Janji Suci

Janji Suci
Bab 79


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Nini, Derry menjadi lebih semangat. Kini dia hanya akan menunggu saat


untuk kembali mengantar bahan makanan ke rumah itu.


Masih ada sedikit harapan di hatinya,agar Nini mau kembali dengannya.


Hari yan dinantikan pun datang. Derry dengan semangat mempersiapkan semuanya. Temannya Edi


merasa heran dengan sikap Derry.


Tinggal menunggu waktu untuk berangkat. Sudah hampir sejam menunggu, akhirnya mereka


dihubungi juga oleh ibu Idah.


“ Ayo berangkat.” Kalimat yang keluar dari mulut Derry begitu semangat.


Nini juga sedang menunggu kedatangan Derry bersama ibu Idah. Kemarin dia sempat meminta ibu


Idah menghubunginya jika Derry akan mengantar lagi bahan makanan.


Sambil menunggu, Nini menceritakan semuanya kepada ibu Idah.


“Jadi, dia mantan non.” Ibu Idah manggut.


“Yahh, begitulah bu. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Merasa senang aja gitu, bisa ketemu


sama teman satu kota di daerah rantauan gini.” Nini tersenyum simpul.


“Apa non masih mencintainya?” ibu Idah serius.


Nini tertawa kecil mendengar pertanyaan ibu Idah.


“Tidak lagi bu. Aku sudah menikah dan mempunyai suami yang sempurna bagiku.”


“Maafkan saya non.”


“Tidak masalah bu.” Senyum Nini tulus.


Bunyi klakson mobil box, membuat Nini dan ibu Idah bersamaan melihat ke arahnya.


Tawa Derry terlihat jelas dari balik kaca. Nini pun tersenyum padanya.


Sikap Nini semakin meyakinkan Derry.


“Selamat siang.” Ucap Derry bahagia. Dia menatap Nini.


Nini hanya tersenyum.


“Non, silahkan berbicara. Biar saya yang akan urus semuanya.” Ibu Idah menunduk.


“Berbicara?” wajah Derry sumringah.


“Iya. Gak keberatan kan?” Nini memandang teman Derry seperti ingin meminta ijin.


“Tentu. Silahkan.” Edi merapikan topinya lalu memulai dengan kerjanya.


Derry melirik sebentar lalu tersenyum. Tadi sepanjang perjalanan, dia sudah menceritakan semua


pada Edi. Awalnya dia tidak percaya, tapi melihat kejadian seperti ini, Edi pun percaya.


Nini mengajak Derry duduk di sebuah kursi kayu panjang di sekitar taman dekat dapur.


“Gimana sama hubungan kamu dan Monica?” pertanyaan Nini membuat wajah Derry terlihat suram.


“Tidak ada yang spesial Ni. Dia mengkhianati aku.” Meremas jemarinya dan tertunduk.


“Yang sabar ya, mungkin bukan jodoh kamu.” Senyum Nini penuh iba.


“Iya. Kamu sekarang gimana?” Derry sudah sangat penasaran dengan kehidupan Nini sejak minggu


lalu.


“Baik aja kok. Heheh, aku udah nikah Derr. Sama anak dari pemilik rumah ini.” Nini menunjuk rumah


utama.

__ADS_1


Penyesalan dan sakit berkecamuk di dalam hati Derry. Baru saja dia berharap, tapi kini kenyataan


yang harus dia terima adalah berbanding terbalik.


“Udah lama?” Derry berusaha tegar.


“Belum. Baru aja 9 bulan.”


“Apa kamu bahagia?” Derry mengangkat kedua alisnya.


“Aku bahagia. Sangat bahagia.”Nini mengernyitkan dahinya merasa sedikit tersinggung dengan


pertanyaan Derry.


“Syukurlah. Kamu beruntung ya bisa menikah dengan anak orang berada.”


“Ah.. bukan itu yang menjadi tolak ukur kebahagiaanku. Aku sangat bahagia karena mendapat suami


yang sangat mencintaiku.”


“Oh ya. Selamat ya, sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan.” Derry berdiri.


“Maksudmu?” Nini mengerutkan dahinya.


“Tidak Nini,aku harus segera membantu temanku.”


“Baiklah, selamat bekerja.” Nini ingin berjalan tapi langkahnya terhenti. Derry memegang tangannya.


Nini hanya terdiam melihat Derry yang mematung. Sentuhan Derry sama sekali tidak menggetarkan


tubuhnya. Dulu jangankan memegang tangan, saling bertatapan saja sudah membuat Nini gugup


setengah mati.


“Kenapa?” Nini semakin bingung melihat Derry yang menunduk.


“Maafkan aku karena telah menyakitimu.” Ungkapnya getir. Tangannya masih memegang tangan


Nini.


yang melihat dan akan timbul masalah.


“Ijinkan aku memelukmu Ni. Kali ini saja, setelahnya aku tidak akan mengganggumu.”


“Kau sudah gila?” Nini menepis tangan Derry.


“Aku mohon. Aku menyesal telah melukaimu waktu itu. Monica tega menyakiti aku, harusnya sejak


awal aku tidak melakukan kebodohan itu.” Derry mengatupkan tangannya.


“Jangan macam-macam Derry. Aku sekarang istri orang.” Nini menggeleng dan berjalan mundur.


“Aku tahu itu Nini. Aku mohon kali ini saja.” Derry terus saja memohon.


“Tidak, aku bisa saja memanggil para pengawal untuk mengusirmu.” Ancam Nini masih sambil


berjalan mundur.


Derry terpaku. Dia baru menyadari sejak tadi ada seseorang yang mengamati mereka.


Nini berhenti saat ingin berbalik. Kakinya menginjak kaki sesorang. Matanya terbuka lebar melihat


siapa yang sedang berdiri di belakangnya.


Johan sedang berdiri dengan wajah dingin, memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.


Matanya tertuju pada Derry.


Dengan langkah panjang Johan mendekati Derry dan memukulnya berkali-kali.


“Johan?” Nini menjerit histeris.


“Bajingan. Beraninya kau mengatakan itu pada istriku.” Bertubi-tubi serangan yang Johan lontarkan


pada wajah Derry.

__ADS_1


Tidak ada satu pun yang berani melerai keduanya. Nini semakin berteriak.


Keadaan semakin runyam, Derry sama sekali tidak membalas pukulan Johan.


“Johan hentikan!!” Nini menarik jas suaminya dan terus menjerit.


“Lepaskan aku Nini. Lelaki tidak tahu diri ini harus mendapat ajaran.” Johan menepis tangan istrinya.


“Johan aku mohon.” Jeritannya bersamaan dengan tangis.


Johan tidak mempedulikan Nini yang terisak. Amarahnya semakin menggebu mengingat kembali


permintaan Derry tadi.


“Kau pikir istriku wanita murahan hah??”


“Ahh..” tidak sengaja Johan menyikut dan mengenai dada Nini. Wanita itu meringis menahan sakit.


Bahkan tubuh langsingnya tersungkur jauh.


“Nini..!!” kedua pria itu tersentak bersamaan.


“Pergi kau keparat!” Johan mendorong kasar tubuh Derry yang ingin menolong Nini.


Kebencian terpancar di wajah Derry. Tapi dia hanya bisa menahannya karena dia tidak berdaya.


Johan adalah anak dari bosnya.


“Kamu gak papa sayang?” Johan merengkuh tubuh istrinya.


Nafas Nini tersenggal menahan kesakitan. Johan langsung membawa istrinya menuju kamar.


Sebenarnya dia ingin marah pada istinya, tapi keadaan Nini seperti ini membuat dia mengurungkan


niatnya.


Derry membasuh darah yang bersimbah di wajahnya. Seorang pelayan membawakannya air dan


handuk kecil. Matanya menatap nanar Johan yang menggendong istrinya hingga hilang di balik pintu


menuju rumah utama.


Johan membaringkan Nini perlahan. Meski tidak sampai pingsan, tapi sakit yang dirasakan Nini


cukup kuat.


Layaknya seorang dokter, Johan memeriksa dada Nini. Menekannya pelan. Nini meringis, sakit yang


tadi masih tersisa. Tapi sebenarnya, Nini sendiri bingung harus mengatakan apa pada suaminya.


Teringat kembali sikap Johan saat acara pernikahan Adit. Tubuh Nini bergidik ngeri jika harus dipukul


lagi. Karena Johan pasti sangat cemburu.


“Masih sakit?” wajah Johan terlihat khawatir.


“Emmm, sudah bekurang.” Apa pun yang akan terjadi, Nini memilih jujur dengan keadaannya


sekarang.


Johan menggangguk, bibirnya berkedut. Senyum pun enggan. Dia ingin berlaku kasar pada Nini, tapi


dia sudah berjanji tidak akan memukulnya.


“Baiklah, aku akan kembali ke kantor. Tadinya aku ingin makan siang bersamamu di rumah, tapi aku


rasa itu tidak lagi penting. Tampaknya kau tidak lapar saat bersama dengan lelaki masa lalumu.”


Johan berdiri dan meninggalkan kamar itu.


Nini hanya menunduk tanpa berbicara. Dia merasa bersalah, sekaligus sedih. Percuma dijelaskan.


Johan sudah sangat cemburu, dan tidak mudah lagi untuk meyakinkannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2