
Hampir jam 11 malam, mobil milik Johan kembali memasuki halaman rumah. Dia keluar lalu menggendong istrinya. 4 orang pelayan pria yang ada di sana langsung bergegas membantu tuan mereka. Dengan hati-hati mereka mengangkat tubuh Nini menaiki tangga menuju kamar.
"Pelan-pelan!" titah Johan ketika mereka hendak membaringkan Nini di ranjang.
Setelah beres, mereka pun berpamitan keluar.
"Non kok bau alkohol ya?" tanya seorang pelayan kepada temannya dengan berbisik pelan.
"Ssshhh.. Kalo tuan Johan dengar gimana?" temannya memperingati. Mereka sudah kembali ke posisi mereka tadi.
Johan mengambil pakaian istrinya. Dia agak kesusahan untuk mengganti pakaian Nini. Diraihnya ponsel lalu menghubungi seorang pelayan wanita.
"Ajak seorang temanmu ke kamarku sekarang juga." Johan langsung mematikan teleponnya.
Orang yang tadi diteleponnya sudah datang bersama temannya. Johan yang sedang duduk di samping Nini langsung berdiri dan menyuruh mereka mengganti pakaian istrinya.
"Pergilah dan beristirahatlah." kata Johan setelah kedua pelayan itu selesai.
Johan mendekati Nini, memperhatikan wajah istrinya. Ada penyesalan besar dalam hatinya.
"Maafkan aku." Katanya kemudian merapikan rambut Nini lalu mencium keningnya.
Tubuh Nini sangat bau alkohol, tapi itu tidak membuat Johan untuk menjauhinya. Johan tetap memeluk istrinya hingga tertidur.
***
Mentari kembali menyapa bumi. Nini membuka matanya perlahan. Dia bangun dan duduk di tepi ranjang. Tangannya memegang kepalanya yang terasa sakit. Tidak lama kemudian dia berlari menuju kamar mandi memuntahkan sisa alkohol dalam tubuhnya. Dia terduduk lemas memegang perutnya. Sekali lagi dia bangkit dan terus saja muntah-muntah. Tubuhnya semakin lemas.
Nini memaksakan kakinya untuk berjalan keluar. Dengan susah payah akhirnya dia sampai pada ranjang. Di tepi ranjang ada sebuah meja kecil, di atasnya ada sebuah surat yang sengaja disimpan. Nini meraihnya dan membaca pesan itu.
**Bersihkan dirimu sebelum turun dan jangan lupa sarapan.
Johan**.
Nini mengabaikan surat itu. Jam di dinding menunjukan pukul 9 pagi. Dia meraih gelas yang berisi air di dekat surat tadi lalu meminumnya setengah bagian. Setelah merasa lebih baik, dia pun kembali menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai mandi, perut Nini pun berbunyi. Dia berjalan menuju ruang makan. Dia melewati ruang tengah, di sana ada Amel dan Anna yang sedang menceritakan kejadian kemarin.
Anna berdehem ketika Nini melewati mereka. Amel berbalik melihat Nini dan pura-pura tertawa agar membuat wanita itu marah.
"Kak Anna, malu apa gak sih jadi rebutan di depan umum?" Amel sengaja menyindir Nini.
"Ya gak dong, malahan bangga. Apa lagi direbutin 2 cowo tampan dan tajir." Anna pun ikut menyindir. Kebetulan semua orang sedang keluar.
Nini menarik kursi dan mulai makan makanan yang masih disediakan di sana. Tadi Johan yang menyuruh agar menaruh makanan di sana sampai istrinya bangun dan memakannya. Dia terus menikmati makanan itu seolah tidak mendegar keduanya.
"Ihhh ogah deh. Aku sih malu ya, masa iya udah bersuami kok masih aja berani godain cowo lain? Hahaha." Amel tertawa puas.
"Ya iya Mel. Itu kalau kamu, kan kalo yang lain pastinya dong seneng. Hahaha." Anna pun menyambung
Selesai makan dan minum, Nini berjalan menghampiri keduanya.
" Udah tertawanya?" tanya Nini santai lalu duduk menghadap mereka.
Dia meraih sebuah stoples yang berisi kue kering. Memakannya lalu menatap 2 wanita itu seolah meminta agar mereka melanjutkan cerita mereka yang tadi.
Anna hanya terdiam kaku. Sedangkan Amel semakin ingin memancing Nini.
" Semalam kamu kemana?" Amel menyunggingkan bibirnya sinis.
"Kenapa?" Nini bertanya balik sambil menikmati cemilan itu.
"Kau bertanya karena khawatir atau hanya sekedar ingin tahu?" tanya Nini lagi.
Matanya menatap tajam pada 2 wanita di depannya itu.
"Menurutmu?" Amel bertanya dengan santai.
"Aku rasa kau tidak perlu tahu." Nini tersenyum, meletakkan stoples itu lalu berjalan. Belum terlalu jauh dia berhenti dan berbalik lagi menghadap mereka.
__ADS_1
" Aku pikir kalian ingin melanjutkan gosip murahan tadi ketika aku sudah di depan kalian. Ternyata kalian hanyalah pengecut."
"Aku bukan pengecut Nini." Amel sudah berdiri
"Iyakah?"
"Aku ingin bilang kalau kau itu wanita rendahan yang tidak tahu malu. Kau menikahi Johan dan mendekati kak Adit."
"Jaga mulutmu yang cantik itu Amel. Kau bahkan lebih rendahan dariku, apa yang kau harapkan dengan datang di rumah ini?" Nini tertawa kecil menggelengkan kepalanya
"Kau membenciku karena aku menikah dengan Johan. Harusnya kau bertanya pada ibu mertuaku, kenapa dia memilih aku dan bukannya kamu?"
"Karena kau wanita licik yang pura-pura baik di depan ibu." Amel sudah semakin geram melihat Nini yang tampak biasa saja.
"Hahah terima kasih atas penilaiannya nona. Sayang, penilaianmu itu justru menjelaskan bahwa itulah dirimu." Nini melambaikan tangannya sambil tertawa pelan dan memilih kembali ke kamarnya.
Anna menelan ludahnya menyaksikan mereka beradu mulut. Amel menatap Nini yang pergi dengan penuh kebencian.
"Wanita perebut." Amel mengepalkan tangannya.
Nini duduk pada tepi ranjangnya, sesaat dia bangkit berdiri dan membuka gorden jendela agar cahaya mentari masuk ke dalam kamar itu. Dia menatap jauh ke depan, butiran air keluar dari matanya.
"Kenapa dengan diriku yang sekarang?"
"Aku benci permusuhan. Sebelum aku menikah dengannya, hidupku baik-baik saja. Aku tidak pernah dijuluki sebagai perebut."
Nini menyentuh kalung pemberian Johan kemarin. Dengan kasar dia menarik kalung itu dan ingin membuangnya melalui jendela.
Tangan seorang pria dengan cepat menghentikan gerakan Nini. Dia tahu itu pasti Johan.
Nini melemaskan tangannya, Johan pun melepaskan genggamannya.
"Kau ingin membuangnya?" tanya Johan berbisik pada telingan istrinya
Nini hanya diam, mengusap air matanya lalu berjalan menuju sofa. Kalung itu masih ada dalam tangannya. Johan duduk di samping Nini, dia menatap istrinya dalam.
"Maafkan aku." Johan ingin membelai wajah istrinya. Tapi Nini menepis tangan itu.
"Aku mohon maafkan aku." Johan memasang wajahnya penuh penyesalan.
Nini masih diam. Dia berusaha untuk tidak lagi menangis di hadapan suaminya.
Johan menyentuh tangan Nini, tapi kembali ditepis istrinya.
"Jangan sentuh aku. Kau tidak boleh menyentuh wanita murahan seperti diriku." air mata Nini kembali terjatuh, dia sudah tidak bisa lagi membendungnya.
"Maafkan aku Nini, aku hanya terbawa emosi."
"Jadi maksudmu, aku harus mengerti dengan emosimu?"
Johan hanya diam, dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.
Nini memandang suaminya.
"Kau meminta aku untuk memahami emosimu, lalu bagaiman dengan perasaanku? Apa karena emosimu yang sesaat itu, aku harus rela perasaanku terluka?" tangis Nini semakin pecah. Bahkan perkataan Amel tadi kalau dia wanita rendahan.
Johan memeluk paksa tubuh istrinya yang memberontak tidak ingin dipeluk.
"Lepaskan aku Johan." Nini berusaha mendorong tubuh suaminya
"Maafkan aku." Johan mempererat pelukannya lalu mencium bahu Nini.
Tanpa disadari, air mata pria itu jatuh.
"Aku mencintaimu Nini. Aku menyadari hal itu. Aku tidak ingin ada lelaki lain dalam hidupmu. Aku mohon maafkan aku." suara Johan terdengar jelas bahwa ia sedang menangis.
Nini berhenti merontak. Dia mendengar isak pelan suaminya.
Johan melepaskan pelukannya, dia menatap Nini lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku." Johan mencium kening istrinya
"Apa kau mau memaafkan aku?" tanya Johan
"Aku memaafkanmu, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Berjanjilah kalau kau mau menurutinya." Keduanya masih saling bertatapan.
"Baiklah, aku berjanji." Johan berkata dengan hati yang berat..Dia tahu Nini tidak akan menginginkan uang atau hartanya, dia hanya takut Nini meminta cerai.
"Aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja. Tapi, aku ingin pulang pada kedua orangtuaku."
"Maksudmu?" Johan bertanya lagi. Dia tidak ingin berpisah dari wanita yang sekarang sudah dicintai
"Aku merindukan orantuaku dan keluargaku di sana. Biarkan aku kembali."
"Kembali, maksudmu apa? Kau ingin kita pisah?"
"Tidak. Aku hanya ingin berkunjung."
Johan menarik nafasnya lega. Dia merasa senang.
"Tentu aku mau. Tapi jangan lama-lama." Johan sudah kembali tersenyum
"Kapan kau ingin ke sana? Aku akan atur jadwal keberangkatanmu." Johan meraih kalung di tangan Nini tadi lalu memasangnya kembali.
"Sekarang." Nini menatap suaminya
Johan mengalihkan pandangannya, seperti memikirkan sesuatu.
" Kau serius?"
Nini hanya diam saja, tapi wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak main-main.
"Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk merapikan barang-barangmu. Apa kau tidak ingin membawa ole-ole untuk keluargamu?" Johan berusaha mencari alasan agar Nini bisa menunda perjalanannya.
"Tidak perlu, mereka hanya menginginkan aku kembali."
"Kau tidak ingin meminta ijin pada ayah dan ibu?"
"Tentu aku akan meminta ijin pada mereka. Tapi, apa pun alasannya aku tetap harus kembali."
Johan mengusap wajahnya.
Memang ini sudah resiko yang harus aku terima.
"Nini, aku rasa ini bukan cara yang benar. Kau pergi ketika kita sedang bertengkar." Johan memegang tangan istrinya.
"Tidak, aku sudah memaafkanmu. Kita sudah tidak lagi bertengkar, aku hanya ingin menemui orangtuaku."
"Baiklah, aku akan menghubungi ayah dan ibu."
Setelah menghubungi ayah dan ibu, Johan tidak menyangka mereka dengan mudahnya memberi ijin pada Nini.
Dengan terpaksa dia meminta beberapa pelayan untuk mengemasi barang-barang Nini.
Johan menelpon Doni, memintanya membeli beberapa hadiah dan sebuah ponsel untuk istrinya.
Tidak butuh waktu lama, semuanya sudah beres. Nini pun sudah selesai berganti pakaian. Tinggal menunggu Doni untuk membawa pesanan Johan tadi.
"Ayo kita ke bandara. Doni akan menemui kita di sana."
"Siapa Doni?" tanya Nini penasaran
"Sekertaris sekaligus sahabatku."
2 koper yang berisi kebutuhan Nini sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
__ADS_1
Johan melajukan mobilnya menuju bandara dengan kecepatan sedang.
Bersambung.......