
Nini masih berdiri terpaku di tempatnya tadi. Dia masih tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada kehidupannya.
" Aku memang tidak mencintai suamiku, tapi aku tidak ingin kehilangan dengan cara yang menyakitkan itu Tuhan." air mata Nini terus saja mengalir keluar.
Isak tangisnya membuat tubuhnya terguncang pelan.
Johan yang berdiri dari kejauhan tampak bingung melihat Nini sepertinya sedang menangis.
Tadi dia mencari istrinya di rumah induk. Untunglah dia bertemu dengan ibu Idah.
Johan berjalan pelan agar Nini tidak mendengar langkahnya.
Apa dia merindukan keluarganya?
" Aku tidak sanggup.. Buka hati kami untuk bisa saling menerima satu sama lain Tuhan. Berikan aku kekuatan agar aku bisa menjalani segala takdir yang telah Kau bentuk." Nini terus saja menangis.
Johan mendengar doa yang dikatakan istrinya barusan. Hatinya tergerak menyaksikan Nini yang menangis karena ingin mempertahankan pernikahan mereka.Dia mendekat dan memeluk erat istrinya dari belakang.
Nini tersentak kaget. Dia tahu itu Johan. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan memeluk erat suaminya.
Johan membalas pelukan Nini.
" Jangan pergi tinggalkan aku." Nini terisak di dada Johan.
" Aku tidak akan pergi. Meskipun kamu itu keras kepala dan suka pancing amarah, aku tidak akan pergi." Johan sedikit tertawa mendengar permintaan Nini
" Sungguh meskipun kau tidak mencintaiku?" Nini mengangkat wajahnya lalu menatap mata suaminya
" Aku tidak pernah mengingkari janjiku pada manusia, apalagi pada Tuhan." Johan mengusap air mata Nini dengan jarinya.
Nini mengerti maksud perkataan Johan.
" Dan aku sudah pernah berjanji akan belajar mencintaimu kan? Sejak saat itu aku sudah memulainya." kata Johan lagi lalu kembali memeluk erat istrinya.
" Sudah." Nini melepaskan pelukan Johan yang semakin erat itu.
"Aku malu nanti ada yang lihat." katanya lagi lalu mengusap wajahnya dan merapikan rambut panjangnya.
"Haha biarkan saja mereka melihatnya. Kau istriku." Johan sedikit merayu
" Tumben kamu pulang jam begini?" tanya Nini agar Johan tidak melanjutkan candaannya.
"Ibu menyuruhku menjemputmu, kita akan berbelanja untuk acara pernikahan besok."
"Acara pernikahan siapa?"
" Lisa, designer yang merancang gaun pengantinmu." Johan mengatakan demikian karena dia tidak ingin mengakui Adit sebagai sepupunya
" Oh aku ingat. Tapi besok aku ada acara juga." Nini kembali teringat kalau besok acara pernikahan Adit
" Acara apa?"
" Acara pernikahan bosku dan kami semua diwajibkan hadir. Gimana dong?"
"Siapa bosmu?" Johan penasaran
Belum sempat Nini menjawab, ponsel Johan sudah berdering ada panggilan masuk.
Johan melihatnya sebentar lalu menunjuk pada Nini. Ibu yang menelpon.
Ponsel baru. Padahal kemarin baru aja rusak. Dasar orang kaya. Batin Nini
"Hallo bu." Johan menerima telepon itu segera.
" Kok lama banget nak? Ibu sudah menunggu di mall. Kakakmu Tony dan keluarganya sudah tiba di sini juga." ibu Isma sedikit kesal dengan Johan
__ADS_1
" Baiklah bu. Aku dan Nini segera ke sana."
Johan mematikan telepon.
" Ayo berangkat ibu tidak suka menunggu lama. Sama seperti aku." Johan menarik tangan Nini meninggalkan danau itu.
" Tapi penampilanku?" Nini menghentikan langkahnya dan menunjuk tubuhnya.
Johan memperhatikan penampilan Nini dari kepala sampai kaki.
" Tidak ada yang salah kau tetap cantik." Johan kembali menarik tangan Nini
" Tunggu ponselku ada di dalam kamar." Nini menunjuk jendela kamar ketika mereka sudah berdiri di dekat mobil.
" Apa lagi?? Ponselmu tidak penting saat ini. Ayo masuk." Johan melototi Nini kesal
"iya." Nini hanya menurut saja.
Dalam perjalanan, Johan kembali teringat apa yang dikatakan Nini tadi.
"Ah iya, tentang bosmu itu. Kau dahulukan saja datang ke pesta Lisa, setelah itu kau bisa pulang lebih dulu dan ikut acaranya."
Nini menimang. Berpikir sejenak lalu mengganggukan kepalnya setuju
" Ok deh." kata Nini sambil mengacungkan 2 jempol pada suaminya.
Mobil Johan sudah terpakir di depan mall. Dia meraih ponselnya dan menghubungi ibu.
"Ibu dimana? Aku dan Nini sudah di parkiran ni." kata Johan ketika sambungan diterima
" Di cafe langganan ibu sayang. Datanglah kalian pasti belum makan kan?"
" Emm.. Iya ibu." Johan langsung memutuskan teleponnya.
"Ayo." ajak Johan lalu membuka sabuk pengamannya.
Ketika sampai di cafe yang dibilang ibunya tadi, Johan memutar kepalanya mencari ibu dan kakaknya Tony
"Itu mereka di sana." Johan menunjuk sebuah meja makan keluarga.
Nini ikut melihat ke arah itu. Di sana sudah ada ibu,Tony, Anna, Michele dan seorang wanita muda. Dia mengerutkan matanya memperhatikan wanita itu.
*K*ayak pernah lihat deh. Tapi di mana ya??
"Ayo kita ke sana." Johan merangkul mesra bahu istrinya.
Ketika sampai di meja itu, Johan segera menarik sebuah kursi mempersilahkan Nini duduk. Masih ada 2 kursi tersisa. Nini duduk menghadap wanita itu.
Michele segera turun dari pangkuan Anna dan berlari kecil menuju Nini.
Ada rasa cemburu yang terlihat jelas di wajah wanita itu. Nini kembali memperhatikan dan mencoba mengingat di mana dia pernah melihat wanita ini.
Aha.. Sekarang aku ingat, dia adalah wanita yang berlari keluar dari rumah sakit ketika ibu menjodohkan aku dengan Johan.
Nini sudah mengingatnya.
Tapi kenapa dia terlihat tidak suka dengan kedatanganku? Apa dia suka pada Johan?
"Kalian mau makan apa?" pertanyaan ibu membuat Nini tersadar dari pikirannya tentang Amel.
"Apa aja bu." Johan yang menjawab pertanyaan ibunya.
" Bibi gimana kabar ayah dan ibu Pinky?" Michele bertanya sambil mendongakkan kepala pada Nini yang sedang menggendongnya
" Kabar mereka baik kok sayang. Mereka sudah sangat merindukan Pinky." Nini mengusap pelan kepala Michele
__ADS_1
"Pesanan datang." Suara seorang pelayan cafe menyapa ketika sampai di meja itu.
Dia meletakkan makanan di hadapan semunya. Sebuah makanan dengan porsi yang besar.
" Wahhh.. Banyak banget ya." Michele menepuk tangannya.
Semua yang ada di sana tertawa melihat tingkah Michele yang menggemaskan. Hanya Amel yang tidak tertawa. Bahkan senyum pun enggan.
Semua menikmati hidangan dengan berbagi cerita lalu tertawa asyik. Nini masih melirik Amel, dia merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Amel padanya.
Dasar wanita perebut. Batin Amel kesal
Selesai makan, ibu mengajak semuanya menuju butik langganannya. Mereka memilih pakaian termasuk Amel. Ibu yang membayar semuanya.
Johan menarik tangan istrinya membantu mencari gaun pesta terbaik. Mereka memilih pakaian yang sama warnanya, Merah darah.
"Ini saja. Kelihatannya cocok." Johan menunjuk gaun itu.
Seorang pelayan wanita mendekat lalu mengatakan kalau itu adalah gaun terbaik butik ini.
" Apa aku bilang, pilihanku memang selalu yang terbaik bukan?" Johan melirik pada Nini
" Ya. Aku suka."
Setelah menemukan kameja dengan warna yang sama, Johan dan Nini beralih pada sepatu.
Johan tetap yang menentukan pilihannya. Nini hanya menurut saja.
Amel yang dari tadi memperhatikan kemesraan mereka, diam-diam menyimpan dendam dalam hatinya.
*K*arena kamulah aku tidak bisa menikah dengan lelaki impianku. Lihat saja nanti.
Mereka semua sudah selesai dengan pilihan.
Setelah membayar semua harga, mereka pun keluar menuju mobil masing-masing
"Setelah ini ibu akan kemana?" tanya Nini sambil menggandeng tangan ibu Isma
"Pulang sayang, ibu ingin istirahat menyiapkan stamina untuk acara besok."
Ibu Isma dan Nini terlihat sangat dekat. Amel semakin terbakar api cemburu.
"Aku ikut mobil paman aja bu." Michele merengek pada Anna.
" Gak bisa sayang, paman harus langsung balik ke kantor. Kamu sama bibi aja " Johan yang kebetulan berjalan di samping Anna langsung membantah lembut keinginan Michele.
"Paman gak anterin bibi?" tanya Michele dengan wajah polosnya
" Gak sayang. Bibi kamu sama oma pulangnya." Johan menunjuk pada Nini dan ibu yang berjalan di belakang mereka.
" Ya udah. Michele sama bibi aja."
Anna mengantar anaknya pada Nini.
Amel menumpang mobil bersama Tony dan Anna.
Nini, ibu Isma dan Michele diantar pulang oleh supir pribadi.
Sedangkan Johan sendirian menuju kantornya.
Sepanjang perjalanan pulang, Nini mengajari beberapa lagu anak pada Michele. Ibu yang berada di samping mereka, terus memperhatikan kedekatan keduanya. Ada perasaan haru dan bahagia dalam hatinya
Ternyata aku tidak salah memilih
Batin ibu Isma
__ADS_1
Bersambung.....