
Bab 74
Wajah Nini terlihat murung sejak pulang dari panti. Menjelang tidur, Johan mendekapnya erat dalam
peluknya.
“Janganlah bersedih sayang,aku masih ada untukmu.”
“Aku merasa akan hampa jika Seli pergi Han. Dia sudah menjadi bagian penting dalam hidupku.” Nini
hampir menangis.
“Ini juga demi kebaikannya sayang. Sudahi sedihmu,aku yang akan tersiksa melihat dirimu terus
menerus begini.”
Nini hanya terdiam tanpa bersuara. Hanya terdengar hembusan nafasnya. Johan melihat Nini yaang
sudah nyenyak.
“Hmmmmm. Sudah terlelap ya kamu.” Johan mencium lembut kening istrinya dan ikut tertidur.
****
Hari baru Nini dimulai dengan suatu kerinduan. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
Segala kenangannya bersama Seli terus membayang. Saat pertama kali mereka bertemu, dan saat
Nini selalu ingin mengunjungi panti itu demi dia. Hingga akhirnya dia merasa betah dengan anak-
anak di sana.
Sekarang,gadis kecil kesayangannya akan pergi jauh dan kecil kemungkinan untuk kembali lagi.
Mungkin,seperti ini kerinduan yang sering ibu keluhkan.
Lagi-lagi Johan harus menyaksikan kesedihan istrinya. Dia mendekat dan memeluk leher wanitanya.
“Aku akan berangkat kerja. Jaga dirimu baik-baik.”
Nini menggangguk dan hanya tersenyum dengan paksa.
Seperti biasa, Johan akan mencium kening istrinya dan berlalu.
Dengan langkah berat dia meninggalkan rumah kedua orangtuanya. Sepanjang perjalanan, dia masih
terus memikirkan cara agar Nini bisa kembali ceria.
Doni yang selalu menanti kedatangan sahabatnya itu mengerutkan dahi, saat Johan masuk dengan
wajah seperti terbebani.
“Masalah apa Han? Orang sekaya kamu, gak mungkin mikirin tagihan kartu kredit kan?”
Johan menghempaskan tubuhnya kasar pada sofa dan memijat pelan kepalanya sendiri.
“Nini.” Ucapnya lirih dengan suara berat.
“Kalian bertengkar?” wajah Doni terlihat khawatir.
“Tidak. Hanya saja dia selalu sedih belakangan ini. Setelah sembuh, dia kembali terpukul dengan
kabar anak kami yang keguguran. Butuh waktu cukup lama untuk mengobati lukanya. Dan sekarang,
dia harus kehilangan seorang gadis yang sangat dekat dengannya.” Johan menceritakan dengan
wajah lesu.
“Kehilangan, maksudnya?”
“Panjang ceritanya Don. Intinya anak itu sekarang sudah pergi ke Amerika ikut orangtua angkatnya.”
“Sabar Han, mungkin ini cobaan buat kalian. “ Doni pun turut prihatin. Dia juga pernah melihat Johan
yang terpuruk karena kehilangan Jessika.
“Apa kamu punya ide untuk memulihkan hati Nini?” Johan bangun menuju kursi kebesarannya.
Doni memutar bola matanya seperti memikirkan sesuatu. Johan meliriknya sebentar lalu
menghidupkan laptop.
__ADS_1
“Liburan Han.” Doni menjentikkan jarinya.
“Bagus juga ide kamu. Tapi bagusnya di mana ya?” Johan mengusap dagunya.
“Pantai yang bagus. Kan di negara kita ini banyak pantai-pantai indah. Misalnya pantai di Raja Ampat
Papua.” Doni menggangguk dan tersenyum, merasa pintar dengan idenya.
“Apa kamu yakin, berlibur ke pantai bisa membuat Nini kembali ceria?”
“Mungkin saja. Karena hanya itu ide yang aku temukan saat ini.” Doni mengangkat kedua bahunya
lalu meraih beberapa laporan di atas meja.
“Pantai terlalu jauh. Bagaimana kalau ke puncak?” kali ini Johan yang kembali berpikir.
“Seru tuh Han. Udara sejuk di bukit, bisa membantu menghilangkan stres.”
“Sok tau kamu.” Johan melempar pena tepat di wajah Doni.
“Lahh, kamu kan dokter masa sih yang beginian gak tau?” Doni merasa sebal dengan sahabatnya.
“Iya aku emang dokter, tapi sekarang aku lagi butuh dokter yang bisa memahami aku. Dan itu adalah
kamu.” Johan tertawa.
“Ya sudah,aku mau lanjut bekerja.”
“Ikutlah ke bukit bersama kami,ajak juga kekasihmu.” Kata Johan sebelum Doni menghilang dibalik
pintu. Sahabatnya hanya melambaikan tangan tanpa berbalik.
Johan kembali tenggelam dalam lamunannya tentang Nini. Wanita yang sekarang mengisi hari-
harinya. Tidak terasa sudah hampir 6 bulan menikah, banyak masalah yang mereka hadapi bersama.
Dia menanti waktu pulang dengan tidak sabar. Terus menatap jam. Sebenarnya kapan saja dia mau
pulang, tidak masalah bagi siapa pun, kan dia bosnya. Hanya saja, dia lebih memilih taat aturan.
Waktu yang dinantikan pun tiba. Johan merapikan meja kerjanya segera,lalu beranjak keluar
meninggalkan kantornya.
Masih dengan wajah murung, Nini menyambut kedatangan suaminya.
Johan tersenyum lebar dan memeluk istrinya agar lebih tenang.
“Ayo duduk.” Johan menarik tangan istrinya duduk di tepi ranjang.
“Aku ingin mengajakmu liburan besok.”
Perkataan Johan tidak membuat wajah Nini berubah.
“Apa kamu mau?” mata Johan sedikit melebar, menunggu jawaban dari Nini.
“Besok bukannya hari selasa? Dan setahu aku, itu bukan tanggal merah.” Ucap Nini dengan wajah
datar.
“Maksud aku, Sabtu nanti sayang. Maya dan Doni juga ikut.” Johan meyakinkn perkataannya sendiri
meski dia belum tahu apakah Maya akan ikut atau tidak.
“Ajak juga sama mbak Lisa ya.” Wajah Nini langsung berubah ceria.
“Ahhh.. iya sayang, nanti aku coba tanya deh sama Lisa dan suaminya.” Johan beralih pandangan
pada tempat lain.
“Gak usah sayang, biar aku saja.” Nini menunjuk ponselnya lalu mengirim pesan singkat.
Johan terlihat kesal. Tapi, jika dengan itu bisa membuat Nini bahagia maka dia sanggup.
“Dia tanya nih. Katanya mau kemana?” tanya Nini masih memandang ponselnya.
“Ke bukit.” Jawab Johan ketus lalu berjalan menuju kamar mandi.
“Mereka mau sayang.” Senyum bahagia Nini terpancar. Tapi Johan tidak sempat melihat senyuman
itu. Dia hanya melambaikan tangan dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Nini tersenyum bahagia, membayangkan keromantisan yang akan mereka lakukan di sana.
Johan keluar dari kamar mandi. Dia merasa senang, melihat Nini yang sedikit membaik.
Nini masih sibuk dengan ponselnya tanpa memperhatikan suaminya yang sudah mendekat.
“Makan di luar yuk.” Ajak Johan sembari memeluk pinggang Nini.
“yuk.” Nini mematikan ponselnya.
“Chat sama siapa sih? Kok kayak asyik banget.”
“Ini sama Fany sayang. Kamu kan tahu sendiri kayak gimana bawelnya dia.”
“Ya sudah. Ayo.” Johan menarik tangan Nini.
“Bu Idah, tolong sampaikan pada ayah dan ibu. Malam ini kami makan di luar.” Kata Johan pada ibu
Idah yang sedang menyiapkan makan malam di ruang makan.
“Baik tuan.” Sahut ibu Idah sambil menunduk sopan.
Johan dan Nini pun berlalu dari tempat itu menuju mobil yang sudah disiapkan pengawal.
Malam ini, mereka makan di rumah makan padang yang cukup besar. Itu adalah pilihan Nini, tempat
itu juga tempat makan favoritnya. Sejak menikah dengan Johan dia belum mengunjungi rumah
makan itu.
Perasaan syukur memenuhi hati Johan. Melihat istrinya sudah lebih baik dai pagi tadi.
Selama beberapa hari menjelang Sabtu, Johan terus memikirkan apa yang akan mereka lakukan
nanti di puncak. Dan barang-barang apa yang harus dibawa.
Tapi segala kegelisahannya dapat terpecahkan oleh Doni yang jenius.
“Kita pakai tema camping aja Han. Jadi, nanti kita tidurnya di tenda. Makanan yang kita bawa juga
cukup yang simple aja. Seolah kita ini anak sekolahan yang lagi liburan.” Ujar Doni saat mereka
sedang makan siang di restoran.
“Tidur di tenda? Kamu tahukan, kalau di bukit itu dingin. Gimana jadinya kalau tiba-tiba istriku
demam?” Johan melotot tidak setuju.
“Bagus dong kalau dingin. Biar maalam kalau tidur bisa pelukan dodol.”
“Iya sih, terus kamu peluk siapa?” Johan menahan tawanya.
“Maya dong.” Doni memasukkan potongan daging ke mulutnya.
“Gila, emang dia mau sama kamu? Kalian belum nikah Don, gak baik melakukan itu.”
“Ya kalau dia nolak sih aku gak maksa. Tapi kalau dia mau ya... ya gitu deh, hahaha.”
Johan mengangkat garpunya seperti ingin mencakar wajah tampan Doni.
“Tapi Adit dan Lisa juga diajak Nini.” Johan lanjut memotong dagingnya.
“Biarin aja Han. Kalau demi kebaikan Nini, kenapa gak? Lagian aku rasa sudah saatnya kalian
baikkan.”
“Akan aku pertimbangkan lagi.” Johan kembali menikmati makanannya.
“Ok Han, pertimbangkan dengan matang ya. “ Doni menyeruput jus jeruknya.
“Iya kamu, jangan lupa ya urus semua perlengkapan dan kebutuhan kita buat ke puncak.” Titah
Johan enteng.
“Ok. Kecil kalo Cuma itu doang. Tapi, tampat mana ni yang mau kita kunjungi?”
“Kamu aja yang atur semuanya Don.”
“Kalau kita ke Bandung gimana?”
“Ya deh terserah kamu aja. Asal Nini senang.” Johan memilih pasrah.
__ADS_1
“Ok deh Han.” Doni merapikan kerak bajunya.
Bersambung......