
Doni merapikan kerak bajunya. Sudah berkali-kali dia menatap wajahnya pada cermin.
"Hemmm... Dia suka gak ya?" gumamnya sambil merapikan kedua alis dengan jari telunjuknya.
"Lagi ah.." Doni menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.
"Ahhh.. Aku lupa minta alamat rumahnya." Doni memukul dahinya.
"Aha.. Nini." Dia menjentikkan jarinya.
Tangannya meraih ponsel yang dibiarkan tergeletak di atas ranjang.
"Hallo. Kirimin aku nomornya Maya dong." ujar Doni ketika sambungannya diterima.
"Siip deh. Sekarang ya." katanya lagi lalu mematikan sambungan itu.
Doni senyam-senyum sendiri saat menerima pesan dari Nini.
"Ohh.. Jadi ini nomor jodohku." cengirnya lebar.
Tanpa menunggu lama, dia langsung menghubungi nomor itu.
"Hallo. Ini Maya bukan?" tanya Doni dengan suara sopan.
"Ohh.. Minta alamat kamu dong, biar aku jemput." sambungnya lagi.
"Ingatkan pesannya Johan kemarin? Hahaha.. ya sudah kirim alamatnya, biar aku ke sana sekarang."
"Belum selesai dandan? Hehehe, iya deh gak papa kok. Aku sih gak marah kalau nunggu lama."
"Ok deh. Bye." tawa bahagia menghiasi wajahnya saat memutuskan sambungan itu.
"Ayo Doni, jemput jodohmu." kalimat penyemangat untuk dirinya sendiri.
30 menit kemudian Doni sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Maya.
"Permisi." ucap Doni sambil mengetuk pintu.
Maya membukakan pintu.
"Wow.." Doni membelalakkan matanya melihat Maya yang sangat cantik. Berbalut gaun berwarna biru dengan dandanan tipis, serta rambut yang diikat ke atas.
Maya merasa kesal dengan tatapan itu. Wajahnya terlihat malas.
"Mau jalan gak?" tanya Maya sambil melipat kedua tangannya.
"Ehh jalan kok. Ayo." Doni memberikan tangnnya untuk di gandeng.
"Ihhh.." Maya memiringkan bibirnya lalu menepis tangan Doni kasar.
"Heheheh... Ayo." Doni merasa malu sendiri.
"Gak perlu, aku bisa buka sendiri kok." senyum kesal Maya terukir saat Doni ingin membukakan pintu.
Galak amat sih ni orang. Batin Doni.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu. Bahkan Doni pun merasa canggung untuk berbicara, sikap Maya seolah tidak mau berbasa-basi.
"Yuk." ucap Doni saat mereka sampai di depan rumah milik keluarga Hartono.
"Selamat malam semuanya." sapa Maya sopan pada ayah dan ibu yang sedang duduk di ruangan tengah.
"Selamat malam. Mari nak." panggil ibu lembut.
Doni menundukkan kepala kepada tuan dan nyonya besar.
"Wahh.. Doni, cantik juga pacar kamu." ibu Isma menggoda mereka.
Maya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menggigit bibir bawahnya.
"Hahah.. Terima kasih nyonya." Doni melirik Maya.
"Ayo duduk." ayah mempersilahkan mereka.
__ADS_1
"Yang lain mana ya bu?" tanya Doni dengan bahasa santai.
Loh, tadi dipanggil nyonya sekarang kok malah ibu? Maya mengernyit bingung.
"Masih di kamarnya. Bentar lagi turun kok. Kita langsung ke meja makan aja yuk." ibu Isma berdiri sambil memeluk pinggang Maya.
"Ehh, iya bu." Maya merasa canggung diperlakukan hangat oleh seorang wanita terhormat seperti ibu Isma.
"Malam ini kita makannya di luar." ujar ayah.
"Di luar?" Doni yang berjalan di samping ayah terlihat bingung.
"Iya Don. Di luar rumah, tuh di dekat danau buatan ayah." sambung ibu Isam sambil tertawa.
"Hahah. Aku kirain beneran di luar." jawab Doni.
"Lah, itu di luar kan?" ayah kembali bercanda.
Mereka semua tertawa ceria kecuali Maya yang masih belum akrab.
"Idah, tolong panggilkan Johan dan Nini ya." perintah ibu Isma saat sampai di meja makan.
"Baik nyonya." sahut ibu Idah.
"Oh ya. Nama kamu siapa?" tanya ibu Isma pada Maya.
"Maya bu." jawab Maya dengan malu-malu.
"Udah lama ya pacaran sama Doni?" pertanyaan ibu membuat Maya melotot.
"Dia ini temannya Nini bu. Aku cuma menjemputnya." Doni menjawab.
"Emmm.. Tapi kalian cocok banget. Ya kan ayah?" ibu Isma tersenyum.
"Ibu, lihat tu si Doni udah malu banget." sindir ayah pada Maya yang sudah menunduk. Wajahnya merah padam.
"Maaf ya Maya." ibu Isma merasa bahagia.
"Iya bu. Tidak apa-apa." jawab Maya masih tertunduk.
"Gak juga mbak." Maya merasa bahagia.
Akhirnya datang juga mbak. Aku tersiksa dari tadi.
"Ayo." Johan menarik kursi mempersilahkan istrinya duduk.
"Terima kasih." ucap Nini.
"Ehemmm." Doni berdehem.
"Makanya pacaran Don." Johan meledek sambil melirik Maya.
Mereka tertawa bahagia, lagi-lagi Maya merasa canggung.
"Ayo makan." ayah mempersilahkan semuanya.
Bagi Maya makanan yang ditelan serasa berduri. Sepanjang makan, mereka terus saja menjodohkannya dengan Doni terlebih Johan.
Doni hanya tertawa, dia merasa senang. Belum lagi melihat wajah Maya yang tersipu.
"Kapan nikahnya Don?" Johan merasa semakin ingin membahas melihat kelakuan Maya.
"Hahaha. Ngomong apa sih bro?" jawab Doni wajahnya masih bahagia.
"Uhukkk." Maya menepuk dadanya.
"Minum." Doni mengangkat gelas berisi air.
"Makasih." tatapan Maya pada Doni penuh kebencian.
Sedangkan Doni merasa menang.
Selesai makan Nini mengajak Maya berkeliling taman. Diikuti Johan dan Doni. Sementara ayah dan ibu kembali ke rumah utama.
__ADS_1
"Maya, umur kamu berapa sekarang?" tanya Nini.
"25 mbak."
"Aku rasa sudah saatnya kamu mencari seorang kekasih." senyum simpul Nini penuh harap.
"Ahh, baru 25 mbak. Lagian mbak waktu itu nikahnya 26 kan?" Maya mengangkat kedua bahunya.
"Jadi kamu mau ikut jejak aku?" Nini berhenti menatap Maya.
"Iya mbak. Aku belum pengen."
"Coba kamu lihat dia." tunjuk Nini pada Doni.
"Kenapa?" Maya mengernyit.
"Aku rasa dia adalah lelaki yang tepat untukmu Maya. Dia tampan dan juga baik." ujar Nini.
"Hmmmm." Maya bingun mau jawab apa.
"Ada apa?" tanya Nini.
"Apa mbak yakin dia mau sama aku? Sementara aku pernah ditinggalkan karena sikapku yang judes dan tidak bisa memberi perhatian." keluh Maya.
"Tidak masalah Maya. Aku yakin dia bisa menerima itu. Setiap orang yang mencintai kita harus bisa mencintai juga sikap dan karakter kita, entah baik dan buruknya. Kalau ada yang pergi karena tidak betah dengan sikapmu, itu hanya alasan. Mungkin saja dia sudah tidak mencintai lagi."
"Aku takut itu terulang lagi mbak."
"Percaya sama aku. Dia tidak akan meninggalkan kamu." Nini menepuk bahu Maya.
"Aku hanya ingin melihat kamu bersanding dengan lelaki yang tepat May. Tapi, jika hatimu menolak maka aku tidak punya hak untuk itu."
"Akan aku pertimbangkan lagi mbak." Maya menatap Doni yang sedang tertawa bersama Johan.
"Aku berharap kamu akan menyetujui keinginan kami." senyum Nini kembali terukir.
"Iya mbak." Maya pun ikut tersenyum.
"Aku antar pulang?" tanya Doni saat mereka ingin pulang.
"Ya iyalah. Emang siapa yang mau antar lagi? Kan tadi aku ke sini gak bawa mobil?" cerocos Maya kesal.
"Heiii.. Jangan marah-marah dong." Nini memukul pelan bahu Maya.
"Kan di sini banyak supir. Siapa tau aja tiba-tiba kamu gak mau diantar sama aku?" Doni menepuk mobil jeepnya.
"Hmmmm." Maya mendengus pelan.
"Doni, antar calon istrimu. Hati-hati ya. Aku sama istriku mau tidur." Johan menarik masuk Nini tanpa mempedulikan Maya dan Doni.
"Ehh.." Maya ingin protes tapi dia langsung terdiam.
"Gimana?" Doni mengangkat alis matanya dan tersenyum.
"Apaan?" Maya mendelik.
"Calon istri?" Doni tertawa kecil.
"Terserah. Antar aku sekarang juga." Maya membuka pintu mobil.
Doni ikut masuk, duduk di balik kemudi. Dia melirik Maya yang tampak cemberut.
"Becanda Maya. Kalau kamu gak suka maaf." ujarnya. Lalu menghidupkan mobil meninggalkan kediaman keluarga terhormat itu.
"Terima kasih." ucap Maya saat turun dari mobil.
"Sama-sama." sahut Doni.
"Maya.." suara Doni menghentikan langkah Maya.
"Apa aku bisa diberi kesempatan untuk lebih dekat denganmu?"
"Tentu." Maya tersenyum simpul lalu berlari menuju rumah.
__ADS_1
Doni tertawa kecil. Merasa bahagia.
Bersambung....