Janji Suci

Janji Suci
Bab 67


__ADS_3

Sebuah mobil BMW X6 berwarna silver membelah jalanan yang gemerlap.


Dengan kecepatan penuh Lisa mengendarai mobilnya.


Sejak tadi Nini sempat pingsan karena syok. Dia membuka matanya pelan. Dilihatnya Lisa dengan ekspresi seperti hewan buas siap menerkam mangsa.


Tubuh Nini sudah terbebas dari ikatan tadi. Dia terlihat bingung melihat Lisa yang sangat berbeda dari biasanya.


"Mbak Lisa?" ucap Nini


Lisa melirik dengan kebencian yang mendalam.


"Ada apa ni mbak?"


"Diam kamu." Lisa fokus dengan kendaraannya.


"Awasss...!!!" teriak Nini saat mobil yang mereka tumpangi hampir menabrak seorang pengendara sepeda motor.


Lisa berhasil mengendalikan stir mobil.


"Ini karena kamu." tuduh Lisa pada Nini.


"Ada apa ini mbak? Kenapa aku diperlakukan begini?" Nini juga ikut melotot. Dia tidak akan takut pada siapa pun. Hanya kondisinya sekarang kurang sehat.


"Kamu harus mati Nini." Lisa menambah kecepatan mobil.


"Mbak Lisa kenapa??" Nini menggoyang tubuh Lisa.


Dia mulai khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Lisa mendorong kasar tangan Nini, hingga dia terbentur pintu mobil.


"Karena kamu hidupku jadi hancur Nini." ujar Lisa penuh kegetiran. Dia memarkirkan mobilnya.


Nini membuka pintu mobil itu tapi tidak bisa. Lisa sudah mengunci secara otomatis.


"Apa maksud mbak?" Nini memegang perutnya yang terasa sakit.


"Karena kamu Aditya membenciku. Dia mencintaimu!" Lisa berteriak.


Nini menggeleng kuat. Merasa tidak percaya dengan perkataan Lisa barusan.


"Tidakk.." Nini menutup kedua telinganya dengan tangan. Dia tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat itu.


"Ternyata benar kata Amel. Kamu memang wanita perebut kebahagiaan orang lain." suara Lisa mulai melemah dan itu jauh lebih menyeramkan.


"Tidak mungkin pak Adit cinta dengan aku mbak." Nini meringis. Perutnya semakin sakit.


"Jangan munafik Nini." lirik Lisa. Wajahnya memang sudah berubah seperti penjahat.


Bukan lagi wanita lugu dan baik.


Ternyata manusia begitu cepat berubah.


"Kamu memang beruntung. Tidak ada wanita yang bisa membuat Adit jatuh cinta. Tapi kamu, hanya dalam sekejap bisa dengan mudah merebut hatinya. Apa kamu tahu, selama bertahun-tahun aku mengharapkan cintanya tapi apa yang aku dapat, aku hanya mendapat siksaan darinya." Lisa menangis.


Dia sendiri tidak tega melukai Nini. Tapi kemarin pertemuannya dengan Amel, membuatnya ingin menyingkirkan Nini sejauh mungkin.


"Maaf mbak. Tapi aku tidak tahu." Nini memegang tangan Lisa tapi ditepis kasar.


"Jangan sentuh aku wanita ******." Lisa membentak Nini.


"Jaga ucapan mbak ya. Aku bukan wanita ******. Aku pikir kata-kata kotor itu tidak akan keluar dari mulut cantikmu." Nini mulai marah dengan ucapan Lisa.


"Lantas harus aku sebut apa? Malaikat? Hahaha.. Kehadiranmu jelas-jelas memberi petaka bagi aku dan Amel."


"Mungkin ini alasannya kenapa pak Adit tidak akan bisa mencintai mbak." Nini menatap Lisa tajam.


"Maksudmu?" Lisa mengernyitkan dahi.


"Wanita kejam seperti mbak memang tidak akan bisa dicintai."


"Heii.. Apa maksudmu? Jangan mengulang kalimat bodohmu itu." Lisa mendelik kesal.


"Wanita baik-baik tidak akan melukai wanita lain. Apalagi berniat membunuh."


"Terserah apa katamu." Lisa kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Jika memang harus, lebih baik kita mati bersama agar suamku percaya kalau aku mencintainya." mata Lisa dipicingkan.


"Apa hanya ini satu-satunya pembuktian?" Nini memberanikan dirinya. Dia tidak peduli lagi dengan kecepatan mobil itu.


"Tentu." jawab Lisa jengkel.


"Hanya orang bodoh yang melakukannya." Nini bersandar pada kursi mobil. Dia memilih pasrah. Perutnya semakin sakit.


Baginya percuma untuk berdebat dengan orang yang tidak ingin kalah.


Tuhan, sepenuhnya aku berharap padamu. Batin Nini memohon.

__ADS_1


****


Johan memasuki rumah Adit dengan langkah panjang.


"Di mana kamar majikanmu?" Johan bertanya pada para penjaga rumah itu.


Mereka mengantar Johan dengan keheranan.


"Adit... Buka pintu!!" Johan berteriak.


Adit yang sudah terlelap merasa terganggu oleh keributan di luar.


Sebuah pukulan telak menghantam wajah Adit saat dia membuka pintu.


"Di mana istriku?" Johan mencengkram kerah baju Adit.


Kantuknya langsung hilang. Adit mendorong tubuh Johan yang sudah menindihnya.


"Kurang ajar. Berani kau bersikap begini di rumahku?" Adit membalas pukulan Johan.


Para pengawal masuk dan melerai keduanya.


"Puihhh.. ******** rendahan. Di mana istriku?" Johan merontak.


"Jaga sikapmu Johan. Ini rumahku." Adit menatap dingin.


"Aku tidak peduli. Etika sopan tidak lagi dibutuhkan di antara kita. Jangan mencari alasan, sekarang katakan di mana istriku?" Johan semakin geram.


"Istrimu?" Adit bingung.


"Ahhh... Keparat. Jangan pura-pura bodoh. Aku sudah menyelidiki perawat yang menculik Nini. Dan dia bernama Prisca, pelayan rumahmu."


"Prisca??" Adit bertanya lagi.


Johan melepaskan tubuhnya dari pegangan para pengawal.


"Katakan di mana istriku?"


Adit memegang dagunya bingung. Dia berjalan keluar menuju kamar Lisa. Johan mengikuti langkahnya.


Benar dugaanya, Lisa tidak ada.


"Pengawal, di mana Lisa?" Adit berteriak.


"Nona Lisa pergi tuan." jawab seorang pria yang bertubuh kekar.


"Maaf. Kami tidak tahu tuan." pria itu menundukkan kepala.


"Mobil apa yang dibawanya?"


"Mobil milik Nona sendiri."


Adit dan Johan saling tatap. Mereka sudah tahu jawabannya.


Prisca adalah seorang pelayan pribadi Lisa. Dan mereka cukup dekat.


"Apa yang sudah kau perbuat, sampai Lisa berbuat senekat ini?" suara Johan lembut tapi terdengar menyeramkan.


Adit diam membisu. Dia kembali teringat pengakuannya waktu itu.


"Katakan!!" bentak Johan.


"Dia sedang sekarat. Jika terjadi sesuatu yang buruk padanya, maka aku akan membunuhmu juga istrimu."


"Kau mengancamku?" Adit tersenyum sinis.


"Ini peringatan. Cepat hubungi istrimu yang sudah gila itu, katakan padanya jangan lukai Nini. Atau aku akan membuatnya menangis memohon kematian." kedua kakak beradik itu saling beradu tatapan.


"Hubungi pihak kepolisian sekarang juga. Minta mereka memblokir seluruh jalanan ibukota dan cari tahu di mana keberadaan mobil dengan plat nomor L 1 5 4." perintah Adit pada para pengawalnya.


Dengan secepat mungkin, mereka sudah menemukan keberadaan mobil itu.


Mereka berlari menuju mobil. Dengan kecepatan tinggi Johan mengendarai mobilnya.


Sementara Adit hanya duduk diam di sampingnya.


"Cepat hubungi istrimu." kata Johan.


"Jika aku menelponnya, maka dia akan tahu kalau kita mencarinya." wajah bengis Adit terlihat jelas. Dia masih marah atas sikap Johan tadi.


"Ahhh... Sialan. Apa kau mengatakan pada Lisa kalau kau ganjen dengan istriku hah??"


"Sejak tadi kau terus mempersalahkan aku. Fokus menyetir!" bentak Adit.


"Di mana lokasi mereka sekarang?" tanya Johan masih fokus dengan menyetir.


Adit menunjuk ponselnya. Polisi sudah berhasil menahan mobil Lisa.


Johan menggangguk dan menambah kecepatannya.

__ADS_1


"Selamat malam ibu." sapa seorang polisi berusia 40an pada Lisa yang tampak pucat. Dia takut kalau Nini akan berteriak.


"Diam kau. Jika kau melakukan sesuatu, maka aku akan berbuat sesuatu yang lebih kejam." ancam Lisa pada Nini.


"Selamat malam pak." Lisa menurunkan kaca mobilnya. Lalu tersenyum.


"Bisa parkir di sana?" petugas itu mempersilahkan.


"Kenapa Pak?" Lisa mengerutkan dahinya bingung.


"Mobil anda tertangkap rekaman cctv berlari dengan kecepatan tinggi dan hampir mencelakai pengendara lainnya." ujar petugas kepolisian itu tegas.


Sialan..Batin Lisa.


"Tidak bisa pak. Saya sedang buru-buru, adik saya sedang sakit." Lisa menunjuk Nini.


"Ahhh.. Tidak pak. Saya baik-baik saja." Nini tersenyum simpul.


"Silahkan diparkir dulu mbak mobilnya. Jangan sampai pak polisinya marah loh."


Lisa mendengus kesal pada Nini.


Sedangkan Nini menahan sakitnya agar terlihat biasa saja.


Polisi tadi terus mengintrogasi Lisa dan Nini.


Mencari banyak alasan sampai Johan dan Aditya muncul.


"Itu mobilnya." tunjuk Adit.


Johan langsung melepaskan sabuk pengamannya, membuka pintu mobil dan berlari mendekati mobil mewah berwarna silver itu.


Lisa melongo kaget. Dia tidak bisa melarikan diri. Kunci mobil sudah disita pihak kepolisian.


"Buka!!" Johan mengetuk pintu mobil itu.


"Han..!" Nini memaksa buka pintu itu, tapi masih terkunci.


Polisi tadi langsung membuka pintu mobil itu dengan kunci remote otomatis.


Nini langsung berhamburan di dalam pelukkan Johan saat pintu terbuka.


Lisa tidak bergeming dia takut akan dijebloskan ke dalam penjara.


Aditya mengetuk pintu mobil. Lisa hanya memandang dengan tatapan datar.


Karena sudah tidak dikunci, Adit langsung membukanya dan menarik keluar istrinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Adit. Dia menyandarkan tubuh istrinya pada sisi mobil.


Lisa memalingkan wajahnya dari pandangan bengis Adit.


"Kenapa kau sampai senekat ini?" tanya Adit lagi.


"Karena aku ingin dicintai olehmu." Lisa menatap mata suaminya.


"Apa tindakkanmu ini benar?" Adit menyipitkan matanya.


"Jika aku tidak mendapatkan cintamu, maka lebih baik kami mati bersama."


"Kau memang egois." Adit terlihat geram.


"Semua karena kau tidak bisa memberikan aku sedikit perhatian. Kau yang egois, tidak bisakah kau mencintaiku?" Lisa menangis.


Adit memeluknya. Wanita itu kaget. Ini pertama kalinya Adit memeluk dia.


"Jangan lakukan lagi Lisa. Aku akan berusaha mencintaimu." bisik Adit.


Lisa membalas pelukkan itu.


Johan menarik tangan Nini menghampiri Adit dan Lisa.


"Lisa. Aku benar-benar kecewa denganmu."


"Maafkan aku Johan." ucap Lisa tulus.


"Aku hanya terhasut omongan Amel. Maaf. Nini, maafkan aku. Sejak Adit mengakui perasaanya, timbul kebencian itu. Seandainya kau ada si posisiku." ungkap Lisa penuh penyesalan.


"Sudah mbak. Yang penting tidak terjadi apa-apa. Han, maafkan mbak Lisa ya." Nini memohon.


"Hemmmm." Johan mendengus kesal.


Adit menggenggam erat tangan Lisa.


Setelah perbincangan tentang maaf dan memaafkan, mereka kembali.


Tidak lupa mengucapkan terima kasig kepada petugas kepolisian tadi.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2