
Seminggu telah berlalu..
"Jalan yuk." ajak Nini pada suaminya ketika pulang ibadah pagi.
"Kemana?" Johan membuka pintu mobil.
"Ke tempat favorite aku waktu masih remaja."
"Oke.. Berarti kamu dong yang nyetir.. Aku kan gak tahu tempatnya."
"Gak dong. Kita balikin mobil ayah. Jalannya pake taksi aja. Aku takut kalau ayah ada keperluan mendadak."
"Ya sudah. Aku turuti aja kemauan kamu." Johan mencubit pelan hidung istrinya.
Sesuai rencana. Setelah sampai di rumah,Johan dan Nini pun berpamitan pada ibu dan ayah.
Taksi yang di pesan pun sudah tiba.
"Let's go!!" Nini menarik tangan suaminya.
Sampailah mereka pada sebuah danau kecil yang terletak di pinggiran kota. Udara di tempat itu sangat sejuk. Jauh dari hingar-bingar kota. Jarak danau itu dengan jalanan umun hanya sekitar 20an meter.
"Gimana bagus gak tempatnya?" Nini memelul mesra lengan suaminya
"Lumayan. Tapi masa iya tempat favorite kamu jauh banget dari rumah."
"Ya biarin dong. Di sini kan tenang."
Merek sudah duduk di atas batang pohon yang tumbang. Menghadap danau yang jernih dan tenang itu.
"Jangan-jangan kamu ajak aku ke sini cuma buat ingat masa lalu kamu?" Johan menusuk pelan pinggang istrinya.
Nini menggeliat pelan dan memukul bahu suaminya.
"Jangan ihhh.. Aku gak suka." wajah Nini terlihat cemberut
"Hahaha.. ngaku aja" Johan mencubit hidung istrinya.
Nini teringat pada wanita yang ada di foto itu.
"Han..." suara Nini terdengar lembut. Dia sedang memikirkan cara bertanya agar suaminya tidak akan marah.
"Apa?" mata Johan memandang pemadangan di depan.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu. Apa saja boleh kok."
"Kau berjanji akan menjawabnya?" Nini memandang suaminya penuh harap.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Johan menatap Nini. Dia tidak ingin berjanji terlebih dahulu.
"Bilang dulu kamu mau berjanji untuk menjawab." Nini sudah cemberut. Dia tahu jika Johan berkata begitu maka dia tidak ingin menjawab.
"Huuuufff... Baiklah, aku berjanji." Johan menahan nafasnya dalam.
"Siapa wanita yang kau cintai itu?" Nini masih menatap Johan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Nini."
"Bukan yang sekarang. Maksud aku wanita yang ada di foto itu."
"Jessika." Johan kembali menatap ke depan.
Mungkin sudah saatnya dia tahu tentang Jessika.
"Siapa dia?"
"Kau ingin aku bercerita semuanya tentang dia?" Johan tersenyum.
"Jika kau tidak keberatan."
"Jessika adalah wanita yang aku cintai beberapa tahun yang lalu. Kami berpacaran sejak awal masuk SMA. Bahkan saat kuliah pun kami masih berpacaran. Kami 1 kampus tapi berbeda jurusan. Aku kedokteran dan dia desain mode. Satu kelas sama Lisa"
"Jadi kamu ini dokter juga?" Nini membelalakkan matanya tidak percaya.
"Mau dengar cerita aku gak?" Johan langsung malas karena dipotong pembicaraannya.
"Iya deh iya. Maaf." Nini kembali berkonsentrasi dengan cerita Johan.
"Karena udah lama pacaran, aku semakin yakin kalau dia itu memang akan menjadi pendampingku. Selesai kuliah, aku memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha seperti sekarang ini. Dan Jessika menekuni pilihannya untuk tetap menjadi designer. Saat aku memutuskan ingin melamarnya, saat itu juga takdir berkata lain. Dia sakit kanker. Segala upaya kami lakukan bersama dengan keluarganya. Aku berdoa siang dan malam agar dia bisa selamat. Ternyata tidak. Tuhan lebih menyayanginya." Johan menundukkan kepalanya. Lalu menggeleng pelan. Dia kembali tersenyum dan menatap Nini.
"Dulu aku merasa dunia tidak adil. Aku selalu mengeluh kenapa harus aku yang merasakan kehilangan terberat itu. Tapi sekarang, aku sadar. Jika Jessika masih hidup, mungkin aku tidak akan pernah mengenal dan mencintaimu."
Hati Nini tersentuh. Dia seperti ingin tertawa bahagia tapi juga menangis.
"Aku tidak pernah berpikir kalau Jessika itu sudah tiada." dan benar Nini akhirnya menangis.
"Heii.. Kenapa kau menangis?" Johan mengusap air mata itu
"Jangan bicara begitu sayang. Aku sangat bahagia denganmu, meskipun kau sangat menyebalkan." Johan mencium kening istrinya.
"Terima kasih." Nini memeluk erat pinggang suaminya.
"Nini, aku punya kabar gembira untukmu." Johan membalas pelukan istrinya
"Apa itu?"
"Sebentar lagi kita akan punya anak."
"Masa sih? Dari mana kamu tahu?" Nini melepaskan pelukannya memandang lekat suaminya.
"Aku kan dokter. Tanpa stetoskop dan alat lainnya pun aku tahu kau hamil."
"Kok aku gak tahu ya?" Nini manyun dan memutar bola matanya. Dia mengingat kapan terakhir datang bulan
"Ya iyalah. Emang kamu dokter? Hahah."
"Ishhh.. Belagu amat kamu." Nini memukul bahu suaminya.
"Sayang." Johan sudah mulai ingin berbicara serius
"Ya." wajah Nini masih terlihat cemberut
"Apa di masa lalumu kau pernah mencintai sesorang?"
__ADS_1
"Pernah." Nini memperbaiki cara duduknya. Lalu menatap suaminya. "Apa kau ingin aku menceritakannnya?" Nini mengangkat alisnya tinggi.
"Tentu. Aku ingin tahu semuanya." Johan memandang Nini
"Sama kayak kamu. Aku dulu pacarannya waktu pertama kali masuk SMA. Nama cowo itu Derry. Selama hampir 3 tahun aku sama dia pacaran, ehh pas mau tamat dianya malah tega selingkuhin aku. Ya udah,aku kecewa dan memilih pergi dari kota ini. Aku gak mau ingat semua kenangan tentang dia. Sampailah aku di Jakarta." Nini tersenyum simpul
"Semuanya ternyata terjadi karena kehendak Tuhan. Aku gak tahu ya kalau Derry tetap setia sama aku, kemungkinan kamu gak ada tuh dalam hidup aku."
"Itulah. Antara takdir dan kebetulan juga sih." Johan menggeleng pelan
"Takdir dong masa iya kebetulan?" Nini tertawa
"Oh ya Johan. Sebenarnya aku penasaran loh sama benda-benda lucu yang ada di dalam kotak kayu itu." Nini sudah berani bertanya
"Liontin itu pemberian Jessika, juga boneka karet kucing itu. Dia sangat menyukai kucing. Dan bangau kertas itu milikku. Aku percaya kalau aku membuat 1000 bangau kertas dalam semalam, apa pun keinginan kita akan tercapai. Sayang, pada bangau terakhir yang berwarna emas itu aku ditelepon ibunya Jessika kalau dia sudah tiada."
"Jadi karena itu kamu simpan?"
"Iya. Sebagai kenangan. Tapi setelah menikah aku berpikir lebih baik membuang semuanya. Aku juga harus memulai hidup yang baru."
"Kau masih merindukan Jessika?" Nini bertanya dengan sungguh
"Itu dulu. Tapi setelah aku mencintaimu, ada baiknya aku melupakan dia. Dunianya sudah berbeda."
"Seandainya aku lebih dulu dipanggil Tuhan. Apa kau akan menikah lagi?"
"Tidak. Kau istriku. Bukan hanya di dunia ini tapi juga di dunia selanjutnya."
"Ternyata kamu romantis juga ya? Hahaha." Nini mendorong pelan kepala Johan.
Dia sendiri merasa gugup dengan pengakuan suaminya.
"Boleh aku minta sesuatu padamu?" Johan berbisik pelan pada telinga Nini.
"Katakan."
"Apa kau ingin menikah denganku?"
Nini mengerutkan dahinya.
"Kita sudah menikah."
"Waktu itu keadaannya mendesak. Aku ingin mengulang Janji Suci kita di depan orangtua kita bersama."
"Jangan ngaco deh. Emang bisa gitu?" Nini mulai kesal
"Bisa. Aku ingin pernikahan kita dihadiri semua keluarga kita." Johan menatap serius pada Nini.
"Apa kau bersedia menikah denganku?"
Nini hanya mengganggukkan kepalanya pelan.
"Han, apa aku juga boleh minta sesuatu?"
"Apa pun boleh sayang."
Nini mendekatkan bibirnya pada telinga Johan
__ADS_1
"Aku laparrr.. Apa kita bisa pergi sekarang?"
Bersambung......