
"Ibu harap kamu mau menerimanya." kata ibu Laurent pada Nini saat mereka sedang makan malam bersama
"Bu, aku tidak mau. Aku mohon ibu mengerti."
"Mengerti apa Nini?" ayahnya bertanya dengan suara yang berat.
Nini tertunduk. Dia takut kalau ayah sudah bersuara.
"Ayah sudah mengalah padamu beberapa tahun lalu. Sekarang menikahlah dan jangan lagi kembali ke kota itu." suara ayah sangat tegas. Ini sebuah perintah.
Fany dan Andika hanya terdiam menyaksikan kaka dan orangtua mereka yang berdebat.
Aku sudah menikah ayah. Dan aku sudah mulai mencintai suamiku.
Johan, kamu di mana? Aku butuh kamu saat ini.
Nini berusaha menahan tangisnya. Dia takut sekaligus bingung.
"Sayang, beberapa bulan lagi usiamu 27 tahun. Sudah saatnya kamu menikah. Adikmu Fany juga sebentar lagi akan dilamar kekasihnya." ibu Laurent berusaha membuat Nini menuruti keinginan mereka.
"Tapi bu." Nini menatap ayah dan ibunya bergantian.
"Tidak ada tapi-tapi lagi Nini. Andre itu anak yang baik. Dia sangat taat pada aturan. Ayah berharap dia bisa menjadi bagian dari keluarga kita, kebetulan kalian seumuran. " ayah membantah keinginan anaknya itu.
Nini berjalan meninggalkan mereka semua. Dia menghempaskan tubuhnya di ranjang.
"Aku harus bagaimana ini?" Nini menangis
Fany mengikuti kakaknya dan mengelus lembut bahu Nini.
"Kak, aku rasa ada baiknya juga. Lagian Kak Andre itu baik kok. Dia juga ganteng." Fany mencoba menguatkan Nini
"Fan, aku sudah menikah." Nini berbisik pelan agar tidak terdengar orang lain.
"Apa?" Fany membelalakkan matanya. Dia menggeleng pelan merasa tidak percaya.
"Kakak gak bohongkan?" Fany bertanya lagi dengan berbisik
Nini mengeluarkan kalung yang dipakainya. Ada hiasan permata berbentuk bintang dan sebuah cincin yang bergelantung.
"Ini buktinya. Hanya saja kakak menyembunyikan ini agar tidak terlihat."
"Kenapa gak jujur aja sama ayah dan ibu."
Belum sempat Nini menjawab, ponselnya berdering. Dia mengambil ponselnya dan melihat. Ternyata panggilan video dari Johan. Fany yang mengerti langsung keluar dan menutup pintu.
Nini menerima panggilan itu.
"Lama banget?" Johan mengerutkan dahinya melihat wajah Nini seperti habis menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Johan lagi
"Gak papa cuma cape aja." Nini berbohong. Dua menatap suaminya penuh kerinduan.
"Berikan alamat rumahmu."
"Kenapa?"
"Berikan saja. Aku mau mengirim beberapa hadiah. Ini keinginan ibu."
"Baiklah akan aku kirim lewat chat."
"Jangan dimatikan dulu." Johan berkata cepat ketika melihat Nini yang ingin mematikan panggilan
__ADS_1
"Apa kau merindukan aku?" Johan mengangkat ponselnya agak tinggi agar Nini melihat kamar mereka
"Gak tahu." Nini menjawab culas
"Baiklah, kirimkan alamatmu sekarang. Aku mencintaimu." Johan langsung mematikan panggilannya.
Dia memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Ah, kenapa begini?" Johan bingung dengan dirinya sendiri yang gugup untuk mengatakan perasaannya.
Nini menggigit bibir bawahnya merasa tidak percaya kalau suaminya akan bertingkah seperti remaja.
Dia mengirim alamat rumahnya. Johan membalas chatnya dengan stiker ciuman. Nini hanya menggeleng pelan. Dia melihat kalung digenggamannya itu.
"Aku sangat merindukanmu."
****
Suara ayam berkokok, mengganggu tidur Nini. Belum lagi kesibukan di dapur yang sangat ribut.
"Jam berapa sih?" Nini meraih ponselnya mengucek matanya
Jam 5 pagi. Nini akhir-akhir ini sangat malas bangun pagi. Mungkin karena di rumah sendiri. Dulu dia sangat dimanjakan orangtuanya, mereka membebaskan dia bangun jam berapa saja saat libur.
Nini bangun merengangkan otot-ototnya dengan malas. Dia berjalan keluar menuju kamar mandi yang dekat dengan dapur. Ibu Laurent dan para asistennya sedang memasak.
"Selamat pagi semuanya." Nini menyapa dengan suaranya yang serak.
"Pagi sayang." ibu Laurent melirik anaknya sebentar lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Nini membasuh wajahnya. Kemudian keluar menuju depan ingin membantu yang lainnya membersihkan tempat usaha ibunya.
Rumah makan itu terhubung langsung dengan rumah mereka tepatnya ruang keluarga. Ruang tamu mereka berada pada samping warung itu. Teras rumah pribadi dan rumah makan mereka pun berjejeran.
Fany keluar menghampiri kakaknya yang sibuk. Dia duduk dengan malas pada salah satu kursi.
"Gak kerja kamu hari ini?" tanya Nini saat melihat Fany yang tampak malas.
"Hari Sabtu kak, mana ada aku kerja?" Fany mengingatkan kakaknya.
"Oh, kakak jadi lupa Hahah maklum sekarang kakak sibuk jadi gak sempat deh lihat kelender."
"Biasa gitu deh orang rumahan. Hahha."
"Jalan yuk kak." Fany kembali berbicara melihat kakaknya yang sibuk
"Kemana?" Nini masih sibuk melap meja dan kursi
"Ke pantai aja kak. Udah banyak yang berubah loh."
"Tapi gimana sama ibu?"
"Astaga... Sebelum kakak datang, ibu udah bisa mengatur semuanya. Lagian banyak kok pembantu ibu, emang mau dikasih gaji buta ya mereka?"
Mendengar perkataan Fany, beberapa pelayan mendelik kesal.
"Tuh lihat aja tampang mereka langsung kesal sama aku. Padahal aku mengatakan yang sebenarnya."
"Udah ah. Jangan ngomong gitu Fan, jaga perasaan orang."
"Kami udah biasa kok Non." seorang wanita yang berumur belasan menjawab santai. Semua pelayan ibu Laurent sudah terbiasa dengan mulut Fany yang tidak bisa terkontrol. Mereka tidak akan tersinggung atau marah,bahkan kadang mereka menjawab sengaja membuat Fany semakin mengomel. Bagi mereka itu menjadi hiburan tersendiri.
" Jadi jalan gak kak?" Fany kembali bertanya
__ADS_1
"Iya jalan. Kamu siap aja duluan. Bentar lagi kakak nyusul."
Fany berjalan masuk untuk menyiapkan dirinya.
Nini yang sudah selesai pun ikut masuk menyiapkan dirinya.
"Kak udah selesai apa belum?" Fany membuka pintu kamar Nini.
Dia melihat kakaknya yang masih berdandan
"Ya ampun, yang udah punya suami kok masih aja berdandan. Mau cari perhatian siapa lagi kak?"
"Hahha. Aku cuma gak PD aja kalo gak dandan Fan. Soalnya suami aku itu gak suka kalo aku gak dandan." Nini mengingat Johan.
"Duhhh... Gak usah curhat dong kak." Fany menggeleng pelan.
Mereka tertawa pelan.
"Yuk jalan." Nini meraih tasnya lalu menarik tangan adiknya.
Fany dan Nini keheranan melihat para pelayan yang sedang berkerumun dan bersuara sepertu lebah.
"Ada apa tuh kak?" Fany bertanya pada kakaknya yang juga bingung.
"Gak tau tuh Fan. Kamu keluarin motornya, biar kakak yang ke depan." Nini sudah berjalan menuju depan.
"Ada apa ini?" Nini menggeser beberapa pelayan.
Nini membelalakkan matanya memastikan kalau dia tidak salah lihat.
"Gantengnya. Kayak artis ya?" seorang pelayan berbisik pada temannya
"Iya tuh, ngapain ya dia ke sini." sahut temannya.
Nini menggeleng kuat kepalanya. Sekali lagi dia memastikan kalau itu bukan suaminya.
Johan hanya berdiri di depan sebuah rumah makan sambil melihat ponselnya. Dia sedang menunggu supir menurunkan barang bawaannya. Johan masih belum sempat melihat ke dalam rumah makan itu.
"Panas banget." Johan mengusap keringatnya dengan tangan.
"Sudah tuan. Mau saya antarkan ke dalam?" tanya supir itu dengan hormat.
"Gak usah pak. Terima kasih ya." Johan memberi sedikit uang sebagai ucapan terima kasih.
"Jangan tuan. Nanti saya dimarahin sama juragan saya." supir itu menolak halus.
Johan sudah menghubungi mitra bisnisnya di kota itu sebelum datang. Dia meminta bantuan agar diantarkan pada alamat itu.
"Saya iklas kok pak." Johan menarik tangan pak tua itu dan memaksanya.
"Terima kasih tuan." supir itu menundukkan kepala lagi dan pergi dengan mobil itu.
Johan mengalihkan pandangannya ke dalam rumah makan yang besar itu. Matanya langsung berpapasan dengan Nini yang dari tadi terus memandangnya.
Dengan gagahnya Johan berjalan menuju tempat itu. Sebuah senyum kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Nini semakin membisu melihat suaminya yang sudah semakin mendekat. Para pelayan pun semakin bersorak pelan memuji ketampanan pria itu.
"Aduh ganteng banget."
"Ya ampun, kayak pangeran."
"Ngapain sih dia ke sini."
Sayup-sayup Nini mendengar perkataan mereka dan dia pun jatuh pingsan.
__ADS_1
Bersambung........