Janji Suci

Janji Suci
Bab 33


__ADS_3

Johan melonggarkan dasinya ketika sudah sampai di kamar. Dia duduk dan membuang ponsel yang sudah retak layarnya.


"Kenapa?" tanya Nini ketika melihat Johan membuang ponselnya pada tempat sampah.


" Kau sejak kapan di sini?" tanya Johan lalu berbalik melihat meja yang menjadi tempat Nini menyimpan tas ketika pulang kerja.


" Kenapa? Aku sudah pulang beberapa jam yang lalu." Nini melangkah keluar dari kamar mandi menuju ranjang.


" Tumben cepat?" amarah Johan sudah mulai mereda.


" Iya. Sampai beberapa hari ke depan kantorku libur." kata Nini lalu meraih ponselnya


" Baguslah. Aku mau mandi dulu." Johan berdiri berjalan menuju kamar mandi.


Nini memainkan ponselnya. Tiba- tiba ada panggilan video dari Fany adiknya.


" Hallo selamat sore Fan." wajah Nini berubah bahagia melihat Fany sedang bersama ayah dan ibunya. " Ayah ibu.. Nini kangen." air matanya jatuh


Dari kejauhan tampak mata ibunya berkaca- kaca menahan tangis.


Fany berusaha menenangkan situasi


"Ehh kak Nini. Kak Ririn udah melahirkan anak pertamanya loh." Fany juga sebenarnya ingin menagis tapi segera mencari bahan pembicaraan.


"Wahh, Sejak kapan Fan?"


"Baru seminggu kak. Anak mereka laki-laki." Fany menjelaskan tentang Kakak pertamanya yang baru saja melahirkan.


" Kakak dimana?" tanya Fany serius. Dia melihat tempat Nini sekarang seperti sangat berbeda


" Di rumah Fan." jawab Nini mengusap air mata yang keluar


" Rumah? Kok kayak beda ya kak?" Fany mengernyitkan dahinya


" Ohhh.. Kakak udah pindah minggu lalu de." wajah gugup Nini terlihat jelas


" Kok gak bilang-bilang kak?"


" Ahh. Maaf Fan kakak sibuk jadi gak sempat." Nini membual


" Nak kapan kamu pulang?" Kali ini ayah yang bertanya. Ibu Nini hanya diam saja di belakang tidak ingin bicara.


" Doakan saja ayah. Semoga dalam tahun ini aku bisa pulang." ada sejuta kerinduan tergambar di wajah mereka


Mereka masih saja bercerita banyak tentang Fany yang akan dilamar kekasihnya, dan lainnya.


Johan sudah selesai mandi, dia masih berdiri melihat Nini yang sibuk dengan ponselnya. Senyum tipis tergambar di wajah tampannya. Dia bahagia melihat Nini tertawa penuh kebahagiaan


Sayangnya, aku tidak bisa membuatmu tertawa bahagia.


Johan berjalan masuk ke ruangan ganti. Beberapa menit kemudian dia keluar sudah memakai pakaian santainya.


Nini kaget dan langsung mematikan panggilan itu tiba-tiba.


Fany dan ayahnya kebingungan dengan sikap Nini.


" Kenapa dimatikan?" Johan mendekati Nini


" Gak. Aku takut mereka lihat kamu." jawab Nini sambil meletakkan ponselnya

__ADS_1


" Kau belum juga jujur?" tanya Johan sambil mendekati istrinya


Nini mendorong tubuh Johan pelan yang sudah semakin menempel dengannya


" Menjauhlah. Aku sedang kepanasan." Nini berpura- pura mengipas tubuhnya dengan tangan


" Sungguh?" Johan melihat ke arah AC


" Hidup ko ACnya." Johan memastikan kalau dia tidak salah melihat. Dan senyum nakalnya muncul dia tahu kalau Nini sedang berpura-pura.


" Kau kepanasan?" Johan bertanya lagi pura-pura memasang wajah khawatir


" Iya ni... Auhh bisa ambilkan aku air?" wajah Nini semakin menjadi-jadi


" Ayo buka bajumu sekarang." Johan masih pura- pura khawatir


Nini langsung menghentikan gerakan tangannya memalingkan wajahnya pada Johan. Senyum canggungnya nampak jelas, wajahnya langsung berubah pucat


" Aku, aduh dingin ni." Nini tidur dan menarik selimutnya sampai dada.


" Haha, ada apa dengamu kau tadi bilang panas sekarang dingin?" Johan mendekat


Nini bangkit duduk mencari-cari alasan Dia tahu wajah Johan seperti menginginkan sesuatu.


"Aku panas dan dingin." jawaban konyol Nini membuat Johan tertawa


" Haha bodoh.! " Johan memukul pelan dahi istrinya.


" Apa kau bilang?" wajah Nini kesal


" Kau tidak mau?" Johan langsung memeluk tubuh Nini dan menggoyangkannya perlahan


" Aku kecapean." wajah Nini memelas


" Ahhh.. Aku mohon. Ehh aku sedang datang bulan" Nini berbohong lagi


" Oh ya? Coba aku lihat." Johan semakin merasa tertantang dengan penolakan istrinya


Nini mendorong kepala suaminya lalu menutup dada dan area kewanitaannya.


"Jangan. Kau tidak perlu melakukan itu. Kenapa kau tidak percaya??" Nini memicingkan matanya kesal


"Kenapa kau malu? Ayolah aku sudah pernah melihatnya. Hahaha." Johan meraih tangan Nini yang menutup kewanitaannya


" Jangan katakan kalau kau tidak nyaman lagi. Kita sudah melakukannya." Johan memegang erat kedua tangan Nini


Sejujurnya Nini pun sudah merasa nyaman dengan setiap sentuhan Johan. Hanya saja dia takut akan hamil, itu bisa menjadi alasan untuk dia berhenti bekerja.


Johan sudah tahu area sensitif Nini. Dia langsung mencium telinga Nini.


" Emmm. Lepasin" Nini merengek ketika Johan melakukan hal yang selalu membuatnya menggeliat geli.


Seperti tidak mendengar, Johan terus melakukannya sampai Nini menyerah dan menerima perlakuan suaminya.


" Jangan sampai aku hamil." bisik Nini pelan pada telinga suaminya.


" Kenapa?" Johan masih sibuk dengan pekerjaannya😁


" Tolonglah. Aku masih ingin bekerja demi membantu biaya kuliah adikku."

__ADS_1


" Semua bisa ku atur sayang." Johan mencium lembut bibir Nini.


Pukul 8 malam. Nini tertidur lemas di atas ranjang. Johan sudah selesai mandi dan meraih telepon yang diletakkan dalam kamar. Ponselnya sudah rusak.


"Antarkan makan malam ke sini sekarang juga." perintah Johan


" Baik tuan." jawab pelayan itu


" Ayah dan ibu sudah makan?" tanya Johan lagi


"Sudah tuan. Mereka sudah kembali ke kamar."


" Baguslah." Johan memutuskan sambungannya.


Dia berjalan menuju istrinya yang sedang tertidur nyenyak Mengelus lembut kepala dan pipi Nini.


*A*ku tidak menyangka kau akan secepat ini membuatku nyaman.


Johan mencium pipi istrinya.


Pelayan mengetuk pintu dan segera masuk. Dia tidak berani melihat ke arah pasangan suami istri itu.


Setelah pelayan itu keluar, Johan menepuk lembut pipi istrinya.


" Heii.. Bangunlah. Ayo makan." Johan dan Nini merasa enggan untuk memanggil nama satu sama lain.


Nini menggeliat merengangkan otot-ototnya. Belum sempat bangun, Johan langsung menggendongnya menuju kamar mandi.


" Ehh. Turunkan aku." Nini merontak membuat Johan kesusahan.


Brukkk...!!! Keduanya jatuh. Tubuh Johan menindih istrinya.


" Ahhh.. Sakit." Nini mengaduh kesakitan.


" Astaga." Johan langsung berdiri dan merangkul tubuh istrinya


Nini memukul keras dada Johan. Tubuhnya sangat kesakitan menghantam keras lantai.


"Uhukkk.. Ahhh" pukulan Nini membuatnya batuk


" Ngapain sih gendong-gendong segala?" tanya Nini kesal mengelus pantatnya


" Kamu yang bergerak makanya deh jatuh. Ahhh" Johan berdiri mengusap dadanya yang sedikit sakit. Nini pun berdiri memperbaiki selimut di tubuhnya.


" Mandi sana dan makan." Johan sudah duduk menghadap makanan di depannya


Nini berjalan menuju kamar mandi tanpa menjawab suaminya.


Selesai mandi, Nini melihat Johan masih menunggunya sambil mengelus dada.


Dia segera berganti pakaian dan keluar menghampiri Johan.


" Sakit ya?" Nini mengelus dada suaminya. Dia takut sekaligus khawatir.


"Udah gak kok." Johan memegang tangan istrinya.


*U*hhh.. Tumben banget kita mesra gini tanpa pura-pura. Batin Nini.


" Ayo makan." Johan mengambil sendok memberikannya pada Nini.

__ADS_1


" Emm iya." wajah Nini masih sedikit khawatir. Dia menatap Johan sekali lagi dan mulai makan ketika Johan sudah sudah tidak lagi memegang dadanya.


Bersambung......


__ADS_2