Janji Suci

Janji Suci
Bab 21


__ADS_3

Waktunya pulang. Sudah hampir jam 6 sore. Nini masih duduk di kursi kerjanya sambil membayangkan apa yang telah dilakukan Adit tadi (mencium keningnya)


Dering ponsel menyadarkannya. Telepon dari Johan


"Hallo?" Nini menyapa lebih dulu


" Apa kau sudah pulang?"


"Belum."


"Dimana kantormu? Biar aku jemput."


"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri."


Nini langsung memutuskan sambungannya.


Setelah merapikan semuanya, Nini pun berjalan keluar meninggalkan kantor itu. Dia sudah memesan taksi online, jadi tinggal menunggu dijemput saja.


Nini sudah sampai di depan rumah. Membayar ongkos lalu keluar dari taksi itu. 4 orang pelayan yang berjaga di pintu utama menundukkan kepala memberinya hormat.


"Tidak usah melakukan ini pada aku. Kalian bahkan lebih tua dariku." kata Nini ketika berada di depan mereka


Orang-orang itu saling bertatapan bingung


"Maaf non, memang sudah menjadi tugas kami melindungi dan menghormati keluarga ini." seseorang yang lebih tua mencoba menjelaskan


"Kalian juga bagian dari keluarga ini pak. Baiklah kalian boleh melakukannya jika aku bersama yang lain. Jika aku sendiri, biarkan saja pak. ya??"


Mereka kembali bertatapan seolah saling memberi isyarat. Salah satu dari mereka mengangkat bahu.


"Baiklah non" pria tua itu kembali menjawab.


Nini berlalu dengan memberi sebuah senyum kepada mereka.


Rumah tampak sepi. Gadis itu berjalan menuju kamar menaiki tangga.


Sampai di kamar, Johan sedang duduk sambil membaca sebuah buku. Entah buku apa Nini tidak sempat memperhatikannya.


"Syalom." Nini mengucapkan selamat dengan lembut


"Baru datang kamu?" tanya Johan tanpa melihat ke arah Nini.


"Ahh iya." Nini membanting pantatnya kasar pada ranjang menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Ayah ibu kemana?" tanya Nini


"Mereka pergi mengantar kak Tony dan keluarganya ke bandara." jawab Johan. Matanya masih tertuju pada buku itu


"Kenapa kamu gak ikut?"


Kali ini Johan berpaling ke arah Nini


"Aku baru saja pulang dari kantor dan aku capek. Sekarang buatkan aku makanan,aku lapar."


" Sekarang?"


"Ya. Sekarang!"


"Tapi aku juga capek. Aku harus mandi dan istirahat." protes Nini kesal

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Kau sekarang istriku. Dan kau harus melakukan kewajibanmu."


"Hemm baiklah." Nini bangkit dan meninggalkan Johan di kamar itu.


Dia sudah sampai di dapur tempatnya mengambil air beberapa hari yang lalu. Nini tampak kebingungan, di sana tidak ada kompor serta persediaan bumbu dan bahan untuk di masak.


"Waktu itu dia bilang ini dapur. Tapi kok gak ada ya perlengkapan dapur gitu." melongo sana sini.


"Ada yang bisa saya bantu non?" seorang pelayan wanita muda menawarkan diri pada Nini


"Ehh kamu ni bikin kaget aja." Nini mengelus dadanya


"Maaf." pelayan itu menundukkan kepalanya


"Jangan menunduk gitu. Santai aja. Aku mau tanya dong dapur tempat memasak itu di mana sih?"


"Ada apa non. Biar saya yang ke sana."


"Aku mau masak untuk suamiku. Dia tidak mau orang lain yang melakukannya."


"Baiklah non. Mari ikuti saya." wanita itu berjalan mendekati sebuah pintu yang ada di sudut dapur. Membukanya dan berjalan menyusuri sebuah lorong


"Jauh ya dapurnya?" tanya Nini sambil terus mengikuti langkah pelayan itu


" Gak non cuma sekitar 20an meter. Nah kita sudah sampai." wanita itu membuka pintu sebuah ruangan


Tampaklah dapur yang besar seperti yang ada di restoran. Rapi dan bersih. Semua peralatannya pun lengkap.


"Ini dapurnya?" Nini menunjuk heran.


"Iya non. Ada apa?"


"Gak papa kok?"


"Biasanya kalian masak di sini?" tanya Nini penasaran


"Iya non. Ruangan ini kedap suara, jadi orang-orang di luar tidak akan terganggu dengan kesibukan di dapur."


"Owh.kok sepi?"


"Biasanya jam begini kami sudah selesai masak non." pelayan itu menjelaskan dengan sabar


"Biasanya masak cuma buat keluarga pak Hartono aja ya?"


"Tidak non, kami memasak untuk semua pelayan dan penjaga rumah ini."


" Wah banyak banget ya?"


"Iya non. Kami sudah terbiasa."


"Ehh.. Nama kamu siapa? Dari tadi ngobrol aja heheh." Nini memberikan tangannya


"Desi non." wanita itu membalas jabatan tangan dari Nini


"Bantuin aku masak ya. Bisa gak? Aku capek ni."


"Maaf sebelumnya non. Tapi di tempat ini ada cctv. Saya takut tuan Johan marah karena saya membantu non." pelayan itu tunduk lebih dalam


"Jadi dia bilang jangan ada yang boleh membantuku?"

__ADS_1


Pelayan itu mengangkat matanya menatap Nini, lalu menggangguk perlahan.


"Astaga." Nini meremas jidatnya dengan kesal


"Baiklah. Apa aku boleh tau makanan kesukaan tuan Johan?"


Desi berpikir sejenak mencoba mengingat makanan yang disukai Johan


" Saya kurang tau non, karena tuan Johan tidak pernah meminta dimasakin ini itu."


"Hemn.. Menurutmu, masakan apa yang paling cepat untuk disajikan?"


"Ayam goreng saja non. Lebih mudah dan praktis non."


Nini menjentikkan jarinya, dan tersenyum pada Desi.


"Baiklah aku akan membuat ayam goreng."


Nini mulai bergegas mencari alat dan bahan.


Desi menunjuk sebuah pintu, itu adalah ruangan penyimpanan bahan makanan (freezer room).


Semua bahan dan bumbu sudah tersedia. Nini buru-buru meracik bumbu. Ayam sudah di bersihkan dan dipotong sebelum dimasukkam ke dalam ruangan itu.


Nini menggorengnya dengan api sedang.


Hampir 30 menit, makanan akhirnya disajikan di atas sebuah dulang.


Nini tergesa-gesa membawa makanan itu menuju kamar mereka.


Johan melirik sebentar istrinya yang masuk dengan membawa makanan. Aromanya membuat Johan tidak tahan ingin segera memakannya


Sepertinya enak tuh. batin Johan


"Ini, makanlah. Aku harus segera mandi." Nini menyimpan makanan itu di atas meja tepat di depan Johan yang sedang duduk


"Aku sudah kenyang." segaris senyum licik di wajah Johan


"Apa?" Nini yang tadinya ingin berjalan menuju kamar mandi langsung berbalik menatap Johan dengan marah


"Terlalu lama. Seleraku sudah hilang, lebih baik aku makan di luar saja." kata Johan sinis.


Dia meletakkan buku itu di meja,meraih kunci mobilnya lalu berjalan keluar.


Nini masih terpaku di tempatnya, menatap makanan itu dengan kekesalan yang amat besar. Dia berjalan mendekat ke meja itu, meraih makanan tadi dengan kesal dan memakannya.


*K*eterlaluan dia tidak menghargai jerih payahku.


Nini memasukkan lagi makanan di dalam mulutnya dengan kesal.


Sementara itu, Johan keluar dengan bahagia.


*I*tu pembalasan atas sikapmu tadi pagi.


Sudah hampir jam 9 malam Nini sudah tidur nyenyak. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan suaminya.


Johan naik ke atas ranjang, menatap istrinya lama.


Kau memang sangat cantik. Sayang,kau malah menikah dengan orang seperti aku yang tidak mudah jatuh cinta.

__ADS_1


Johan membalikkan tubuhnya membelakangi Nini, dan ikut tertidur dengan nyenyak.


Bersambung.....


__ADS_2