Janji Suci

Janji Suci
Bab 75


__ADS_3

Langit pagi ini tampak cerah. Sejak jam 6 tadi, Nini sudah bangun mempersiapkan segala sesuatunya.


“Sweater sudah,sarung tangan, kaos kaki,celana panjang,robus,syal,sepatu, emmmm... apa lagi ya.”


Nini memutar matanya memikirkan perlengkapan lainnya.


“Dalaman sayang, kan harus diganti juga?” Johan mengagetkan Nini.


Nini masih berpikir sejenak mengerutkan bibirnya. “Benar juga ya.” Cengirnya.


“Ehh.. sayang, kalau makanannya gimana?” Nini bertanya sambil memasukkan barang-barang ke


dalam ransel.


“Tenang aja, Doni yang akan atur semuanya.”ujar Johan sembari masuk ke dalam kamar mandi.


Nini masih sibuk dengan urusannya. Setelah selesai, dia memilih duduk di sofa menunggu gilirannya


mandi.


Tepat jam pagi, mereka berangkat. Doni menjadi supir bagi Nini,Johan,dan Maya. Sedangkan Lisa


bersama suaminya.


Hampir jam perjalanan, sampailah mereka pada tempat tujuan.


Doni memarrkirkan mobil Jeep kebanggaannya di bahu jalan. Udara segar khas pegunungan


menyapa mereka. Doni dan Johan turun terlebih dahulu. Sedangkan Nini dan Maya justru tertidur di


dalam mobil.


“Bangunin aja mereka.” Ujar Doni.


“Gak usah, kasihan. Mungkin mereka kecapean.”Johan menggesekk kedua telapak tangannya.


Meski siang hari, tapi udara di sana sudah dingin. Hamparan luas perkebunan teh terlihat jelas dari


ketinggian.


Beberapa menit kemudian, Adit dan Lisa juga sampai di sana.


Adit turun dengan langkah ringan, seolah di antara dia dan Johan tidak terjadi apa-apa.


“Kamu bisa pasang tenda?” Adit bertanya pada Doni.


“Bisa dong. Johan juga bisa kok. Dulu dia pernah jadi juara pasang tenda pas acara camping tahunan


SMA.” Doni membanggakan sahabatnya.


“Baguslah, aku tidak perlu susah payah.” Ujar Adit santai. Lalu kembali ke mobilnya menurunkan


barang.


“Lisa mana?” Doni sedikit mengangkat lehernya melihat ke arah mobil Adit.


“Tidur dia. Dari tadi aja ngotot katanya nggak mau tidur, mau bertahan demi melihat


pemandangan.” Adit menggeleng lalu meletakkan barangnya di dekat Doni.


“Sama dong. Tuh Nini sama Maya juga tidur, padahal sepanjang jalan aja bawel banget.” Doni


tertawa.


Johan terlihat biasa saja. Dia bahkan tidak tertarik untuk membahas apa pun. Dia sibuk


mengumpulkan ranting-ranting kayu untuk malam nanti.


“Rajin ya kamu.” Adit mendekat. Sekedar ingin berbasa-basi dengan Johan.


“Urus saja pekerjaan yang lain, aku tidak suka diganggu.” Johan memeluk ranting-ranting kecil lalu


berjalan menuju perkemahan.


Adit mengikuti langkah Johan dengan tatapan matanya. Kemudian mengangkat kedua bahunya


tinggi dan ikut kembali ke perkemahan.


“Makan siangnya apa Don?” tanya Johan sambil membuang kayu-kayu tadi.


“Makananlah Han. Tadi aku beli di restoran cepat saji dan pas jumlahnya 6.” Sahut Doni sambil


memasang tenda.


“Kenapa 6?” Johan mengernyit sebal.


“Karena kita berenam kan?” Doni pun ikut mengernyit.


“Mau kau habiskan uangku untuk membeli makanan kepada orang itu?” Johan melotot kesal.


“Astaga Han. Uangmu terlalu banyak, tidak akan habis kalau kamu traktir semua karyawan di kantor.


Masa sih Cuma buat Adit kamu marahnya sampai segitu?” Doni menggeleng.


“Tidak perlu Johan, aku juga membawa bekalku sendiri.” Sambung Adit dengan senyum.


“Terserah kalian berdua. Tujuan kita ke sini untuk bersenang-senang. Kalau mau marahan, nanti aja


pas udah balik ya.” Doni menimpali dengan kesal lalu beranjak menuju mobil.


Johan dan Adit saling tatap dari jarak 5 meter.


“Johan, aku kebelet nih.” Suara Nini membuat mereka beralih pandang masing-masing. Sekilas Adit


tersenyum samar.


“Ya udah, kita cari aja tempat yang aman.” Johan menarik tangan Nini menuju pepohonan.


“Ok guys, now it’s lunch time.”ucap Doni sambil membawa kantong berwarna putih.


“Aduh, pas banget ni. Aku udah laper.” Nini tersenyum lebar.


“Yap. Dan dilarang memakan makanan lain. Pokoknya hanya boleh makan apa yang aku sediakan, ini


peraturan utama camping kita.” Doni menatap Adit dan Johan.

__ADS_1


“Buruan bagi Don, perut aku dan keroncong.” Omel Maya.


“Siip deh. Ayo makan.” Doni membuka bungkusan itu lalu membaginya satu-persatu.


Lisa,Nini,dan Maya duduk berdekatan. Sedangkan ketiga pria itu duduk saling berjauhan. Doni tidak


ingin ambil pusing, dia ingin bersikap netral.


“Bentar lagi senja ni. Sunset di sini keren loh. Gimana kalian udah siapin kamera buat pemotretan?”


tanya Doni lagi sehabis makan.


“Han, kamu bawa gak?” Nini berbalik pada suaminya yang dari tadi diam.


“Ngapain aku bawa? Doni kan yang urus semuanya.” Sahut Johan masih dengan wajah dingin.


Nini mengernyit heran melihat Johan yang sedikit berbeda.


“Kalau kamu?” Lisa ikut bertanya pada suaminya.


“Ada kok di mobil.” Jawab Adit santai.


“Kamu gak perlu tanya sayang, aku bawa kok.” Cengir Doni lebar.


“Siapa juga yang mau tanya?” Maya membuang pandangannya jauh.


“Yuk ah, kita ke sana.” Tunjuk Doni pada ujung bukit yang telah disediakan pendopo kecil.


Mereka berempat berlari mendekati tempat itu. Sementara Adit dan Johan masih diam.


“Ada baiknya, kita bersikap biasa saja Johan. Melihat kelakukanmu begini, mereka dengan mudah


bisa menebak.” Ujar Adit.


“Jangan paksa aku untuk menyukai apayang tidak aku suka.” Johan menatap istri dan yang lainnya.


“Aku sudah mencintai Lisa. Dan aku tidak lagi menyukai istrimu.”


“Baguslah, aku hanya butuh waktu untuk berdamai denganmu.” Johan berdiri ingin menghampiri


yang lainnya.


“Kenapa tidak sekarang?” Adit juga ikut berdiri, tapi langkahnya masih terdiam.


Johan berhenti dan melirik Adit. “Aku ingin berdamai dengan sungguh, bukan karena terpaksa. Aku


rasa kau sudah mengerti.” Kata Johan kemudian berlalu.


Adit mengangkat kedua alisnya dan mengikuti langkah Johan.


Malam menjelang, tenda-tenda sudah dipasang. Maya mengernyitkan dahinya melihat jumlah tenda


hanya 3.


Para lelaki sedang duduk di tepian api unggun. Sementara Nini dan Lisa sibuk menyiapkan makan


malam. Dan Maya masih memikirkan bagaimana caranya tidur malam ini.


Sialan, Doni pasti punya niat jahat ni. Lihat saja, malam ini dia tidur di luar.


Maya menikmati makanan kaleng masih dengan pikiran yang sama. Doni tersenyum bahagia, merasa


dirinya sedang diperhatikan.


Selesai makan mereka masih punya banyak waktu untuk bersantai. Doni memainkan gitar dengan


petikkan yang lembut. Lisa dan Nini memeluk erat pasangan mereka masing-masing. Terlihat sangat


serasi dan romantis, sedangkan Maya duduk di sebelah Doni dengan jarak 1 meter.


Kamu,adalah bukti dari cantiknya paras dan hati.


Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi,


Tentang terang dan gelapnya hidup ini.


Kaulah bentuk terindah,dari baiknya Tuhan padaku.


Waktu tak mengusaikan cantikmu.


Kau wanita terhebat bagiku, tolong kamu camkan itu.


Nyanyian Doni seperti sebuah ungkapan yang mendalam. Tatapannya pada Maya tak beralih sedetik


pun sampai habis liriknya.


Sementara yang lainnya pun turut hanyut dengan lagu yang romantis itu. Johan mencium kening


Nini. Adit semakin mempererat pelukannya pada Lisa.


Maya tertunduk. Wajahnya merona menahan malu, bahkan dia pun tersentuh dengan setiap lirik


lagu itu.


Doni menghembuskan nafasnya dalam, lalu meletakkan gitar itu dan menarik tangan Maya untuk


berdiri.


“Kenapa nih?” tanya Maya bingung tapi menurut saja.


Doni menggenggam kedua tangan Maya erat, menatap dengan tenang mata cantik itu. Maya sedikit


menghindari tatapan itu.


“Maukah kau menikah denganku?” tanya Doni penuh kesungguhan.


Yang lain tersenyum bahagia, terlebih Johan. Maya membuka mulutnya lalu dengan cepat


mengatupnya lagi.


“Terima..” Lisa bersorak terlebih dahulu kemudian diikuti Nini.


Maya menahan perasaan gugupnya. Berkali-kali dia merapikan anak rambutnya.


Doni mengangkat kedua alisnya tinggi,berharap Maya akan menerimanya.

__ADS_1


“Kamu serius?” tanya Maya dengan mata sedikit menyipit. Doni hanya menggangguk dan tersenyum


simpul.


“Ok.” Maya menggigit bibir bawahnya dan mengedarkan pandangannya pada keempat temannya.


“Thank you.” Doni ingin memeluk, tapi Maya menahan dengan tangannya.


“Ohh, Sorry.” Doni mengusap wajahnya yang bahagia. Maya tertawa pelan, lalu memeluk lelaki yang


kini menjadi calon suaminya.


“Don, cincinnya.?” Johan melempar kotak cincin berwarna merah.


“Eh, hampir lupa.” Doni dengan sigap menangkap benda itu dan langsung memasangnya pada jari


manis Maya. Ada sedikit keraguan dalam hatinya, takut kalau ukuran cincin ini akan kekecilan atau


sebaliknya. Ternyata pas. Sekali lagi Doni memeluk Maya.


Tanpa sadar, air mata Lisa jatuh. Dia pun pernah bermimpi akan dilamar Adit seromantis ini. Sayang,


jangankan dilamar. Bahkan dilirik pun susah, tapi sekarang dia sudah bahagia.


Tidak masalah,jika anganku tidak menjadi kenyataan. Yang penting sekarang,aku sudah memilikimu


seutuhnya.


Nini juga ikut terharu menyaksikan adegan romanti di depannya, dia sendiri belum pernah


mendapat pengakuan seromantis ini. Tapi dicintai dengan tulus oleh suaminya, sudah lebih dai


cukup.


“Ok, aku akan mempersembahkan sebuah lagu untuk pasangan baru kita malam ini.” Lisa


mengambil gitar lalu meletakkannya di pangkuan.


“Mbak Lisa bisa main gitar?” tanya Nini pada Johan.


“Yah, aku pernah melihatnya memainkan benda itu.” Sahut Johan.


“Kalau kamu?” tanya Nini lagi.


“Aku gak tertarik sama dunia musik.” Jawab Johan cuek.


“Ohhh.” Nini berpaling pada Lisa.


How do i,get through one night without you.


If i had to live without you,what kind of life would that be.


Oh, i..i need you in my arms, need you to hold.


You’re my world my heart my soul.


If you ever leave...


Baby you’d take away everything good in my life.


Without you, there’d be no sun in my sky


There would be no love in my life,


There would be no world left for me...


And i....


Baby i don’t know what i would do..


I would be lost if i lost you,if you ever leave...


Baby you’d take away everything real in my life


And tell me now...


Seterusnya Lisa bernyanyi. Nini kembali terbawa suasana romantis itu, dia bersandar pada dada


suaminya.


Adit menatap Lisa dengan perasaan haru. Saat itu juga dia ingin mencium istrinya. Doni dan Maya


juga tersentuh dengan setiap makna lirik itu.


Sejak dulu, Lisa menyukai lagu itu. Dan setiap mendengar lagi itu, pikirannya hanya tertuju pada Adit


seorang.


Petikkan dan suara Lisa yang lembut membuat Nini tertidur dalam dekapan Johan.


“Thank’s ya Lisa. Suara kamu memang merdu, bahkan Nini langsung nyenyak.” Doni menepuk


tangannya.


“Aku rasa sudah cukup. Saatnya tidur.” Ujar Johan sembari membopong istrinya.


“Ok. Good night.” Lisa melambaikan tangan lalu mendekati Adit.


Tinggallah Maya dan Doni sendirian. Meski baru saja bahagia, kini Maya kembali jutek.


“Kamu tidur di mana?” tanya Maya santai.


“Di tenda.” Jawab Doni tanpa rasa bersalah.


“Di luar!!” Maya melotot lalu berjalan menuju tenda tanpa mempedulikan Doni.


“Ya sudah. Berikan aku tikar.” Pintanya dengan pasrah.


Maya mengeluarkan tikar berukuran kecil lalu membentangnya dekat api.


“Semoga mimpi indah.” Ucap Maya lembut lalu kembali ke tenda.


Sebelum tidur, Doni masih menatap langit yang cerah. Tersenyum bahagia. Maya pun masih


memandangi cincin pemeberian Doni sebelum hingga akhirnya terlelap.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2