenci duniamu yang


sekarang. Karena akulah duniamu Nini.” Dia merangkul tubuh Nini dan menangis dibahu istrinya.


“Maafkan aku Johan.” Ucap Nini lirih.


“Aku mohon jangan lagi temui Derry. Posisinya akan tetap aman.”Johan menatap istrinya.


“Baiklah.” Nini mengusap sisa air matanya.


Johan memperbaiki rambut Nini yang berantakkan. Dia meminta istrinya mandi dan makan.


Beberapa pelayan masuk dan merapikan serta membersihkan kamar itu.


Dengan ancaman berat Johan meminta mereka untuk menutup mulut.


Para pelayan hanya menurut saja.

__ADS_1


“Maafka aku Nini. Maaf jika aku terlalu egois. Dan maaf jika aku terlalu mencintaimu.” Bisik Johan lirih.


Bersambung.....


__ADS_2