Janji Suci

Janji Suci
Bab 28


__ADS_3

Nini berjalan menuruni tangga. Beberapa pelayan yang sedang membersihkan rumah menundukan kepala memberinya hormat. Nini tidak memperdulikan mereka, dia masih saja memikirkan wanita dalam mimpinya.


Dia memilih berjalan keluar halaman.


Nini menikmati udara di sekitar taman itu, dia berputar sambil melihat-lihat bunga yang sedang mekar indah.


Beberapa tukang kebun di sana menundukkan kepala mereka memberi hormat padanya, Nini juga menundukkan kepala lalu memberi mereka senyum. Para tukang kebun itu saling memandang heran dengan kelakuan Nini yang juga menundukan kepala.


Johan memperhatikan sikap Nini dari jendela. Ada sedikit senyum tersamar di wajahnya.


Aku yakin, pilihan Tuhan memang tidak akan pernah salah.


Setelah puas berkeliling di taman, Nini berjalan menuju sebuah bangunan di belakang rumah yang tidak kalah mewahnya.


Rumah itu berlantai 2, bercat putih sama seperti rumah induk. Ada banyak pelayan wanita di sana yang memakai pakaian santai rumahan. Mereka langsung berdiri melihat Nini.


" Ada apa?" tanya Nini bingung dengan tingkah mereka


Mereka saling menatap, lalu menundukan kepala memberi hormat.


Nini melihat ke arah belakangnya. Lalu kembali melihat pelayan itu, dia melambaikan tangannya dan tertawa perlahan


"Jangan terlalu kaku jika denganku, aku hanya orang biasa yang menikah dengan tuan kalian." Nini berkata begitu santai tanpa beban


Ibu Idah keluar dari dalam, para pelayan itu memberinya hormat lalu masuk ke dalam.


Nini tersenyum lebar melihat ibu Idah yang menghampirinya.


Seperti tahu apa yang akan dilakukan ibu Idah, Nini cepat-cepat memeluk bahu ibu Idah dari depan.


"Eitsss jangan lakukan itu padaku bu. Mana mungkin seorang ibu hormat pada anaknya?" Nini berkata dengan tulus


Ibu Idah hanya menggeleng pelan, dia tidak menyangka betapa baiknya hati istri tuan Johan.


Betapa beruntungnya tuan Johan mendapatkan istri seperti dia.


"Baiklah non. Ada yang bisa saya bantu?" tanya ibu Idah penuh hormat


"Apa ibu tidak sibuk?"


"Tidak non."


"Aku ingin bercerita dengan ibu, apakah ibu tidak keberatan?" wajah Nini sangat berharap


" Tentu non, saya justru merasa senang diajak bercerita dengan non."


"Emm kemana ya biar enak?" mata Nini menyapu sekelilingnya mencari tempat


"Nari non ikut saya, di sana ada tempat yang bagus." ibu Idah menunjuk belakang bangunan itu.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju tempat yang dimaksud ibu Idah.


"Wahh benar bu, ini memang tempat yang bagus." Nini berjalan mendahului ibu Idah menuju tempat itu.


Ada sebuah pondok yang terletak di pinggir kolam ikan, Nini berlari kecil menuju tempat itu.


Pondok itu menghadap ke arah kolam tepat matahari terbit. Ada banyak bunga yang disusun rapi sepanjang kolam membuat tempat itu semakin indah.


Di dalam pondok tersedia 2 buah kursi kayu dan sebuah meja dari kayu juga.


Ibu Idah berjalan perlahan mengikuti langkah Nini.


"Apa non suka tempat ini?" tanya ibu Idah ketika keduanya sudah berada di dalam pondok itu


Nini menggangguk senang.


" Suka bu. Suka banget."


Ibu Idah ikut memandang danau buatan itu sama seperti Nini.


Nini memandangnya dengan sangat bahagia, sejenak dia lupa dengan pikirannya tentang wanita dengan inisial J itu.


Sedangkan ibu Idah memandang danau dengan sedih, dia selalu menyendiri di tempat ini ketika dirundung kerinduan pada keluarga kecilnya.


"Oh ya bu, sebenarnya aku itu penasaran loh seperti apa keluarga ini?" tanya Nini polos, matanya masih memandang danau itu


"Anda tidak perlu khawatir non, keluarga ini baik-baik." jawab ibu Idah


"Iya non, keluarga tuan Hartono adalah salah satu keluarga terkaya di negara kita."


*S*udah aku duga, mereka bukan orang kaya biasa.


Sambung ibu Idah


"Tapi tidak banyak informasi yang diketahui oleh dunia luar non. Bahkan mereka tidak tahu siapa istri dan anak dari tuan Hartono." ibu Idah menjelaskan dengan sabar. Wajahnya terlihat sangat tenang.


"Ohhh, lalu ada berapa pelayan di rumah ini?" tanya Nini lagi, sebenarnya inilah yang membuatnya penasaran. Karena setiap hari, dia selalu melihat pelayan yang berbeda.


"Ada hampir 400 orang non, itu sudah termasuk supir dan bagian keamanan."


Nini menutup mulutnya tidak percaya.


"Banyak banget bu." kata Nini sambil menelan ludah


"Iya non." ibu Idah lanjut menjelaskan


"Ada 100 orang bagian keamanan, 6 orang supir, 10 orang tukang kebun, dan sisanya adalah pelayan wanita yang masih dibagi lagi menjadi beberapa regu. Dan saya adalah ketua regu pelayan di dapur."


"Wahhh.. Terus gak pulang gitu?"

__ADS_1


" Gak non, bangunan tadi adalah tempat tinggal para pelayan baik wanita maupun pria." kata ibu Idah sambil menunjuk bangunan tadi


"Oohh.. Pantas saja tadi mereka memakai pakaian santai, apa lagi istirahat tuh?" tanya Nini lagi


"Iya non, hari ini mereka istirahat besok mereka akan menggantikan para pelayan hari ini."


"Emmm.. Oh ya bu, apa para pelayan itu tidak menikah? Aku lihat ada banyak wanita yang sudah berumur sekitar 30an." Nini kembali mengingat beberapa pelayan yang ia temui beberapa hari lalu


Ibu Idah tertawa kecil mendengar pertanyaan Nini.


"Tidak non, setiap orang yang bekerja di sini tidak boleh menikah. Jika ingin menikah, mereka harus bersedia dikeluarkan dari tempat ini."


"Kenapa begitu?" Nini mengernyitkan dahinya


"Karena tidak mungkin para pelayan harus bolak balik rumah untuk bekerja di sini, maka para pelayan wajib tinggal di sini. Nah, tidak mungkin juga kan harus membawa keluarga ke tempat ini?"


Nini manggut-manggut


*M*asuk akal juga sih


"Mereka yang non lihat sudah sedikit berumur itu, adalah orang-orang yang sudah berjanji untuk sepenuhnya mengabdi pada keluarga ini." sambung ibu Idah menjelaskan


"Sungguh mulia hati mereka ya."


"Tidak non. Justru tuan dan nyonyalah yang sangat mulia. Orang-orang yang ada di sini, adalah orang pinggiran yang hidupnya sangat menderita."


Nini kembali menatap ibu Idah.


Mengerti dengan nona mudanya yang kurang mengerti, ibu Idah melanjutkan penjelasannya


" Tuan dan nyonya mengumpulkan orang-orang buangan, seperti para pemulung atau anak-anak jalanan yang sering mengamen. Kadang mereka juga mencari orang-orang yang pengangguran, kemudian dilatih untuk menjadi pelayan di keluarga ini. Syarat utama tidak menikah ini awalnya terasa berat bagi mereka, tetapi setelah sekian lama bekerja mereka tidak merasa menyesal. Justru mereka bersyukur memiliki majikan sebaik tuan dan nyonya."


Mata ibu Idah memandang lurus ke depan melihat matahari yang sudah semakin merendah.


"Lalu, apa ibu Idah juga memilih untuk tidak menikah sama sekali?" Nini menopang pipinya menatap ibu Idah


Ibu Idah berpaling melihat ke arah Nini dan menepuk lembut bahu Nini.


"Kisahku sampai berada di keluarga ini sangat sedih non." wajah ibu Idah langsung terlihat murung.


"Apa aku boleh mendengarnya?" tanya Nini sedikit khawatir.


Ibu Idah menghembuskan napasnya perlahan


"Tentu non,tapi bukan sekarang. Saya harap non mengerti, hari sudah semakin sore, saya harus segera menyiapkan makan malam."


"Untuk keluarga dan 400 pelayan ini?" tanya Nini lagi


"Iya non." jawab bu Idah sambil menundukan kepalanya, berpamitan menuju dapur.

__ADS_1


Nini masih termenung di tempat itu, rasa penasaran akan kisah ibu Idah semakin menggebu.


Bersambung.......


__ADS_2