Janji Suci

Janji Suci
Bab 54


__ADS_3

2 jam penerbangan, akhirnya mereka tiba di bandara terbesar negara ini. Para pelayan dan supir sudah menunggu majikan mereka di bandara.


Doni juga sudah menanti sahabat sekaligus bosnya.


"Selamat datang pengantin baru." ocehan Doni membuat Johan memukul bahunya.


"Berisik. Bawa itu barang-barangku." perintah Johan.


"Ohh, maaf tuan. Saya hanya ingin menjemput kalian bukan membawa barang-barang kalian." Doni melipat tangannya dan mencibir.


"Eh. Tuan dan nyonya. Selamat datang." Doni langsung membungkuk hormat pada Tuan dan nyonya Hartono. Ibu Isam membalasnya dengan senyum.


"Nak ayah dan ibu lebih dulu ya. Masih ada urusan penting lainnya." pamit ibu pada Johan dan Nini.


Mereka bertiga melambaikan tangan pada rombongan ayah dan ibu.


"Apa kalian juga langsung ingin pulang ke rumah?" tanya Doni pada pasangan suami istri itu.


"Iya. Antarin ya. Kasian Nini pasti kecapean." Johan memeluk pinggang istrinya.


"Siap bos. Ayo Nini." Doni mempersilahkan mereka masuk ke mobil.


"Gimana sama bulan madu kalian?" Tanya Doni ketika mereka sudah meninggalkan bandara itu dengan mobil Jeep putih.


"Bulan madu?" Nini mengernyitkan dahinya heran.


"Hahah becanda kok. Maksud aku gimana sama kunjungan kalian ke sana?"


Johan tidak mempedulikan pertanyaan Doni. Dia tahu sahabatnya hanya ingin bergurau. Dia memilih diam, bersandar pada kursi mobil.


"Biasa aja kok." Nini yang menjawab.


"Masa sih? Hahha."


"Kamu kok malah ketawa?" Nini melotot kesal.


"Maaf. Tapi yang aku lihat kayak ada perubahan aja gitu sama kalian."


"Iya ahli psikolog. Lebih baik tutup mulutmu itu. Aku tidak ingin diganggu dengan gurauan murahanmu itu." Johan melirik malas pada Doni.


"Ehh. Kamu kok kasar banget sama dia?" Nini menepuk tangan suaminya.


"Udah biasa kok Nini. Hahah, kamu gak usah kaku gitu. Aku sih gak akan termakan perkataannya Johan." Doni menatap Nini dari kaca pengemudi

__ADS_1


"Maaf ya."


"Astaga Nini, aku ini sahabatnya. Kami sudah biasa seperti ini.Suamimu itu memang menyebalkan tapi aku sih biasa aja."


Nini terdiam. Mendengar perkataan Doni, dia tahu mereka memang sepertinya sudah biasa berkata begitu.


"Hemmm iya deh." jawabnya singkat.


40 menit perjalanan, sampailah mereka di kediaman keluarga Hartono.


"Selamat datang kembali tuan dan nona." sambut ibu Idah dengan bahagia.


Nini memeluk erat ibu Idah. Johan hanya membalas para pelayan dengan senyum.


"Makasih ya bu." ucap Nini sembari melepaskan pelukannya


"Kenapa non, kok malah bilang terima kasih?" tanya ibu Idah bingung.


"Heheh.. Nanti aja kita bicaranya bu."


"Baiklah non. Mari saya antar ke dalam."


Nini menggangguk. Dia memang sangat lelah.


"Iya. Emang kamu gak istirahat?" tanya Nini. Dia sudah berbaring pada ranjang.


"Tidak. Doni sedang menungguku, ada pertemuan penting."


"Apa gak bisa dia mewakili dulu?"


"Gak bisa sayang. Sudah kamu istirahat ya, aku mau mandi dulu." Johan mencium kening istrinya. Kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Nini yang sangat kelelahan, tidak membutuhkan waktu lama untuk tertidur nyenyak.


Dia tenggelam dalam mimpinya.


Johan keluar dan hanya memakai handuk. Dia melihat Nini yang sudah nyenyak.


Didekati istrinya. Dia memandang wajah cantik itu. Mencium lagi kening dan mengelus lembut perut istrinya.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Aku mencintaimu." ucapnya lirih.


****

__ADS_1


Nini membuka matanya. Mengusapnya pelan dan melihat ke arah jam. Waktu menunjukkan pukul 15.40. Dia bangun dan merengangkan ototnya. Menguap malas.


"Mandi ah." gumamnya lalu melepas pakainnya dan menuju kama mandi.


Selesai mandi dan berpakain. Dia memilih berjalan berkeliling taman. Langkah kakinya membawa dia menuju danau di belakang rumah para pelayan.


Matanya memandang danau itu. Tapi pikirannya jauh.


"Non." suara ibu Idah membuat Nini kaget.


"Maaf non." Ibu Idah menunduk


"Eh. Bu Idah. Gak papa kok." Nini tersenyum.


"Bosan ya non?" tanya bu Idah ketika dia memperhatikan wajah Nini


"Iya bu. Aku sendirian aja di rumah. Jadi ke sini deh."


"Non, maaf. Tadi kenapa kok malah ucapin terima kasih sama saya?" tanya ibu Idah penasaran.


Nini memandang wanita paruh baya itu. Segaris senyum tulus tergambar di wajahnya.


"Terima kasih karena ibu sudah pernah menceritakan kisah ibu pada saya."


"Maksud non?" ibu Idah semakin merasa bingung.


"Dari kisah ibu, saya belajar untuk bersyukur." Nini menghembuskan nafasnya pelan. Teringat akan saat pertama dia dan Johan yang tidak saling mencintai.


"Sejak mendengar cerita ibu, saya memilih untuk tetap bersyukur dengan apa yang saya miliki dalam hidup saya. Awal pernikahan kami, semuanya terasa sangat berat. Kami selalu bertengkar dan tidak mau saling mengalah. Memang kadang dia memilih mengalah." Nini menatap ibu Idah.


"Saya pernah berpikir untuk berpisah. Tapi dia justru tetap ingin bertahan meski tidak ada cinta di antara kami. Setelah dijalani dan saya memilih untuk tetap bersyukur, sampailah pada saat sekarang. Kami saling mencintai dan Puji Tuhan, aku sudah hamil." air mata haru jatuh


Ibu Idah memeluk bahu Nini.


"Selamat ya non. Akhirnya keluarga ini akan terasa sempurna. Sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Saya berjanji, akan menjaga non dengan sepenuh hati." kata ibu Idah tulus.


Nini menceritakan banyak tentang keluarganya. Dan Johan yang tidak ingin dianggap ayahnya.


Sesekali mereka tertawa.


Ibu Idah sangat bahagia dengan berita gembira itu. Mereka sudah saling mencintai dan sebentar lagi akan dikaruniai seorang anak.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2