
Fajar kembali menyapa bumi. Johan bangun mengusap wajahnya, menghilangkan rasa kantuknya yang masih tersisa.
Di sebelahnya Nini masih tertidur pulas hanya memakai selimut sampai atas dadanya.
Johan menepuk lembut pipi istrinya.
"Emmmhh.." Nini menggerakkan pipinya ke kiri dan ke kanan
"Ayo bangun, hari ini kita harus ke gereja." bisik Johan lembut.
Nini membuka matanya perlahan, melihat ke arah jendela langit mulai terang. Dia pun bangun sambil mengusap wajahnya, menguap beberapa kali.
Melihat Nini yang sudah bangun, Johan membuka selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi. Nini mengamati tubuh putih Johan yang tidak dibaluti sehelai benang pun.
Hihihi.. Lucu juga ya kalo udah nikah, bebas aja gitu telanjang di depan suami. Nini menahan tawanya.
Setelah 20 menit menunggu, Johan akhirnya keluar juga. Memakai handuk sebatas pinggangnya. Melihat suaminya yang sudah masuk ke dalam ruangan pakaian, Nini langsung bergegas menuju kamar mandi.
Johan melirik sebentar gerakan Nini yang membuatnya tertawa tanpa suara.
Nini sudah selesai mandi, dia keluar. Johan sedang duduk di sofa memakai sepatunya.
Seperti biasa, Nini langsung menuju ruangan ganti. Dia memilih pakaian yang tertutup menyesuaikan dengan tempat yang akan mereka datangi.
Dia sudah memilih dan memakainya. Terlihat cantik.
Nini keluar sambil memakai jam tangan. Johan sudah selesai dan dia akan selalu menunggu walaupun kesal.
"Apa kita berangkat bersama ayah dan ibu?" tanya Nini sembari memakai riasan di wajahnya.
"Yidak. Ayah dan ibu akan beribadah sore nanti. Pagi ini mereka sedang melakukan olahraga bersama di balai kota."
"Oh ya? Kenapa tadi kita tidak ikut juga?" wajah Nini cemberut.
"Kau ingin mengabaikan Tuhanmu, hanya untuk hal-hal yang tidak penting itu?" Johan mendelik kesal.
"Bukan begitu, kan kita bisa ibadahnya sore nanti sama ayah dan ibu?" Nini masih merias wajahnya
"Jadi kau ingin membatalkan ibadah pagi ini?" pertanyaan Johan mengatakan kalau dia sudah mulai kesal.
"Ihhh biasa aja tanggapannya. Siapa juga yang mau batalin? Maksud aku itu kalau aja aku tahu dari kemarin." Nini merapikan rambutnya sebentar.
"Aku sudah selesai." kata Nini membalikkan tubuhnya melihat Johan sambil memasang senyum cerianya.
Dia memang selalu terlihat cantik disetiap suasana. Bahkan dengan riasan yang sangat tipis sekalipun.
" Ayo berangkat." kata Johan sambil memberikan tangannya untuk digandeng.
__ADS_1
Nini menggandeng tangan suaminya dengan hangat.
Hubungan keduanya sudah agak membaik, meskipun mereka memang belum saling mencintai.
Dalam perjalanan menuju gereja, Nini memandang keluar jendela mobil, melihat aktivitas orang-orang di pagi yang cerah ini.
Sesekali tampak beberapa keluarga kecil dengan anaknya yang masih balita sedang berjalan santai.
Nini tersenyum bahagia.
Apakah suatu hari nanti, aku akan bahagia begitu?
Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di halaman gereja. Johan mencari tempat untuk memarkir mobilnya.
Setelah itu, mereka turun. Sudah ada banyak orang di sana. Lagi-lagi Nini melihat pasangan muda dengan anak mereka yang masih kecil. Johan yang ingin menggenggam tanganya,mengernyitkan dahi bingung melihat sikap istrinya.
"Ada apa?" tanya Johan sambil menyentuh bahu Nini, membuatnya kaget.
"Ah tidak apa-apa, ayo masuk." Nini menggandeng mesra lengan suaminya.
Sepulang ibadah, Nini meminta Johan untuk berkunjung ke panti asuhan, tapi Johan menolaknya.
"Ya sudah." kata Nini dengan kesal sambil mendengus
Johan menahan tawanya. Akhir-akhir ini dia mulai suka membuat istrinya kesal, baginya wajah Nini akan terlihat sangat lucu.
"Kita sarapan dulu." kata Johan sambil memutar kemudinya menuju sebuah cafe kecil.
" Aku belum lapar." jawab Nini ketus.
"Baiklah kalau kau tidak lapar, tunggu saja di sini. Tidak usah banyak protes aku tidak ingin berdebat." Johan melepaskan sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil. Ketika hendak turun dia masih sempat melihat istrinya yang masih duduk diam seperti patung
"Apa kau tidak akan ikut?" tanya Johan serius
"Sudah aku bilang, aku tidak lapar." mata Nini memandang lurus ke depan.
Johan menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Baiklah tunggu di sini." Johan benar-benar keluar.
Nini semakin kesal dengan sikap Johan yang tidak pernah menghargai dirinya. Mata Nini terus memperhatikan Johan yang sudah menghilang di balik pintu cafe.
"Hmmmm." Nini menggumam kesal, lalu hendak keluar.
"Kenapa ini?" Nini memukul kesal pintu mobil, ternyata Johan sudah mengunci mobilnya secara otomatis.
"Sialan." Nini meraih ponselnya mencari nama Johan dan menelpon
__ADS_1
Setelah tersambung, Johan hanya melihat tanpa menerima panggilan itu. Dia tertawa pelan sambil membayangkan seperti apa wajah Nini sekarang.
"Ihhhh... Gak diangkat." Nini hampir membanting ponselnya.
"Dasar suami durhaka! Tega banget makan tanpa peduli dengan istrinya. Apa dia gak bisa mengerti dengan keinginanku?" kata Nini dengan nada kesalnya. Dia sudah hampir berteriak, tapi dia segera mengontrol emosinya.
"Uhhhhh.. Lama banget, ngapain aja dia dalam? Godain para cewe di sana? Atau masih tebar pesona memasang wajah tampannya lalu bertingkah seolah dialah yang paling tampan di dunia ini??" Nini sudah tidak sabar lagi, melihat pintu cafe yang belum juga terbuka.
"Aku harus apa? Sepertinya dia sengaja berlama-lama di dalam." Nini melipat tangannya di dada.
Pintu terbuka, wajah Nini mulai berharap, sayang yang keluar adalah sepasang remaja sambil berpelukan.
"Johan?" Nini sudah hampir menangis, dia benar-benar kesal harus menunggu selama ini. Sudah hampir 1 jam dia ditinggalkan Johan.
"Lihat saja, begitu datang aku akan memukulmu." air mata sudah jatuh, Nini tidak bisa menahannya lagi. Dadanya sudah sangat sesak, dikunci lama-lama dalam mobil dan diabaikan begini.
Sementara Johan di dalam sedang menikmati kopi hangatnya . Dia sengaja berlama-lama agar membuat istrinya marah.
Kopi di cangkirnya sudah habis. Johan membayarnya lalu keluar membawa bungkusan aneka macam kue yang dibelinya untuk Nini.
Dia membuka pintu mobil,matanya langsung tertuju pada Nini yang membelakanginya.
Nini tidak ingin menunjukkan matanya yang sembab pada Johan.
"Ini makanlah, butuh energi banyak untuk marah." kata Johan menyodorkan bungkusan itu pada Nini.
Nini tidak menghiraukannya, tangannya justru menepis kasar pemberian suaminya.
Bungkusan itu jatuh, Johan menggeleng kepala lalu mengangkat isinya yang berserakan. Dia keluar lagi, membuang semua kue itu pada tempat sampah.
Johan sudah masuk ke dalam mobil, belum sempat memasang sabuk pengaman, dia melirik sebentar pada Nini memegang bahu istrinya.
Nini yang merasa pintu mobil sudah ditutup, langsung membalikkan tubuhnya ketika Johan menyentuh bahunya. Dia memukul dengan kasar dada Johan. Mendorong tubuh suaminya, lalu menangis.
"Ada apa denganmu?" tanya Johan, berusaha menahan pukulan Nini yang terus mendarat di bahu dan dadanya
"Aku benci kamu. Jahat!! Lepaskan tanganku, kau harus merasakan ini." Nini meronta ingin melepaskan tangannya, tapi tenaganya kalah jauh dengan Johan. Dia menangis sesegukan, amarahnya belum tersalurkan semuanya.
"Lepaskan aku. Hikss... Hikss.. Hikksss" isak tangis Nini membuat Johan merasa bersalah. Dia tahu Nini sudah sangat kesal saat keinginannya mengunjungi panti tidak terpenuhi.
Johan melepaskan tangan Nini, dia sudah pasrah kalau memang harus dipukul lagi. Tapi Nini tidak memukulnya, wanita itu membelakangi suaminya sambil terus menangis.
"Maafkan aku." kata Johan sambil menarik lembut bahu istrinya. Nini mendorong tangannya kasar.
"Ya sudah lebih baik kita pulang." Johan menghidupkan mobilnya dan melajukannya menuju rumah.
Bersambung.....
__ADS_1