
Mobil metalic hitam memasuki halaman panti asuhan Kasih Bunda. Ketiga orang di dalam mobil itu keluar. Ibu Tia dan anak-anak langsung menyambut mereka dengan penuh kebahagiaan.
Ibu Tia menghampiri mereka memeluk hangat ibu Isma dan Nini bergantian lalu berjabatan tangan dengan Johan. Di wajah mereka tampak senyuman penuh persahabatan.
"Kak Nini...!!!" Teriak seorang anak penuh semangat.
Nini membalikkan tubuh melihat ke arah suara, Seli berlari menemuinya lalu memeluk erat pinggang Nini.
"Kak, Seli kangen sama kakak. Selama ini kemana, kok gak datang-datang sih?" kata Seli mengangkat wajahnya menatap Nini yang juga sedang menatapnya.
"Maaf sayang," Nini berlutut menyesuaikan tinggi Seli " Kakak akhir-akhir ini sibuuukk banget. Tapi kan sekarang kakak udah di sini." Nini mengusap rambut Seli.
Ibu Tia,ibu Isma dan Johan hanya melihat mereka berdua. Mereka tersenyum bahagia melihat keakraban Seli dan Nini.
"Ayo bu Isma, kita bicara di dalam saja." ibu Tia mempersilahkan
"Baiklah bu, nak kalian tunggulah sambil bermain dengan anak-anak ya?" kata bu Isma sambil menepuk bahu Johan.
"iya ibu." jawab Johan singkat.
Ketika ibu Isma dan ibu Tia sudah menjauh,Seli melihat ke arah Johan dan Nini secara bergantian, dia ingat beberapa waktu lalu mereka sempat bertemu di lorong kamar.
"Kak, dia siapa?" tanya Seli polos
Nini melihat ke arah Johan. Mereka berdua tersenyum, kemudian Johan mendekat ke arah Seli dan Nini. Berlutut dan mengusap lembut pipi Seli.
"Aku suami kakak Nini." senyum Johan merekah sempurna
Nini melihatnya sebentar lalu melihat lagi pada Seli, sambil memegang kedua tangannya.
"Suami?" Seli terlihat bingung, dia baru saja 7 tahun. Dan selama ini hidup di panti tanpa adanya orangtua tentu membuat dia kebingungan.
"Emmm.. Dia teman hidup kakak sayang." Nini mencoba menjelaskan.
"Itu kayak gimana kak?" wajah Seli semakin kebingungan.
Nini seperti mencoba memikirkan jawaban yang tepat. Dia memang tidak akan tahu, ibu Tia saja tidak punya suami.
Bagaimana ini? Nini menggaruk kepalanya.
Johan merasa lucu melihat tingkah Nini yang terlihat bodoh itu. Dia menahan tawanya menutup mulutnya dengan tangan kanan
"Seli punya teman gak?" kali ini Johan yang akan menjelaskan
"Punya."
"Nah, sama. Kakak sama kakak Nini temenan juga. Hanya sedikit berbeda dengan Seli, nanti kalo udah gede pasti ngerti kok" Johan kembali mengelus pipi Seli
Seli kembali menatap keduanya bergantian. Sesungguhnya dia masih kebingungan, tapi mendengar kalimat terakhir Johan, dia hanya diam saja.
" Seli udah makan belum?" seperti biasa Nini akan selalu pandai mencairkan suasana.
"Makan pagi udah kak. Kalo makan siang kan belum waktunya." Seli sedikit cekikikan, dia tahu kalau ditanya begitu pasti akan diajak jalan juga.
__ADS_1
Johan memperhatikan Nini yang sedang asyik bicara dan tertawa dengan Seli.
Ternyata selembut ini dirimu dengan anak-anak.
Nini tidak menyadarinya. Seli segera menarik tangan Nini menuju kamarnya.
Nini mengikutinya,dan menoleh sebentar pada Johan yang masih menatapnya,mengerti dengan maksud istrinya, Johan menggangguk. Nini pun tersenyum, dan mengikuti langkah Seli.
Johan terus memperhatikan punggung istrinya hingga menghilang. Dia berdiri, menatap sekitarnya mencari tempat untuk duduk.
Dia memilih tempat duduk di taman yang ada di tengah panti itu. Ada beberapa anak yang bermain di sana. Saat sedang duduk, sebuah bola plastik menggelinding tepat di dekat kakinya. Johan menatapnya lalu meraihnya, dia memalingkan wajah mencari pemilik benda itu. Tiba-tiba seorang anak kecil berdiri di depannya,menarik celana Johan.
Johan melihat ke bawah. Seorang anak laki-laki seumuran 4 tahun. Dia berlutut,menatap bola itu lalu menatapa anak itu.
"Punya kamu ya?" tanya Johan lembut
Bocah itu menggangguk. Johan memberikan bola itu pada sang anak. Kemudian anak itu berlari menemui teman-temannya. Di sana Johan melihat beberapa anak laki-laki yang masih kecil juga.
Johan menengadah menatap langit, memejamkan matanya. Dia kembali menatap anak-anak itu sambil menghembus napasnya kasar.
Sejahat itukah takdir mempermainkan jiwa-jiwa polos seperti mereka. Johan menggeleng perlahan.
Hatiku bahkan tersentuh, melihat anak-anak ini masih tertawa ceria meski tumbuh tanpa orangtua.
Seli dan Nini sudah berjalan keluar. Seperti biasa Nini harus meminta ijin terlebih dahulu pada ibu Tia.
Setelah mendapat ijin, mereka berjalan keluar. Nini masih merasa canggung untuk mengajak Johan.
"Apa kau juga ingin ikut?" tanya Nini ketika sudah mendekat pada Johan.
Nini berjalan mendahului Johan menghampiri Seli yang sudah menunggu mereka di depan pintu masuk.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Nini memilih duduk di belakang bersama Seli.
*A*ku bukan supirmu nyonya . Johan
"Baiklah. Tempat mana yang akan kita kunjungi?" tanya Johan sambil menghidupkan mobilnya
"Seli,mau kemana?" tanya Nini lembut.
"Ke taman aja kak."
"Taman mana dulu?" Johan membalikkan wajahnya ke belakang.
" Taman bunga kak, yang ada banyak permainannya." jawab Seli sambil membentangkan kedua tangannya.
Nini hanya tertawa melihat tingkah Seli. Johan berpikir sejenak dan mengganggukkan kepala lalu menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Seli bernyanyi dengan cerianya, sesekali Nini ikut bernyanyi lalu keduanya tertawa ceria.
Johan melirik dari kaca ada perasaan bahagia yang tumbuh dihatinya
*K*elak, jika Tuhan mengijinkan. Maka aku akan memiliki anak dari dia. Melihat pribadinya yang begitu lembut,aku yakin dia akan menjadi ibu terbaik. Batin Johan
__ADS_1
Tiba-tiba mata Nini bertemu dengan mata Johan yang dari tadi meliriknya. Johan langsung berpura-pura fokus pada kemudinya.
20 menit perjalanan, tibalah mereka di taman terbesar kota itu.
"Yee.. Akhirnya sampai." Seli menepuk kedua tangannya
"Hahah.. Sayang kamu lucu deh." Nini mengusap rambut Seli.
"Ayo turun." Johan melepas sabuk pengamannya bersiap untuk turun.
Setelah turun, Seli berlari dengan riang menuju taman.
"Heii hati-hati." Nini memperingatkan dengan khawatir
"Biarkan saja. Dia sudah cukup mengerti untuk menjaga diri." kata Johan sambil mengikuti Nini yang berlari kecil
"Aku takut dia terjatuh atau terlalu jauh dari kita dan.."
Johan menaruh jari telunjuknya pada bibir Nini
"Sssssshhht... Jangan berpikir yang aneh-aneh."
Wajah Nini berubah merah. Entahlah tiba-tiba dia merasa malu dengan perlakuan Johan.
Nini memalingkan wajahnya cepat agar tidak dilihat Johan berpura-pura mencari Seli.
"Dia sedang menanti kita di sana." kata Johan sambil menunjuk Seli yang sedang berdiri melihat ke arah keduanya. Johan menggenggam erat tangan Nini dan berjalan menuju Seli.
Nini menatap Johan kebingungan.
*A*da apa dengannya? Kenapa dia selembut ini ?
Mereka bertiga asyik menikmati keceriaan di sekitar taman.
Setelah puas berkeliling, mereka memilih duduk di sebuah kursi taman dekat pohon rindang.
"Kalian mau makan apa?" tanya Johan
"Aku mau makan es krim kak." Seli menunjuk sebuah mobil es krim yang terpakir dekat taman bermain anak
"Jangan. Seli kan belum makan siang." Nini menggeleng.
"Yahhhh..." Seli menopang wajah dengan kedua tangannya, dia terlihat sangat kecewa.
" Hemmmm.. Ya sudah kita beli aja,habis dari taman ini kita singgah makan siang. Jadi, Seli tetap bisa memakannya." ide Johan kembali membuat Seli ceria. Nini manggut-manggut mendengar perkataan Johan
"Horeee makasih ya kak." kata Seli sambil memeluk Johan.
Nini memperhatikan sikap Johan yang begitu baik.
Mungkin suatu hari nanti dia akan menjadi ayah yang baik.
Mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
__ADS_1
Bersambung......