
Amel bersorak gembira pasca mendengar kabar tentang kepergian Johan.
Sebuah rencana Jahat terlintas di pikirannya.
"Kamu juga harus tahu, gimana rasanya kehilangan." senyumnya merekah.
Nini merasa kesepian. Mau tidak mau, dia harus menuruti perintah suaminya. Tidak boleh keluar kamar.
Ibu Idah mengantarkan makan siang.
"Ayah sama ibu udah makan?" tanya Nini
"Sudah non." jawab ibu Idah sambil menyiapkan makan siang majikannya.
"Non makan dulu." ibu Idah mempersilahkan.
Nini menggangguk dan menyantap makan siangnya.
"Bu, aku boleh gak jalan keliling taman sebentar?" tanya Nini sekaligus memohon.
"Saya takut dimarahin tuan dan nyonya." ibu Idah hanya menunduk. Dia sebenarnya kasihan melihat Nini yang merasa bosan.
"Ya sudah bu. Gak papa kok." senyum Nini tipis.
Ibu Idah berpamitan keluar. Katanya masih banyak pekerjaan.
Dengan berat hati Nini mengijinkan. Dia ingin ditemani ibu Idah.
Menjelang malam, Nini memilih berendam air hangat.
Di dalam bathtub, Nini memejamkan matanya. Merasakan kehangatan air. Dia bahkan hampir tertidur.
Nini membuka matanya pelan. Ruangan masih tampak terang. Keadaan diluar sudah mulai gelap. Dia kembali menikmati mandinya. Menenggelamkan seluruh tubuh dan wajahnya di dalam air beberapa detik.
Seperti tidak ada puas-puasnya dia bermain air.
Tanpa disadari, seseorang dengan separu flats berwarna hitam tengah melangkahkan kaki pelan memasuki kamarnya.
Nini mengibaskan air ke wajahnya. Kemudian memejamkan lagi matanya beberapa detik.
Suasana sekitarnya tampak gelap saat Nini membuka mata.
"Tuhan." ucap Nini penuh ketakutan.
Dia menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan. Itu trik yang pernah Johan ajarkan.
Cukup manjur. Dia bisa mengendalikan pernafasannya. Kemudian dia keluar dari bak mandi itu. Sudah beberapa bulan tinggal di tempat itu, dia sudah menguasai seluruh detil ruangan itu.
Nini berjalan mendekati tempat gantungan handuk dan meraihnya.
Dadanya terasa sesak tapi dia kembali melakukan trik tadi. Masih cukup menyelamatkannya.
Nini berjalan seperti orang buta. Meraba sana-sini mencari pintu keluar. Kepalanya mulai terasa pusing.
"Bagaimana ini Tuhan.." keluh Nini. Dia tahu ruangan itu kedap suara. Jadi percuma baginya untuk berteriak.
Keseimbangan tubuhnya mulai goyah. Dia terjatuh. Bokongnya membentur keras lantai.
"Auhhhh.." Nini merasakan sakit yang hebat di area kedudukkannya.
Terpaksa dia harus merangkak. Sakit yang tadi sudah sampai di perutnya.
Sekuat mungkin Nini bertahan, akhirnya dia memegang gagang pintu. Dia membuka pintu itu dan merasa aneh.
Ternyata lampu kamar utama mereka tidak padam. Dia mengusap keringat yang bercampur air di sekitar wajahnya.
Sepertinya ada seseorang yang ingin mengerjai aku. Batin Nini curiga.
__ADS_1
Dia melirik stopkontak khusus untuk kamar mandi. Benar, ada yang sengaja mematikannya.
Matanya menyapu was-was seluruh ruangan itu. Takut dengan kemungkinan buruk yang akan menghampirinya lagi.
"Ahhh.." tiba-tiba perutnya kembali sakit.
Nini memegang perutnya. Dengan susah payah dia berjalan mendekati sofa.
Merangkak adalah satu-satunya cara.
Dia menggapai ujung sofa itu.
Ponselnya berada di atas ranjang. Dengan keadaannya yang sekarat seperti ini, dia merasa jaraknya menuju ranjang sangatlah jauh.
Wajah Nini sudah terlihat pucat. Tubuhnya bergetar menahan sakit. Dia bersandar pada sofa. Tangannya masih memegang perut.
"Tolong.." suara Nini melemah.
Belum habis rasa sakit itu, tiba-tiba seekor ular cobra berukuran sedang keluar dari ruangan pakaian.
Matanya melotot kaget. Dia menggeleng kuat.
Nini berusaha bangkit. Agar bisa menyelamatkan dirinya dari hewan mematikan itu.
Ini pasti rencana jahat seseorang. Kamar ini bersih, tidak mungkin ada ular di sini.
Ular itu berjalan menuju ke arahnya.
"Tidakkkk...!!!" Nini berteriak.
"Bu Idah.. Ayah... Ibu..." Nini menangis.
Ular itu semakin mendekat. Nini berusaha bangkit dan berlari. Dia jatuh tersungkur di lantai.
Tubuhnya menghantam keras lantai yang terbuat dari marmer itu.
"Tolong...!!!" Nini berteriak. Kali ini dia hanya bisa menghindari ular itu dengan merayap menuju pintu.
Nini mengumpulkan sisa tenaganya. Sekali lagi dia terjatuh.
Perutnya menghantam lantai. Terasa semakin sakit.
Darah segar mengalir dari kakinya. Nini kaget.
Sementara itu ular semakin mendekat.
"Johan...!!!" Nini menjerit ketakutan. Tanpa sadar dia menyebut nama suaminya.
Setelah habis seluruh tenaganya Nini akhirnya pingsan.
****
Di China, Johan sedang menghadiri rapat penting dengan pebisnis besar asia. Rapat itu sangat tertutup. Sampai ponsel pun harus ditinggalkan.
Dia merasa sangat terganggu. Pikirannya hanya tertuju pada Nini.
Hampir 2 jam rapat itu dilaksanakan, tapi belum juga selesai.
Johan berulang kali mengusap wajahnya.
Ada apa denganku?
****
Ibu Idah mengantarkan makan malam untuk Nini.
Senyum tulusnya tergambar membayangkan seperti apa wajah Nini saat melihat potongan daging ayam pada menu makannya malam ini.
__ADS_1
Pelayan setia itu mengetuk 3 kali pintu kamar dan langsung membukanya.
Nampan berisi makanan itu terjatuh. Isinya tercecer di sekitar kaki ibu Idah.
Dia membuka mulut dan matanya lebar. Menyaksikan Nini yang pingsan di dekat pintu dengan darah segar mengalir dari kakinya.
Ibu Idah berlari mendekati Nini.
"Non.. Bangun non." dia menepuk kuat pipi majikannya.
Air matanya jatuh. Takut sekaligus bingung.
Dia ingin berlari memberitahu yang lainnya tapi dia juga tidak ingin meninggalkan Nini seorang diri.
"Non." ibu Idah menggoyangkan tubuh Nini.
Untung saja saat itu ibu Idah membawa ponsel.
Dia menelpon ibu Isma dan langsung memberitahu.
Ibu Isma tersentak kaget.
"Ayah..." teriak ibu.
Ayah yang sedang nonton tv langsung berlari menghampiri ibu.
"Ada apa bu?" tanya sang Ayah khawatir.
"Nini pingsan dan darah keluar dari kakinya." ibu Isma hampir pingsan.
"Ibu.." ayah menahan ibu.
Pak maman dan beberapa pelayan pria mengangkat tubuh Nini menuju RS milik Johan.
Ibu Idah berlari mengikuti dari belakang. Dia berhasil masuk ke dalam mobil yang membawa Nini.
Kini dia memeluk tubuh Nini yang bersimbah darah.
Matanya memandang darah yang tertempel di tubuh Nini. Air matanya jatuh. Dia yang sudah lebih dulu mengarungi bahtera rumah tangga, tentunya tahu. Anak Nini tidak bisa diselamatkan.
Maafkan saya non. Saya lalai dalam menjaga anda. Ibu Idah memperat pelukannya.
****
Amel menyaksikan kejadian itu dari jendela kamarnya.
"Selamat menikmati Nini." tawanya memenuhi ruangan itu.
"Semoga kamu cepat mati." wajahnya terlihat bengis.
Dia mengangkat ponselnya dan menelpon seseorang.
"Keluarlah. Situasi sudah aman. Pastikan tidak ada yang tersisa." Amel mematikan ponselnya lalu kembali tertawa.
"Sudah aku bilang, jangan macam-macam denganku. Ini belum seberapa Nini. Lihat saja nanti." mata Amel memerah. Tubuhnya bergetar. Seperti ada dendam besar yang tersimpan dalam hatinya.
****
Johan merebahkan tubuhnya di atas ranjang sepulang dari pertemuan tadi.
Dia kembali teringat Nini. Diraihnya ponsel dan menelpon Nini.
Sayang, tidak ada jawaban sama sekali.
"Apa mungkin dia sudah tidur?"
Johan melirik jam di dinding. Menunjuk pukul 23:03. Itu berarti di Jakarta pukul 22:03.
__ADS_1
"Ahhh.. Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya." Johan mengusap wajahnya.
Bersambung.......