
Nini memungut benda-benda yang berjatuhan itu dan menyimpannya kembali dalam kotak kayu tadi. Kemudian dia mengambil foto itu dan membalikkannya.
Dia mengamati foto itu.
"Siapa wanita ini?" di foto itu Nini melihat Johan sedang memeluk pinggang wanita itu. Keduanya terlihat sangan mesra. Nini mendekatkan wajahnya memperhatikan liontin yang pakai wanita itu.
Liontin itu sama dengan yang tadi jatuh dari kotak kayu tersebut.
Tiba-tiba Johan masuk dan merampas foto itu dengan kasar. Nini terkejut.
" Apa yang kau lakukan dengan barang-barang pribadiku?" tanya Johan sambil menaruh foto itu ke dalam kotak.
"Aku tidak sengaja." Nini merasa malu dengan perbuatannya
" Aku tidak suka kau membongkar isi ruangan ini. Pergi dari tempat ini." Johan menunjuk pintu keluar dengan tangannya.
"Naaf." Nini menurut saja
"Ahhh.. Kenapa barang-barang ini masih ada di sini?"
Johan keluar mencari ponselnya. Dia melirik Nini yang berdiri menatap keluar jendela. Ketika menemukan ponselnya, dia langsung menelpon seorang pelayan.
"Ke kamarku sekarang juga." kata Johan kemudian langsung memutuskan sambungan
Nini mendegarnya, tapi dia masih tetap dengan posisinya sambil memikirkan wanita yang ada di foto itu.
*W*anita itu cantik. Aku yakin mereka pasti sepasang kekasih, lalu kenapa mereka tidak menikah? Dan kenapa justru aku yang menikah dengannya??
Seorang pelayan wanita masuk. Dia menundukkan kepala memberi hormat
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayan itu
"Kenapa barang-barang itu masih ada di kamar ini?" Johan menatap dingin pelayan itu
"Maaf tuan, saya kira tuan tidak ingin membuangnya."
"Berapa kali aku harus bilang?!!!" nada suara Johan mulai tinggi
"Buang semuanya!!!" Johan mengusap kesal wajahnya
"Baik tuan." pelayan itu menundukkan kepalanya lagi.
Sesaat pelayan itu melirik Nini yang sedang melihat ke arahnya sambil menggeleng pelan. Kemudian dia kembali tertunduk lalu berjalan menuju ruangan pakaian itu.
Tidak lama pelayan itu keluar lagi, dia sudah membawa kotak kecil itu. Sekali lagi dia menatap Nini yang memberinya isyarat untuk jangan membuang benda itu. Dia hanya tertunduk pelan. Johan sudah duduk di sofa, dia tidak sempat melihat apa yang dilakukan keduanya.
Setelah pelayan itu keluar, Johan melirik Nini yang masih pada posisinya.
" Kenapa kau membuang semuanya?" tanya Nini masih menatap keluar.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu urusan pribadiku." jawab Johan dengan santai.
"Aku perlu tahu." Nini memalingkan wajahnya menatap Johan. "Kenapa kau tidak menikah dengannya, dan justru dengan aku yang jelas-jelas tidak kau inginkan?"
"Ya seharusnya aku menikah dengannya. Tapi itu tidak mungkin." kata Johan sambil menatap ponselnya membaca pesan dari ibu
"Kenapa? Apa karena dia menyakitimu lalu kau jadikan aku sebagai pelampiasanmu?"
Johan bangkit,lalu meletakkan ponselnya kasar di meja. Berjalan mendekati Nini dan menatapnya tajam.
"Tutup mulutmu!! Wanitaku tidak serendah apa yang kau pikirkan itu." mata Johan dan Nini saling bertatap penuh emosi.
"Lalu kenapa?" kali ini mata Nini mulai berkaca, dia menahan amarahnya dan sakit hatinya. Dia merasa dipermainkan.
"Aku menikahimu karena aku menyayangi ibuku. Kau tidak perlu tahu segala urusanku dan masa laluku, lakukan saja apa yang kau mau tanpa menggangguku. Dan aku tidak menikahi wanitaku karena itu sudah takdirku." kata Johan dengan suara sedikit berbisik. Keduanya sudah sangat dekat, tinggal beberapa centi saja hidung mereka sudah bersentuhan.
"Jadi,siapa aku bagimu?" tanya Nini sambil menelan ludah
Johan tertawa pelan mendengar pertanyaan Nini.
"Lalu,aku ini siapa bagimu?" Johan justru bertanya balik.
Nini hanya diam menatap Johan, dia tidak tahu harus menjawab apa.
" Jika kau bisa menjawabnya, maka aku juga akan menjawab pertanyaanmu." Johan memasang senyum sinis lalu pergi meninggalkan kamar itu.
Nini melihat Johan yang keluar. Entahlah mengapa,tapi yang jelas hatinya terasa sakit.
Beberapa menit kemudian, Johan kembali lagi.
"Ibu bilang hari ini kita akan berkunjung ke panti asuhan. Segeralah bersiap." tanpa mendengar jawaban dari Nini, Johan langsung berjalan menuju kamar mandi.
Nini melihatnya lagi,lalu duduk di sofa dan kembali memikirkan wajah Jessika.
15 menit kemudian, Johan sudah keluar. Sambil mengibas rambutnya dengan handuk dia berjalan menuju ruangan pakaian.
"Cepatlah mandi, aku tidak suka menunggu lama." perintah Johan
Nini hanya menurut saja, hari ini dia tidak ingin berdebat dengan suaminya.
Di kamar mandi, Nini masih tetap memikirkan wanita itu.
*A*da apa denganku? Kenapa aku terus memikirkannya?
Setelah mandi, Nini keluar memakai handuk baju berwarna putih.
Johan sudah memakai pakaian santai namun terlihat rapi. Nini berjalan menuju ruangan ganti tanpa melirik sedikitpun pada Johan.
Sampai di dalam, Nini mencari pakaian yang cocok untuk dipakai.
__ADS_1
"Ahh ketemu." setelah mendapatkan pakaiannya yang cocok, Nini memakainya. Kemudian memilih sepatu santai.
"Apa kau masih ingin berdandan?" tanya Johan ketika melihat Nini yang sudah keluar.
"Tentu, bukankah kau sendiri tidak suka jalan dengan orang yang wajahnya kusut?" kata Nini yang berjalan menuju meja rias.
Dia sudah mulai berdandan, sebenarnya dia selalu berdandan terlebih dahulu sebelum memakai pakaian, hanya saja sejak menikah, dia harus memakai pakaian terlebih dahulu.
Sentuhan make up yang tipis, membuat Nini terlihat santai namun tetap cantik.
Johan yang dari tadi menunggu sambil berdiri dan melipat tangannya, hanya memperhatikan Nini. Dia sebenarnya sudah mulai jengkel, tapi ketika melihat istrinya yang sangat cantik, dia hanya terdiam tanpa membicarakan apa pun.
" Aku sudah selesai." Nini memasang senyum pada Johan.
Lagi- lagi dia terpana dengan kecantikan Nini.
"Hemmm.. Ayo jalan." Johan membalikkan tubuhnya segera menghindari kecurigaan Nini.
Nini meraih tas kecilnya. Memeriksa isinya sebentar,setelah merasa semuanya sudah lengkap, dia pun berjalan mengikuti langkah Johan.
"Gandeng tanganku." perintah Johan ketika keduanya hampir mendekati tangga turun
"Kenapa?" tanya Nini curiga, baru kali ini Johan meminta begitu
"Lakukan saja, kita hanya perlu pura-pura saling menyayangi di depan keluargaku." Johan memberikan lengannya untuk dipeluk atau digandeng istrinya, terserah yang penting terlihat mesra.
Nini menggandengnya tanpa membicarakan apa pun. Hatinya semakin sakit dengan perkataan Johan.
*P*ura-pura saling menyayangi.Dia pikir aku ini boneka yang bisa dimainkan kapan saja dia mau.
Ibu sudah menunggu mereka di ruang tengah, penampilan ibu juga terlihat santai saja.
Melihat pasangan suami istri yang mesra itu, ibu hanya senyum dengan bahagia.
"Apa kita langsung saja berangkat bu?" tanya Johan ketika mendekat dengan ibunya.
"Tentu." wajah ibu terlihat sangat bahagia.
Ketiganya berjalan keluar menuju mobil.
Johan sudah terbiasa mengemudikan mobilnya sendiri, jadi dia tidak membutuhkan supir.
Ibu meminta Nini duduk di samping Johan, awalnya Nini menolak dengan alasan dia ingin menemani ibu di belakang.
"Duduklah di samping suamimu nak." kata ibu sambil menunjuk tempat di samping Johan.
Keduanya masih berdiri di luar, sedangkan Johan sudah masuk ke dalam mobil.
"Baiklah bu." Nini terlihat cemberut.
__ADS_1
Bersambung......