Janji Suci

Janji Suci
Bab 31


__ADS_3

Nini dan Johan sudah sampai di rumah. Ayah dan ibu tampaknya belum pulang. Johan berjalan lebih dulu tanpa memperdulikan Nini, dia hanya tidak ingin berdebat hari ini.


Keduanya sudah tiba di kamar, ketika akan berganti pakaian, Johan melakukannya di depan Nini. Seolah tidak ada siapa2 di sana.


Wajah Nini masih saja datar. Dia berjalan menuju ruangan pakaian. Johan memasang senyum nakalnya, membuntuti Nini dari belakang.


"Mau apa kamu?" tanya Nini ketika merasa diikuti suaminya


"Mau minta maaf padamu." suara Johan terdengar sedikit berat. Tampaknya dia merasa bersalah atas sikapnya tadi.


" Emang kamu butuh maaf dari aku?"


" Maksud kamu?" Johan mengernyitkan dahinya.


" Udahlah, kamu gak pernah hargain aku. Jadi aku rasa kamu gak butuh maaf dari aku. Sekarang keluar, aku mau ganti." Nini mendorong tubuh suaminya dengan sekuat tenaga.


Tubuh Johan tergeser jauh, dorongan Nini cukup kuat.


*K*urang ajar, dia juga bahkan tidak pernah menghargai aku sebagai suaminya.


Kali ini Johan yang kembali marah. Wajahnya sudah sangat merah, dia berjalan menuju Nini. Menarik lengannya dengan kasar dan merapatkan tubuh Nini pada dadanya.


" Kau bilang aku tidak menghargai kau sebagai istriku?" tanya Johan dengan kesal.


Wajah mereka sudah sangat dekat. Nini meronta kesakitan, cengkraman Johan sangat kuat.


"Lepaskan aku.!"


" Katakan padaku apa kau pernah menghargai aku?" cengkraman Johan semakin kuat. Lengan Nini sudah semakin memerah


" Lepaskan aku Johan.!!" Nini semakin berteriak kesakitan. Air matanya jatuh lagi.


" Tidak. Katakan apa kau pernah menghargai aku? Jawab!" Johan berteriak ditelinga Nini. Wanita itu semakin merasa menderita


"Lepaskan aku. Apa kau tahu aku tidak pernah diperlakukan kasar oleh pria manapun termasuk ayahku. Kau, dengan seenaknya menyakiti tubuhku. Lepaskan!! Kenapa kau suka menyakiti tanganku ketika marah?" air mata semakin banyak keluar.


Nini merasa hidupnya sangat tidak adil. Dia menikah dengan pria kaya yang dinilai baik oleh semua orang. Ternyata dia diperlakukan kasar.


Apa salahku Tuhan? Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti dia?


" Aku tidak akan menyakiti siapapun jika aku dihargai. Lihat dirimu, kau bertingkah seperti anak kecil. Kau bahkan tidak menerima maafku. Dan pertanyaanmu tadi, apa kau pikir itu pantas ditanyakan oleh seorang istri pada suaminya?" Suara Johan sudah terdengar pelan.


Johan sesungguhnya tidak tega menyakiti Nini, hanya saja dia terbawa emosi dengan kata-kata Nini yang baginya sudah berlebihan.


Johan melepaskan cengkramannya pada lengan Nini. Dia sedikit melirik melihat lengan istrinya yang merah. Nini masih saja menangis meski tanpa suara tapi air matanya tidak mau berhenti.

__ADS_1


"Dasar manja." Kata Johan ketus lalu menarik tangan Nini menuju ranjang, membuka laci di dekatnya lalu mengambil salaf dan mengolesinya pada lengan Nini.


Sikap Johan yang demikian justru membuat Nini semakin sedih. Tidak bisa lagi dibendung, akhirnya Nini menangis sampai sesegukan. Johan memasang wajah bingungnya.


" Ada apa?" tanya Johan keheranan


" Aku benci kamu. Hikss.. Hikss.. Hiks... Kamu udah nyakitin aku, terus kenapa diobatin lagi hah? Sekalian aja bunuh!!! Gak usah sok baik.." Nini membalikkan tubuhnya membelakangi Johan.


Air mata Nini sudah hampir habis, matanya sudah sangat bengkak.


Johan semakin kesal dengan sikap Nini yang aneh.


*O*rang ini, dikasarin salah dibaikin ehh malah minta dibunuh. huhh sabarrrr!!!


"Baiklah, kalau saja diijinkan Tuhan, mungkin aku sudah membunuhmu wanita sinting. Hanya saja Hukum dari Tuhan dan negara ini menentangnya." kata Johan dengan suara lembut tapi terdengar menakutkan.


Nini melihat Johan dengan sisa isak tangisnya. Wajah dan matanya sangat merah. Johan semakin tidak tega melihat keadaan istrinya yang sekarang. Hanya saja sikap Nini selalu memancing amarahnya


"Apa maumu istriku?" Johan mencoba membujuk Nini


" Kau tadi bilang aku sinting?" tanya Nini dengan nada terdengar bahwa dia sedang marah.


" Lalu kau ingin aku bilang waras? Sementara sikapmu bisa membuat aku yang gila. Apa maumu, katakan." Johan berdiri dengan kesal dia memandang ke arah Nini.


" Maafkan aku yang tidak sempat bilang sama kamu. Sebenarnya hari ini panti asuhan sedang melakukan kegiatan rohani bersama di luar kota." wajah Johan sudah mulai melemas.


" Kenapa tidak kau katakan dari tadi? Lihat perbuatanmu, aku harus terluka separah ini kah?" Nini menunjuk lengannya


Johan mendekati Nini sambil duduk di sampingnya dan memegang tangan Nini.


" Maaf, aku memang tidak bisa mengontrol diriku ketika sedang marah." ucap Johan dengan lirih.


" Kalau begini terus sikapmu, aku tidak bisa menjamin akan bertahan dengan pernikahan ini." Nini menudukkan kepalanya dalam, lagi-lagi dia menangis.


Johan merasa bersalah, dia memeluk bahu istrinya lalu megusapnya lembut.


" Apa kau memaafkan aku?" tanya Johan lagi dengan suara yang semakin lembut.


Nini mengangkat kepalanya menatap Johan.


" Emm.. Aku maafkan." Nini mengganggukan kepalanya perlahan.


" Terima kasih." Johan mencium kening istrinya.


"Sudah nangisnya. Kamu ganti dulu, aku minta sarapan diantar ke sini ya,kamu kan belum makan apa dari pagi tadi." Johan mengelus lembut kepala istrinya.

__ADS_1


Setelah berbaikan, Nini menuju ruang ganti dan Hohan mengambil ponselnya lalu menelpon seorang pelayan untuk mengantarkan sarapan dua porsi.


Nini keluar dengan senyuman merekah di wajahnya yang sembab.


Makanan sudah tersedia. Wajah Nini kembali berubah murung, dia melihat di sana tersedia bubur ayam.


" Ayo makan." ajak Johan melihat Nini yang berdiri terpaku di depannya


" Kenapa kamu?" tanya Johan keheranan


" Aku, gak suka makan bubur."


" Kamu gak makan bubur?" Johan bertanya lagi mencoba meyakinkan kalo dia tidak salah dengar.


Nini hanya mengangguk


" Enak kok. Kamu cobain aja dulu."


"Gak,aku udah kenyang." Nini berjalan menuju ranjang membiarkan Johan dengan bubur ayam di depannya.


*O*rang ini benar-benar keterlaluan.


" Kamu kenyang?? Aneh ya, padahal dari pagi tadi perut kamu belum diisi makanan." mata Johan sudah sedikit melotot.


"Aku gak suka makan bubur. Dari dulu aku benci makanan itu, harusnya kamu gak perlu maksain aku." Nini dengan kesal menatap ke arah suaminya.


" Huffftt... Baiklah aku akan meminta makanan yang lain." Johan mengambil ponsel di kantung celananya meminta pelayan mengantar makanan yang lain.


Dua orang pelayan masuk dengan membawa nampan berisi nasi goreng. Mereka mengambil bubur tadi lalu keluar dengan sopannya.


" Makanlah." Johan menarik tangan istrinya menuju sofa


" Wahhh.. Nasi goreng. Aku suka hehe." wajah Nini langsung berubah.


Melihat istrinya yang begitu bahagia, entah kenapa Johan ingin menciumnya.


" Ayo kita makan." ajak Johan pada istrinya


Mereka duduk dan makan bersama.


Wajah Nini sudah berubah bahagia. Johan menatapnya dengan bahagia sekaligus menyesal telah membuatnya terluka tadi.


Nini,maafkan aku. Batin johan


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2