Janji Suci

Janji Suci
Bab 46


__ADS_3

Fany memarkirkan motor maticnya di halaman belakang rumah. Sudah kebiasaannya begitu ketika pulang kerja. Sekarang dia sudah bekerja pada sebuah bank swasta ternama di negeri ini.


Kadang dia harus lembur sampai larut ketika banyak kerjaan. Seperti sekarang, dia harus bekerja sampai pukul 9 malam. Fany masih duduk sebentar di kursi pada teras belakang rumah mereka. Dia memutar pelan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Capek ya?" tanya Nini ketika duduk di samping adiknya


Fany membelalakkan matanya tidak percaya. Dia berdiri dan melompat dengan sangat girang


"Kak Nini. Aku gak sedang mimpikan?" Fany menepuk kedua pipinya


"Gak dong." Nini pun berdiri lalu memeluk tubuh adiknya.


Kelelahan Fany langsung menghilang. Dia menarik tangan kakaknya masuk dan ingin protes sama orang-orang rumah.


"Kalian kok gak kasih tahu sih kalau kak Nini hari ini pulang?" tanya Fany ketika sudah berdiri di depan ayah dan ibu yang menghadap tv.


"Gak bakalan jadi kejutan lagi dong." Nini menimpali adiknya


"Kak Nini." Fany kembali memeluk erat kakaknya. "Aku kangen tahu."


"Iya udah ah, kakak jadi gak enak ihh." Nini melepaskan pelukan adiknya.


"Apaan sih kak Nini?" Fany terlihat cemberut.


"Udah Fany. Sana mandi, dari tadi kita semua nungguin kamu buat makan bareng." perintah ibu


Fany menurut saja. Dia bergegas menuju kamar.


Nini kembali duduk di dekat ibunya yang sedang nonton tv.


Getaran ponsel di tangannya mengagetkan Nini. Dia melihat ada panggilan masuk dari Johan


Astaga, aku baru ingat.


Nini berlari menuju kamarnya.


"Hallo." Nini menyapa ketika menerima panggilan itu


"Ya. Sudah berapa jam kau sampai?" Johan langsung kesal.


"Maaf. Aku lupa."


"Alihkan ke panggilan video sekarang juga." Perintah Johan tegas.


Keduanya sudah terhubung panggilan video. Johan menatapa Nini penuh kerinduan.


" Udah. Aku mau tidur dulu." Johan langsung mematikan ponselnya.


Dia memandang ranjang tempat Nini biasanya tidur.


"Sendiri deh tidurnya."


Nini langsung membuang ponselnya pada tempat tidur. Dia pun membaringkan tubuhnya di ranjang.


Sebuah pesan masuk dan membuat hpnya bergetar lagi. Nini meraih ponselnya lalu membuka pesan itu.


Johan : Aku merindukanmu. Cepatlah pulang.!!


"Baru juga sehari aku tinggalin. Lebay deh."


Ibu mengetuk pintu kamar Nini


"Sayang, ayo makan. Fany udah selesai tuh."


"Iya bu." Nini menghampiri ibunya.


Mereka Berlima makan dengan lahap terlebih Nini yang sangat merindukan masakan ibunya.


****


Seminggu telah berlalu. Nini yang selalu membantu ibunya mulai lupa dengan kerinduannya pada Johan.


Setiap hari dia sibuk membantu mengurus rumah makan dan malam harinya melepas lelahnya dengan beristirahat. Tidak ada waktu untuk memikirkan suaminya.

__ADS_1


Johan melangkahkan kakinya memasuki kantor. Dia membalas sapaan hormat setiap karyawan tapi wajahnya terlihat tidak bersemangat.


"Wah kenapa lagi ini bosku?" Doni menegur Johan yang sudah duduk di kursinya.


"Aku yakin kau pasti merindukan istrimu. Hahaha."


Johan mengusap wajahnya.


"Entahlah Don, aku merasa sepi." Johan menyandarkan kepalanya menatap langit-langit ruangan itu.


"Apa kau tidak menghubunginya?" Doni masih sibuk merapikan berkas-berkas di atas meja bosnya itu.


"Aku ingin, tapi sepertinya dia sibuk dan bahagia di sana."


"Coba aja dulu Han. Masa kamu langsung main nebak gitu aja." Doni sudah selesai. Dia memilih duduk menghadap temannya


"Gak taulah. Huuufff."


"Gengsi ya sama istri sendiri?"


"Hahah, gak juga. Cuma gak tau aja"


"Gini deh aku kasih saran. Kalau kamu emang rindu sama istrimu, temui dia Han." Doni menepuk bahu temannya


"Aku gak tahu alamat rumahnya." Johan memalingkan wajahnya menatap keluar jendela


"Minta dong. Percaya sama aku Han, dia memilih pergi saat kalian bertengkarkan? Itu bukan karena dia ingin menghindar, dia cuma mau melihat apa kamu akan mencarinya atau tidak."


"Sok tahu kamu."


"Bukan begitu sobatku. Wanita seperti istrimu adalah tipe wanita yang akan menjaga gengsinya. Dan sepertinya dia pandai mencari kesibukan untuk melupakan dirimu."


Johan menatap Doni.


"Kamu sok tahu. Aku aja yang suaminya gak tahu tentang sifatnya. Kamu yang baru ketemu sekali langsung sok."


"Itulah kamu. Gak mau belajar tentang wanita. Aku meskipun jomblo tapi sering belajar untuk memahami wanita dengan cara belajar melalui buku-buku psikologi." Doni membanggakan dirinya


Johan berpikir sejenak.


"Gimana mau kunjugin dia gak?" Doni bertanya lagi


"Mau sih, tapi gimana sama kantor dan urusan lainnya?"


"Jangan ragukan sahabatmu ini. Pergilah aku akan mengurus semuanya." Doni menepuk dadanya


"Baiklah. Aku akan berangkat hari Sabtu pagi nanti." Johan tersenyum bahagia.


Doni yang melihat wajah sahabatnya kembali ceria, merasa sangat senang.


Sudah jam 1 siang. Rumah makan milik ibu Laurent sudah banyak pengunjung. Udara di kota itu sangat panas. Untung saja ruangan itu dipasang 3 AC pada sudut yang berbeda sehingga udara terasa nyaman.


Nini membaca setiap pesanan yang ada di meja kasir. Membantu beberapa pelayan mengantar pesanan. Dia juga mengurus keuangan.


Seorang pria masuk memakai jaket kulit berwarna hitam.


"Ayam bakar 1 sama jus jeruk seperti biasa ya bu." Pria itu mengetuk meja kasir. Dia tidak terlalu memperhatikan Nini. Dikiranya itu ibu Laurent.


Nini mengangkat wajahnya. Lelaki itu terperangah dengan kecantikan wanita di depannya.


"Pesan apa pak?" Nini bertanya sekali lagi karena tadi dia sibuk mengurus pesanan yang lain.


"Ayam bakar 1 dan jus jeruk." Lelaki itu cepat-cepat mengontrol dirinya.


"Oh, silahkan duduk pak. Nanti akan diantarkan" Nini menunjuk meja-meja dan memasang senyum hangatnya membuat lelaki itu terpukau.


"Kak Nini, itu pak Andre meminta anda mengantarkan pesanannya." seorang pelayan menunjuk ke arah lelaki yang tadi.


Nini mengernyitkan dahinya


"Kenapa harus saya?"


"Gak tahu kak. Tapi dia itu pelanggan ibu Laurent dan dia juga cukup akrab dengan semua orang di sini."

__ADS_1


"Baiklah." Nini menurut saja. Dia tidak ingin membuat pelanggannya kecewa.


Setelah siap, Nini mengantarkan pesanan tadi.


Andre sangat bahagia melihat wanita cantik itu menghampirinya membawa pesanan tadi.


"Silahkan dinikmati pak. " Nini menyodorkan makanan itu lembut lalu kembali memasang senyumnya.


"Eh, bisa ngobrol sebentar?" Andre menahan kepergian Nini


"Ada apa?" Nini sudah duduk menghadap Andre


"Kamu anaknya ibu Laurent yang bekerja di Jakarta itu ya?" Andre mulai bertanya.


"Kok tahu?" Nini merasa heran dengan lelaki yang sok tahu ini


"Iya, aku dan ibu sangat dekat. Dia sering menceritakan tentang kamu. Dan" Andre terdiam sejenak.


Nini mengangkat alisnya menunggu kelanjutan cerita lelaki itu.


"Eh kita belum kenalan. Aku andre."


"Nini." Wanita itu membalas jabatan tangan Andre.


"Tadi mau bilang apa ya?" Nini bertanya mengingat perkataan yang ditunda Andre tadi


"Oh dan saya adalah salah satu anggota pak Haris." Andre memperkenalkan dirinya sebagai seorang anggota polisi.


Nini manggut-manggut. Dia sudah mengerti tanpa perlu penjelasan panjang lebar lagi.


"Nak Andre." tegur ibu Laurent ketika melihat langganannya


"Ehh duduk dulu sayang." ibu menarik tangan Nini saat dia hendak berdiri


"Silahkan makan nak." ibu menegur Andre yang dari tadi membiarkan makanannya


"Baiklah bu. Aku makan ya bu, Nini." Andre menegur sopan


"Kemana aja, udah lama gak ke sini." tanya ibu pada Andre


"Ada kegiatan bu, jadi aku gak sempat ke sini." Andre menjawab sambil terus menikmati makanannya.


"Kalian udah kenalan?"


"Udah bu. Jangan diganggu orang lagi makan juga." Nini menjawab ibunya dengan sedikit kesal


"Gak papa kok Nini." Andre menyebut nama Nini dengan sok akrab membuat wanita itu terlihat semakin kesal.


Nini menopang dagunya menunggu Andre menyelesaikan makannya. Sementara ibu sudah membantu melayani para langganan.


Andre sudah selsai dia menikmati jusnya sambil memandang Nini yang sengaja melihat ke arah lain.


"Nini." panggil Andre


"Hmmm." Nini menjawab hanya dengan bergumam saja. Sekarang dia sudah mengerti kenapa ibunya meminta dia duduk bersama Andre. Dia yakin pasti ibu ingin menjodohkan mereka.


"Apa ibu pernah menceritakan tentang aku padamu?" Andre yang merasa dirinya pantas tidak malu-malu lagi bertanya


"Gak pernah aku sibuk bekerja jadi jarang komunikasi sama keluarga." wajah Nini terlihat culas. Dia sudah sangat bosan dengan Andre yang sok akrab


"Oh, aku senang kamu akhirnya datang. Selama ini aku selalu menunggumu bahkan hampir putus asa."


Nini membidikkan matanya heran


"Ngapain ditunggu? Hahah kayak kita pernah kenal aja."


"Itu karena ibu berharap agar kita bisa.."


Nini langsung berdiri. Andre diam dan tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Maaf ya, makin banyak orang ni. Aku harus membantu ibu." Nini berjalan tanpa mempedulikan Andre.


Lelaki itu kembali menikmati jusnya. Mencoba memaklumi wanita yang akan begitu ketika pertama kali bertemu dengan calon suaminya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2