Janji Suci

Janji Suci
Bab 77


__ADS_3

77


Memang ide Doni sangat bagus. Setelah seminggu lebih menginap di puncak, Nini kembali terlihat


ceria. Perlahan dia sudah mengiklaskan kepergian Seli. Dia bahkan lebih aktif lagi dalam kegiatan


sosialita mengikuti ibu Isma. Hampir setiap hari mereka mengunjungi beberapa panti asuhan serta


yayasan SLB untuk membantu dan menghibur. Sifat Nini yang cepat dekat dengan siapa pun,


membuatnya tidak kesusahan untuk beradaptasi dengan orang lain.


Kesibukkannya di dunia yang baru,membuat Nini semakin melupakan masalah hidupnya yang lain.


Meski dia tidak memiliki anak tetapi,akan ada banyak anak yang mencintainya sama besar dengan


apa yang dia berikan.


Johan juga sudah merasa lega. Kini dia bisa kembali fokus pada pekerjaannya. Sebagai pria normal,


dia memang ingin memiliki seorang anak. Tapi hatinya kembali dikuatkan dengan doanya. Dia


berkeyakinan penuh semua akan indah pada waktunya. Toh kata dokter Jeslin waktu itu, Nini hanya


akan kesulitan memiliki anak karena rahimnya lemah. Itu berarti masih antara 50:50 sama besar


kemungkinan yang akan terjadi nanti.


“Sayang, pak Adit tuh punya mobil berapa sih?” tanya Nini menjelang tidur.


“Kenapa?” Johan bertanya balik.


“Aku lihat, dia kok sering ganti mobil ya?” Nini penasaran.


“Dia emang suka mengoleksi mobil sejak masih kecil.”


“What?? Sejak masih keci?” Nini mengulang kalimat Johan.


“Hieehhh.. kalo dulu kecil mobil mainan.” Bibir Johan membentuk sudut.


“Makanya bilang dong.” Nini memukul pelan dada suaminya.


“Tau ah, aku ngantuk.” Johan mempererat peluknya lalu tertidur.


Tersisa desahan nafasnya yang berirama dengan jarum jam. Nini rada kesal karena terdengar berisik


tepat di telinganya.


“Baru juga jam 9. Udah nagntuk aja kamu.” Gumam Nini pelan.


Mata Nini terus menatap jam dinding,menanti pergantian hari. Besok adalah hari kelahirannya.


Setiap tahun keluarganya akan mengucapkan selamat meski dari kejauhan. Dan teringat akan


momen saat usianya menginjak 17 tahun. Tepat pukul 12 malam dia mendapat kejutan dari ayah


dan ibu serta kedua adiknya.


Bibir Nini manyun, membayangkan semua keseruan yang kini hanya tinggal kenangan. Dia melirik


Johan yang sudah nyenyak.


Dia pasti gak tau ni tanggal lahir aku.


Ayah sama ibu bakal ucapin selamat lagi gak ya?


“Tau ah.” Nini melepaskan diri dari pelukkan suaminya lalu mendekati Jendela kamar dan membuka


tirainya sedikit.


Ada beberapa pengawal yang sedang patroli. Ada juga yang sedang duduk berbicang santai.


Bahkan rumah ini dijaga ketat seperti kerajaan.


Nini bersandar penuh pada dinding kamar, dia ingin keluar sekedar menghirup udara malam. Tapi


dia memilih kembali tidur.


Di pagi ini pun tidak ada yang spesial. Johan menyiapkan dirinya menuju kantor seperti biasa. Ibu


menemani ayah mengikuti pertemuan penting. Nini tetap berdiam diri di kamarnya. Sudah hampir


jam 10, tidak ada satu pun keluarganya yang ingin mengucapkan selamat padanya.


Kejenuhan menggerogoti dirinya. Keputusan terakhir yang dia lakukan adalah pergi mengunjungi ibu


Tia.


Johan membaca beberapa laporan penting sebelum pertemuan nanti siang jam 1. Doni masuk tanpa


mengetuk terlebih dahulu.


“Han. Pertemuannya dibatalin nih.” Lapor Doni.


“Kok bisa?” Johan mengerutkan dahinya.


“Katanya, perusahaan kita masih terlalu kecil mereka takut keuntungan yang diperoleh tidak akan


memuaskan.”


“Berapa lama kontrak yang mereka ajukan kemarin untuk bekerja sama?” Johan mengelus dagunya.

__ADS_1


“Jangka pendek Han. Aku pikir percuma juga kita bekerja sama dengan mereka.”


“Ya sudah. Biarkan saja.” Johan membuang berkas-berkas tadi.


Doni menatap lembaran kertas itu lalu kembali pada sahabatnya yang tampak sebal.


“Santai aja Han, masih banyak kok pebisnis lain yang ingin bekerja sama dengan kita.” Doni dengan


sabar memungut kertas-kertas itu.


“Huhhh. Ya sudah. Sekarang bantu aku dalam pekerjaan yang lain.” Johan sudah bisa mengontrol


dirinya.


“Ya katakan, anda bosnya.” Doni merapikan benda yang tadi dipungut lalu membuanya dalam


tempat sampah.


“Siapkan kue ulang tahun termewah di negara ini.serta kado apa yang paling bagus untuk istriku?”


Johan memainkan penanya.


“Aku rasa, Nini tidak terlalu tertarik untuk hadiah atau kue yang mahal.” Doni tersenyum kecil.


“Lalu apa?”


“Apa yang akan kau minta saat ultah nanti orang yang kau sayang? Hadiah mahal, ucapan yang


romantis atau kejutan yang tidak dipikirkan sebelumnya.” Doni megangkat kedua alisnya.


“Mungkin aku akan memilih kejutan atau ucapan yang romantis.”Johan mengangkat bahunya.


“Good. Kita akan membuat kejutan untuknya. Biarkan saja bersikap seolah kita lupa.”


“Caranya?”


“Tenang, serahkan saja pada sahabatmu ini.” Doni nyengir.


“Ok.”


Sepulang dari panti, keadaan rumah tampak biasa saja. Tapi Nini sudah merasa lebih senang, karena


keluarganya sudah mengucapkan selamat. Mereka juga berjanji akan mendoakan dia pada malam


nanti.


Dengan gontai Nini melangkahkan kaki menuju kamarnya. Johan belum pulang dari kantor karena


memang baru saja jam 3.


“Selamat ulang tahun untuk istri Johanes Putra Hartono.” Wajahnya yang cantik kini berlinang air


mata.


“Biarkan saja, mungkin dia sibuk bekerja. Sampai tidak sempat mencari tahu tentang biodataku.”


Menejelang malam, Johan belum juga pulang. Nini semakin menderita. Ketika mendengar suara


klakson mobil dia akan berlari mendekati jendela, berharap suaminya akan datang membawa kue


ultah. Sayangnya bukan.


“Kecil juga gak papa. Paling tidak ini menjadi ulang tahunku yang pertama setelah menikah.” Garis


kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.


Sudah hampir jam 7 malam. Nini meremas jemarinya mondar-mandir di sekitar kamar.


“Biasanya jam segini udah pulang.” Ujarnya pelan sambil menggigit jari.


Dia memutuskan turun menemui ayah dan ibu. Tapi mereka juga tidak ada.


Perasaan sedih membendunginya. Nini duduk murung di sofa menghadap tv yang sedang


menayangkan acara talk show yang cukup populer. Tatapannya kosong pada tv raksasa itu.


“Gak enak jadi keluarga kaya raya ya gini. Orang-orang pada sibuk sampai lupa tanggal penting


begini.”


“Non makan.”ibu Idah mempersilahkan sopan.


Nini menatap meja makan yang terhidang beberapa makanan lezat. “Gak laper bu.”


“Non kenapa?”


“Gak papa kok bu. Lebih baik ibu kembalikan semua makanan itu ke dapur.” Nini tersenyum simpul.


Ibu Idah menunduk lalu melakukan titah majikan kesayangannya.


Nini menatap nanar pintu utama. Lengang, tanpa adanya tanda-tanda akan datangnya seseorang.


Cukup lama berkompromi dengan hatinya,Nini pun memutuskan kembali ke kamar.


Langkahnya terhenti saat mendengar suara telepon di ruang tengah.


“Hallo.” Sapa Nini.


“Selamat malam. Apa ini adalah keluarga seorang pria yang bernama Johanes Putra Hartono?”


terdengar suara seorang pria bertanya.

__ADS_1


“Iya saya istrinya.” Nini mengernyit.


“Suami anda kecelakaan bu.”


“Apa??” gagang telepon jatuh. Seorang pengawal yang mendengar jeritan Nini langsung berlari


mendekatinya.


Nini menunjuk telepon itu. Dia sudah terduduk lemas.


“Hallo. Bisa bicara yang jelas?” pengawal itu mengambil alih.


“Baiklah.” Ucap pengawal itu tegas lalu membawa Nini menuju mobil.


“Maaf non, anda diminta hadir di sana.” Pengawal itu menutup pintu mobil.


Nini hanya menurut tanpa reaksi. Wajahnya terlihat syok.


Mobil yang membawanya berhenti pada tempat yang sepi.


“Pak, anda yakin ini tempatnya?” tanya Nini.


Supir itu membunyikan klason. 2 orang pria bertubuh kekar memakai topeng, membuka pintu secara


paksa dan menarik kasar tubuh Nini.


“Siapa kalian?” Nini berteriak dan merontak sekuat yang dia bisa.


“Ini jebakkan. Lepaskan aku!!! Suamiku akan datang dan meremukkan tulang-tulangmu. Lepaskan.”


Nini terus berteriak sampai hampir serak suaranya.


Dalam keadaan seperti ini dia tidak ingin menangis. Dia harus tetap tegar agar bisa menyelamtkan


diri sendiri.


Dibawanya Nini pada sebuah rumah yang gelap. Ketakutannya semakin bertambah. Baru 5 detik saja


tubuhnya sudah dibanjiri keringat. Sampai pada hitungan detik yang ke 10, lampu dinyalakan. Nini


hampir pingsan. Nafasnya sudah hampir habis,ditambah lagi ketakutan yang besar tadi.


“Nini...” Johan berlari memeluk istrinya yang hampir pingsan.


Mata Nini menyapu seluruh rungan itu. Ternyata semua orang ada di sana termasuk para pelayan.


Bahkan Adit dan Lisa juga ada. Kalau Doni dan Maya sudah pasti hadir. Bahkan ide gila ini juga


sumbangan dari Maya.


“Selamat ulang tahun...” ucap semua orang serentak.


Nini hampir menagis melihat mereka yang tampak sangat menyayanginya.


“Selamat ulang tahun wanitaku.” Johan mencium kening istrinya.


Orang-orang memberi tepuk tangan meriah. Ayah,ibu,Maya,Doni,Lisa,Adit serta yang lainnya turut


mengucapkan selamat satu persatu. Selesai acara salam menyalam, tiba saatnya meniup lilin.


Nini memejamkan matanya sebelum meniup lilin yang berbentuk angka 27 itu.


Tuhan,ijinkan aku merasakan karunia terbesar dalam hidupku sebagai seorang wanita. Bila


memungkinkan,aku ingin menjadi ibu dari seorang anak. Nini membuka matanya kembali lalu


meniup lilin itu.


Air mata haru membasahi pipinya. Setelah meniup lilin tadi, Nini memberikan suapan kue kepada


kedua mertuanya. Barulah kepada Johan.


“Alasan aku memberi potongan kue yang pertama untuk ayah dan ibu, karena merekalah sebab


kenapa aku menikah dengan suamiku.” Ucap Nini lalu memeluk ibu erat.


Johan kembali memeluk istrinya.


“Han, lain kali kalau mau kasih kejutan yang lebih ekstrim lagi dong biar aku stroke sekalian.” Bisik


Nini lirih tapi mengandung makna ancaman.


“Maaf sayang, itu semua ide Doni dan Maya.”Johan melepas peluknya.


“Kalau udah gini pasti orang lain yang salah.” Nini menyipitkan matanya.


“Oh ya semuanya, ini adalah rumah yang aku jadikan sebagai kado ultah istriku.” Johan menghindari


tatapan istrinya.


Semua orang bersikap biasa saja. Bukankah sebelumnya dia sudah mengatakan hal ini berulang kali.


“Woahh... benar-benar fantastik. Rumah yang sangat mewah dan tentunya mahal ya.” Doni pura-


pura kagum lalu menepuk tangan dan diikuti yang lainnya.


Nini sama sekali tidak tetarik. Tapi melihat semua orang yang tampak kagum, maka dia juga terpaksa


tertawa bahagia. Dan memeluk suaminya erat.


“Nanti bahasnya di kamar ya sayang.” Ucap Nini lirih lalu memasang senyum palsunya.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2