
Amel membanting kasar kedudukannya di atas ranjangnya sendiri. Dia meremas spereinya.
"Keterlaluan!" mata Amel terlihat sangat merah. Dia seperti sedang marah sekaligus ingin menangis.
"Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
"Ahhhh.." Amel memporak-porandakkan isi kamarnya.
Beberapa pelayan yang mendengar keributan itu segera mendekat ke sumber suara.
"Amel." seorang wanita mengetuk pintu kamar Amel. Berulang kali dia mengetuk dan memanggil tapi tidak ada jawaban.
Para wanita itu saling bertatapan bingung.
"Kita lapor bu Idah aja." saran seorang pelayan.
Saat berbalik, mereka langsung terdiam.
Ibu Idah sudah berdiri di depan mereka.
"Ada apa?" tanya wanita paruh baya itu.
"Ini bu. Ada keributan di kamar Amel. Dia seperti sedang memberontak." adu seorang pelayan yang tampak lebih muda.
Amel membuka pintu kamarnya dengan kasar . Membuat para pelayan itu tersentak, kecuali ibu Idah.
"Bisa gak kalian tu jangan sewot sama urusan orang?" Amel terlihat kesal.
Ibu Idah memberi isyarat dengan matanya kepada para pelayan itu agar pergi. Mereka hanya bisa menuruti.
"Jangan buat keributan di sini, pelayan baru." tagas ibu Idah. Matanya memandang tajam pada Amel yang bertingkah seolah tidak mendengar.
"Saya tegaskan lagi. Jika anda melakukan keributan yang kedua kalinya, maka anda saya pecat."
"Ehh punya hak apa kamu?" Amel melipat kedua tangannya.
"Saya kepala pelayan di sini. Jadi saya berhak sepenuhnya. Jaga sikapmu." ibu Idah berbalik meninggalkan Amel.
"Dasar tua bangka." celutuk Amel.
Dia kembali masuk ke dalam kamar. Menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih itu. Pikirannya kembali menerawang Johan dan Nini.
"Sedang apa ya mereka?"
"Ahhh..." Dia berbalik. Posisinya sudah menelungkup.
Matanya memandang nanar diding kamar.
"Aku akan merebut suamimu Nini. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan saat ini." tubuh Amel bergetar.
****
Nini membuka matanya pelan. Ruangan kamar tampak lengang. Tidak ada siapapun di sana. Hanya suara jarum jam yang menemaninya.
Johan bahkan tidak ada.
Dia bangun mengusap pelan wajagnya dan menguap. Matanya menatap jam dinding. Sudah hampir jam 10 pagi.
"Udah bangun ya?" tanya Johan saat membuka pintu kamar.
Nini berbalik dan memandang susu yang dipegang Johan.
"Buat siapa itu?" tanya Nini dengan ragu.
"Kamu dong. Ini susu buat ibu hamil. Khusus buat kamu di awal kehamilanmu ini." senyum Johan tersungging di wajahnya.
__ADS_1
"Aku mau pakai baju dulu." Nini beranjak menuju ruangan pakaian.
Tidak lama kemudian dia keluar memakai kaos biru dan celana panjang jeans. Rambutnya dikuncir. Dia terlihat sangat cantik.
"Mau kemana kamu?" Johan heran dengan penampilan Nini.
"Ke panti. Aku udah kangen banget sama Seli dan ibu Tia." kata Nini sambil meraih gelas susu itu dan meneguknya pelan.
"Habiskan dulu susunya." Johan memilih duduk dan membaca buku kesehatan.
Nini meneguknya sampai habis. Kebetulan susu itu tidak terlalu panas. Setelah itu dia mendekati meja rias dan mulai memakai make up yang tipis.
"Aku pergi ya." pamit Nini sambil meraih tasnya.
Johan memandang Nini yang terus melangkah pergi. Dia kembali fokus membaca saat Nini menghilang di balik pintu.
Dengan semangat Nini berjalan menuju mobilnya. Sudah lama juga dia tidak menyetir mobil sedan putih Toyota Vios.
Dia memutar lagu dengan volume kecil. Sambil menikmati alunan musik, Nini tetap fokus pada jalanan.
Kepergian Nini dilihat oleh Amel.
"Bagus. Aku akan lakukan rencanaku hari ini juga." kata Amel sambil mengepalkan tangannya.
Amel mendekati pak Maman yang sedang duduk santai di taman.
"Pak." tegur Amel. Membuat pak Maman sedikit kaget.
"Ehh.. Iya. Ada apa ya?" tanya pak Maman bingung.
"Apa bapak tahu kemana perginya istri tuan Johan?" tanya Amel memasang wajah sok polosnya.
"Oh.. Non Nini biasanya pergi ke panti asuhan. Ada apa ya non?" pak Maman mengerutkan dahinya.
"Tanya aja pak. Soalnya saya disuruh siapin makan siangnya."
"Iya. Biasanya pulang jam berapa ni pak?" tanya Amel lagi.
"Paling sekitar jam 1 atau jam 2 lah non."
"Terima kasih ya pak." Amel berlari menuju rumah para pelayan.
Amel menanti jam untuk makan siang. Dia mondar-mandir menunggu detik demi detik.
"30 menit lagi." Amel loncat girang.
Dia merapikan rambutnya.
Amel keluar dengan langkahnya yang semangat menuju dapur.
Para pelayan lain sibuk menyiapkan makan siang. Amel menghampiri ibu Idah.
"Makan siang buat Nini mana?" Amel berpura-pura tidak tahu kalau Nini sedang keluar.
"Non Nini sedang keluar." jawab ibu Idah masih memperhatikan pelayan lain.
"Ya sudah aku antar saja buat tuan Johan." Amel bersikap santai.
Ibu Idah memandang Amel dengan kecurigaan.
"Nanti saya antar sendiri."
Ponsel ibu Idah berdering. Panggilan dari tuan Johan.
"Hallo tuan." ibu Idah diam sebentar.
"Baik tuan." ibu Idah menatap Amel.
__ADS_1
"Saya sedang sibuk. Jadi kamu boleh antar makan siang tuan." mata ibu Idah was-was melihat Amel yang sangat gembira.
"Jaga kelakuanmu. Saat ini kamu hanya seorang pelayan." ibu Idah memperingatkan dengan tegas.
"Siapin aja makan siangnya tuan Johan. Aku gak akan macam-macam kok." kata Amel ketus.
Tentu, tuan Johan tidak akan tergoda denganmu. Batin ibu Idah.
Amel menerima nampan berisi makanan itu dengan senang.
Dia berjalan penuh semangat. Sampai di ruangan makan dia bertemu dengan tuan dan nyonya Hartono yang sedang makan bersama.
"Permisi." tingkah Amel sok imut.
Ayah dan ibu hanya menggangguk pelan.
"Kenapa dia ingin bekerja di sini ayah?" tanya ibu Isma pada suaminya.
"Ayah tidak tahu bu. Biarkan saja, kalau memang dia merasa nyaman." kata ayah dengan santai sambil terus menikmati makannya.
Ibu merasa tidak senang dengan kehadiran Amel yang tiba-tiba ingin menjadi pelayan keluarga mereka. Amel juga berasal dari keluarga yang kaya raya. Lalu apa dia tidak merasa hina jika bekerja seperti saat ini.
Gerakan tangan amel seperti sedang memasukkan sesuatu ke dalam minuman Johan saat dia sampai di depan pintu.
Amel mengetuk pintu sebanyak 3 kali, lalu membukanya pelan.
Tidak ada Johan di sana. Amel kebingungan. Dia memilih meletakkan makanan itu di atas meja dan menunggu Johan datang.
Johan keluar dari kamar mandi. Amel langsung menatapanya.
"Kamu yang antar?" tanya Johan heran.
"Iya tuan. Saya permisi, karena anda sudah di sini." Amel langsung berjalan keluar.
Melihat sikap Amel yang mencurigakan itu, Johan langsung membuka laptopnya dan melihat rekaman cctv dalam kamarnya.
"Tidak ada yang mencurigakan." kata Johan sambil memegang dagunya bingung.
Dia menatap makanan itu.
Sayang kalau dilewatkan. Pikir Johan.
Dia menikmati makan siangnya dengan penuh syukur. Menelan habis air putih sehabis makan.
Johan merasa sangat mengantuk. Dia berjalan gontai menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya. Hanya dalam hitungan detik dia sudah tertidur pulas.
Amel mondar-mandir tidak jelas. Meremas jemarinya pelan. Berpikir kalau rencananya gagal.
Terdengar suara ibu Idah dari luar. Amel berlari mendekati pintu dan memasang telinganya pada daun pintu.
"Apa kalian sudah mengambil tempat makan di kamar tuan Johan?" tanya ibu Idah pada dua orang pelayan.
"Sudah bu." jawab salah satu pelayan.
"Apa yang sedang dilakukan tuan?"
"Tidur bu."
"Di mana Amel?" tanya ibu Idah lagi.
"Di kamarnya bu. Sejak tadi dia tidak keluar. Mungkin istirahat."
"Ya sudah. Kalian juga istirahat dulu." ibu Idah pun berlalu menuju kamarnya.
Jam 1 siang, adalah waktu istirahat bagi semuanya. Termasuk para pelayan, kecuali jika ada keperluan mendadak.
Amel yang merasa situasi di luar sudah aman, langsung mengendap pelan menuju rumah induk keluarga Hartono. Lebih tepatnya lagi kamar Johan.
__ADS_1
Bersambung....