
Ibu Isma berlari menghampiri Nini dan Johan, begitu pun dengan ayah.
"Nini, kamu tidak apa-apa?" tanya ibu cemas.
Wajah Nini terlihat semakin pucat. Perutnya terasa sakit.
"Tidak bu..." jawab Nini sembari memengang perutnya.
"Ayo kita ke kamar." ajak ibu sambil memeluk Nini.
Johan dan Ayah mengikuti langkah mereka.
Belum sempat menaiki tangga, Nini pingsan. Sakitnya sudah tidak tertahankan lagi.
"Nini..!" teriak mereka serentak.
Para pelayan dan pengawal berlari mendekati keempat majikan mereka.
Tubuh Nini yang melemah itu digendong suaminya menuju kamar.
"Siapkan seluruh alat medis. Biar aku yang merawatnya." perintah Johan kepada para pelayannya.
Johan memasang infus segera ketika para pelayan membawa apa yang diminta tadi. Dia juga memeriksa tubuh istrinya.
"Gimana Johan?" tanya ayah.
"Ahhh.. Mungkin karena diculik tadi, dia megalami tekanan ayah." wajah Johan terlihat cemas.
"Lukanya sayang?" ibu tidak kalah khawatirnya.
"Sudah membaik ibu. Sekarang yang terpenting adalah pemulihan mentalnya." Johan memandang wajah canti istrinya yang memejamkan mata.
Ibu Isma meremas jemarinya.
"Siapa dalang dari semua ini Han?" tanya ibu Isma lagi.
Johan kembali teringat sesuatu. Dia tidak sempat menjawab pertanyaan ibu.
"Jaga dia bu." kata Johan lalu melangkahkan kakinya cepat.
"Amel..!!!" teriak Johan saat tiba di ruangan tengah rumah para pelayan.
Ibu Idah dan beberapa pelayan berlari keluar.
"Tuan ada apa?" ibu Idah menghampiri Johan.
"Di mana Amel?" suara Johan memenuhi ruangan.
"Dia ada di kamarnya tuan. Mari saya antar." ibu Idah berjalan mendahului Johan.
Amel yang dari tadi sudah tahu, merasa khawatir.
Suara teriakkan Johan tadi membuatnya ketakutan.
"Amel. Buka pintu.!!" Johan menggedor pintu itu kasar.
Amel semakin gugup.
"Tamatlah aku." ujar Amel sambil mondar-mandir seperti setrika rusak.
"Kurang ajar!!" Johan terpaksa mendobrak kasar pintu kamar itu.
Pada dobrakkan ketiga, pintu itu terbuka lebar. Mata Johan mencari sana-sini, tapi tidak ada satu orang pun.
Jendela kamar terbuka lebar. Johan berlari mendekatinya. Bayangan Amel sedang berlari dengan kaki diseret terlihat jelas.
Johan berlari mengejar Amel. Diikuti beberapa pengawal yang bertubuh kekar.
"Kunci pintu gerbang utama juga seluruh pintu keluar di sini..!!" perintah Johan.
Seorang pengawal berlari menuju rumah utama. Di dekat pintu masuk yang megah itu ada sebuah tombol. Pengawal itu menekannya dan semua pintu keluar terkunci.
Amel berlari dengan langkah gontai. Kakinya tadi terkilir saat lompat dari ketinggian. Dia sangat gugup.
"Cepat temukan wanita brengsek itu." teriak Johan.
Amel tersentak kaget. Dia baru menyadari, kalau keberadaan para lelaki itu sudah dekat dengannya. Dia memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah pohon. Tangannya memegang dadanya. Berdetak kencang.
__ADS_1
Ibu Idah berlari menuju kamar Nini dan Johan.
"Maaf nyonya tuan." kata ibu Idah sambil menundukkan kepala begitu masuk ke dalam kamar.
"Idah.." ucap ibu Isma dengan wajah memelas.
Ibu Idah mendekati ibu Isma dan memeluk bahu majikannya.
"Siapa yang tega melakukan ini kepada anakku?" tangis ibu Isma.
"Tuan Johan sudah mengatasinya." ujar ibu Idah.
"Tapi siapa Idah?" ibu Isma mengerutkan dahinya.
" Amel nyonya." ucap ibu Idah dengan ragu-ragu.
"Sudah aku duga." kata ayah.
"Amel??" ibu Isma menggeleng pelan.
"Tuan Johan sedang mencarinya." ibu Idah berusaha menenangkan.
"Syukurlah." ucap ayah dan ibu hampir bersamaan.
Sementara di luar, orang-orang sibuk mencari Amel.
Fajar mulai menyingsing. Amel semakin takut, keadaan di sekitar mulai terang.
"Ketemu!!" teriak seorang pengawal sambil menarik paksa Amel keluar dari persembunyiannya.
Amel memberontak.
"Kau??" Johan mendekat. Matanya tajam menatap Amel penuh kebencian.
"Johan maafkan aku." Amel menangis. Entah sungguhan atau hanya sekedar pura-pura.
"Bawa dia ke kantor polisi sekarang juga." wajah datar Johan sama sekali tidak berubah.
"Baik tuan." para pengawal memberi hormat padanya.
"Jika kau menjebloskan aku ke penjara, maka aku akan menyebarkan foto-foto aibmu." Amel mengancam dengan tubuhnya yang bergetar.
"Aku punya foto-fotomu waktu tidur denganku ."
Para pengawal saling tatap heran.
"Dan semua orang harus tahu, kalau kita pernah tidur." senyum Amel masih terlihat di saat-saat genting begitu.
"Lakukan. Kau hanya memiliki foto-foto itu. Tapi aku punya rekaman cctv lengkap, bahkan saat kau menaruh ular palsu di dalam kamarku." Johan semakin geram. Dia mendekati Amel.
"Aku ingin memukulmu Amel. Sayangnya, kau wanita." tatapan dingin Johan mengerikan.
"Bawa dia ke kantor polisi." Johan berbalik meninggalkan mereka.
Amel memberontak, tubuhnya yang langsing tidak bisa mengalahkan 2 orang lelaki bertubuh kekar yang memegang lengannya.
"Lepaskan aku brengsek.."
"Diam!!!" bentak para pengawal itu.
Johan berlari memasuki kamarnya.
Nini sudah duduk bersandar.
"Sayang." ucap Johan lembut, menghampiri istrinya.
Nini tersenyum tapi juga kasihan, melihat suaminya yang tampaj berantakkan.
"Aku baik-baik saja sayang." ucap Nini, dia seakan mengerti dengan raut wajah suaminya.
Tangan Nini merapikan rambut suaminya yang tampak kusut.
"Kamu terlihat kusut. Aku tidak suka melihat orang yang aku cintai seperti ini." tangis serta tawa Nini bersamaan.
Johan tertawa kecil dan mengusap air mata istrinya.
"Aku mencintaimu Nini." ucap Johan, lalu memeluk istrinya.
__ADS_1
Ayah, ibu, serta ibu Idah memaklumi. Mereka keluar dari ruangan itu.
"Cepatlah sembuh." bisik Johan lirih.
Nini membalas pelukan suaminya erat.
"Terima kasih." ucap Nini.
****
3 hari kemudian, Nini sudah semakin bugar. Infus telah dilepaskan. Tapi Johan masih memberinya beberapa obat sampai dia benar-benar sembuh.
"Permisi." ucap Maya lembut kepada seorang penjaga pintu gerbang.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya pengawal itu.
"Mbak Nini ada pak?"
"Maaf, anda siapanya?" sejak kejadian yang menimpa Nini, keamanan rumah itu diperketat.
"Saya temannya pak. Kebetulan saya dengar dari pak Adit, kalau mbak Nini lagi sakit." Maya terlihat khawatir.
"Anda orang asing dan kami tidak bisa mempersilahkan." tegas pengawal itu lalu kembali duduk.
Maya yang dari tadi duduk di dalam mobil, langsung keluar dan sekali lagi memohon.
"Tolonglah pak, saya ini bukan *******." Maya mengatupkan kedua tangannya.
"Kalau anda bukan *******, kenapa datang ke sini pada malam hari?" pengawal itu terlihat geram. Dia merasa Maya sangat mengganggu.
"Apa anda tidak lihat, kalau saya baru pulang kerja?" Maya juga tidak kalah geramnya.
Pengawal itu hanya diam, seolah tidak mendengar apa-apa.
Maya bersandar pada pintu gerbang itu dengan wajah cemberut. Dia sudah menelpon Nini, tapi tidak ada jawaban.
Hampir putus semangatnya, tiba-tiba sebuah mobil Jeep berwarna putih menyenter telak wajahnya.
Maya menutup wajahnya denga tangan. Matanya menyipit akibat cahaya lampu mobil itu.
Doni merasa heran melihat Maya seperti orang bodoh. Dia mematikan mobilnya lalu turun dan menghampiri wanita incarannya.
"Kok gak masuk?" tanya Doni dengan kebingungan sekaligus senang.
"Tuhh si bapak-bapak gak ijinin." gerutu Maya kesal.
Pengawal yang mendengar omelan itu langsung berdiri menghampiri Maya.
"Apa kata anda?" wajah lelaki itu terlihat marah.
"Lohhh, aku kira bapak tuli. Dari tadi kan gak nyahut?" celutuk Maya kesal.
Doni menggangguk mengerti.
"Pak, dia ini teman baiknya non Nini. Kalau tidak dipersilahkan masuk berarti anda mencari masalah." cengir Doni lalu melirik wajah cantik Maya yang mulai bersemangat.
"Dengerin gak? Ahhh, cepetan buka pintunya." perintah Maya lalu berlari memasuki mobilnya.
Maya membunyikan klaksonnya kesal saat melewati pintu gerbang itu.
Doni tertawa senang merasa seperti pahlawan. Dia pun kembali masuk dan melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada pengawal tadi.
Bersambung......
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Dukungannya guys??😑😑🙏🙏