
Setelah mandi dan berpakaian, Nini memakai lotion pada tubuhnya juga make up tipis di wajahnya.
Dia sudah terlihat sangat cantik. Beberapa pelayan masuk dan membersihkan kamar tidur mereka.
Nini berjalan keluar mencari angin sebentar. Langkah kakinya membawa dia ke danau buatan di belakang rumah para pelayan.
Nini menikmati udara segar di tempat itu, sesekali melihat ikan-ikan dan tertawa sendiri.
" Aku kangen rumah." Nini teringat akan rumahnya, di sana juga ada kolam ikan kecil yang dibuat ayahnya.
" Non." Sapa ibu Idah dari belakang.
Nini kaget lalu berbalik ke arah bu Idah. Dia memegang dadanya.
" Maaf ya non udah buat non kaget." ibu Idah menundukkan kepalanya dalam
" Ehh ibu Idah gak papa kok." Nini tersenyum simpul.
" Ngapain di sini non?" tanya ibu Idah
" Bosen di rumah bu. Makanya aku ke sini, di rumah gak ada orangnya." Nini menatap sebuah pohon besar di seberang
Ibu Idah menggenggam tangan Nini.
" Non gak sendiri kok, kan ada saya."
" Makasih ya bu." Nini merasa sangat bahagia.
Tuhan, kenapa Kau begitu baik bagiku? Di sini aku tidak punya keluarga tapi betapa banyak orang-orang yang mencintaiku seperti seorang ibu pada anaknya.
" Bu Idah gak sibuk kan?" tanya Nini lagi, dia ingin bertanya banyak tentang keluarga suaminya.
" Gak non. Ada apa?"
" Gak papa bu." Nini menatap ke depan.
" Bu Idah.?" Nini menatap mata bu Idah
" Ya non.!" jawab bu Idah lembut
" Apa bu Idah gak punya keluarga? Seingat saya ibu bilang kalo semua yang kerja di sini tidak diperbolehkan menikah. Apa ibu Idah sama sekali gak ada niat buat nikah gitu?" tanya Nini penasaran.
Mata ibu Idah beralih menatap jauh ke depan. Dia menghembuskan nafasnya perlahan. Sesekali dia menggangguk kepalanya. Ada kesedihan tergambar di wajahnya yang mulai mengerut.
" Ada apa bu?" Nini keheranan
"Non, saya sudah mempunyai suami dan anak." Suaranya terdengar parau
" Lalu?" kali ini Nini semakin bingung
"Lalu mereka pergi meninggalkan saya non." ibu Idah beralih pandangan menatap Nini di sebelahnya.
Nini mengangkat kedua alisnya tinggi dan mengerutkan dahinya. Tampak jelas bahwa dia bingung dengan cerita ibu Idah.
ibu Idah tahu Nini tidak mengerti dengan ceritanya. Dia menguatkan hatinya lalu bercerita.
" Saya sudah menikah dan mempunyai 2 orang putra non."
"Kok bisa ya ibu kerja di sini, kan peraturannya gak boleh berkeluarga."
" Mereka meninggal non."
Nini membuka mulutnya dia sangat terkejut.
"Meninggal?? Tiga-tiganya??" tanya Nini lagi memastikan lalu menutup mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
Ibu Idah mengganggukkan kepalanya. Wajahnya kembali murung mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Wanita tua itu memperhatikan Nini dan mengelus lembut rambut Nini
" Berapa umur non sekarang?"
"26 tahun bu." Nini menjawabnya dengan penuh iba. Dia tidak menyangka betapa berat takdir yang harus diterima ibu Idah.
" Kalau saja anakku yang pertama masih hidup mungkin sekarang dia seusia non." ibu idah memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong.
" Maafkan aku bu. Aku tidak bermaksud mengingatkan ibu pada kesedihan itu." Nini mengelus punggung tangan ibu Idah
" Tidak non. Saya merasa senang ada yang mau mendegar kisah saya."
Nini mengganggukkan kepalanya perlahan. Senyum saja sudah enggan baginya.
Ibu Idah kembali memandang ke depan. Menerawang kembali masa lalunya.
****
Malam itu,Cuaca sedang mendung. Gerimis membungkus kota kecil tempat Idah dan keluarga kecilnya menetap.
Idah bekerja pada sebuah restoran sebagai staf koki. Sedangkan suaminya Yoga seorang arsitek.
Kebetulan malam ini Idah libur kerja. Dia sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Suami dan kedua putranya sedang asyik bermain di teras depan. Anak pertamanya bernama Kaka dan anak keduanya bernama Dede.
" Papa, Dede pengen es krim." rengek Dede pada papanya.
" Hujan gini kok makannya es krim?" Yoga merangkul bahu anak bungsunya
" Pengen aja pa." Dede semakin merengek. Dia sudah hampir menangis
" Iya papa. Kaka juga mau es krim." Kaka yang tadinya sibuk menggambar sudah berlari mendekati dan memeluk lutut papanya.
Saat itu kaka berusia 6 tahun dan dede berusia 4 tahun.
Kaka dan Dede hanya terdiam. Mereka memasang wajah cemberut
" Ya sudah ayo kita berangkat. Bentar papa tanya mama dulu"
Yoga menghampiri istrinya yang sedang asyik memasak.
" Wahh sepertinya sibuk ni istriku." kata Yoga mencium pipi istrinya.
" Jangan ganggu pa. Udah sana main sama anak-anak, bentar lagi juga siap kok makanannya." Idah mengusir suaminya dengan lembut.
Mereka saling mencintai satu sama lain. Idah merasa sebagai wanita yang sangat sempurna, memiliki suami yang baik dan 2 putra yang tumbuh sehat.
" Anak-anak mendadak pengen makan es krim sayang. Gimana kamu ijinin gak?"
"Gak boleh papa. Mereka harus makan makanan sehat terlebih dahulu." Idah protes kesal
" Ya sudah. Kami hanya membelinya, nanti sehabis makan baru kita makan ramai-ramai."
Yoga memeluk erat pinggang istrinya yang sedang sibuk
" Hemm iya. Ingat ya jaga kesehatan mereka." Idah memperingatkan dengan tegas.
" Apa kamu tidak ikut?"
" Tidak usah. Papa sama anak-anak aja, cepat kembali ya?" Idah mengantar kepergian suaminya dengan senyumnya yang tulus.
Kaka dan Dede teriak kegirangan ketika mendapatkan ijin dari mama.
Mereka menaiki mobil dengan gembira.
Kurang lebih baru 30 menit suami dan anak-anaknya pergi, Sebuah berita mengejutkan menghampirinya.
__ADS_1
Pada jaman itu belum ada telepon genggam. Hanya ada telepon rumah. Untunglah pada dompet suaminya ada kartu nama yang tertera nomor telepon rumah mereka.
Idah terduduk lemas ketika mendengar berita bahwa mobil milik suaminya jatuh ke dalam jurang dan nyawa ketiga orang di dalamnya tidak bisa diselamatkan.
Setelah pemakaman, Idah memutuskan untuk menjual rumahnya dan memilih berhenti bekerja. Dia meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan.
Sampailah dia pada ibukota yang besar dan ramai. Semakin hari hidupnya semakin susah. Pekerjaan tidak mudah ditemukan.
Sampai suatu ketika, dia duduk di pinggir jalan dengan peluh di wajahnya. Idah mengusap keringat yang bercucuran, meraih dompet ingin menghitung uangnya yang tersisa.
Seorang pria memakai jaket hitam berlari cepat menghampirinya lalu marampas paksa dompet di tangannya.
Idah berusaha sekuat mungkin mempertahankan dompet itu. Sayang, pria itu lebih kuat. Idah menangis sesegukkan di pinggir jalan.
Seorang wanita cantik mendekatinya lalu mengangkatnya berdiri.
" Ada apa? " tanya wanita cantik itu pada Idah
" Aku dijambret." Idah terus saja menangis.
" Kamu mau kemana?" wanita itu kembali bertanya. Dia merasa kasihan dengan Idah
" Saya mencari pekerjaan bu." Idah mengusap air matanya lalu berjalan meninggalkan wanita itu
" Tunggu." wanita itu mengejar Idah lalu menarik tangannya
" Apa kau bisa memasak dan menjaga anak?" wanita cantik itu bertanya lagi.
Idah hanya mengganggukkan kepalanya pelan
" Syukurlah. Ayo ikut denganku." wanita itu menarik tangan Idah menaiki mobil mewah.
Di dalam mobil itu ada 2 orang anak lelaki yang masih kecil. Idah kembali teringat pada anak-anaknya.
****
" Sejak saat itu non, saya bersedia bekerja di sini. Semua itu karena tuan Tony dan tuan Johan yang mengingatkan saya pada Kaka dan Dede." ibu Idah mengusap wajahnya berusaha membuang jauh kesedihan yang ada di dalam hatinya.
Nini menagis mendegar kisah sedih bu Idah.
" Ada apa non?" tanya ibu Idah ketika melihat Nini menangis
" Aku terbawa suasana bu. Maaf." Nini mengusapa air matanya.
Ibu Idah tersenyum simpul. Memang berat sekali takdir yang harus dia terima.
" Non yang terpenting bagi kita adalah selalu bersyukur dan menerima apa yang Tuhan beri di dalam hidup kita. Waktu terus berjalan, apa yang tidak pernah kita pikirkan suatu saat akan menghampiri hidup kita." ibu Idah mengelus pelan bahu Nini
" Dulu saya tidak pernah berpikir akan kehilangan orang-orang paling berharga di dalam hidup saya non. Cara Tuhan mengambil mereka secara tiba-tiba membuat saya benci seluruh hidup saya. Tapi, setelah bertemu dengan keluarga baik ini saya kembali menyadari bahwa hidup memang harus terus dijalani seberat apa pun cobaannya." mata ibu Idah memandang Nini penuh kasih sayang
" Dan lagi non, bagi saya untuk menghadapi hidup ini hanyalah orang tangguh yang akan bertahan dan terus berjuang. Perjuangan saya sudah selesai. Bekerja di sini dan mungkin suatu saat akan mati di sini juga. Keluarga saya sekarang di sini."
Kata-kata ibu Idah seperti bom yang meledak bagi Nini. Dia tersadar betapa sering dia mengeluh pada Tuhan karena telah
dipertemukan dengan lelaki seperti Johan.
" Hahaha.. Terima kasih non sudah mau mendengar cerita saya. Sekarang saya harus menyiapkan makan siang." kata ibu Idah sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
Wajah ibu Idah terlihat biasa saja, tapi matanya sedang berusaha membendung air mata yang sebentar lagi akan jatuh. Nini bisa melihat dengan jelas mata ibu Idah.
" Terima kasih juga ibu. Kisah ibu akan saya jadikan pelajaran berharga di dalam hidup saya." kata Nini sambil menggangguk mengijinkan ibu Idah pergi.
Ketika membelakangi Nini, air mata ibu Idah berjatuhan. Dia berjalan sambil mengusap air matanya dan segera mungkin kembali tegar seperti biasanya.
Bersambung....
__ADS_1