
Nini membuka matanya perlahan. Dilihatnya Johan yang masih mendekapnya erat. Tubuh Johan terasa hangat, Nini menyentuh dada suaminya perlahan niatnya ingin membangunkan tapi diurungkan.
Dia melepas perlahan pelukan Johan dengan sangat hati-hati. Sebelum turun dari ranjang, dia masih memperhatikan wajah johan yang masih tidur itu
Dia sangat tampan, harusnya aku bersyukur mendapat suami seperti dia. Tapi entahlah aku justru menyesal dengan pernikahan ini, karena aku memang tidak pantas menjadi pendampingmu.
Nini mengusap wajahnya perlahan, dia ingin mencium kening suaminya tapi cepat-cepat dia membuang pikiran itu.
Lalu beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi mencuci muka agar terlihat segar. Dia meraih handuk kecil yang disediakan di dekat wastafel, mengeringkan wajahnya sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
Nini kembali memperhatikan Johan yang belum juga bangun, dia menyimpan handuk itu di atas sofa lalu berjalan mendekati Johan.
Menyentuh dahi suaminya lembut.
"Hemmmm.." Johan mendegus kasar, merasakan tangan dingin yang menyentuh dahinya.
"Jam berapa ini, kenapa kau membangunkan aku?" Tanya Johan sambil melirik kesal
"Ehh..jam 5." Nini tersentak kaget
"Apa kau ingin aku buatkan sarapan?" tanya Nini perlahan
"Buatkan aku nasi goreng." Johan melambaikan tangan
Nini pun berjalan keluar menuju dapur.
Rumah utama tampak masih sepi, Nini berjalan santai menuju dapur. Dia sudah tahu arah dapur itu jadi dia tidak akan kebingungan lagi.
Ketika membuka pintu dapur, tampak kesibukan sedang terjadi di sana. Ada hampir 20an pelayan memakai pakaian putih dengan celemek berwarna merah dengan sebuah lambang yang tidak asing bagi Nini.
Beberapa pelayan yang melihat Nini, langsung tunduk memberi hormat padanya. Dia langsung merasa tidak enak diperlakukan begitu sopan, dia memasang senyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Seorang wanita paruh baya mendekatinya, lalu tunduk memberi hormat padanya.
"Ehh.. Jangan bu." kata Nini mendekat sambil memeluk bahu ibu itu lembut
"Jangan bu, anda tidak perlu melakukan ini kepada saya." Nini berkata dengan bahasa formal
"Ada apa non? Ini memang sudah menjadi kebiasaan para pelayan di sini."
"Jangan bu. Anda lebih tua dari saya, bahkan umur ibu sepertinya sama dengan ibu saya." Nini menggeleng perlahan
"Tidak non. Kami sudah terbiasa,bahkan kami juga menunduk hormat pada non Michele." kata ibu itu sambil tersenyum penuh kasih sayang
"Hemmm.. Siapa nama ibu?"
"Nama saya Idah non." tangan wanita itu memegang dadanya memperkenalkan diri.
"Dan saya bekerja di sini sebagai kepala pelayan sekaligus kepala koki."
"Wow.. Keren bu. Hahah jadi keinget ni sama ibu di rumah." Nini membayangkan ibunya yang selalu mengatakan bahwa dialah koki di dapurnya.
"Ada yang bisa saya bantu non?" tanya ibu Idah mengalihkan pikiran Nini
__ADS_1
"Ohh iya bu,saya cuma mau bikin nasi goreng buat suami saya. Heheh,bisa siapkan bahannya?"
"Baiklah non, silahkan menuju kompor yang tidak dipakai itu." bu Idah menunjuk sebuah kompor yang memang kosong itu.
Nini menggangguk mengerti lalu berjalan menuju tempat itu. Sementara ibu Idah menuju ruang freezer untuk mengambil beberapa sayuran.
Nini berdiri di pinggir kompor itu sambil mengetuknya perlahan. Beberapa saat kemudian, ibu Idah menghampirinya dengan membawa nasi dan beberapa sayuran yang sudah dicuci bersih.
"Biarkan saya yang mengiris sayuran ini non." tanpa menunggu persetujuan, ibu Idah sudah melakukan pekerjaan itu. Nini melihat tangan bu Idah yang bergerak lincah di atasnya.
Lalu Nini menghidupkan kompor, menaruh fry pan. Setelah panas Nini menuangkan sedikit minyak, lalu memasukkan potongan bawang, setelah agak kecoklatan, dia memasukkan potongan sayur tadi. Membolak-balikkannya, terlihat mulai layu,Nini memasukkan nasi perlahan. Menggorengnya sana sini, memasukkan bumbu dan sedikit kecap.
"Ah sepertinya sudah bu?" Nini bertanya pada bu Idah yang sedang memperhatikan dia bekerja
"Iya non. Sebentar saya ambilkan tempat." ibu Idah pergi mengambil tempat untuk menyajikan makanan tersebut.
Nini mematikan kompor itu, kemudian meraih sebuah kain kecil yang disediakan untuk membersihkan tangannya.
Ibu Idah kembali membawa dua buah piring bebentuk datar, menyendok nasi goreng tadi pada piring-piring itu.
Nini hanya memperhatikan gerakan ibu Idah sambil memikirkan seperti apa rasa masakannya ini? Dia kurang yakin jika Johan akan menyukainya.
Ibu Idah menawarkan diri untuk mengantarkan, Nini menggangguk senang.
Sepanjang jalan menuju kamar,mereka tidak berbicara apa pun meski sebenarnya Nini ingin sekali bertanya banyak hal. Bahkan dengan logo sebuah perusahaan yang tadi melekat pada celemek.
Nini membukakan pintu, ibu Idah merasa tidak enak
S**ebenarnya non tidak boleh membuka pintu untuk pelayan sepertiku. Dia berbeda sekali dengan non Anna.
"Permisi non." ibu Idah menundukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan itu.
Aroma nasi goreng yang lezat mengganggu tidur Johan.
Dia bangun dan mengusap wajahnya.
Kemudian berjalan menuju kamar mandi membasuh wajahnya,mengeringkannya dan berjalan keluar mendekati makanan itu.
Nini sudah duduk manis di sofa sambil menanti Johan.
"Kau yang membuatnya?" tanya Johan ketika sudah duduk di samping Nini.
"Rmmm iya. Tapi dibantuin ibu Idah." jawab Nini sambil mengangkat pelan bahunya.
"Aku akan memakannya." Johan maraih sendok yang sudah disiapkan
Memasukkan suapan pertama pada mulut dan mengunyahnya perlahan.
Nini mengangkat kedua alis matanya tinggi,menunggu komentar suaminya.
Johan melihat ke arah Nini menatapnya beberapa detik
"Enak kok." kata Johan kemudian mengambil suapan berikutnya.
__ADS_1
Nini menghembuskan nafasnya lega, memegang dadanya. Maklum sudah lama Nini tidak memasak lagi di dapur.
"Ayo makan bersama." ajak Johan
"Baiklah." Nini langsung mengambil sendok dan memakannya.
Mereka kembali menikmati makanan itu dengan diam tanpa berbicara.
Setelah selesai, Johan menelpon seseorang dan meminta mereka untuk mengambil piring.
Tidak butuh waktu lama, dua orang pelayan wanita masuk dan mengambilnya lalu berpamitan keluar.
Nini memperhatikan punggung kedua wanita itu sampai menghilang di balik pintu.
Johan kembali menuju ranjang, sementara Nini masih duduk di sofa.
Sebenarnya siapa yang aku nikahi ini?
Aku yakin keluarga ini bukan keluarga yang biasa.
Nini menopang dagunya dengan tangan kiri.
Hari ini adalah hari Sabtu, dia tidak masuk kantor.
A**pa aku ajak dia ke panti aja ya? Nini sedang memikirkan ide.
Dia berjalan menuju ruangan pakaian Johan, di sana dia melihat-lihat model pakaian dengan merk ternama. Nini juga memperhatikan sepatu-sepatu yang tersusun rapi seperti di toko.
Dia berjalan lagi mendekati beberapa lemari besar, mengetuk pintu-pintu lemari perlahan. Dia sedikit penasaran dengan isinya, tapi langsung ditepis keinginan itu.
Sekarang Nini berdiri dekat dengan sebuah
meja yang ada banyak laci.
Nini membuka laci pertama,ada banyak dalaman pria yang dilipat rapi. Dia tersenyum geli lalu merabanya perlahan.
H**ahaha. Punya suamiku.
Membuka laci kedua, ada beberapa ikat pinggang kulit yang digulung rapi.
Membuka lagi laci ketiga, lipatan dasi dengan banyak warna.
Nini manggut-manggut.
Sampai pada sebuah lemari kecil berhiaskan sebuah kotak kecil yang lucu.
"Ihhh imut deh. Gak nyangka orang seperti dia punya koleksi seperti ini?" Nini menyentuh kotak itu perlahan.
Ketika ingin keluar, tanpa sengaja tangan Nini menyenggol kotak itu hingga terjatuh.
Nini terkejut, isi di dalam kotak itu berserakan keluar.
Ada sebuah liontin berbentuk hati,sebuah boneka kucing yang sangat kecil terbuat dari karet, ada satu bangau kertas berwarna perak dan satu lembar foto yang jatuh terbalik. Dengan tulisan J ❤ J.
__ADS_1
Bersambung......