
Sekarang Nini sudah memikirkan tujuan selanjutnya. Dia melajukan mobilnya keluar dari tempat parkiran taman ikut berbaur dengan kendaraan lainnya. Gemerlapnya ibukota menghiasi setiap jalanan. Lampu-lampu terpasang sepanjang jalan, jika dilihat dari ketinggian sama seperti bintang yang bertaburan ke segala arah.
Nini menghentikan mobilnya mengikuti rambu-rambu lalu lintas. Setelah beberapa menit lampu hijau kembali menyala,dia pun melajukan mobilnya menuju tempat untuk melepaskan stresnya
Sampailah dia pada sebuah club malam. Sudah hampir 7 tahun dia hidup di kota ini jadi dia sudah tahu setiap detil jalanan di kota besar itu. Nini memarkirkan mobilnya. Untung saja dia mempunyai beberapa pasang sepatu yang sering dia siapkan di dalam mobil. Jadi dia masih bisa memakainya.
Nini merapikan rambutnya, mengusap wajahnya lalu turun. Gaunnya yang sudah sobek diabaikan olehnya.
Nini berjalan lemas menuju meja minum. Ada 2 orang pelayan wanita yang memakai pakaian seksi. Mereka menyambut hangat kedatangan Nini.
"Mau pesan apa bu?" tanya seorang pelayan itu dengan nada sedikit genit.
"Berikan aku minuman yang paling keras." Nini menjawab asal-asalan saja karena dia tidak paham dengan nama minuman keras
"Baiklah bu." pelayan itu mengambil sebuah botol dan gelas. Dia menuangkan minuman itu dengan sigap.
Awalnya Nini tidak sanggup meneguknya. Tapi suara Johan kembali tergiang di telinganya. Maka diteguklah minuman itu. Wajahnya berubah ketika merasakan betapa keras minuman itu. Diteguk lagi lagi dan lagi. Sampai habis botol pertama. Nini masih sanggup mengangkat tangannya meminta botol kedua.
Kali ini dia langsung meneguk dari mulut botol. Sampai hampir habis isi dalam botol itu, dia akhirnya pingsan di atas meja.
Seorang pria yang dari tadi membuntutinya mendekat lalu membayar semua harga minuman itu. Dia memberikan nomor Johan pada pelayan club itu.
"Hubungi nomor ini 30 menit setelah aku pergi dari sini. Itu adalah nomor suaminya." perintah lelaki itu tegas
Sebelum pergi dia masih sempat memandang
Nini dan mengusap lembut kepalanya.
Aditya pergi meninggalkan club itu. Kedua pelayan itu saling bertatapan bingung.
Sejak tadi Adit sangat khawatir dia memutuskan untuk mengikuti Johan dan Nini. Para tamu semakin riuh dengan adegan yang disaksikan mereka.
Lisa berusaha menguatkan hatinya. Adit pernah mengatakan kalau dia mencintai wanita lain dan dia tidak menyangka wanita itu adalah Nini.
Setelah 30 menit kepergian lelaki misterius itu, pelayan yang tadi menerima nomor ponsel langsung menghubungi Johan.
Johan yang cemas langsung menerima panggilan itu
"Hallo selamat malam." wanita itu menyapa lebih dulu.
"Ya ini siapa?"
"Kami dari club XX, istri anda sedang mabuk dan tidak sadarkan diri."
Johan mendelik tidak percaya.
"Dari mana kau dapatkan nomorku?" tanya Johan lagi
"Dari seorang pria, dia bilang anda suami dari wanita ini."
__ADS_1
"Kirim alamat club itu sekarang juga." Johan langsung mematikan telepon itu
Dia meraih jaket dan kunci mobilnya. Berlari menuruni tangga. Sejak tadi dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan yang lebih santai.
Di bawah ibu dan yang lainnya sangat cemas dengan Nini.
"Johan di mana istrimu?" tanya ibu khawatir melihat Johan yang turun sendiri.
Tanpa menjawab Johan langsung keluar
Maafkan aku ibu
Ibu Isma terduduk lemas di sofa. Tony dan ayah segera berlari mendekati ibu.
"Ibu gak apa-apa kan?" Tony memeluk bahu ibu
ibu Isma hanya menggangguk pelan.
Dengan kecepatan tinggi mobil Johan membelah jalanan kota yang ramai. Sampai di perempatan lampu merah Johan sangat kesal dia merasa waktu berharganya akan berakhir .
Saat lampu hijau menyala Johan dengan cepat melajukan mobilnya.
Dia berlari turun dari mobil saat sudah tiba di club itu. Johan masuk mencari ke sana kemari. Matanya berhenti pada wanita yang tertidur di meja bar memakai gaun merah.
Johan menghampirinya. Dua pelayan wanita itu terperangah dengan pria tampan itu.
Wanita ini benar-benar beruntung mendapatkan perhatian dari 2 orang pria yang sangat tampan. Batin seorang pelayan
"Terima kasih." ucap Johan pada pelayan itu kemudian membuka jaketnya menyelimuti tubuh Nini lalu menggendong istrinya menuju mobil.
Dengan hati-hati Johan meletakkan Nini pada mobil belakang agar dia bisa tertidur.
Sebelum berangkat Johan mengambil kunci mobil dari tas istrinya menitipkan pada satpam di sana lalu menelpon seorang pelayannya untuk mengambil mobil itu sekarang.
Johan masuk ke dalam mobil mengendarai dengan kecepatan pelan.
"Johan.!" Nini memanggil pelan suaminya.
Johan berbalik dan ternyata Nini hanya mengigau saja.
Nini sempoyongan berusah bangkit dan duduk. Johan sedikit kaget.
"Aku di mana?" tanya Nini dengan suara seperti orang mabuk.
"Di jalan pulang." jawab Johan lembut
"Kamu siapa?" Nini memajukan kepalanya memandang Johan
"Kenapa kamu mirip suamiku?" Nini bertanya lagi memukul bahu Johan
__ADS_1
Kali ini Johan hanya diam saja tidak ingin menjawab, dia sudah tahu istrinya tidak akan mendengar semua perkataannya saat ini.
Nini menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil.
"Berhenti sebentar." Nini memerintahkan Johan dengan entengnya. Dia mengira kalau Johan adalah supir taksi.
"Kenapa?" tanya Johan ketika mobilnya sudah menepi.
Nini membuka pintu mobil lalu keluar. Johan secepat mungkin ikut keluar mengejar Nini yang sudah berjalan ke sembarang arah
"Mau kemana kau?" Johan merangkul tubuh istrinya.
"Aku pengen muntah." Nini langsung mengeluarkan semua isi perutnya ketika berkata begitu.
Johan mengalihkan pandangannya.
Nini langsung bersandar pada pelukan suaminya. Memukul pelan dada Johan,
"Kau siapa? kenapa kau seperti suamiku?" Nini mendongak melihat Johan. Matanya sayup-sayup.
"Ayo pulang." Johan menggendong lagi istrinya
Dia mendudukan Nini di kursi depan
"Apa kau tahu alamat rumah mertuaku?" Nini bertanya pada Johan
Johan tetap tidak menjawab
"Jangan antar aku ke sana, aku tidak mau bertemu pengecut itu." Nini menangis
"Dia tega memukulku. Aku ingin melaporkannya pada polisi tapi dia suamiku." Nini menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi. Johan tetap fokus pada jalanan sambil mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut istrinya
"Sejak kecil orangtuaku tidak pernah memukulku tapi pengecut itu menamparku seolah dia yang berkuasa penuh atas diriku." Nini memukul dadanya pelan
"Aku benci pria itu. Dia marah karena aku dicium lelaki lain tapi dia tidak tahu kalau aku tersiksa dengan wanita yang bernama Amel itu. Kau tahu tadi dia mencekalku di kamar mandi. Dia bilang aku ini wanita perebut. Hahaha."
" Johan, kamu di mana?" Nini menangis lagi matanya sudah sangat bengkak
"Kenapa kamu tega sama aku? Kamu memukulku hanya karena aku dicium? Aku tidak yakin kau cemburu kau itu hanya egois kau hanya malu karena kehormatanmu akan luntur jika ada orang lain yang tahu. Yang kau jaga bukan perasaanmu tapi nama baikmu. Sampai kau tega mengatakan kalau aku ini murahan?" Nini terus menangis. Kemudian dia memandang Hohan lagi
" Aku dikatakan murahan oleh suamiku sendiri. Di sini aku tidak punya siapa-siapa aku telah berjanji di hadapan Tuhan akan tetap menjadi istrinya sampai maut memisahkan."
"Apa kau tahu dimana suamiku sekarang?" Nini bertanya lagi pada Johan.
"Aku pikir dia akan datang menjemputku. Ternyata tidak, kau tahu aku mulai menyayanginya." Nini kembali menangis.
Johan memarkir mobilnya di bahu jalan, lalu memeluk erat kepala Nini.
"Kenapa kau memelukku? Apa kau suamiku?" Nini mengangkat kepalanya mendekatkan wajahnya pada Johan lalu kembali menyandarkan kepalanya pada dada suaminya itu.
__ADS_1
"Bawa aku pulang padanya, aku tidak bisa tidur jika tidak dalam pelukannya." Nini menutup matanya lalu tertidur nyenyak di dalam dekapan Johan.
Bersambung.......