
Johan berlari mendekati istrinya yang sudah jatuh tersungkur di lantai.
"Nini??" Johan menepuk pipi Nini
"Di mana kamarnya?" tanya Johan pada para wanita itu. Mereka menunjuk sofa yang ada di ruang tengah. Semuanya serba salah tingkah mereka juga takut karena majikan mereka yang mendadak pingsan.
"Apa? Jadi dia tidur di situ?" Johan sudah menggendong istrinya menuju sofa tadi.
Fany dan ibu berlari ke depan mendengar keributan yang terjadi.
"Hei siapa kamu?" ibu langsung memukul bahu Johan ketika melihat lelaki itu menepuk pelan pipi anaknya.
"Maaf. Auhh." Johan berusaha menghindari pukulan itu.
"Ibu, tahan dong. Dia udah bantuin kak Nini." Fany menahan tangan ibunya.
"Lepasin. Dia sengaja ambil kesempatan biar bisa nyentuh anak aku yang cantik ini." ibu menepis tangan Fany.
Ibu kok malu-maluin gini sih. Apa ibu gak nyadar kalau ni cowok ganteng banget. Fany memukul dahinya mendengar perkataan ibunya barusan.
Johan berdiri menjauhi ibu Laurent. Dia tidak menyangka akan punya mertua segalak itu. Ayah dan andika yang tadinya sedang memberi makan ikan di kolam sudah berjalan masuk ingin mencari tahu apa yang terjadi.
"Awas." Andika menggeser beberapa pelayan yang menghalangi jalan mereka.
"Nini kenapa?" tanya ayah ketika melihat anaknya yang tertidur di sofa dan dikeruminin banyak orang. Mata lelaki tua itu berhenti pada Johan yang sedang berdiri salah tingkah.
"Gak tahu ayah. Tapi ni orang berani-beraninya menyentuh anak gadis kita." ibu menunjuk kesal pada Johan.
"Eh, ibu saya ini suaminya Nini." Johan semakin kaku dituduh yang tidak-tidak oleh ibu
"Apa??" ibu melotot pada Johan.
"Ibu. Bisa diam gak? Kalian gak kasihan ya sama kak Nini yang lagi pingsan ini?" Andika membentak ibunya yang sudah semakin tinggi suaranya.
"Ambilkan minyak angin dik." perintah Fany. Dia sudah meremas pelan jemari tangan kakaknya.
"Kalian semua bubar sana. Urus pekerjaan yang belum beres." Ayah mengusir para pelayan yang berdiri di sana. Mereka pun bubar satu persatu.
Johan tetap berdiri di posisinya.
"Siapa kamu?" mata pak Haris menatap tajam pada Johan.
"Saya suami Nini." Johan benar-benar salah tingkah.
Fany memandang sebentar ke arah Johan. Dia kembali mengingat perkataan Nini semalam.
Nini menggoyang pelan kepalanya. Dia sudah menyadarkan diri. Membuka matanya pelan.
"Pelan-pelan kak." Fany memegang tangan Nini yang ingin bangun.
Johan berdehem pelan agar Nini segera melihat ke arahnya.
"Duduk!" ayah memerintah Johan agar duduk. Fany pun bangun agar memberi tempat pada
kakal iparnya.
__ADS_1
Ayah yang duduk menghadap mereka, menatap tajam pada Johan dan Nini. Membuat mereka ketakutan.
"Nini siapa dia?" ayah memandang anaknya yang paling keras kepala itu.
"Dia..."
"Suamimu?" ibu menyambung cepat.
Nini terperanjat memandang ibunya. Lalu melirik pada Fany yang sedang bersandar pada dinding.
Johan menunduk meremas jemarinya.
Ternyata gini ya kalau berhadapan sama mertua galak.
"Ayah aku bisa jelaskan semuanya." Nini menahan rasa takut dalam dirinya.
Andika memberikan minyak angin pada Nini agar menciumnya. Nini hanya menerima dan membuka lalu menghirupnya. Tiba-tiba dia merasa seperti ingin muntah. Wanita itu langsung berlari menuju kamar mandi. Suaranya terdengar jelas oleh orang-orang di sana.
Andika dan Fany saling bertatap bingung.
Nini kembali dengan wajahnya yang pucat. Suasana benar-benar menegangkan.
"Sudah sejak kapan kalian menikah?" tanya ayah lagi ketika Nini sudah duduk
"Sudah hampir 2 bulan ayah." Nini menundukkan kepalanya.
"Hemm.. Kenapa kalian tidak memberitahukan pada ayah?" suara ayah terdengar sangat kecewa.
"Ayah.." Johan ingin berbicara tapi langsung diam ketika ditatap semakin tajam oleh lelaki paruh baya itu.
"Jangan panggil aku ayah. Aku bukan ayahmu."
"Ayah, aku tahu ayah marah saat ini. Tapi bagaimanapun juga kami sudah menikah." Nini berkata pelan. Menahan air matanya.
"Apa yang telah kalian perbuat sampai harus menikah tanpa pengetahuan kami?" wajah ayah semakin kecewa. Dia berpikir yang bukan-bukan tentang anaknya.
"Nini, ayah melepasmu pergi melanjutkan pendidikan di kota itu dengan berat hati. Tapi ayah merasa kuat karena ayah yakin kamu adalah anak baik-baik."
"Ayah. Percaya padaku, selama ini aku menjaga diriku dengan baik." air mata Nini sudah jatuh. Dia tidak tahan lagi dengan dugaan ayahnya.
"Maafkan saya pak." kali ini Johan yang bersuara
"Kami menikah karena sebuah desakkan. Demi menyelematkan ibu saya yang sakit. Kami dijodohkan karena ibu mengenal Nini. Sebelumnya saya dan anak anda tidak saling mengenal."
"Begitu?" ayah menggangguk pelan. "Kalian menikah tanpa restu orangtua."
"Maafkan aku ayah. Aku ke sini ingin mengatakan itu tapi aku belum siap."
Ibu Laurent mendekati suaminya dan mengelus pelan bahu pak Haris
"Sudah ayah. Jangan membuat Nini semakin menderita. Apa ayah tidak melihat mereka sepertinya saling mencintai?"
"Baiklah. Fany, bawa kakakmu ke kamar. Kau ikut aku." perintah ayah pada Johan.
Nini hanya melihat sebentar pada Johan.
__ADS_1
"Andika, bawa barang-barang kakak iparmu masuk." ibu memerintah anak lelakinya.
"Masih apa kau di situ? Ikut aku!" ayah menatap Johan yang masih duduk
Johan pun berdiri dan mengikuti ayah mertuanya.
"Lepaskan sepatumu." perintah ayah ketika mereka sudah sampai di tepi kolam ikan yang kecil.
Johan menuruti.
"Bersihkan kolam itu sampai bersih. Jangan ada satu pun ikan yang terluka." kata ayah lalu pergi meninggalkan Johan sendirian.
"Apa? Aku mana bisa melakukan ini?" Johan menatap kolam ikan yang banyak lumutnya.
Dia pun memutuskan untuk turun. Kakinya terasa geli menyentuh lumut-lumut kolam itu. Dengan perlahan dia mengangkat tumbuhan itu dan membuangnya. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia sangat jijik.
Andika yang mengamati dari jauh merasa kasihan dengan kakak iparnya itu. Dia memutuskan untuk membantu.
"Mari saya bantu kak." Andika melompat masuk dan mengangkat lumut itu lalu membuangnya.
"Terima kasih." ucap Johan
"Siapa nama kakak?" tanya Andika penasaran
"Johan. Kalau kamu?"
"Andika."
Mereka bergotong royong membersihkan kolam itu. Johan merasa senang punya temab bicara yang asyik seperti Andika. Mereka bercerita banyak tentang Nini.
Sesekali mereka tertawa saat Andika menceritakan masa kecilnya bersama Nini.
Ayah melihat mereka dari kejauhan. Pandangannya fokus pada Johan yang sepertinya agak kesusahan membersihkan kolam itu. Ibu memeluk bahu suaminya dari belakang.
"Kenapa ayah tega memperlakukan suami Nini begitu?" tanya ibu lirih pada ayah
"Ayah sedikit kecewa bu." mata ayah masih memandang pada Johan
"Mereka sudaj sah suami istri."
"Iya bu. Ayaj tahu, hanya saja ayah tidak menyangka Nini menikah tanpa sepengetahuan kita."
Wanita paruh baya itu tersenyum lalu mengangguk pelan
"Iya. Ibu juga awalnya kecewa. Tapi setelah dilihat, sepertinya dia anak baik-baik."
"Bukan masalah baik dan tidaknya bu"
"Iya ibu tahu maksud ayah. Yang penting mereka sudah berani mengakui hubungan mereka. Tidak bukan mereka tapi menantu kita. Jika hari ini dia tidak datang, maka kita tidak akan pernah tahu. Dan yang lebih parah lagi kita pasti akan memaksa Nini menikah dengan Andre."
Lelaki paruh baya itu memalingkan wajahnya menatap istri tercintanya.
"Ibu benar. Memang berat, tapi ayah tetap harus bisa menerima dia."
"Ayo masuk ayah. Biarkan mereka bekerja."
__ADS_1
Ibu Laurent menggandeng tangan suaminya menuju rumah.
Bersambung......