Janji Suci

Janji Suci
Bab 55


__ADS_3

Nini membuka matanya. Menyambut hari baru penuh syukur. Sebelum turun dari ranjang, dia mencium pipi suaminya.


Johan masih sangat nyenyak.


"Akan aku buatkan sarapan untukmu." Nini turun dan bergegas menuju kamar mandi, membasuh wajahnya.


1 menit kemudian, dia keluar. Wajahnya sudah segar. Dia berjalan menuju dapur.


Nini kembali menyaksikan kesibukan di dapur yang besar itu. Dia berjalan menghampiri ibu Idah yang sedang mengontrol para pelayan.


"Selamat pagi bu." senyum ceria Nini membuat ibu Idah merasa bahagia.


"Pagi Non. Ada yany bisa saya bantu?" tanya ibu Idah sopan. Dia hampir menundukkan kepalanya, tapi ditahan oleh Nini.


"Aku pengen buat bubur ayam kesukaannya Johan."


"Baiklah non. Mari saya bantu."


"Iya bu. Aku juga pengen makan bubur." ujar Nini.


"Mau saya buatkan?" tanya ibu Idah lagi ingin memastikan.


"Tadi di kamar niatnya aku yang mau buatin, tapi mendadak aku malas ni." kata Nini jujur. Dia kemudian berjalan menuju sebuah kursi kayu dan duduk.


Ibu Idah langsung mengerti.


"Non kembali saja ke kamar. Nanti akan kami antar sarapannya."


"Ohh.. Iya bu. Ya sudah, aku pamit ya bu." Nini bangkit dan melambaikan tangan lalu keluar.


Semua pelayan yang di sana memberinya hormat.


"Astag..!" Nini memegang dadanya kaget. Ketika membuka pintu kamar, Johan sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Kaget ya?" tanya Johan. Dari raut wajahnya menunjukkan kalau dia sedang kesal.


"Iya. Untung aku gak jantungan." Nini mendelik lalu berjalan menuju sofa.


"Kemana aja kamu?" Johan berjalan mengikuti istrinya dan duduk di samping Nini.


"Ke dapur." jawabnya ketus.


"Kok gak bilang-bilang? Pas aku bangun, eh kamunya gak ada. Bikin khawatir tahu." Johan menarik hidung Nini.


"Isshhh... Lepasin Johan." Nini menepuk tangan suaminya. Setelah dilepas, Nini kembali memasang wajah cemberutnya.


"Kamu tadi masih tidur. Aku gak tega bangunin. Lagian aku gak hilang kok."


"Hemmmm... Ya sudah. Jangan ngambek lagi. Maaf kalo udah buat kamu kaget tadi." Johan mencium pipi istrinya.


Nini memegang pipinya bekas ciuman Johan. Wajah cemberutnya berubah senyum.


"Hari ini kita ke kantor aku ya. Pengen kenalin kamu sama para karyawan." kata Johan kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Belum sempat Nini menjawab, dia sudah menutup pintu kamar mandi.


Suara air mengalir terdengar jelas. Nini menatap pintu itu dengan tatapan kosong. Lamat-lamat dia memikirkan pekerjaannya.


Sebenarnya, aku masih ingin bekerja.


Suara ketukan pintu, membuyarkan pikiran Nini. Dia mengusap wajahnya cepat agar tidak terlihat sedang melamun.

__ADS_1


Bu Idah bersama seorang pelayan masuk. Membawa nampan berisi makanan dan minuman.


Nini menatap mereka dengan senyuman manisnya.


"Silahkan non. Permisi." setelah memberi makanan itu, ibu Idah pun langsung berpamitan. Nini menggangguk saja.


Matanya tertuju pada bubur ayam itu. Dia menelan ludah.


Johan keluar mengibas rambut basahnya. Tatapannya langsung tertuju pada bubur ayam yang nikmat itu.


"Buruan Han. Aku udah gak tahan lagi ni." wajah Nini terlihat cengeng.


"Bukannya kamu gak suka makan bubur?" Johan menggeleng pelan. Dia tahu, istrinya mungkin sedang ngidam.


"Buruan.." Nini bertingkah seperti anak kecil.


"Iya bawel.. Ahhh" Johan berjalan menuju ruangan pakaian.


Nini meremas jemarinya pelan. Aroma bubur itu membuat cacing perutnya semakin meronta.


"Ayo ke sini." Nini menepuk sofa sebelahnya, mempersilahkan Johan duduk.


Johan yang baru saja keluar, menahan tawanya.


"Kamu sepertinya mulai suka dengan..." Johan memilih diam dan tidak ingin menlanjutkan melihat Nini yang sudah memakan bubur itu. Dia mengangkat kedua alisnya, memandang makanan itu dan mulai menikmatinya.


Matanya kembali memperhatikan Nini yang begitu lahap.


"Selesai ini mandi ya. Kita ke kantor aku." ajak Johan ketika mereka hampir menyelesaikan makanan itu.


"Emm.. Ya deh." Nini masih menikmati bubur itu.


Nini berbalik dan mengacungkan 2 jempol.


Persaan Johan sangat bahagia. Saat itu dia ingin menangis. Dia benar-benar bahagia dengan hidupnya yang sekarang.


*****


Johan dan Nini sudah sampai di perusahaan. Johan turun dan membuka pintu untuk istrinya.


Semua mata tertuju pada wanita cantik yang sekarang menggandeng lengan Johan. Para pekerja di perusahaan itu memberi mereka hormat. Tapi mata mereka memandang Nini. Beberapa saling berbisik lalu menggangguk dan melihat ke arah pasangan yang sempurna itu.


Nini menunduk malu. Semua mata memandangnya. Entah suka atau benci, yang jelas dia tidak nyaman dengan tatapan itu.


"Mereka kok segitu amat lihatnya?" Nini menggoyang pelan tangan Johan.


"Biarin. Maklum aja selama ini mereka belum tahu siapa wanita yang aku cintai." Johan berkata santai. Mereka memasuki lift. Tampak senyum penuh kebanggaan di wajah Johan.


Istriku memang sangat cantik. Udah cantik, baik lagi. Hahahah, walapun kadang menyebalkan. Batin Johan


Mereka sampai di ruangan kerja Johan. Seperti biasa Doni sudah di dalam dan sedang merapikan serta membersihkan ruangan bosnya.


"Wow, selamat pagi." Doni sedikit terpukau dengan Nini yang sangat cantik.


"Selamat pagi." jawab Nini dengan senyumnya .


Johan tidak menjawab. Dia berjalan menuju kursinya. Nini yang sudah melepas gandengannya langsung duduk di sofa.


"Tumben ke sini?" tanya Doni dengan sopannya.


"Aku yang ajak. Pengen aja semua tahu,kalau aku sudah punya istri." suara Johan terdengar malas. Dia sudah memandang laptopnya, itu berarti jangan ada yang mengganggunya.

__ADS_1


"Aku keluar dulu ya Nini. Mau kerja. Sampai ketemu siang nanti." Doni melambaikan tangannya lalu menghilang di balik pintu.


Nini mendongak menatap atap ruangan itu. Matanya berkeliling menjelajahi ruangan itu.


Mewah sih. Banyak banget hiasan kuno.


Nini ingin bercerita, tapi dia takut mengganggu konsentrasi suaminya.


Dia memilih bermain hp, tapi tetap aja malas.


Matanya memadangan jam.


Baru jam 10. Kapan jam 12 ni? Batin Nini agak kesal.


Masa iya aku diajak cuma mau bikin aku bengong gini aja?


Johan melirik Nini sesaat. Dia menahan senyumnya. Melihat wajah istrinya yang tampak bosan.


"Aku ada pertemuan ni." Johan melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Jadi, aku sendiri dong?" Nini memanyunkan bibirnya.


"Iya. Tunggu aja ya." Johan bangkit berdiri merapikan kancingan jasnya.


"Aku pergi ya." pamit Johan sembari mengacak rambut Nini.


Mata Nini memperhatikan kepergian Johan. Dia menyandarkan tubuh penuh pada sofa.


"Bosan ihhh.." gerutunya kesal.


Dia berjalan menuju jendela. Di atas ketinggian itu Nini bisa melihat kota yang sangat sibuk. Dia pun bersandar pada jendela kaca itu. Mengetuknya pelan.


Sekejap dia teringat sesuatu. Nini berjalan mengitari ruangan itu mencari sesuatu.


"Harus halus ni biar gak ketahuan." Nini terus mencari.


Sebuah buku jatuh tepat di hadapannya. Nini meraih buku itu dan menyimpannya di atas meja.


"Ahhh.. Gak ada. Hemmm mungkin emang benar, dia udah buang semua kenangannya bersama Jessika." Nini berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.


Matanya tertuju pada buku besar itu. Dia menghampiri benda itu dan membaca cover depannya.


"Kanker." ucapnya pelan.


Entah apa yang membuat Nini merasa tertarik membuka buku itu. Selembar foto jatuh ke lantai. Nini mentapnya nanar. Jelas di sana terlihat wajah Jessika dan Johan yang sedang bermesraan. Foto yang sama seperti yang disimpannya.


"Bohong.. Katanya udah buang semua sisa kenangan itu." Nini meraih foto itu dan menatapnya lekat.


Dia memperhatikan Johan yang memamerkan tawa bahagianya.


"Kau begitu bahagia bersama Jessika." Nini mengusap wajah Johan yang ada di foto itu.


"Bahkan sampai saat ini, aku belum bisa membuatmu tertawa bahagia."


Nini kembali menaruh foto itu pada tempatnya semula.


"Dia berhak menyimpan semua kenangannya bersama Jessika. Aku tidak boleh cemburu." ucapnya pelan.


Nini memilih kembali berbaring di sofa menunggu Johan datang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2